
Zahra sedang berada halte bis bersama dengan Reza, ibu Reza, juga Raditya. Mengantarkan kepergian Reza yang akan pergi berkuliah. Demi memperjuangkan masa depan mereka, Zahra merasa sedih untuk pertama kalinya ia merasa begitu sayang kepada seorang lelaki namun kini cobaan kepada mereka mencoba kasih sayang mereka bagaimanakah mereka akan bertahan dan apakah mereka akan benar-benar setia dalam jarak yang memisahkan mereka itulah cobaan yang diyakini oleh Zahra saat ini.
"jangan lupa minum susu setiap hari, sarapan selalu, jangan begadang, semangat sekolahnya belajar untuk ujian kelulusan nanti, kamu sekolah tinggal sebentardan selalu kabari aku perkembangan apa yang terjadi pada diri kamu dan juga kasih tau aku bagaimana nilai-nilai kamu dan kejar cita-cita kamu setinggi mungkin dan mari kita perjuangkan niat baik kita kedepannya bersama-sama dengan meniatkan atas perintah Allah subhanahu wa ta'ala," ucap Reza dengan memegang kepala Zahra yang berbalutkan kerudung dengan memberikan nasihat yang tulus dari hatinya meyakinkan Zahra bahwa dia akan selalu ada untuk Zahra meskipun jarak dan waktu memisahkan mereka untuk sementara waktu itu.
"simpan ini ya kalau rindu lihatlah, haha mungkin tidak terlalu bagus tapi ini sangat berharga bagiku," Reza memberikan sebuah kamera yang didalamnya ada beberapa foto dan juga video, Zahra, Reza dan teman yang lainnya.
"mmh," Zahra mengangguk dengan menundukkan kepalanya.
"sudah, jangan sedih, maaf jika nanti aku akan jarang menghubungimu karena aku akan sungguh sungguh serius kali ini. Aku akan berjuang untuk pantas menjadi imam mu, jadi tolong doakan aku, jaga dirimu untukku sama seperti yang sebelumnya, jangan terlalu tersenyum pada lelaki karena kamu terlalu manis untuk dilihat. Ingat janji ku, aku akan pulang untuk melamar mu dengan kepantasan ku itu janjiku, haha lagi pula juga dua tahun ko, bahkan jika aku cukup pintar akan pulang lebih cepat setengah tahun, jadi tunggulah aku hingga saat itu tiba ya?,"
"iya, jaga diri baik baik, fokus lah pada masa depan mu karena Allah yang terutama jangan Tinggalkan shalat, utamakan Allah maka on shaa Allah. Allah akan berikan keberhasilan padamu ka," Zahra berbicara dengan suara yang penuh dengan gemetar ia tak tahan menahan kesedihannya. Baru pertama kali baginya untuk menyukai seorang insan layaknya lelaki dan wanita.
Tibalah saatnya Reza pergi menggunakan Bis, Zahra terus melambaikan tangan kepada Reza hingga Bis itu menghilang seperti titik noda hitam di atas kertas.
Sedangkan dari kejauhan tanpa ada yang mengetahui Riska sedang memperhatikan Kepergian Reza bersama Alfie, ia meteskan air mata, menyadari ternyata selama ini ia benar benar menyukai Reza. Dari cara Reza menggodanya untuk membuatnya marah, datang hanya untuk sekedar mengolok olok nya tapi itu semua membuat Riska merasa senang meskipun terkadang menjengkelkan. Alfie melihat Riska dalam kesedihan lalu memegang tangannya dan membawa Riska pergi dari sana untuk pulang.
....
"sudahlah ayok pulang," Raditya merangkul Zahra yang masih melihat ke arah bis itu berjalan.
"Bu mari saya antar kan pulang," Tawar Raditya.
Sesampainya di rumah Zahra memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar, ia tidak di kecewakan ataupun di khianati hanya saja hatinya sekarang sudah merasakan kesedihan, tiba tiba saja ia langsung merasa rindu, bukan karena tidak pernah bertemu akhir akhir ini tetapi karena ia menyadari bahwa jarak akan menyusahkan mereka untuk bertemu meski hanya sesaat saja.
