
"mas Aria, " Zahra terkulai lemas ia tak memang tak bersalah namun ia takut, khawatir dan cemas, ia baru saja mendapatkan hati Aria sepenuhnya lalu apakah sekarang ia harus melepas semuanya lagi?, sudah tak terbayang apa yang akan terjadi nantinya, perasaan Zahra yang ada hanyalah takut, marah dan cemas menghadapi masa yang akan datang, semua firasat Buruk telah datang ke dalam hati dan pikirannya.
bukk
Pukulan keras dari Aria mengenai wajah Devan.
"apa yang kau lakukan hah,beraninya kau menyentuh istriku! tak akan ku maafkan kamu!!,"
Pukulan berkali kali mengenai sasaran nya, namun Devan tak melawan sedikit pun ia menyadari kesalahannya, dan memang sepantasnya ia mendapatkan hal itu dari Aria.
"sudah mas, sudah, sudah cukup...mas!!, kasihan dia mas dia bisa saja tiada.. mas!!," Zahra berusaha melerai pertengkaran antara suami dan ayah kandung dari anaknya, Namun justru itu adalah hal yang salah yang ia lakukan karena amarah yang telah menyelimuti Aria hal apapun yang menyinggungnya kini akan bernilai negatif saja.
"oh jadi sekarang kamu membela dia? iya gitu, dia yang sudah melukai atau dia yang ternyata kamu cintai" Aria menunjuk wajah Devan, tidak ada jawaban dari Zahra seketika Aria semakin marah melepas tangannya dari Devan dan beralih pada Zahra.
" jawab!!, Jawab aku sekarang!!," Aria menegang lengan Zahra erat membuat tubuh Zahra merasa sakit.
"aw, sakit mas," runtih Zahra kesakitan.
"sakit kamu bilang? aku lebih sakit lagi, sekarang jawab semua pertanyaan aku!,"bentak Aria pada Zahra
"lalu apa kamu akan mempercayainya hah, saat aku berkata tidak kamu hanya akan memarahi ku dan berkata aku bohong, karena saat ini kamu sedang dalam amarah, istighfar mas, istighfar!," jelas Zahra sambil menahan sakitnya karena Aria semakin meng eratkan genggamannya
"tuan aria jangan sakiti Zahra, dia tidak salah," bela Devan khawatir pada Zahra karena aria telah marah terhadap Zahra.
bukak Bukk
Aria kini benar benar melampiaskan amarahnya melepas kan semua yang membuatnya marah dan kecewa.
"siapa yang mengizinkan mu untuk berbicara hah,!" marah aria.
"mas dengarkan aku dulu," Zahra menggenggam lengan Aria, berharap Aria ingin mendengar kan penjelasan nya, dan dapat berfikir jernih lagi.
"apa hah, belum sehari aku meninggalkanmu ini kelakuanmu, huh! kau bahkan dipeluk olehnya, wanita yang selalu menolak untuk disentuh oleh lelaki yang bukan mahram nya malah mau dipeluk oleh lelaki kurang ajar ini.!" Aria semakin menyalahkan Zahra sembari menunjuk nunjuk wajah Devan yang telah terkulai di lantai
"aku kesini hanya ingin melihat anakku dan.." kata Devan keluar ia ingin menjelaskan semua dengan suaranya yang sudah sangat kemas karena sudah tak bertenaga dan kesakitan
"oh bagus!! ternyata dia ayahnya ya,huh!," kalimat Aria keluar dengan penuh rasa tak percaya nya sambil berkacak pinggang
semua pelayan yang menyaksikan lebih memilih untuk kembali keruang belakang, karena tak kuasa menahan takut yang bisa bisa mengancam dirinya ataupun pekerjaannya.
aria menepis tangan Zahra yang masih memegangi nya, ia sempat menendang Devan yang terkulai, lalu menghampiri Yus.
"cepat ambil yang dibutuhkan, aku akan menunggu mu di mobil cepatlah!," Aria pergi menaiki mobil.
Zahra lemas, ia terduduk dilantai, menyesali apa yang telah terjadi. Devan berniat mendekat pada Zahra namun dicegah oleh Yus.
"aku mengenali tuanku dengan baik, jika kau ingin nona baik baik saja lebih baik kau diam, dan tolong mengertilah," pinta Yus yang juga seperti memberikan peringatan sekaligus permohonan
Yus pergi mengambil dokumen yang tertinggal, setelah ia ingin berjalan keluar ia melihat Zahra yang masih menangis terduduk dilantai.
