
simbok membuat minuman yang baru dengan hati yang begitu kesal, lalu memberikannya kepada angel dengan sedikit nada yang agak marah dan dengan juteknya simbok memberi minuman tersebut tanpa ada basa basi memberi hormat atau sopan santun.
"terima kasih banyak bi, " ucap angel dengan senyuman dan sopan.
"ya," jawab simbok singkat tak memperdulikan lalu simbok kembali ke dapur sembari menggerutu kesal.
apa wanita itu tidak punya hati? mendekati seseorang yang sudah berumah tangga! ah ya Allah dosa apa lagi ini?, kasihan nona Zahra pasti hatinya sangat terluka sekarang, dia pasti akan mendapatkan karma nya!!. Simbok merasakan darah nya kini mendidih sudah sampai di ujung kepalanya.
,Aria melihat simbok yang berlalu pergi dengan wajah masam mencari cemas, ia pun lalu kini melihat angel karena kecemasannya.
"kamu kenapa kesini," tanya Aria khawatir dan tak habis fikir Angel memiliki keberanian sebesar itu
"aku kangen lah mas," jawab angel kesal dengan nada yang begitu manja.
"iya tapi kan bisa jangan kesini, bisa kasih tau aku dulu biar ketemu diluar gituh, bisa kan?" timbal Aria dengan nada yang lembut dan memegang pipi Ang
"kamu kemarin ngak mau nginep dirumah ku sekarang kamu malah marahi aku karena kesini, udah HP susah dihubungi lagi" kesal Angel
"oh iya lupa, HP aku mati tadi jangan marah ya," jelas Aria
"tuh kan biasanya juga selalu bisa dihubungi kapanpun itu, iihh kesel tau, kapan sih kamu cerai sama dia!," kesal Angel dengan nada sedikit meneras
"sttt jangan berbicara terlalu keras ini di rumah ku nanti ada yang denger gimana?," ucap Aria dengan rasa khawatirnya.
"iih emang kenapa kalau di denger biasanya juga gapapa biasanya kamu oke oke aja, ngak kayak begini, sekarang kamu itu kenapa si!," Angel semakin kesal karena sikap Aria yang kini sudah mulai melarang karang Angel karena biasanya Angel dapat melakukan apapun yang dia mau sesuka hatinya tanpa ada yang bisa melarang ataupun membatasinya
"udah yang sabar ya," ucap Aria menenangkan Angel
setelah beberapa lama kemudian Angel telah pergi dari ke kediaman Aria Adiwijaya, Namun meskipun hari sudah menunjukkan waktu hampir sore Zahra masih belum pulang yang senantiasa membuat Aria merasa cemas.
Aria pun menunggu Zahra seharian, ia sudah mengambil cuti selama tiga hari sehingga ia tidak terlalu ter bebankan oleh pekerjaan nya, ia gelisah karena tak menemukan Zahra hingga sore.. Dan pada akhirnya menjelang magrib Zahra pulang kerumah, lalu Aria bergegas menghampiri Zahra tanpa menunggu apa pun lagi.
__ADS_1
"kamu kemana aja sih Ra ah? telepon aku ngak diangkat, sms ngak di balas, seharian aku nunggu kamu tau," cerocos Aria ketika menemukan Zahra, ia begitu cemas dengan ke adaan Zahra
"ooh, aku lupa bawa HP, hmh mas maaf ya," Zahra menjawab dengan nada yang sedikit malas dan senyuman yang tidak memuaskan.
"kamu kemana aja si?,"
"gak kemana mana aku cuma ke tempat kerja aku dulu ko, ketemu temen temen, memangnya mau kemana lagi?" jawab Zahra.
"emang aku ada cowok apa yang suka ketemu di belakang kamu, ya kali aku begitu" gerutu Zahra dengan nada rendah suara yang kecil namun masih dapat didengar samar samar oleh Aria, Aria pun mengerti maksud Zahra dan merasa bersalah.
