
kini hari sudah berganti, dan beberapa bulan sudah berlalu, Zahra memutuskan untuk memeriksa kandungan kerumah sakit terdekat karena ia sudah telat datang bulan pada bulan itu dan ia mengharapkan seorang anak.
"dok bagaimana hasilnya, apakah istri saya sudah mengandung," tanya Rahman pada dokter dengan penuh penasaran.
"bagaimana dok, apakah positif?," tanya Zahra pada dokter Zahra juga tak kalah penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Rahman saat itu.
Mereka kini sedang menanti nanti informasi Masi mengenai kabar dengan perut Zahra apakah Zahra sudah hamil ataukah belum, bahkan Zahra yang awalnya tidak begitu menginginkan anak karena dia masih ingin melanjutkan kuliah kini ia malah lebih mengharapkan anak diusia mudanya karena ia berfikir Rahman sangat menginginkan seorang anak dan ia tidak ingin menjadi seorang wanita yang mengecewakannya saat itu.
"maaf, nona dan tuan, untuk saat ini nona Zahra belum positif, mungkin nona mengalami telat datang bulan itu di karenakan hormon pada tubuh nona yang bertumbuh lebih lambat, sehingga ovarium nona berkembang juga menjadi lebih lambat dan menyebabkan kemacetan datang bulan, tapi jangan khawatir karena telat seminggu dua Minggu pada wanita itu masih bisa dibilang normal karena setiap kinerja hormon dan perbaikan dinding ovarium itu tidaklah sama kinerja nya setiap bulan, dan berbeda beda juga dampaknya pada setiap orang wanita," ucap dokter yang menjelaskan dengan panjang lebar kepada Zahra dan Zahra pun menundukkan kepalanya dengan menatap Rahman sejenak karena ia merasa takut Rahman akan kecewa dengan hasil yang tidak positif pada dirinya itu, lalu Rahman memegang tangan Zahra dengan lembut sambil menatap tenang diri Zahra mencoba untuk mem pertenang suasana yang kian sudah menjadi canggung saat itu .
"ga apa apa Allah belum mengizinkan kita sayang, mungkin kita masih belum diberikan kepercayaan olehnya," ucap Rahman sambil memberikan senyuman hangat kepada Zahra. Dan Zahra pun mengangguk mendengar apa yang dikatakan Rahman kepadanya Zahra hanya bisa mengatakan ya karena ia juga tidak tau harus berbuat apa, karena pada hakikatnya semua itu adalah kehendak Tuhan yang maha esa bukan hanya sekedar keinginannya seorang.
sebenarnya yang kutakutkan adalah jika kamu menjauhi diriku karena aku susah untuk memberikan keturunan, itu yang aku takutkan akan dirimu dan aku berharap engkau akan selalu mempercayaiku dan bertekat untuk mempertahankan rumah tangga kita sampai kapanpun itu. ucap Zahra dalam hatinya sambil menahan rasa sakit di dadanya karena sudah merasa sedih.
"baiklah dokter kalau begitu saya permisi, dan terima kasih banyak atas kerja keras dokter"
ucap Rahman kepada dokter itu.
"iya sama sama tuan, dan ini adalah resep untuk memperkenalkan hormon dengan baik, suplemen ini sangat baik untuk perkembangan ovarium pada tubuh wanita dan meningkatkan kesuburan pada tubuh wanita," ucap dokter itu menjelaskan fungsi resep obat yang diberikannya kepada Rahman.
"baik Dok terima kasih banyak," ucap Rahman kepada dokter lalu pergi keluar rumah sakit bersama Zahra.
"kamu tunggu sebentar disini ya, aku mau pergi tebus obat dulu, duduk dulu disini jangan banyak gerak, istirahat kan dirimu jangan sampai kamu kenapa napa ya, kamu harus lebih memperhatikan kesehatan mu sekarang," ucap Rahman yang mendudukkan Zahra di kursi tunggu dengan membelai kepala Zahra lalu pergi untuk menebus obat.
setelah beberapa saat kemudian mereka pun kembali pulang, namun Zahra masih dalam suasana canggung nya, karena ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat di masa masa lalunya kepada Rahman.
__ADS_1
di dalam mobil...
"ka, Kaka ga apa apa kan?," tanya Zahra di dalam mobil, sontak langsung membuat Rahman menatap Zahra, membelai kepala Zahra lalu mencium kening Zahra dan mencubit pelan pipi Zahra.
