
"ka Reza mau ngasih cincin ini buat aku?," tanya Zahra sambil menunjuk cincin yang di pegang Zahra dengan penuh terkejut serta terkesan dan terkesima. Memang tak terkesan mahal namun anggun dan sederhana bahkan bisa mewakili seluruh isi hatinya dan bisa terkesan sangat berharga dan berhak untuk dijaga sepenuh hati bukan untuk disia-siakan, karena sejatinya barang itu bukan dilihat dari harga dan rupanya namun dari hati dan ketulusannya.
"aku minta maaf aku baru hanya bisa memberimu ini, tolong terimalah jika kamu bersedia, aku berjanji tidak akan menyia nyiakan kamu, aku akan lebih giat lagi dalam memperjuangkan mu, setidaknya berilah aku kesempatan sekali saja untuk membuktikan nya, mungkin dulu aku tidak pantas melakukan ini kepadamu karena tidak ada persiapan sama sekali, dan aku masih anak-anak sehingga aku tidak bisa menunjukkan perjuangan ku padamu, tapi percayalah saat ini aku sudah sangat sangat sedang memperjuangkanmu dan sampai kapanpun aku tidak akan menyerah sebelum kamu memberikan kesempatan kepadaku sekali saja, tidak lebih aku hanya membutuhkan satu kesempatan darimu agar kamu mengetahui isi hatiku yang sebenarnya," ucap Reza dengan sungguh-sungguh dan masih memperlihatkan cincin yang sederhana itu, mungkin siapapun akan mampu membelinya namun tidak semua orang akan mampu memberikannya kepada orang lain dengan secara tulus seperti yang sedang dilakukan oleh Reza saat ini.
"tapi ka aku ngak mau pacaran," jawab Zahra yang pada akhirnya Zahra berusaha untuk memutuskan keinginannya telak, karena ia tidak ingin sampai terjerumus kepada hal-hal yang tidak di inginkan hanya karena berpacaran, karena apa ada sih jadinya pergaulan pada anak zaman sekarang hanya memerlukan kata saling mencintai maka rusak sudah kesucian yang ada pada dirinya jika mereka tidak kuat menahan godaan, mereka bahkan belum sempat berpacaran hanya mengungkapkan rasa suka dan ketika sang wanita meminta pertanggung jawaban yang lelaki hanya memberinya harapan palsu, karena yang ia katakan hanyalah suka dan cinta yang bisa hilang oleh nafsu bukan berniat untuk menikahi karena sunnah serta perintah Allah dan Rasul nya.
deg
"huh!," Reza menarik nafasnya panjang karena ia mendengar keputusan Zahra, padahal ia telah mengumpulkan keberaniannya dengan begitu bersungguh-sungguh untuk mengungkapkan perasaannya pada hari ini, dan perasaannya jauh berbeda dengan 1 tahun yang lalu saat ia mengungkapkan perasaannya kepada Zahra dengan secara tiba-tiba tanpa adanya perjuangan, dan saat itu ia juga belum seutuhnya menyukai Zahra karena belum begitu mengenal Zahra namun tak bisa dipungkiri bila semakin hari Reza semakin merasa terkesan dan jatuh cinta pada Zahra, Reza juga pada akhirnya kini berusaha untuk menjernihkan fikiran nya agar tidak kehilangan kendali dan akal sehatnya dan melihat Zahra yang menunduk ke arah lain.
sedangkan disisi lain Riska memerhatikan mereka dari kejauhan, Riska memang bukanlah wanita sebaik Zahra bahkan tidak mengenakan hijab seperti Zahra. Itulah yang ada di dalam benak Riska untuk saat ini, jadi mustahil baginya untuk berharap pada lelaki manapun di dunia. Entah apakah ia merasa iri karena Zahra memiliki banyak lelaki yang bersedia berkorban untuk nya ataukah ada alasan lain yang membuatnya terluka saat ini, perasaan Riska saat ini benar-benar tidak karuan karena ia merasa bahagia untuk sahabatnya namun juga merasa sedih dan terluka untuk dirinya sendiri, bukan tanpa alasan pastinya namun ini masih sulit untuk diungkapkan atau ditafsirkan bahkan pada dirinya sendiri itulah yang ada dalam benaknya saat ini.
