
Suasana menjadi hening bagi Zahra dan Riska, mereka sudah merasa telak bahwa merekalah yang di sindir dalam teater itu, entah apa yang berada di dalam fikiran mereka semua hingga menampilkan teater mereka, namun dengan hati yang kuat Zahra dan Riska mencoba untuk bertahan dan ber positif thinking. Zahra menggenggam erat tangan tangan Riska, berusaha menenangkan Riska yang sudah mulai terlihat merasakan sesak di dadanya, karena sudah jelas terlihat bahwa teater itu akan penuh dengan isi yang negatif tentang mereka.
"Mengisahkan seorang gadis yang tomboy, ia berpenampilan seperti lelaki, cantik memang dan juga baik bahkan sering membantu teman temannya di kala butuh," ucap sang pembawa cerita.
"tetapi siapa yang tahu di balik itu semua, di balik kebaikan nya ia menyembunyikan sesuatu yang tak dapat terduga," imbuh sang pembawa cerita.
"kamulah yang melarang ku untuk dengan dia, apakah kamu cemburu?! itu urusanku jangan ikut campur," ucap salah satu tokoh yang memerankan Riska yang terlihat sedang di nasihati oleh seseorang yang berperan sebagai Zahra.
"sahabatnya ini terus berada di sisinya, namun jangan salah, ternyata kerap ia terlihat dengan seorang pria yang terlihat kaya, tetapi tidak jelas asal usul nya. Lalu siapakah dia? apakah benar dia adalah wanita simpanan atau permainan juga?," ucap sang pembawa cerita yang mengundurkan Zahra dalam peran seseorang.
"ah tidak aku hamil," ucap tokoh yang berperan sebagai Riska.
"nak, kamu ga mungkin hamil, kamu ga boleh hamil, ibu sama bapak terpaksa harus mengurungku menyembunyikan mu hingga kamu melahirkan anak itu,"
"setelah beberapa saat datanglah pihak kampus yang mencari gadis tomboy, agar kembali ke kampus dengan segera, namun selalu di cegah oleh kedua orang tua si tomboy,"
"maaf pak, buk anak saya masih belum bisa hadir di kampus jadi tolong waktunya pak buk, besok anak saya pasti dapat hadir di kampus jika masalah kami telah selesai,"
"tidak bisa, bapak ibu, jangan jangan anda membuat penyekapan pada seorang wanita remaja,"
"pihak sekolah sudah curiga dengan tingkah laku kedua orang si tomboi sehingga pihak sekolah menyelidiki kasus apa yang sebenarnya terjadi pada mereka,"
"permisi kami dari kepolisian,"
"Polisi datang dengan pihak sekolah untuk menggeledah rumah si tomboy dan tomboi ketemu dengan keadaan yang murung dan menyedihkan, dengan memegang perutnya, ia melihat pak polisi dan pihak guru yang datang dengan terkejut,"
"kamu, kamu kenapa bisa? pe perutmu?," ucap seseorang yang berperan sebagai pihak sekolah.
"apakah kamu menikah di luar nikah? kenapa kamu tidak meminta pertanggung jawaban?," ucap yang berperan sebagai polisi.
"si tomboy melangkah menjauh dari mereka ia membayangkan bagaimana dirinya tidak berguna, bagaimana ke kebodohan dirinya yang telah di lakukan ya, dan pasti semua orang akan mengejeknya karena kesalahannya, hingga si tomboy melihat kearah luar jendela dan melompat bunuh diri bersama dengan janin nya yang mulai membesar,"
"tidak!! anak ku," teriak seorang yang berperan sebagai orang tua si tomboi.
"tidak!!,"
"beginilah akhirnya jika mereka melakukan kesalahan atau kecerobohan yang tidak mereka fikirkan terlebih dahulu, jadi ingatlah untuk tidak terlalu mudah percaya dengan nikmat dunia, lalu bagaimana dengan kisah sahabatnya? sampai saat ini masih menjadi pertanyaan bahwa ia hanya menjadi simpanan ataukah pelayanan, Tamat."
prok orok prok
Banyak orang orang yang bertepuk tangan dengan teater itu, Riska sudah tidak tahan lagi ia mengerti maksud sindiran dari teater itu bahwa mereka menginginkan Riska mati, Zahra yang melihat Riska sudah tidak tahan dan ingin pergi, merasa geram ia terbangun dari duduknya dan berjalan menuju atas panggung.
