
Zahra kini telah tertidur lelap dan sudah mendapat istirahat yang cukup, Zahra terbangun dan kali ini benar-benar sudah merasa haus, saat ia membuka matanya dan mencoba untuk terduduk Rahman menghampirinya dan membawakan segelas air untuknya.
"nih minumannya pasti kamu haus banget," ucap Rahman sambil menyerahkan air minum dan meminumkannya kepada Zahra. Zahra tersenyum karena Rahman mengerti apa yang diinginkannya, namun Rahman bukan hanya memberikan air dengan cuma cuma, tetapi juga memberikan sedotan kepada Zahra.
"kenapa harus pakai sedotan sih," ucap Zahra dengan sedikit manja.
"kamu kan haus banget kalau aku kasih kamu tanpa sedotan itu bahaya nanti yang ada kamu meminum habis tanpa perlahan tapi kalau pakai sedotan kan bisa pelan-pelan,"ucap Rahman menjelaskan.
"iya iya," Zahra pun akhirnya menuruti apa keinginan Rahman.
"ini demi kebaikan kamu, aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa ya, mukanya mulai sekarang kamu harus lebih memperhatikan diri kamu sendiri Lebih dari biasanya aku nggak mau tahu," ucap Rahman memberitahukan kepada Zahra.
"mmh," Zahra menjawab dengan melirik kepada Rahman namun masih meminum air putih yang dipegangnya.
"sudah bangun nak," dini datang menghampiri Zahra dengan membawakan bubur untuk Zahra.
"mmh mamah," Zahra pun menyambut Tini dengan mengulurkan tangannya.
"ini," Tini menunjukkan bubur yang dibawanya.
"Mama tau banget sih kalau saya lagi lapar," ucap Zahra dengan senangnya.
"iya dong kamu kan udah habis operasi belum makan malam kamu nggak boleh makan dulu sebelum 6 jam sekalian aja kan kamu sekarang udah boleh minum udah boleh makan ya udah mama bawain," ucap Tini dan mulai menyuapi bubur kepada Zahra.
"ummh enak sekali mah siapa yang masak?,"
"mamah dong, kan dulu kamu suka bubur yang ini jadi Mama buatin kamu," ucap Tini sambil membelai kepala Zahra.
"mamah paling tahu apa yang aku suka, jadi ingat waktu dulu," ucap Zahra sambil tersenyum.
"iya enggak apa-apa sekarang kamu sudah memiliki masa depan yang lebih cerah sayang," Tini menenangkan Zahra dan membuat Zahra merasa begitu nyaman.
setelah beberapa saat kemudian akhirnya kini memutuskan untuk pulang begitu juga dengan Yeni dan yang lainnya....
Rahman kini sedang menemani Zahra yang ingin dibawa keliling rumah sakit untuk menghirup udara segar, tak lupa juga dengan bantuan kursi dorong.
"huaaahhh!!," Zahra mengambil nafas dalam dan setengah berteriak sambil tertawa bahagia, Rahman yang melihat Zahra bahagia pun ikut bahagia.
"akhirnya, akhirnya Ya Allah aku bisa keluar juga aku kan sumpek banget di dalam terus, udah lama sekali aku nggak pernah menghirup udara segar ini," cara-cara memegang tangan Rahman, Rahman lalu menampilkan Zahra di tempat duduk di dekat taman rumah sakit. lalu duduk di dekat Zahra
"sudah lama sekali kita tidak bersama, coba diingat-ingat," haman memegang tangan Zahra sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"terakhir kali kita bisa keluar dan menikmati udara seperti ini bersama itu ya saat sebelum aku pergi ke luar negeri, Dan mulai saat itu aku pergi ke luar negeri jarang ketemu kamu pulang pulangnya kau minta hal-hal yang enggak enggak, sempat terkejut cepet down, Ya Allah aku itu udah kenapa coba SMP Astra aku itu pengen yang nggak-nggak, mending kamu ngidam ya iya lah enggak apa-apa siapa tahu sih baiknya lagi nggak suka lihat bapak," ucap Rahman sedikit meledak di akhir kalimatnya.