"ssttttt jiaahhhh," Aria menarik nafas panjang.
"kenapa gak bilang sama aku?, biar aku temenin kamu jadi kamu juga ngak kenapa Napa nantinya aku kan suami kamu," imbuh Aria menenangkan diri nya masih merasa bersalah.
"oh jadi sekarang mas bilang mas suami aku, bukannya mas gak peduli ya," akhirnya kata kata Zahra keluar ia sudah tak tahan,"maaf mas aku kekamar dulu," Zahra membaca istigfar berkali kali sambil mengelus dada nya.
Aria segera menghampiri Zahra ke kamar, dan mendapati Zahra yang sudah siap untuk tidur dengan azan.
"aku lagi datang bulan, capek juga jadi mau tidur," jawab Zahra tanpa basa basi
"ra aku minta maaf," akhirnya Aria memutuskan untuk meminta maaf apa lagi ia telah menyadari kesalahannya itu apa
"gapapa bukan salah mas," Zahra menjawab dengan memejamkan matanya
"aku gak tau kalau dia kerumah Ra.." tidak ada jawaban dari Zahra, " sungguh aku tidak tau, itu juga bukan salah ku biasanya kamu ngak marah, aku jujur Ra terus juga.."
"mas ini itu dirumah loh, iya kalau mas ngak dilingkungan yang dikenali orang, aku sedang menjaga citra mas, ditambah lagi ini itu dirumah dan ada simbok juga, masih ada tetangga yang mengenali juga dan menilai juga" Zahra mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya.
"iya aku minta maaf," Aria memegang tangan Zahra dan mencium kening Zahra
deg
__ADS_1
suar detak jantung Zahra sudah mulai tak beraturan, Aria pun salah tingkah ia tak tau harus bagaimana entah kenapa dirinya melakukan hal tersebut, ia berfikir mungkin karena terbawa suasana, setelah beberapa menit terdiam Zahra pun berusaha memecahkan keheningan.
"tapi harus ada konsekuensi nya," ucap Zahra
" baiklah coba katakan kamu mau apa?,"
"besok kan mas masih cuti, kita liburan bareng ya,"
"kamu mau kemana,?"
"aku mau nonton bioskop, terus kepantai juga, apa lagi yahhh mmm ah sambil nonton bioskop sambil belanja juga, beli gamis baru jilbab baru, apa yah,"
"hahaha iya iya apapun yang kamu mau," Aria menggandeng tangan Zahra, menuju kasur, "aku tidur disamping kamu ya azan nya agak pinggiran, " Aria menggeser sedikit tubuh azan yang sudah tertidur lalu menyuruh Zahra tidur, dan menyelimutinya dan Aria pun berbaring disamping Zahra. Zahra yang tertidur dengan tubuh memiring, dilihat oleh azan dengan tubuh menghadap atas, jantungnya kembali tak beraturan, setelah beberapa saat Aria akhirnya ikut memiringkan badannya menghadap Zahra, dan memeluk Zahra. Zahra terkejut ini pertama kalinya dia diperlakukan oleh Aria
ya allah detak jantungku cepet banget, dulu sama mas Andrean gak sampe bgini amat, tanganku pun sudah keringat dingin. batin Zahra.
"ra kamu kedinginan, " Aria kini menggenggam tangan Zahra.
"sedikit mas, " jawab Zahra malu malu.
Alhasil Aria semakin mempererat pelukannya.
"kalau begini udah agak hangat belum?,"
"mmh sudah mas," angguk Zahra pelan.
Diciuminya rambut Zahra dari belakang, kini zahra memeluk azan dengan tangan sebelah dan sebelahnya lagi memegang tangan Aria yang memeluknya, baginya ini adalah saat saat yang sangat berharga dan begitu membahagiakan dihidupnya. mereka pun tidur denah perasaan penuh bahagia dan senyuman bagaikan mata hari.
ingin rasanya menghentikan waktu disaat ini. batin Zahra
bersambung....
__ADS_1