__ADS_1
"Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," ucap Zahra di depan mic yang langsung menjadi sorotan para orang orang.
"hmmh, pertama Tama saya ingin mengucapkan terima kasih pada para teman teman yang telah sukses membuat teater ini, hingga ada pengajaran bahwa jangan sampai tertipu daya oleh nafsu dunia, mari bertepuk tangan dulu," dan mereka pun bertepuk tangan.
"tetapi selebihnya saya menilai teater ini sangat buruk, sangat begitu buruk bagi generasi bangsa baik dunia maupun akhirat," ucapan Zahra langsung telak pada mereka semua.
"Zahra apa yang kamu lakukan!," geram MC panggung.
"maaf ya para hadirin, Zahra turun sekarang juga!," ucap MC.
"tunggu dulu saya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan nona ini, saya ingin tau apa alasannya sehingga ia berani maju ke depan dan bertindak demikian," ucap salah satu penjabat yang memegang kuat investasi dari kampus itu, sehingga Zahra mendapatkan kesempatan untuk berbicara
"baik, terima kasih, pertama tama saya sangat merasa bahwa yang dimaksud dalam teater ini adalah saya dan sahabat saya yang tengah hamil tua, yang duduk disana," Zahra menunjuk ke arah Riska sehingga seseorang berbicara menghadap Riska.
"tetapi apakah benar yang kalian inginkan adalah agar sahabat saya mati atau mengugurkan kandungannya? jika benar demikian lalu apa pentingnya HAM di negeri ini? yang memberikan hak untuk hidup bagi seseorang?,"
"baiklah begini saya mengaku, bahwa sahabat saya salah, tetapi dia menyesalinya, kalian menghujatnya? tetapi Allah sedang berusaha menyembunyikan aibnya, kalau kalian hanyalah hamba yang tidak tahu apa apa. Lalu apakah kalian lupa dengan firman Allah yang berkata bahwa Allah lebih membenci orang alim namun munafik dan menyayangi hamba Allah yang berdosa namun ingin bertobat," imbuh Zahra yang membuat semuanya terdiam
"bukan hanya dalam Islam, tetapi saya rasa didalam semua agama mereka mengajarkan bahwa yang sedemikian rupa, sahabatku tersayang," Zahra mulai meneteskan air matanya.
"mati?, kalian menyuruhnya mati, jauh sebelum kalian menyuruhnya ia telah beribu kali berfikir untuk mati namun di urungkan nya, karena Tuhan membenci bunuh diri, setelah mati apakah kamu yakin dosamu diampuni dan bisa masuk surga? tidak! justru kamu akan langsung jatuh ke neraka yang sakitnya seribu kali lebih sakit dari siksa dunia!," ucap Zahra dengan suara setengah menangisnya.
"menggugurkan bayinya? meskipun dia dan lelaki itu yang bersalah bukan bayi di kandungan nya, tapi tetap berfikir untuk mengugurkan nya? dialah yang paling pertama menyetujuinya, namun seolah olah nyata di sepertiga malam ia mendengar seorang anak bayi berkata kepadanya,"
"Dia memang salah tetapi apakah benar jika kita melarangnya untuk memperbaiki kesalahannya, dia mau berubah tapi kalian salahkan? lalu bagaimana dengan diri kalian apakah kalian sempurna? tidak pernah melakukan kesalahan sekalipun? jangan egois, ketika melihat seseorang menggunakan bayi kalian marah, orang bunuh diri kalian hujat, dan sekarang seseorang yang ingin bertaubat kalian perlakukan seperti ini, maaf maaf maaf yang sebesar besarnya, terkadang di mata manusia benar belum tentu Dimata Allah benar, Dimata manusia salah belum tentu Dimata Allah salah. Berdirinya saya disini hanya ingin meluruskan ke salah pahaman yang terjadi, maaf dan terima kasih," ucap Zahra mengakhiri ucapannya.
