Cinta Zahra

Cinta Zahra
perceraian


__ADS_3

Apakah dari hati? bukan! lalu apakah keinginan sendiri? iya! namun itu adalah sebuah keinginan yang sangat meny usahkanan diri, karena hanya demi kebahagiaan orang lain harus mengambil resiko dengan menyakiti orang lain terlebih dahulu. Meskipun kebahagiaan yang di renggutut dari orang yang sama untuk memberikan kebahagiaan sebagai penggantinya pula namun tetap akan menciptakan rasa sakit pada diri sendiri maupun pada orang itu karena sebuah keputusan yang berat dan terjadi pada sebelah pihak.


Tidaklah mudah bagi seorang wanita yang telah bersuami merelakan suaminya untuk bahagia dengan wanita lain, namun apa boleh buat dengan berjalan seiringnya Waktu mereka pasti bisa menerimanya itulah yang dipikirkan Zahra saat ini.


Meskipun berpisahnya Zahra dengar Rahman belum menentukan kebahagiaan Rahman terjamin dengan wanita lain, atau apakah Rahman bisa mendapatkan wanita lain yang lebih baik dari Zahra, namun tetap saja Zahra memutuskan untuk bercerai dengan Rahman. Karena baginya yang terpenting terlebih dahulu adalah harus berpisah dengan Rahman, agar Rahman bisa mencari pendamping barunya dengan senang hati dan tanpa berat hati ataupun merasakan rasanya penyesalan karena telah melepaskan Zahra.


"ya, jadi ini adalah keputusanku yang terakhir, apapun jadinya aku tetap ingin berpisah dengan kak Rahman tapi aku akan menunggu dia sampai pulang dulu ke tanah air baru aku akan mengatakannya," guitar Zahra yang telah memberikan keputusan akhir.


"tapi nak kita kan bisa mencari solusinya bersama-sama nggak mesti berpisah kan?," ucap Tini yang berusaha untuk mencari solusi yang terbaik bagi Zahra dan juga Rahman, agar mereka tidak berpisah dan masih bisa mempertahankan rumah tangga mereka.


"enggak ma ini adalah keputusan Ku yang terakhir, apapun itu aku akan berpisah dengan kak Rahman, dan aku berharap kalian bisa mendukung keputusanku ini ini juga demi kebahagiaan kak Rahman aku juga tidak menginginkan ini namun apalah dayaku ma yang hanya manusia biasa," ucap Zahra dengan mulai menjatuhkan airmatanya, dan ia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya dengan jalan yang tertatih-tatih dan tubuh yang begitu lemas. Raditya yang melihat Zahra berusaha untuk berjalan datang menghampiri Zahra dan membantu Zahra agar bisa ke kamar dengan lebih aman.


"yang tenang ya mah ya pasti kita bisa menjalaninya bersama, semua pasti akan baik-baik saja"ucap Nisa yang mencoba untuk menenangkan Tini yang kini sedang larut dalam kesedihan nya. Ramadhani yang tidak sanggup melihat apa yang terjadi dan berusaha untuk mengerti semua, serta berusaha untuk memecahkan masalah dan berpikir dewasa. Ramadhani juga ikut pergi untuk menenangkan dirinya di balkon ia, mencoba agar bisa untuk berfikir yang lebih jernih, sehingga ia tidak akan mengambil keputusan yang gegabah dan akan membuat dirinya semakin menyesal suatu saat nanti.


setelah beberapa saat kemudian...


"dek?," syarat datang menghampiri Ramadhani di balkon dengan jalan yang perlahan dan masih dengan tubuh yang lemas.


"Ada apa kak? kenapa kakak ke sini? kakak istirahat saja di kamar biar kakak bisa cepat sembuh," ucap Dani yang melihat Zahra datang dan membantu Zahra untuk duduk di sofa kamarnya.


"Dhani yakin kakak pasti bisa sembuh jadi tolong pikirkan baik bakk dulu ya kak ya, Dani nggak mau kagak kenapa-napa Dani nggak menyangka ini semua terjadi pada kakak," ucap Dani yang akhirnya pecah lah tangisnya saat itu, Zahra yang melihat adiknya menangis lalu memeluk Dani dengan erat.


"jangan takut semua ini atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala apapun yang terjadi pasti ada hikmahnya, percayakan saja sama Allah mungkin ini memang yang terbaik jika memang harus kembali kepada Allah kalian semua harus ikhlas. Karena pada hakekatnya kakak ini hanyalah milik Allah seorang dek dan semua pasti akan kembali kepada sang pencipta," ucap Zahra yang mencoba untuk menenangkan Dani meskipun dirinya pun ikut gemetar dan mulai menangis.


"Dani percaya kakak pasti akan sembuh jadi tolong bertahan ya kak ya," ucap Dani mulai melepaskan pelukan Zahra namun kini ia malah memandang wajah Zahra dengan sangat dalam.


"dek apapun yang terjadi nanti, kamu tetap harus menjadi anak yang baik dan penuh semangat. Kakak juga berharap agar kamu tetap mendukung apapun yang menjadi keputusan kakak, " ucap Zahra lalu mengecup kening Dhani dan Zahra pun pergi ke kamarnya dengan dibantu oleh Dani pergi untuk beristirahat karena ia merasa tubuhnya begitu lelah saat ini.