"nona tenanglah, aku akan mencoba berbicara dengan tuan, aku percaya pada nona," Yus menyerahkan sapu tangan pada Zahra. Dengan perasaan yang penuh iba ia juga percaya bahwa nona nya tidak bersalah, dan ia sungguh mengetahui bagaimana sifat keras kepala tuan mudanya itu jika sedang marah, sudah sering Aria salah paham pada sesuatu yang membuat nya marah, dan tidak ingin melihat yang membuktikan bahwa yang membuatnya marah itu benar, itulah ke egois an yang dimilikinya, yang berimbas menyiksa dirinya juga.
__ADS_1
"terimakasih banyak, terimakasih, " Zahra mengambil sapu tangan tersebut.
saat Yus memasuki mobil ia melihat aria yang sudah merah padam.
"siapa?,"
"Devano Aditama tuan,"
Aria menelepon Andrean, ia sudah tak tahan terhadap apa yang ia saksikan hari ini, rasanya hatinya telah tersayat sayat oleh emosi yang membara.
"halo, Andrean, "
"halo, apa kau sudah dibandara, "
Andrean bertanya antusias karena ia telah sampai di amerika terlebih dahulu.
"apa Devano Aditama yang kau maksud,"
"apa?,"
"lelaki yang telah menodai Zahra dulu,!!" geram aria
"iya tapi tenanglah dulu, "
"penjarakan dia, atas kejahatan yang lalu, hari ini juga, "
tuut tuut.
"tuan, aku percaya pada nona, jika tuan.." Ayus ingin mengangkat bicaranya meskipun sepertinya Aria pasti akan marah
"hei Yus sejak kapan kau menjadi orang yang banyak bicara hah, diamlah," Aria bersandar untuk menenangkan dirinya.
"tapi jika tuan sampai salah paham lagi saat ini...," sambung Yus
"ssttt diamlah kumohon aku menyayangimu, biarkan aku tenang oke," pinta Aria dengan lemah nya.
"baiklah aku harap tuan tidak menyesal," imbuh Yus sebelum akhirnya menjalankan mobil dengan kesunyian
***
Devan kini telah berada didepan rumah nya, ia melihat beberapa polisi telah menunggu.
"apakah anda Devano Aditama?,"
"iya pak ada apa," tanya Devan terheran-heran
"anda ditangkap dengan tuduhan pemerkosaan sekitar dua tahun lalu," Devan tersenyum mendengar kata para polisi itu ia tidak melawan sedikit pun ia menerima semua, merasa bahwa ia memang pantas mendapatkan nya.
***
kini rapat telah selesai meskipun rapat berjalan dengan suasana panas, karena emosi aria namun rapat bisa berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Andrean yang sudah sangat penasaran atas apa yang terjadi, memutuskan bertanya pada Yus karena baginya itu lebih baik daripada bertanya langsung pada Aria.
"Yus.."
"maaf tuan saya sedang sibuk,"
"hei kau ini pelit sekali,"
"tuan apakah tuan tidak pekerjaan,"
"heis iya iya, tuh lihat aku itu orang yang paling sibuk didunia," Andrean menunjukkan ponselnya berisikan tentang koran.
sebulan berlalu
Zahra merasa risau karena sudah satu bulan ini aria tidak memberi kabar sama sekali kepada Zahra. seharusnya kepergian aria yang hanya satu minggu, kini telah sampai satu bulan masih belum ada kabar.
Andrean mengunjungi Devan kekantor polisi.
"jadi kamu, "
"apakah anda tuan Andrean?, "
"ngak penting, "
"tuan saya mohon sampaikan pada tuan aria bahwa ini semua salah paham, Zahra sedang tidak sadar untuk sesaat disaat saya memeluknya, "
"oh jadi itu alasannya, dasar b******n,"
"tolong jaga Zahra, saya hanya ingin melihat anak saya hidup dengan baik,"
"cih," Andrean lalu pergi menemui Aria yang berada di apartemen barunya.ia terkejut saat menemui Aria ternyata sedang bercumbu dengan angel.
bukk
"sialan, istrimu menunggu dirumah lalu kau sedang bersama dengan wanita lain disini,"
"huh!, apa pedulimu terhadap wanita itu,"
"aku kenal Zahra, dia ngak mungkin begitu, aku yang kenal sementara saja bisa mengerti dia, lalu kamu yang menjadi suaminya kenapa tidak bisa mengerti sama sekali."
"lalu kenapa bukan kamu aja yang nikah sama dia,!!"
"oke, ceraikan dia, aku akan menikahinya,"
"sial!!," Aria geram lalu terdiam.
Andrean melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju aria.
"sudah kuperingatkan sekali lagi kau menyakiti nya maka aku akan merebutnya," Andrean pergi meninggalkan Aria dengan angel.
bersambung...
__ADS_1