prok prok p****rok
"bagus nak aku kagum dengan keberanian dan konsepmu," ucap pejabat yang memberi Zahra kesempatan berbicara. Dan yang lain pun ikut bertepuk tangan, dan menyesali perbuatan mereka, sedangkan Reza menunduk merasa sedih di hatinya. Ibunya yang melihat Reza seperti itu memegang pundak Reza dan menenangkan Reza.
Zahra menghampiri Riska dan membawanya kembali ke kelas, terlebih lagi Riska kini telah banjir oleh air mata.
"Riska, Zahra," panggil para teman teman Riska dan Zahra, terutama mereka yang berperan di teater menghampiri Zahra dan Riska.
"ya ada apa?," tanya Zahra dengan kesal.
"mmh, maafkan kami, kami salah kepada kalian berdua, maaf kami melupakan kebaikan kalian hanya karena sebuah kesalahan kalian," ucap para teman temannya itu.
"Riska? gimana mau di maafin apa di hajar? haha," Zahra menaruh sedikit canda di akhir kalimatnya.
"maaf kan aku juga, masalah kalian aku sudah memaafkan ko," Riska mengulurkan tangannya pada teman temannya itu, dan mereka pun mengalami satu sama lain dan saling memaafkan.
__ADS_1
"Hai sayang!," ucap Rahman yang datang dengan tampannya itu. Membuat para teman temannya Zahra dan Riska kembali bertanya tanya mengenai hubungan Zahra dan Rahman.
ya Allah kenapa manggilnya begitu si?, kan banyak orang. gumam Zahra dalam hati dengan kesal.
"istriku sayang kenapa cemberut? eh habis nangis ya?, siapa yang nangisn kamu kasih tau aku, cepat!," ucap Rahman yang sebanarnya hanya menggertak teman teman Zahra karena ia baru saja menerima laporan dari Arnius sehingga ia bergegas menuju kampus Zahra.
"ga ko, aku ga apa apa,"
"serius?, ya udah yuk mamah udah nunggu katanya mau makan makan dirumah, eh ada mamah Tini juga loh, Riska juga ikut sekarang yah, bapak ibuk juga kerumah sama Alfie kita makan makan dirumah," ajak Rahman yang di jawab anggukan oleh Zahra dan Riska.
suami? orang tua? berarti mereka suami istri, bukan simpanan atau apapun? ******! kalau keberatan terus lapor polisi bisa kena pasal kalau begini ceritanya. Ucap para teman teman Zahra dan Riska di dalam hati dengan serempak.
.....
Seminggu berlalu...
Riska telah melalui masalahnya dengan lancar, semua semakin membaik dan membuat Riska menjadi semakin sehat dengan janinnya. Riska baru saja turun dari masjid dengan Alfie untuk melakukan shalat berjamaah.
"Riska tunggu," ucap Alfie setengah mengejar Riska yang berjalan pulang.
"iya ka?,"
"Riska, sudah lama aku memendam ini semua, tapi kali ini aku memantapkan diriku, bahwa kamulah keyakinanku,"
"??"
"Riska maukah kamu menikah denganku?," Alfie mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya untuk melamar Riska di depan Masjid saat itu
"!!!,"
"jangan khawatir kan masalah kandungan mu, dia anakmu berarti anakku juga," ucap Alfie dengan tulus namun Riska tidak menjawab apapun.
"Riska?," Alfie bertanya meminta kepastian pada Riska.
"a_aw!! perut, perut aku keram," ia teringat bahwa dari semalam Riska memang sudah merasakan mulas di perutnya.
"astaghfirullah itu cairan banyak sekali," ucap Rahman terkejut melihat mukenah Riska yang sudah mulai basah.
"ya Allah itu air ketuban aku!," Riska setengah berteriak.
"!!"
__ADS_1
bersambung.....