Cinta Zahra

Cinta Zahra
hidupku


__ADS_3

"tuan penyebab terbesar nona keguguran adalah stres, jadi saya menyarankan agar anda lebih menghiburnya, menemaninya, dan menyemangati nya karena mungkin semangatnya untuk hidup juga sudah hilang dari dirinya, " saran dokter pada Aria.


lalu melihat kedalam ruangan dimana Zahra terbaring melamun menghadap luar jendela.


"hmmh," Aria menarik nafas dalam, "baik, aku mengerti,"


"apakah di luar sana jauh lebih tenang ya suster? apakah disana begitu indah, aku merasakan ada sesuatu yang menunggu disana, tapi apakah disana jauh lebih indah, aku rindu ketenangan sus," gumam Zahra yang berbicara pelan kepada suster yang sedang menyuntikkan obat pada selang infus Zahra.


heran bukan main bahkan suster itu sempat merinding mendengar kata kata Zahra, ada rasa iba dan kasihan, bahkan sampai bertanya tanya apa yang terjadi pada pasien nya yang satu ini, mengapa bisa seperti ini dan bisa berkata demikian.


"nona tenanglah, pasti semua akan baik baik saja, tentu saja akan lebih menyenangkan lagi, jadi sekarang istirahat dulu ya," bujuk sang dokter sembari menaruh tangan Zahra di atas perut Zahra karena sedari tadi Zahra mengarahkan tangannya keluar jendela seolah olah ingin meraih sesuatu.


"benarkah? akan lebih menyenangkan aku ingin kesana suster, sesegera mungkin," ucap Zahra pada suster itu, yang semakin membuat suster itu terkejut karena ia tak tau apakah yang ia katakan barusan benar ataukah salah.


Bukan hanya suster itu, tetapi Aria yang juga mendengarkan dari tadi ikut terkejut dengan apa yang baru saja di katakan Zahra.


Dan akhirnya Aria memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Ia juga berniat untuk meminta simbok agar segera menyiapkan bahan apa saja yang diperlukan oleh koki yang akan memasak untuk Zahra.


"simbok!!, " teriak Aria.


"iya tuan?"


"perkenalkan ini adalah koki Risya, dia yang akan memasak makanan untuk dibawa ke RS untuk zahra, tolong beritahu dimana tempat bahan bahannya ya, jadi simbok ngak perlu terlalu repot dengan urusan rumah lagi karena saya akan lebih merepotkan simbok di rumah sakit untuk kedepannya" pinta Aria pada simbok


"oh iya tuan tidak apa apa, mari nona," simbok mengajak koki Risya untuk kedapur dan menunjukan dimana saja peralatan yang ada, dan bukan main tentu saja yang ada disana semuanya sudah steril dan higienis.


***


Beberapa saat kemudian, simbok menghampiri Aria yang tengah berada di ruang kerjanya.


tok tok tok


"tuan? saya membawakan kopi untuk tuan,"


"oh, iya masuk mbok"

__ADS_1


"saya pikir tuan lelah jadi saya membuatkan kopi untuk tuan," tawar simbok sembari menaruh kopi dengan perlahan di dekat Aria


"simbok," Aria menggenggam tangan simbok dan mencium nya,


" simbok yang selalu ada untukku dari kecil simbok selalu merawatku anak simbok yang simbok sekolahkan dipondok sedangkan simbok sendiri sibuk merawatku, simbok bahkan lebih lelah mengurusku daripada ibuku, tapi simbok masih saja terlalu formal padaku,"


"tuan.." lirih simbok yang mendengar Aria bersedih.


"ayolah simbok," mata Aria berkaca


"nak," lalu simbok membelai kepala aria, "apakah kau mencintai Zahra, "


"simbok lebih tau daripada diriku sendiri,"


"lalu apa yang kau lakukan? bertaubatlah sebelum terlambat,"


"aku terluka simbok,"rengek aria


"luka itu datang dari setan dan yang kau anggap benar juga berasal dari setan yang membuat sesuatu yang salah menjadi indah, ini semua hanya salah paham, kau juga tau itu tapi hatimu menutupinya,"


"beberapa saat yang lalu kau adalah anakku namun sekarang kau hanya majikan ku, tuan pikirkanlah baik baik, jika masih tidak percaya anda bisa mengecek nya lewat cctv, jangan terlalu keras kepala sehingga menutupi semua bukti yang mengarah kepada kebenaran yang bertentangan dengan mu baiklah saya permisi dulu saya akan segera ke RS untuk menjenguk nona." simbok pun berlalu meninggalkan Aria masih dengan rasa kecewa nya dengan sikap Aria yang terlalu keras kepala


***


"assalamualaikum wr.wb nona," simbok datang ke RS untuk Zahra


"aaaaaaaaaaa simbokkk, aku kangen" Zahra langsung memeluk simbok saat simbok mendekat.


