Cinta Zahra

Cinta Zahra
kenyataan


__ADS_3

Zzzzzzz


serasa seperti ada petir yang menyambar, Rahman tidak percaya ternyata Zahra mengatakan secara langsung dengan menatap mata Rahman. Entah apakah keinginan Rahman itu benar atau salah dengan menginginkan Zahra mengatakan hal yang sesungguhnya kepadanya, namun yang terjadi malah adalah suatu hal yang menyakiti hatinya akan membuat hatinya serasa hancur berkeping-keping hancur lebur seperti butiran debu.


"aku bilang aku mau cerai, puas sekarang!!!, "Zahra mengeraskan suaranya karena melihat Rahman yang kini dia mematung masih melihat ke arah Zahra terlihat jelas bahwa Rahman sangat tidak percaya atas apa yang telah dikatakan oleh Zahra kepadanya saat ini.


"kenapa sekarang diam aja, kamu kan yang mau dengar aku ngomong begini, bahkan sambil menatap wajahmu kok sekarang percayakan aku maunya apa?, dan aku mohon untuk cepat mengurus surat perceraian kita "Zahra memalingkan wajahnya memejamkan matanya mencoba untuk menahan emosinya karena ia sudah ingin mengeluarkan air matanya. Rahman masih mematung di posisi semulanya.


"jika tidak ada urusan lagi bisakah kakak pergi dari sini aku butuh istirahat aku lelah," ucap Zahra dan Rahman pun tersadar dari lamunannya, ia menarik nafas panjang mencoba untuk menjernihkan pikirannya lalu ia berjalan pergi menuju ke keluar ruangan. ia berpamitan kepada semua orang yang ada di luar lalu ia memutuskan untuk pergi menenangkan dirinya bukan berada di rumah Zahra.


"kenapa seperti ini," ucap Tini yang menutup mulutnya, mulai menangis dan tidak percaya bahwa ternyata hubungan rumah tangga anaknya harus berakhir sampai disini.


Zahra melihat kearah pintu di mana tempat keluar dari kamarnya ia memandang pintu itu lekat-lekat lalu ia memegang sprei di kasurnya dengan kencang ia bahkan memegang dadanya dan menggenggam bajunya ia sudah tidak bisa menahan lagi sesak di dadanya, Zahra pun menangis sejadi-jadinya saat itu ia mulai mengeluarkan air matanya dan tak ingin berhenti ia selalu berkata.


"aku sayang sama kakak aku cinta sama kakak aku nggak mau pisah sama kakak," ucap Zahra sambil terisak tangisnya.


"tapi apa boleh buat ini semua demi kebahagiaan kakak ini semua kulakukan hanya untuk kakak aku ingin agar kakak bisa bahagia meskipun tidak ada aku di sini kakak aku berharap setelah ini kakak bisa melakukan kehidupan kakak lebih baik lagi tidak seperti diriku yang tidak bisa melayani kakak dengan sepenuhnya, berjanjilah padaku bahwa setelah ini kakak akan hidup jauh lebih baik lagi dari yang sebelumnya aku mohon berjanjilah jaga diri kak aku mohon ini semua kulakukan demi kebaikan kakak," ucap suara sambil terisak tangisnya ia tidak dapat menahan tangisnya ini tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya dan ia merasa bahwa kepalanya begitu berat namun ia mencoba untuk menahan nya tangisnya terus terisak iya terus berdoa kepada Allah untuk diberikan yang terbaik dan semoga apa yang saya lakukan itulah yang terbaik karena bagaimanapun juga ini semua demi kebaikan suami yang ia cintai satu-satunya orang yang memberinya cinta yang tulus dan satu-satunya orang yang telah ia berikan kasih sayang yang tulus karena Allah ta'ala.


