Cinta Zahra

Cinta Zahra
Berkunjung


__ADS_3

Akhir pekan kini telah tiba. Tini sekeluarga akan pergi berkunjung kerumah Yeni, ya ke kediaman Andrean Adiwijaya.


"Dhani ayok cepet ah, anak ini lama sekali, kamu udah siap belum," seperti ini lah suasana dirumah jika ada acara kunjungan ke rumah keluarga atau orang yang di sayang maka seorang ibu akan cerewet mengurus dirinya dan anak anaknya agar anaknya tampil dengan baik dan sempurna.


"iya nih udah ma," sahut Dhani yang sedikit malas untuk pergi keluar.



(ini visualnya Ramadhani ya😊)


"Zahra kamu gimana nak, udah jadi?,"


"yok lah tinggal jalan aja," sahut zahra



"kamu ngk dandan nak? ya Allah sayang dandan dikitlah," Tini berniat membawa Zahra untuk masuk berdandan.


"mah udah belum, aku buru buru nih nanti sore ada kerjaan yang harus aku kerjakan," ucap Raditya yang berhasil menyelamatkan Zahra dari make up mamahnya.


makasih kak.ucap Zahra dalam hati sambil memandang kakaknya, yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Raditya



"eh ya udah deh, Pah berangkat sekarang," ajak Tini pada Marko


"lain kali kamu dandan yah," tunjuk Tini pada Zahra karena kesal.


"iya ma iya," jawab zahra.


"jangan lupa bawa handphone dan tas kalian,"


"iya mama!!!," jawab anak anak dan Marko serempak, dan setelah ceramah yang panjang dari Tini akhirnya mereka bisa berangkat juga.


...


sesampainya mereka di rumah Yeni.


Ting tong


suara bel rumah Yeni


"Assalammualaikum Yeni,"


"waalaikummussalam ya Allah Tin kangen aku, udah berapa bulan ngak ketemu kita yah," Yeni memeluk Tini.


"udah lama pastinya ya haha padahal baru kemaren kita ketemu," sahut Tini


"ya udah masuk dulu yuk," Yeni mempersilahkan.


" Zahra makin cantik aja kamu nak, lama ngak ketemu kamu sibuk sekolah terus, Dhani kenapa ngak sering sering ikut mamahnya main kesini, kalau Raditya udah jelas sibuk sama kuliah dan pekerjaan paruh waktunya," ucap Yeni.


"Assalammualaikum!," Salam dari Andrean yang baru pulang membeli camilan.


"waalaikummussalam hai," jawaban salam Marko yang langsung menyalami dan memeluk pelan tubuh Andrean.


" Mari kita duduk disana," ajak Andrean, seperti itulah seorang pria yang tidak ingin menganggu para istrinya yang berjumpa dan berlanjut ke ghibah dengan sejuta cerita mereka. Sedangkan para pria Dewasa lebih memilih untuk berpisah tempat duduk dan membicarakan bisnis dan seputar nya daripada harus mengganggu para wanitanya.


....


"Tante memei mana?," tanya Zahra pada Yeni


"oh iya memei lagi katanya lagi ke kafe ketemu temannya mau ambil tugas kelompok bagian dia,"


"ohh hmmh, aku cari memei ya?,"


"biar kakak yang antar," ajak Raditya.


"ya pergilah bersama kakakmu, cepetan ya," perintah Tini.


"ya ma," jawab Zahra.


.....

__ADS_1



"memei!," teriak Zahra yang sudah menemukan memei.


"aaaa kak Zahra," balas memei.


"hai kak Raditya," sapa memei


"sendirian aja?," balas Raditya


"temen aku udah pulang, aku kesini sama kak Rahman tapi dia juga lagi ketemu client nya, tuh di sana, katanya sih cuma sebentar tp sampe sekarang masih aja,"



"haha biasa laki laki pembisnis mah begitu de,"


tak lama kemudian Rahman melihat Raditya dan melambaikan tangan pada Raditya, tersenyum dan seperti berpamitan pada client nya lalu berjalan menuju Raditya.


heh, ternyata cowok sedingin es kek kak Rahman bisa senyum juga sama kak Radit. Gumam Zahra dalam hati, karena Raditya terkenal dengan kedinginan sifatnya yang kadang suka acuh tak acuh bila bukan mengenai hal hal yang penting, namun dengan wajah yang tampan dan kepintaran dalam berbisnis, membuat para wanita merasa ragu sekaligus ingin sekali untuk mendekatinya.


"hai," sapa Rahman.


"hai ," Sapa Raditya yang menyalami sekaligus memeluk Raditya.


" gimana bisnisnya," tanya Raditya


"Alhamdulillah lancar, oh iya gimana usaha yang kemaren, berkembang?," tanya Rahman yang ingat dengan Usaha yang sedang di jalankan oleh Raditya.


"ekhem, maaf permisi," sindir memei.


"bisa kita pulang sekarang?" sambung Zahra.


"oh iya!, eh tapi jadinya kita bawa dua mobil nih gimana?, pengennya biar barengan aja," kata Raditya


"ya udah kek biasa aja kita jalan pulang bisa kan?," sahut Zahra.


" ngak! kita tukeran biar aku sama memei kamu sama kak Rahman biar makin kenal aja kitanya,"


"ngak! bukan muhrim!," sahut Zahra.