"iih apaan sih," Zahra tertawa dan memalingkan wajahnya karena ia malu.
"kenapa? aku emang benar kan?," Rahman mencubit pipi Zahra yang tertawa.
"aku tuh inget banget tahu saat itu aku lagi senang-senang gitu lagi bercanda sama Raditya sama adek lah kamu tiba-tiba datang ngomong kayak begitu ya ampun aku sampai kayak udah terbang terjatuh tahu," Rahman mengulangi masa-masanya dengan bercerita sambil tertawa dan itu pun juga membuat Zahra tersenyum dan tertawa.
"hahaha lalu bagaimana perasaan Kaka saat itu?," tanya Zahra penasaran sambil memegang wajah Rahman dengan tangan sebelahnya dan sebelahnya lagi memegang tangan Rahman.
"Ya gimana lagi kamu tahu kan saat itu jadi aku takut khawatir, aku bingung apa alasan kamu sampai kamu kayak begitu, jadi aku pacar kamu lah nanya ke kamu kok kamu kayak begitu kamu jawabnya kamu nggak cinta sama aku, orang kamu nyari cinta ke aku aja nggak pernah udah main bilang kamu nggak cinta sama aku ya ampun!," Rahman bercerita dengan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya serta mengingingat ngingat masa-masa itu.
"iya soalnya kan kakak itu keras kepala banget jadi ya aku harus kayak begitu," ucap Zahra mengelus kepala Rahman yang Rahman taruh di pangkuan Zahra.
"kamu juga keras kepala tahu, kamu yang salah kamu yang teriak, adooh pusing aku waktu itu," ucap Rahman bercerita kembali.
"hahaha kan Masih kerasan kakak, kalau kakak kan udah besar kalau aku masih kecil, jadi ga apa apa dong," ucap Zahra dengan mengejek Rahman.
"terserah kamu deh apa pun dah yang penting kamu senang ya, udah itu aja," Rahman pun memasang wajah pasrah, dan sukses membuat Zahra tertawa geli.
saat mereka merasa sudah begitu lama di luar, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan untuk beristirahat, agar keadaan semakin cepat membaik.
setelah beberapa hari kemudian Zahra dianjurkan oleh dokter untuk melakukan olahraga ringan di dalam rumah sakit agar tubuhnya bisa kembali bergerak bebas seperti biasanya.
"terus sayang, 1,2,3 coba lagi coba lagi," Rahman terus mencoba untuk membantu Zahra agar ia bisa berdiri dan memulai langkahnya, agar sendi sendi Zahra tidak kaku dan dapat berjalan seperti aktivitas biasanya.
Zahra terus mencoba mencoba dan terus mencoba, hingga akhirnya kini beberapa minggu telah berlalu, Zahra sudah dapat berjalan dengan baik, karena mereka sudah memulainya dari nol seperti bayi yang baru belajar untuk berjalan, Zahra semakin lama sudah semakin lancar berjalan sudah seperti biasanya, dan keadaannya pun sudah normal, karena keyakinan Zahra akan kesehatannya dan kestabilan tubuhnya, akhirnya Zahra sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah, dan itu adalah hal yang membuat Zahra merasa sangat senang.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa pulang, seneng banget rasanya bisa kembali ke rumah," Zahra dengan senang hati kembali ke rumahnya.
setelah beberapa hari di rumah Zara kini sudah mulai lagi kegiatannya seperti biasa. Zahra mulai merapikan rumah, menyapu dan memasak.
"ummuach," Rahman datang dari belakang Zahra memeluk Zahra dan mencium Zahra yang sedang memasak di dapur kala itu.
"kak nanti dilihat tahu sama orang," ucap Zahra berkata kepada Rahman.
"emang siapa yang akan melihat nanti?," tanya Rahman dengan acuh tak acuhnya.