Riska sangat-sangat mad memperhatikan Zahra dengan wajah yang jenuh, dan ia juga sempat menunduk dan mengekspresikan kesedihannya dengan memandang ke arah lain dengan tatapan kosong tanpa adanya gaya, dan serta tanpa disadari Memei melihat kegelisahan yang ada di wajah Riska karena insting Memei yang kuat Meimei mulai merasakan kekhawatiran mengenai hubungan antara kedua sahabat itu, karena sungguh ia berharap semua akan baik-baik saja, terlebih lagi hubungan persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya dan telah menjadi hubungan yang sangat hangat awalnya dan tidak semua orang bisa memiliki itu atau mencapai saat itu.
"baiklah, kamu tidak perlu menjadi pacarku cukup beri aku kesempatan dengan mendukung ku, hanya itu," pinta Reza dengan penuh harapan kepada Zahra dan ini adalah benar-benar pertahanan terakhir Reza yang telah ia coba perkokoh pertahanannya itu sedari tadi sambil memandang wajah Zahra.
Dengan mendengar perkataan Reza dan melihat kesungguhan Reza Zahra menjadi tersentuh, saya juga menyadari ketulusan Reza yang tak bisa didapatkan oleh semua orang, bahkan nasehat Riska mengenai Reza juga selalu terngiang-ngiang di telinganya, dan ya Zahra akhirnya menerima cincin mas putih yang di berikan Reza dengan senang hati dan tersenyum. Dengan wajah yang begitu ceria Reza berterima kasih pada Zahra atas kesempatan yang telah diberikan ia berjanji untuk tidak menyia nyiakan kesempatan itu itu lagi Bahkan ia berjanji akan berjuang sebisa mungkin untuk membuat Zahra lebih bahagia lagi ia juga, tidak akan membatasi waktu Zahra seperti orang-orang yang suka mengatur Zahra, iya akan tetap memberikan kebebasan pada Zahra memberikan hak yang memang sudah dimiliki oleh Zahra dan juga akan terus memperjuangkan kebahagiaan Zahra itulah yang telah keluar pada dirinya saat itu untuk Zahra yang sangat ia sayangi.
"kak!! Pulang ah, dicari kemana mana juga," Ramadhani tiba tiba datang berteriak pada Zahra terlihat ekspresi kesal dari wajah Ramadhani karena ia menemukan Zahra sedang bersama Reza meskipun dari sisi lain Ramadhani juga melihat Riska dan Mei Mei yang menemani Zahra dari tetap saja jika Ramadhani tidak suka itu adalah hal yang tetap tidak disukainya.
"kamu kesini? sama siapa?," Zahra terheran karena Ramadhani bisa sampai mencarinya bahkan Zahra tidak melihat seseorang bersamanya yang menemaninya datanh melainkan ia hanya melihat Ramadhani datang dengan sepedanya.
"sendiri, pake sepedah capek tau, yuk ah mama khawatir tuh, ngak tau kenapa, iya sih kakak keluar udah minta izin, tapi mama nyariin tuh katanya nggak ada yang bantu bantu, cepat pulang ah ngapain juga di situ, nggak baik juga cewek sama cowok duduk dekat kayak begitu," ketus Ramadhani kepada Zahra dan memberikan senyuman kesalnya kepada Reza serta memberikan tatapan tajamnya untuk Reza yang mempertandakan bahwa dirinya tidak suka.