Nisa mendengar Zahra berteriak ia berniat untuk naik ke atas dan ingin menenangkan Zahra Ramadhani mencegah ia memegang tangan Nisa dan memandang lekat Nisa, ia menatap Nisa seolah berkata "ini adalah tugasku sebagai adiknya selama ini aku tidak pernah melakukan hal yang banyak untuk kak Zahra dan kali ini aku ingin berusaha untuk bisa memenangkan ke Zahra dengan diriku sendiri,"


Nisayang mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ramadhani dan biarkan Ramadhani untuk pergi menenangkan Zahra, Ramadhani pun pergi berlalu ia pergi dengan setengah berlari menuju kamarnya Zahra ia menemukan Zahra yang sangat sedang terluka, Zahra menangis sejadi-jadinya sambil memegang dadanya dan mencoba untuk menenangkan dirinya bahkan sampai merenggut sprei kasur berkali-kali. Ramadhani berfikir dibandingkan dengan Rahman mungkin Zahra merasakan rasa sakit yang lebih menyakitkan daripada Rahman karena Zahra lah yang mengambil keputusan yang tidak ia inginkan dan mencoba untuk membuat Rahman membencinya agar Rahman bisa bahagia dengan wanita lain selain dirinya setelah ini.


"kakak," Ramadhani berlari menghampiri Zahra ia memeluk Zahra dan menggenggam erat tubuh Sahara, iya berpikir mungkin tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Zahra namun setidaknya ia akan selalu ada untukku Zahra dikala susah ataupun senang. tak terbayang bagaimana rasa sakit di hati Zahra ataupun di hati Rahman pada Diri Ramadhani, namun pada intinya yang Ramadan inginkan hanyalah ketenangan dalam diri Zahra meskipun waktu Zahra mungkin terdengar relatif singkat di dunia. meskipun Ramadhani mencoba untuk berpikir positif dan tidak ingin terlalu berpikiran yang tidak-tidak akibat perkataan dokter namun tak dapat disembunyikan bahwa dirinya juga sangat khawatir karena perkiraan dokter yang telah memberitahukan tentang kondisi Zahra.


.....


Rahmat pergi menenangkan diri ia pergi menuju taman di pinggir danau suasana yang terlihat indah di malam hari apalagi dengan sunyi dan ketenangan yang menyempurnakan kondisi nya.


"Ya Allah kenapa harus seperti ini aku sangat mencintai istriku Ya Allah aku mohon kepadamu ya Allah agar engkau memberikan yang terbaik untuk kami, agar engkau memberikan jalan yang lain untuk agar jangan sampai kami berpisah ya Allah hamba memohon kepada-mu Ya Allah hamba mohon ya Allah," ucap Rahman berdoa dengan hati yang bersungguh-sungguh hati yang tulus dan juga hati yang sedang bersedih.


"aku tidak akan menyuruh orang langsung memberikan surat cerai kepada Zahra agar ia bisa langsung menandatanganinya, karena aku ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh Zahra mengapa ia sampai menginginkan cerai," ucap Rahman bergumam.


" aku akan mencari tahu alasannya dengan mataku sendiri dengan kemampuan ku sendiri, jika ia ingin cerai maka ia harus hadir di pengadilan begitu juga dengan diriku yang akan hadir dan akan menyaksikannya secara langsung karena aku tidak ingin ada sesuatu yang disembunyikan ataupun sampai ada sesuatu yang tidak aku ketahui karena sungguh aku percaya kepada Allah bahwa dia lah tulang rusukku dan jodohku hingga Jannah Allah subhanahu wa ta'ala," ucap Rahman mengepalkan tangannya karena tidak ingin bercerai dengan Zahra, karena Zahra lah wanita yang sangat dia cintai wanita yang begitu berharga bagi Rahman wanita yang selalu menjadi penyemangat di setiap hari harinya, wanita yang selalu menyinari harinya wanita yang selalu mengingatkannya, serta wanita yang selalu menghiburnya dan menghilangkan rasa penat nya setiap iya ya baru selesai bekerja.