"ih udah lupa dekor di rumah itu ada satpam sopir dan bibi yang bantu bantu aku," celetuk Zahra.
"Ya udah kalau begitu di dalam kamar aja sekarang biar nggak ada yang lihat," ucap Rahman akhirnya mengeluarkan suaranya dan mencium bahu Zahra.
__ADS_1
"!!!" Zahra terkejut mendengar ucapan Rahman, dan Rahman pun dengan perlahan membalikkan tubuh Zahra ke arahnya.
deg deg deg
"ka Rahman ada apa sih," Zahra menunduk malu karena detak jantungnya kini sudah tidak beraturan.
"sayang lihat wajahku, dan tatap mataku dalam-dalam," Rahman memegang dagu Zahra sehingga wajah mereka bertemu Dan mata mereka saling bertatapan satu sama lain.
"aku ini suami kamu, 1 tahun kita menikah dan kita masih belum memikirkan anak," ucap Rahman lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zahra dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Zahra.
"k-kak," Zahra mencoba memalingkan wajahnya, namun Rahman mengecup bibirnya.
"kamu tahu kan ini semua dia milikku dari ujung rambut," Rahman menunjuki Zahra dari atas kepala lalu cerita lanjutnya berjalan turun sampai menuju ke arah kaki.
"sampai ujung kaki, Tuhan sudah menjadi saksinya kamu bersedia untuk menjadi milikku," ucap Rahman kepada Zahra.
"iya kak iya," ucap Zahra dengan Malu, Rahman pun lalu menarik tangan Zahra menuju ke atas kamarnya.
Zahra yang merasa dirinya sudah terikat oleh Rahman hanya mengikuti langkah kaki Rahman.
"emangnya kakak nggak ke kantor?," ucap Zahra akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Rahman.
"ngak, aku cuty," jawab Rahman singkat.
Rahman menundukkan Zahra di atas kasur lalu mengunci pintu rapat.
"Ra boleh aku tanya sesuatu?," penyerahan dengan lembut kepada Zahra.
"iya silahkan," Zahra menjawab dan Rahman mulai duduk didekat Zahra sambil memegangi tangan Zahra.
"dulu itu sebenarnya cita-cita kamu apa," Rahman mulai menciumi tangan Zahra dan memegang wajah Zahra lalu mencium kepala Zahra.
"mmmh, dulu aku itu pengen jadi guru udah terus aku juga udah pengen jadi pegawai kantor, Dan ya lama-lama aku pikir aku pengen jadi seseorang yang punya bisnis online kayak mamanya Riska, karena jadi bisa sambil ngurus suami nggak harus pergi keluar bisa memberikan kasih sayang yang lebih juga buat anak kelak," ucap Zahra menjawab pertanyaan Rahman dengan polosnya tanpa menyadari apa yang telah dilakukan oleh Rahman kepada tubuhnya.
"mmh," antara sadar dan tidak sadar Rahman menjawab pertanyaan Zahra hanya dengan menganggukan kepalanya dan suara yang menggunakan huruf m saja, Rahman terus melakukan apa yang ia ingin lakukan, sambil bertanya kepada Zahra untuk mengalihkan perhatian Zahra, tanpa Zahra sadari sebenarnya jantung Rahman seperti sudah akan copot karena detaknya yang sudah tidak karuan.
"kalau hobi, hobi aku apa Ya sebenarnya sih enggak terlalu mentingin hobi juga, soalnya itu kayak bermacam-macam aku suka apalagi olahraga dan silat aku suka banget," ucap Zahra kepada Rahman dan tak lama kemudian ia pun menyadari apa yang telah dilakukan oleh Rahman, yang membuat dirinya begitu terkejut saat itu.
"!!!"
bersambung....
__ADS_1
ya kalian tahulah bagaimana akhirnya episode ini bersambung dengan first time nya Zahra dan Rahman. kalian bisa tebak-tebakan sendiri apa yang dilakukan oleh kedua sejoli pada saat itu, bye-bye semuanya see you in next episode.