Zahra lalu melihat ke arah Reza yang sedang di tatap dengan tatapan tajam oleh Ramadhani, dan tentu saja seketika itu Zahra merasa tidak enak kepada Reza karena mendapatkan perilaku yang dingin dari Ramadhani dan seharusnya tidak seperti itu yang didapatkan oleh Reza karena Reza pantas mendapatkan perilaku yang lebih baik dari Rahman terutama Rahman yang usianya relatif lebih kecil daripada Reza. Terlihat jelas bahwa Ramadhani kesal melihat Reza mendekati Zahra, namun Reza malah berbalik senyum pada Ramadhani karena Reza memahami bagaimana perasaan sebagai saudara yang ingin melindungi saudarinya, dan Reza pun paham betul jika sudah ingin mendekati sesuatu maka ia juga harus melewati berbagai macam rintangan demi mendapatkan sesuatu itu apalagi sesuatu yang sedang dikejarnya bukanlah suatu hal yang biasa, melainkan adalah seorang putri dari keluarga yang sangat disayanginya terlihat jelas apalagi Zahra adalah Putri satu-satunya dari keluarga yang selalu menyelimuti nya dengan kasih sayang.
"ka aku pamit ya," pamit Zahra kepada Reza dengan perasaan tidak enak hati karena harus meninggalkan Reza tiba-tiba begitu saja.
"iya gapapa hati hati dijalan," ucapan Reza dengan memberikan senyuman yang tulus kepada Zahra bagi Reza hari ini sudah cukup untuk mereka karena Reza benar-benar sangat menyukainya.
"Mei Riska pulang yuk, cari taksi," teriak Zahra pada kedua sahabat yang sudah seperti saudara nya itu dan mendengar teriakan Zahra Meimei dan Riska pun sontak mengangguk untuk mengiyakan perkataan Zahra dan menghampiri Zahra.
"de kamu juga ayok barengan," imbuh Zahra mengajak Ramadhani.
"duluan aja aku lihat Kaka naik taksi dulu, aku cowok ngak usah khawatir aku udah gede,"ucap Ramadhani yang memberikan penekanan seolah-olah Ramadhani adalah pelindung Zahra dan akan selalu menjaga Zahra dan tidak akan membiarkan apapun hal buruk terjadi pada Zahra itulah sejatinya saudara lelaki kepada saudara perempuan.
Zahra pun mengiyakan adiknya karena ia tahu niat Ramadhani adalah niat yang baik, dan ia percaya bahwa adiknya, adalah adik yang baik dan tidak akan melakukan hal yang buruk, juga mengetahui betul bawa Ramadani adalah anak yang kuat dari segi fisik atau apapun meskipun sikapnya yang agak dingin tapi sejujurnya dia adalah pribadi yang sangat penyayang dan selalu ingin melindungi orang yang disayang itulah sejatinya diri Ramadani.
dan saat Zahra sudah akan menaiki taksi Reza berniat mengejar Zahra karena Reza melihat Zahra yang melupakan cemilan serta yang lainnya yang Reza berikan kepada Zahra, Zahra melupakannya tidak membawanya hal itulah yang membuat Reza ingin mengejar Zahra yang baru saja akan menaiki taksi namun keinginannya itu di hentikan oleh Ramadhani.
"ada apa?," tanya Ramadhani meng interogasi iya benar-benar seperti seorang detektif mengintrogasi orang yang dicurigai saat ini.
"??," bingung Reza karena Ramadhani tiba-tiba bertanya seperti itu
"ngapain mau kejar Kaka aku?," tanya Ramadhani kembali mengulangi kalimatnya namun dengan kalimat yang lebih detail agar mudah dimengerti oleh Reza, meskipun pada dasarnya Ramadhani tidak suka sesuatu yang bertele-tele dan ia lebih menyukai pembicaraan langsung mengnai pada intinya.
"oh ini aku mau kasih coklat, sama boneka dan beberapa cemilan yang tertinggal," ucap Reza dengan senyum penuh senyuman Reza untuk Ramadhani senyuman yang tulus yang menandakan bahwa ia benar-benar menginginkan saudari lama untuk menjadi makmum nya di suatu hari nanti.
"sini titip sama aku aja ngak perlu dikejar," ucap Ramadhani dengan tegas menjulurkan untuk meminta barang-barang yang akan diberikan Reza kepada Zahra.