"nona sedang apa?," tanya simbok yang melihat Zahra memegang pulpen dan kertas ditangannya.


"oh ini buat mas Aria simbok, ini permintaan maaf ku tapi aku malu hehe," Zahra tersipu seperti anak kecil yang baru berusia 7 tahun


"kalau malu biar simbok yang berikan," tawar simbok untuk menenangkan Zahra


"tapi nanti simbok saat mas Aria mau menemaniku besok, haha aku akan merengek untuk ditemaninya seharian besok," Zahra tersenyum terpaksa sembari menunduk memandang surat ditangannya.

__ADS_1


"nona, pasti tuan bersedia, tolong janganlah bersedih, tuan Aria mencintaimu nona," senyum simbok, lalu meraih wajah Zahra dan memeluknya


"baiklah, mmmmm sepertinya ada aroma makanan,perutku bunyi nih," ledek Zahra sembari mengendus ngendus aroma makanan yang dibawa simbok


"haha iya nih simbok bawa dari rumah, ada koki baru yang khusus memasak untuk nona, mari simbok suapi,"


"woah apakah mas Aria yang memintanya?," tanya Zahra penuh dengan ria dan gembira.


"iya nona karena tuan mencintai nona" jawab simbok yang semakin membuat Zahra bersemangat.


simbok menyuapi Zahra dengan penuh senyuman, Zahra melahap makanan tersebut dengan semangat ia membayangkan hari esok, karena perasaan nya bebannya akan segera hilang.


aku tau nona, nona sangat sedih, lihatlah dirimu yang semakin kurus ini, aku bahkan hampir tak sanggup menahan air mataku. batin simbok.


simbok kau bahagia bukan melihat ku bersemangat kan?, aku kuat simbok aku tidak lemah, haha bahkan entah kenapa aku merasa bahagia aku tak sabar menunggu hari esok rasa rasanya, bebanku akan hilang. ibu ayah aku rindu kalian. batin Zahra, tanpa sadar Zahra menjatuhkan air matanya.


"nona?, nona baik baik saja," cemas simbok yang melihat Zahra meteskan airmata.


"tidak apa apa simbok, percaya atau tidak aku bahagia," senyum Zahra. "simbok hari sudah sore, aku ingin sekali jalan jalan diluar aku pengap mbok," rengek Zahra yang ingin dibawa jalan jalan diluar ruangan


"hmmh baiklah, mari simbok ambilkan kursi roda untuk nona," sahut simbok dengan senyuman bahagia nya


***


senja yang cerah, seperti menyambut senyuman Zahra, namun sunyi seperti tak bertepi, sejuknya udara merasuk kedalam jiwa, indahnya matahari yang bersiap untuk bersemayam. seperti itulah cuaca yang dinikmati Zahra saat ini.


"simbok ini adalah syal yang kubuatkan untuk mas Aria, aku pernah mempelajarinya dari ibu, haha aku diam diam membuatnya sebagai kejutan, dan simbok didalam kotak ini ada sejumlah perhiasan dari uang yang diberi mas aria, masing masing set telah kuberi nama untuk simbok, leela, ibu,mamah, tina dan Yeni. " lirih Zahra.


"nona," simbok mulai bersedih, entah kenapa ia merasa merinding mendengar Zahra.


"tapi!!, aku tidak akan memberikannya sekarang, hehe aku hanya akan menitipkan nya pada simbok, simbok boleh buka setelah hari esok dan memberikannya sesuai nama yang tertera, karena aku merasa bebanku akan usai besok, haha apa lagi jika bukan karena waktuku bersama mas Aria. jadi tunggulah sebentar lagi ya simbok, karena sebentar lagi mas Aria akan memberikan apa yang aku mau"


"baik nona,"


ya allah begitu ringan perasaanku saat ini, apakah ayahku sedang melihatku sekarang ya allah?, maafkan segalanya ya allah, apakah azanku dan bayi dirahimku yang telah kau panggil, sedang dipangkuanmu sekarang?, aku rindu mereka ya allah, namun aku tenang karena mereka akan lebih bahagia jika bersamamu. Terimakasih atas segala yang kau berikan ya allah, kutitipkan salam rinduku untuk anak anak ku dan ayahku.. aamiin ya rabbal alamin.

__ADS_1



__ADS_2