__ADS_1


....


keesokan harinya Tini datang mencari Zahara menuju kamarnya dini menemukan Zahara yang sedang terduduk disamping kasurnya sambil memandang ke arah jendela seolah-olah ia sedang mencari kebebasan dan mencoba untuk lebih tenang bahkan tampak jelas di wajahnya terlihat rasa rindu yang begitu dalam yang sangat sekali ya katakan kepada suami halalnya itu.


"apakah kamu tidak bisa untuk mengeluarkan niatmu yang ingin bercerai dengan Rahman?," tanya Tini dengan penuh harap.


"Zahra sudah yakin mah tolong jangan goyahkan Zahra, karena bagaimanapun juga ini demi kebaikan nggak Rahman," ucap Zahra dengan suara yang lemas mungkin sepertinya ia telah kehabisan tenaga.


"jika memang menurut kamu itu yang terbaik baiklah, mama dukung tapi semoga saja kamu tidak menyesalinya di suatu hari nanti karena bagaimanapun juga dia adalah orang yang baik yang diberikan oleh apa untukmu karena begitu sayang iya sehingga ia begitu mengutamakan kamu nak," akhirnya mau tidak mau ini pun menyetujui apa yang jadi keputusan Zahra.


"tapi bagaimana kamu akan menyampaikan kepada Rahman? bahwa kamu sudah tidak ingin bersama lagi atau kamu menginginkan sebuah perpisahan di antara kamu dan dia," imut ini yang juga merasa cemas.


"sebentar lagi ka Rahman akan pulang


dari negara orang ma, jadi aku memutuskan untuk memberi tahunya nanti saat ia telah sampai ke tanah air karena bagaimanapun juga aku tidak ingin dia sampai setres di luar negeri jadi urusannya kacau balau hanya gara-gara wanita seperti aku "


"iya ma tenang saja Zara pasti akan berbicara dengan baik kepada kak Rahman karena bagaimanapun juga Zahra sebenarnya sungguh mencintai kak Rahman mah," ucap sakura sambil menundukkan pandangannya.


"iya nak yang sabar ya,"


"mmmmm,"sahut Zahra menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


....


kini beberapa hari telah berlalu Zahra masih saja berada di rumah Tini memang sudah lama semenjak Rahman pergi dari rumah sehingga Zahra memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah Tini agar dirinya tidak merasa begitu kesepian..


Rahman yang baru saja pulang dari tanah air pergi mencari Zahra, namun ia tidak menemukan Zahrara di sudut ruang manapun pada rumahnya itu sehingga ia bertanya kepada para pelayan yang ada di sana dan mereka menjawab bahwa Zahra sementara ini akan tinggal di rumah Tini begitulah kata Sahara sebelum ia pergi kepada para pelayannya.

__ADS_1


"oke makasih ya," Rahman ini langsung bergegas pergi menuju ke rumah Tini untuk mencari istri tercintanya karena ia sudah merasa dirinya sangat rindu karena telah memakan waktu yang sangat lama untuk tidak berjumpa dengan Zahra.


"Zahra istriku sayang," Panggil Rahman saat ia sampai di rumah Tini. semua orang menjadi kaget dan juga terkejut atas kedatangan Rahman yang secara tiba-tiba.


terlebih lagi pada diri Zahrara yang merasakan detak jantungnya begitu kencang berdegup sangat kencang nya karena kali ini harus berbohong kepada suaminya.


Rahma nomor Zahra dengan sepenuh hati Zahra pun juga melayani Rahman dengan perlahan-lahan. Namun keesokan harinya, saat Zahra akan menonton televisi bersama dengan yang lainnya agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. namun mana Zahra lebih fokus lagi kepada Rahman yang terlihat senyum bahagia di wajahnya, terpikirkan oleh Zahra sejenak untuk mengurungkan niatnya karena ia takut bahwa ia akan melukai hati suaminya begitu sangat dalam karena bagaimanapun juga Zahra begitu sayang kepada suami tercinta.


"Rahman Lebih baik aku tidak usah basa-basi lagi ada yang ingin aku omongin sama kak Rahman," ucap zahra yang mulai terduduk disamping Rahman.


"kak terima kasih banyak untuk semua ini terima kasih telah baik sama aku telah tulus sama aku dan telah melakukan semua-muanya untuk Zahra. Zahra minta maaf banget kalau selama ini saya lagi itu salah sama kakak Zahra suka ngeyel Zahra bahkan adalah anak yang ceroboh


"maaf kak tapi sepertinya kita sudah terlalu lama untuk bersama," ucap Sahara yang mengeluarkan kata-katanya dengan detak jantung yang berdegup kencang.


"maksud kamu apa Ra kok tiba-tiba ngomong kayak begitu?,' ucap Rahman yang juga tidak kalah saing dengan rasa khawatirnya yang bahkan melebihi dari semua orang yang ada di sana saat itu.


"maaf kak, tapi demi kebaikan kita..."


"ini semua demi kebaikan kita!!,"


"jadi...."


"mohon maaf yang sebesar-besarnya,"


"Zahra memutuskan untuk bercerai dengan kak Rahman, Zahra ingin pisah kak,"


"!!!???"

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2