"ah? iya terima kasih banyak ya de," Reza tersenyum memberi barang barang yang ia niatkan untuk Zahra kepada Ramadhani dan ia benar-benar berharap agar Ramadhani memberikannya dengan baik kepada Zahra, karena ia percaya saudaranya azzahra adalah orang yang pintar dan cerdik sehingga ia tahu apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
"dia masih buta tentang apa itu dunia remaja," ucap Ramdhani pada Reza yang membuat Reza terheran.
"jangan permainkan dia, dia bisa jadi benar benar menyukaimu, hormati dia, dia satu satunya Kaka Perempuanku, jangan sentuh dia dengan nafsu mu, lebih tepatnya lagi jangan pernah menyentuh dia jika bukan keadaan darurat, karena Kaka masih belum mahram nya Kaka ku. Jika kamu benar benar menyukai Kaka ku maka kamu akan lebih pandai menghargai Kaka ku bukan merusaknya," ucap Ramadhani yang seketika membuat Reza terkejut karena kata katanya bukan seperti anak yang berusia 15 tahun. Reza membalas Ramadhani dengan senyuman.
"ya udah aku pamit, assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," pamit Ramadhani lalu pergi meninggalkan Reza.
.....
drett dreet
Getaran HP Riska terdengar, ia mendapat kan telepon dari nomor yang tak di kenal bahkan bukan kode nomor Indonesia.
"siapa?," tanya Zahra yang melihat Riska terdiam melihat ponselnya tak ingin menjawab. Riska hanya mengangkat bahu ia juga tidak tahu.
"coba aja di jawab siapa tau penting," usul Zahra,yang dijawab dengan anggukan oleh Riska.
"hallo ini siapa ya?,"
"Hay my wife, lama tak jumpa,"
"!! Alfie?," Riska terkejut mendengar suara dari telepon tersebut yang ia kenali sebagai Alfie yang selalu mendampingi nya dari TK sampai SD, Alfie sudah seperti Kaka untuk Riska. Mereka berpisah saat Riska akan mulai masuk SMP Alfie pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah nya dan meneruskan perusahaan keluarga yang ternyata juga berkerja sama dengan perusahaan Adiwijaya.
"oh istri manis ku, suaramu sudah terdengar bergetar, apakah kamu begitu rindu?,"
"iya! kangen banget kapan balek indo?,"
"tiga bulan lagi sayang, mau dibawain oleh oleh apa?," tanya Alfie.
"haha, udah dulu ya, nanti aku WhatsApp aku ada klien, bye bye sayang Miss u,"
"Miss u ka,"
dan panggilan itu pun berakhir.
"woaah telpon dari siapa tuh, Miss u Miss u," ejek Zahra dan juga memei.
"haha bukan siapa siapa dia sahabat sekaligus kakak masa kecil gua," jawab Riska
"oh iya kamu harus jaga diri ya, jangan sampe pacaran yang berjerumus ke hal hal yang negatif," saran Zahra.
"kenapa? Lo sama Reza boleh," ketus Riska.
"kamu marah? "
" ngak cuma kenapa gitu lu aja pacaran terus ngelarang gua,"
"haha ngak ngelarang ko Kya Riska, tadi kak Zahra cuma ngasih nasihat aja,"
.....
Riska kini sedang berada di jendela dekat balkon kamarnya, ia terduduk dilantai, ayahnya adalah salah seorang pegawai usaha, sedangkan ibunya menjadi pengusaha olshop. Tidak sekaya keluarga Adiwijaya salah satu nya yakni Rahman ataupun Dawlay yang salah satunya Alfie, namun ia masih setara dengan Zahra.
"mengapa aku seperti ini, yah aku akui aku memang gadis tomboy yang tak seanggun paras wajah Zahra, tapi aku juga bisa merasa jatuh cinta pada seorang lelaki," Riska sedikit menggetarkan suaranya, terdengar lirih suaranya yang menginginkan untuk berpenampilan seperti Zahra agar dapat menarik perhatian Reza.