"dia kan temen aku, lagi pula sentuhan tanpa sengaja doang ngak pernah tuh sentuhan karena nafsu,"


"terus dia muhrim kamu gituh?," Raditya yang ngak mau kalah dari sang ade tercinta


"udah udah dari pada berantem pulang aja, aku setuju sama kak Raditya lagi pula kak Rahman juga belum akrab kan sama kak Zahra," seru memei.


Rahman pun tidak mempermasalahkan nya ia pun berjalan lebih dulu, di iringi Zahra yang berjalan di dorong oleh memei. Saat Zahra akan memasuki mobil tiba tiba ia melihat Reza yang memperhatikan nya dari kejauhan, entah ada perasaan khawatir apa pada diri Zahra.



Teet


bunyi klakson mobil Rahman yang mengejutkan Zahra.


"jadi masuk ngak?," tanya Rahman.


"iya!," ketus zahra


di dalam mobil terjadi keheningan selama beberapa menit diantara Zahra dan Rahman.


"siapa?," tanya Rahman membuka pembicaraan, tanpa basa basi


"mmh??," bingung Zahra


"cowok yang tadi, yang ngeliatin kamu sampe kamu bengong begitu,"


"bukan siapa siapa cuma temen,"


"haha dasar bocil,"


"apaan sih," celetuk Zahra kesal yang di diamkan oleh Rahman.


"siapa yang suka sama cowok sedingin es ini," gumam Zahra pelan

__ADS_1


"apa kamu bilang?,"


" ngak ada,"


"eh ice cream vanilla perpaduan dengan duren," imbuh Zahra yang tertarik melihat es cream di toko ice cream pinggir jalan.


Tiba tiba mobil berhenti


"eh mau kemana?," tanya Zahra yang di abaikan oleh Rahman, beberapa saat kemudian Rahman datang dengan membawa kantong plastik, lalu memberikannya pada Zahra.


"apa ini?," Rahman masih diam dan mulai menjalankan kembali mobilnya.


"haaaah ice cream vanilla paduan duren," kejut Zahra.


"ekhem terimakasih banyak ya kak," lirik Zahra malu, lalu mulai memakan ice cream nya itu.


Diam diam Rahman tersenyum melihat tingkah Zahra dari kaca spion.


.....


"kami pamit pulang dulu ya Yen, terimakasih banyak atas jamuannya," Tini berpamitan pulang karena hari sudah menunjukkan waktu sore.


" iya besok besok main kesini lagi yah, pintu rumah ini selalu terbuka buat kalian,"


tiba tiba secara bersamaan Tini dan Yeni mengenang masa lalu mereka, saat saat dimana mereka belum bersuami dan sering menghabiskan waktu bersama almarhumah zahra, suasana seketika menjadi terasa sedih dan haru, tak terbayang rasa bahagia yang akan terjadi jika Zahra masih hidup.


keesokan harinya di sekolah....


Zahra sedang duduk di kelas bersiap untuk memulai pelajaran, di sempatkan nya untuk membaca buku terlebih dulu, karena ia tau otak nya tak begitu pintar sehingga mengharuskan ia untuk giat belajar agar dapat naik kelas dengan nilai yang bagus setidaknya memuaskan meskipun tidak sempurna.


"Zahra!," tiba tiba Reza datang menemui Zahra di kelasnya, Zahra terkejut dan melihat ke sekelilingnya.


"Ada apa sih," sahut Zahra yang geram, sementara itu Riska sudah berjaga untuk waspada terhadap Reza.


"dia siapa?," tanya Reza to the poin.


" siapa?," bingung Zahra


"cowok yang kemarin,"


"hmmh, emang apa urusannya sama kamu?,"


deg


seketika Reza merasa malu dengan jawaban acuh tak acuh dari Zahra.


"aku udah berusaha sopan sama kamu, dan aku juga mulai Rajin shalat di mushalla untuk ketemu kamu di mushalla juga saat jam siang, tapi sekarang bahkan meskipun kamu tidak ke mushalla aku tetap pergi kesana, lalu apakah tidak ada sedikit saja kesempatan untuk aku?,"


"hmmh kak, kamu adalah kakak kelas aku jadi kamu harus memberi contoh yang baik untuk adik adik kelas kamu, so kerjakan semua karena Allah,"


"bagaimana kalau aku bilang, aku dapat hidayah karena kamu awalnya karena kamu yang membuatku ingin beribadah namun kini rasanya diriku tenang beribadah meskipun bukan karena kamu atau meski tidak ada dirimu, jadi mungkin inilah petunjuk dari Tuhan buat aku,"


seketika Zahra dan Riska terdiam seketika mendengar kata kata Reza yang membuat hati mereka tersentuh.


dreet


Bel tanda masuk kelas berbunyi, yang membuyarkan kesunyian yang terjadi.


"okeh aku pamit balik kelas dulu," Reza pun berbalik


"yok balik gua udah selesai ngomong," ajak Reza pada para teman temannya.


"Ra gua tau apa yang Lo pikirkan, pikiran kita sama," Riska memegang tangan Zahra.


"coba Lo pikirin sekali lagi, mungkin dia bener bener tulus sama Lo, gua cuma ngak mau Lo nyesel belakangan,"


...


sepulang sekolah Zahra, Zahra tidur dipangkuan Tini, memikirkan kata kata sahabat nya.


" ma boleh ngak aku pacaran?,"


"ah??,"

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2