"jika memang kita harus bercerai maka pengadilan lah satu-satunya jalan Allah memisahkan kita namun jika itu bukan yang terbaik maka Allah punya seribu cara untuk menyatukan kita kembali dan hanya kematian karena Allah ta'ala lah yang dapat memisahkan kita suatu saat nanti," ucap Rahman mengambil keputusan dan mencoba meneguhkan hatinya meyakinkan dirinya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


****


kini 1 bulan berlalu, pengadilan telah dilaksanakan dan ini adalah pertemuan yang kedua di dalam pengadilan, Zahra dan Rahman jika bertemu ia hanya memandang satu sama lain bahkan saling menyapa tidak ada pertengkaran atau keluhan diantara mereka-mereka rukun layaknya rumah tangga yang tidak pernah mengalami masalah apapun, mereka bahkan menjadi rumah tangga yang termasuk dalam kerukunan yang akan berpisah.


terlihat jelas dalam diri Rahman bahwa ia benar-benar tidak menginginkan Zahra untuk berpisah dengannya, bahkan terlihat jelas bahwa Rahmat masih sangat sangat mencintai Zahra, begitupun dengan Zahra Zahra berusaha untuk menyembunyikan rasa kasih sayang pada dirinya untuk Rahman.


Zahra terlihat memegang kepalanya dan seperti ia sedang menahan rasa sakit di kepalanya saat itu, dan Rahman dapat melihatnya dengan jelas lalu ia menghampiri Zahra.


"kamu kenapa? kamu nggak apa-apa? kamu sakit udah berobat?," tanya Rahman dengan penuh khawatir Bahkan ia sampai memegang wajah secara dan melihat saran dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"enggak kok aku nggak apa-apa," jawab Zahra dengan lembut.


"tapi kamu kelihatan pucat sekali ini," ucap Rahman dengan khawatir


"nggak kok cuma telat sarapan aja tadi," jawab Zahra untuk menyembunyikan penyakitnya.


"kok kamu bisa setelah sarapan kenapa kamu nggak sarapan? aku belikan makanan yang kamu makan apa?,'' ucap Rahman dengan penuh perhatian dan khawatir


"enggak kak enggak apa-apa, nanti juga baikan kok aku udah terbiasa kayak begini," cara untuk menghindari Rahman karena bagaimanapun juga jika Rahman tetap begitu akan memicu hati Zahra untuk semakin mencintainya.


"biasa kamu bilang terbiasa, kok bisa gitu kamu sampai seperti itu biar aku belikan makan untuk kamu kamu tunggu sebentar di sini,"ucap Rahman lalu melihat Raditya yang menemani Zahra sedari tadi Zahra pada Raditya untuk menjaga Zahra selama Rahman pergi mencari makanan.


"aku bisa apa kak?," Zahra dengan menunduk dan menggenggam roknya


"inilah satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita," ucap Zahra lalu mulai menjatuhkan air mata.


"dia hanya ingin mengundurkan hari perceraian kamu sama dia dek, buktinya jika dia mau dia nggak perlu repot-repot untuk datang ke pengadilan hanya untuk mengurus perceraian kamu dan dia," ucap Raditya dengan penuh prihatin.


"jika dia mau dia bisa menyuruh bawahannya dia adalah orang yang kaya dia enggak perlu langsung turun tangan hanya untuk mengurus hal yang seperti ini apapun yang ia mau bisa menggantinya dengan satu kepalan karena seolah-olah dunia ini ada di tangannya itulah perumpamaan ya dek," ucap Raditya mencurahkan isi hatinya kepada Zahra, memberi pendapat apa yang ditemukan oleh Raditya pada diri Rahman untuk Zahra.


"iya aku tahu aku tahu aku juga nggak mau hari ini, tapi apa boleh buat inilah yang terbaik buat dia," ucap Zahra memandang Raditya dengan mata memelas.


"emang enggak ada cara lain apa dek belum terlambat kamu masih bisa kan mencari jalan lain?, kan bisa bicarakan baik-baik dengan dia kau bisa berbicara yang tenang secara damai rukun dan tentram dengan dia kakak yakin pasti kamu bisa menemukan jalan keluarnya," ucap Raditya memegang tangan Zahra.


"apa kak? apa!? coba aku tanya apa?,"ucap Zahra dengan bersungguh-sungguh

__ADS_1


"kematian? apakah kematian yang kakak maksud, dengan umurku yang diperkirakan tidak lama lagi kalau kakak berharap kematian menjadi jalan keluarnya? huh!,' tanya Zahra yang sudah tidak tahu harus berpikir apa lagi.