__ADS_1
Riska sebenarnya adalah gadis yang cantik putih dan berparas blasteran, hanya saja dirinya kadang yang suka menyinggung perasaan orang dan tidak memperhatikan penampilan, membuatnya terlihat seolah olah bukanlah seorang wanita.
"gua sayang sama lo Ra lo sahabat terbaik gua, mungkin yang lain juga sama baiknya tapi lo yang paling tulus dan cuma lo yang meng khawatirkan gua sebagai seorang perempuan," gumam Riska dalam suasana hatinya yang tak karuan.
....
"ka Zahra?," panggil Ramadhani yang menemukan Zahra sedang bersama Tini di dapur mereka sedang membuat salad buah.
"iya ada apa? ngak pake ucap salam lagi," sahut Zahra.
"ni dari cowok yang tadi," ketus Ramadhani, aku yang ambil coklat Ama beberapa cemilan nya.
"woah siapa nak?," Tanya Tini pada Zahra, yang langsung ditinggal oleh Ramadhani yang tak ingin mendengar.
"ah bukan siapa siapa Bu, cuma temen Zahra,"
"ah pantesan itu kek ada yang beda ditangan kamu ternyata ada cincin dari dia ya? Ade kamu juga sampe marah begitu haha kayaknya dia kurang mendukung," Tini mengangkat alisnya mengarahkan wajahnya menuju ke arah tangga kamar Ramadhani
" woah ngak mungkin ngak ada perasaan dia ngasih semua ini buat kamu," ucap Tini dengan senyuman yang tulus, melihat lihat barang yang diberikan pada Zahra
"mah bukan begitu,"
"sayang, gapapa mama ngerti, percaya sama mamah ya, mama percaya sama kamu asalkan kamu bisa jaga diri dan tidak macam macam, kemana mana juga jangan sendirian atau cuma berdua sama dia, intinya ngak boleh pacaran diluar cukup ketemu di sekolah aja dan ngak boleh pegang pegangan, ingat!!"
"mah sungguh aku ngak pacaran, cuma dia minta di kasih kesempatan aja, dan waktu biar Zahra nungguin dia jadi sukses bisa bersanding dengan Zahra dan melamar Zahra,"
"bagus dong,"
"tapi mah aku ngak enak, dia ngak segampang kita untuk dapat uang, aku beberapa kali nemuin dia sedang bekerja, pertama di lestoran, dia menjadi pelayan, terus di proyek dia jadi kuli bangunan mah!, Zahra jadi merasa kek Meres dia,"
"ngak ko dia cuma lagi berusaha untuk masa depan yang diharapkan, yang penting kamu jangan nyusahin dia kalau di kasih ya terima, untuk menghargai dia agar tidak tersinggung, kalau ngak di kasih ya jangan minta," ucap Tini membelai lembut kepala Zahra.
"terkadang wanita itu serba salah nak, saat ia menolak seseorang ia akan di anggap tidak menghargai, padahal yah tidak menghargai itu yang mencaci maki jika menolak dengan baik baik sudah bisa dianggap menghargai, sekarang gini masa ia setiap orang yang menyatakan perasaan harus di terima ngak kan, tapi jika kadang wanita itu terlalu sering menerima pemberian ia akan di anggap mata duitan dan sejenisnya, padahal kita menerima pemberian untuk menghargai karena beberapa dari mereka akan tersinggung saat pemberian nya di tolak, yah begitulah kita jadi jalani aja dulu ya,"
"iya ma makasih,"
....
"pa ayok Zahra sudah selesai sarapan dan beresin meja," Zahra menghampiri Marko yang akan mengantarnya sekolah dan sedang menikmati secangkir kopi di pagi hari.
"sudah sayang?," tanya Marko yang memastikan.
"iya pah, Zahra udah selesai," jawab Zahra sembari menyalami adik, Kaka dan mama nya.
"tunggu dulu papah baru lihat cincin di tanganmu, dapat dari mana,"
deg
seketika itu Tini dan dan Ramadhani melihat ke arah Zahra dan Marko
bersambung....
__ADS_1