"Kaka ga marah sama Zahra," imbuh Zahra dengan menatap wajah Rahman dengan dalam dan tidak ingin kehilangan sedetikpun pandangannya dari wajah Rahman.
"untuk apa aku marah? aku ga apa apa ko ya, kamu ga pernah menghalanginya kan?, ini semua kehendak Allah, kalau kecuali kamu menggugurkannya, dan kamu melakukan pencegahan untuk kehamilan kamu baru aku marah sama kamu." ucap Rahman berusaha menenangkan Zahra lalu mulai menyalakan mobilnya dan akan mulai mengemudi.
"terima kasih banyak, Zahra sayang sama Kaka, terima kasih banyak karena selalu ada disisi Zahra," ucap Zahra lalu mencium tangan Rahman.
"ekhem Ra kayaknya kita butuh tenaga ekstra ni," ucap Rahman memberi senyum smirk nya kepada Zahra.
"mmh??," Zahra terheran dengan sikap Rahman yang tiba tiba mengeluarkan kata kata yang berkali kali tidak di mengerti oleh Zahra.
"hahaha apa sih kamu," seketika ketawa Zahra pun terlepas dari wajahnya. Memang sebenarnya sedikit kekesalan terpancarkan dari wajah Rahman karena di umur yang semakin menua ini, ia menginginkan seorang putra atau putri sebagai penerusnya namun Allah masih belum mengizinkan kepada keluarga kecil Rahman agar mereka bisa segera memiliki seorang anak.
kini mereka telah sampai dirumah Rahman membawa Zahra masuk kedalam kamar dan mengeluarkan sebuah kotak kepada Zahra.
"Ra coba pake ini," Rahman memberikan sebuah kotak yang berisikan dress tidur untuk Zahra.
"ini apa?," tanya Zahra.
"udah pake aja ya," Rahman lalu mendorong tubuh Zahra untuk berganti baju di ruang ganti baju di dalam kamarnya.
.....
__ADS_1
"what??? ini apa?? ka Rahman mau aku memakai pakaian seperti ini??," Zahra terkejut karena isinya dress tidur yang cukup sexi dan terbuka, bahkan transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya.
"iya aku tau ini hanya diantara kita, tapi apakah aku harus berpenampilan begini didepannya sekarang? kan aku malu banget dong, meskipun aku istrinya aku masih bisa malu juga kan," Zahra sempat tidak ingin mengenakannya namun seketika itu ia teringat raut wajah Rahman saat dokter memberi tahu bahwa Zahra tidak positif hamil, hal itu berhasil membuat Zahra memutuskan untuk menuruti keinginan Rahman kala itu, meskipun baginya sedikit konyol setidaknya itu ia lakukan demi suaminya.
setelah beberapa saat Zahra keluar dengan sedikit menutupi tubuhnya dengan tangan nya.
glek
Rahman menelan air liurnya melihat penampilan Zahra saat itu, terlebih lagi rambutnya yang diikat memperlihatkan lehernya yang mulus.
sementara itu di lain sisi Zahra terkejut melihat Rahman yang sudah telanjang dada yang begitu memperlihatkan dadanya yang bidang di sembari duduk di tepi kasur.
Zahra sedikit demi sedikit melangkah mundur, karena Rahman berdiri saat itu dan berjalan cepat kearah Zahra, Zahra terkejut dan tidak tau harus seperti apa karena langkah Rahman yang begitu cepat, saat sampai didepan Zahra Rahman langsung memegang kepala dan leher Rahman lalu memberi beberapa kecupan di leher Zahra dan mengecup bibir Zahra, setelah beberapa saat Zahra menghindari kecupan Rahman yang membuat Rahman memberikan tatapan sedikit kekecewaan.
"maaf, tapi tunggu sebentar ya ka," Zahra pun langsung berlari menuju kamar mandi, dan Rahman pun menarik nafasnya berusaha sabar menunggu Zahra di tepi kasur.
"si kecil udah bangun tapi disuruh nunggu," kerutu Rahman dengan kesal.
setelah beberapa saat Rahman mengangkat pandangannya karena Zahra keluar dari kamar mandi dan penasaran kenapa Zahra terburu buru menghentikannya dan pergi ke kamar mandi.
"ka maaf aku datang bulan," ucap Zahra lemas sambil menggigit bibir bawahnya.
"hah!!,"
bersambung...
__ADS_1