"kematian adalah jalan keluarnya bagi kakak tahu akhir dari semuanya?, berdasarkan dengan sifat kak Rahman itu tidak memungkinkan untuk dia menikah lagi jika aku memintanya mencarikan kumadu atau setelah aku mati ia mau menikah dengan yang lain itu tidak menjamin kak karena dia adalah orang yang keras kepala, dia orang yang selalu menyendiri jika telah kehilangan sesuatu yang ia sayang akan sulit bagi wanita lain itu untuk memasuki hidup ke arah man jika ke arah man masih memikirkanku karena mengira aku pergi darinya karena sebuah penyakit, bukan karena aku memang tidak mencintainya," ucap Zahra menjelaskan.


"aku cuma nggak mau gara-gara aku maka kebahagiaan ke arah mana hanya sampai disitu, bagaimanapun juga aku berharap yang terbaik" imbuh Zahra.


"lalu kamu pikir dengan kematian kamu, dengan perceraian kamu, semua akan baik-baik saja gitu? apa kamu berpikir setelah kamu bercerai dengan dia dia akan menjadi sangat membenci wanita, dia akan menyalahkan cinta, sehingga dia pun tidak akan percaya lagi apa itu cinta dan ia tidak akan percaya bahwa ada wanita yang dapat mencintainya dengan setulus hatinya begitupun sebaliknya, jadi apakah kamu pikir dengan kamu bercerai dengannya dengan kamu meninggalkannya dia akan menikah lagi?, apakah kamu pikir dengan kamu pergi meninggalkan di acara seperti ini dia akan bahagia? enggak dek semua itu nggak menjamin, Bahkan aku sempat berfikir bahwa itulah yang akan memicu di rumah ataupun dirinya menuju ke sesuatu yang lebih menyakitkan daripada hal ini," ucap Raditya yang membuat Zahra berfikir bahwa yang dikatakan Raditya juga adalah hal yang benar.


"aku bingung, aku sakit!!, aku tahu harus apa! apakah itu benar atau salah? aku takut karena semua ini kulakukan hanya demi Rahman seorang, dan aku pun pada akhirnya berani untuk mengambil keputusan ini,"


setelah beberapa saat kemudian...


Rahman datang dengan membawa nasi kotak di tangannya, tidak hanya satu ia bahkan memberi banyak dan membagikan nasi kotak itu kepada setiap orang yang datang sebagai saksi di sana, ataupun sebagai anggota hukum dan yang lainnya. sebenarnya jika Rahman mau Rahman bisa saja membuat keputusan pengadilan untuk tidak menceraikan mereka, namun Rahman bukan tipe orang yang suka menyuap orang yang di atas.


"ini dimakan ya," Rahman memberikan and1 bungkus nasi kotak kepada Zahra, Zahra melihatnya dengan tersenyum lalu meneteskan air matanya.


"kenapa?," tanya Rahman dengan terheran.


"gak apa-apa," jawab Zahra dengan menundukkan kepalanya sambil menggenggam nasi kotak itu.


"nggak suka? mau aku carikan yang lain? mmm?," tanya Rahman.


"enggak kok enggak apa-apa," ucap Zahra tersenyum nomor Rahma tidak puas dengan jawaban Zahra tidak puas dengan reaksi Zahra yang hanya memberinya senyuman dan memandang pemberiannya, Rahman lalu mengambil kotak di tangan Zahra dan ia membukanya serta bersiap untuk menyuapi


Zahra, Zahra yang melihatnya terkejut bahkan sempat terdiam.


"kenapa makanlah, dengan hal ini aku nggak ada niatan untuk meminta kamu mengatakan perceraian ini jadi tolong jangan takut lagi ya, aku hanya ingin memberikan perhatian untuk kamu aja," ucap Rahman dengan penuh kasih sayang.


"hmmh," Zahra tersenyum lalu ia menerima suapan dari Rahman.


"ssssttt," cara merasa kepalanya semakin sakit dan bahkan sangat berat rasanya ia sudah tidak tahan lagi dan berharap semua berakhir.


Braak


Zahra terjatuh pinsan.

__ADS_1


"Zahra!,"


bersambung....


__ADS_2