Berbulan bulan sudah mereka lalui. Riska, Zahra dan Memei selalu menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Hingga tak terasa tinggal beberapa bulan lagi saja Zahra akan melaksanakan Ujian kelulusannya.
hmmh, tidak terasa sebentar lagi aku akan lulus dan sebentar lagi juga kak Reza sudah satu tahun akan berada di kota orang. Zahra membayangkan bagaimana keadaan Reza disana, pada awal awal nya mereka sering saling menghubungi meskipun hanya mengirimkan sebuah pesan singkat, sebagai pemberi kabar tentang diri masing. Tapi seiring nya waktu semakin sedikit waktu bagi mereka untuk saling menghubungi, dapat saling menghubungi sekali Empat hari saja sudah beruntung bagi mereka.
Zahra sedang melihat lihat isi kamera yang diberikan oleh Reza terkadang ia tertawa dan bersedih saat melihat rekaman itu, ia tertawa karena hal hal lucu yang terekam, dan ia bersedih karena merasa rindu begitu rindu hingga tak kuat rasanya untuk menahan, namun Zahra sadar bahwa itulah yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang kekasih yang halal.
Pagi ini Zahra sedang pergi ke supermarket ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya terlihat dari wajahnya lebih tua dari Tini hanya beberapa tahun. Wanita itu menyapa Zahra dengan senyuman.
"permisi nak, boleh kah aku meminta bantuan darimu?," ucap wanita paruh baya itu.
"iya, apa yang bisa saya bantu?," jawab Zahra dengan penuh keramahan.
"anak saya seusia mu tapi dia baru pertama kali menggunakan skincare dan aku lihat kulit wajahmu sangat bagus bisa pilihkan skincare yang menurutmu akan cocok dengan kulit wajah anak ku?,"
"oh, sebelum itu bolehkah saya tau wajah nya itu berkulit sensitif, kering atau apa?,"
"dia agak berminyak wajahnya tapi kalau sensitif sih kurang tau," ucap wanita itu sambil tersenyum.
"oh kalau begitu coba yang ini saja, ada maskernya juga dan cream nya juga. 100% original dan cocok untuk kuli berminyak," Zahra memberikan sebuah produk pada wanita itu.
"wah terima kasih banyak nak, bolehkah saya tahu siapa namamu?,"
"Zahra," jawab Zahra tersenyum sambil menyalami tangan wanita itu.
"ah, perkenalkan nama saya Angel, kalau begitu saya permisi dulu," Angel lalu pergi meninggalkan Zahra dan mengeluarkan senyuman menyeringai.
Namamu bahkan sama dengan wanita itu, karena nya aku bahkan tidak di lihat sedikitpun oleh Aria Adiwijaya, bahkan sampai akhir hayatnya dia tidak ingin melihatku, sekarang kita lihat apa yang bisa kamu lakukan gadis kecil?, saat itu mungkin aku tidak berani melakukan apa apa karena aku tidak cukup berani, tapi kali ini diriku bukanlah diri yang dulu. Angel mengenggam dengan keras produk skincare yang diberikan Zahra padanya.
Angel mengingat kejadian terakhir kali saat ia pergi ke kediaman Adiwijaya dengan putrinya.
~Flash Back Onn~
"silahkan dinikmati hidangannya," Yeni menyuguhkan minuman hangat dan juga beberapa camilan.
"apa Ka Andrean ada?," Angel datang untuk mencari Andrean.
Wanita ini memang sahabat kecil dari suamiku dan almarhum tuan Aria, tapi tetap saja aku harus hati hati, aku masih ingat bagaimana Zahra bisa keguguran akibat setres dan dia lah yang menjadi plakor sehingga almarhumah sahabatku itu meninggal dengan beban fikiran yang berat.
Lihat bahkan dia tidak berubah cara berpakaian sangat seksi dan tidak sopan, bahkan anak wanitanya itu, apa itu rok mini? woah bahkan atasnya seperti hanya singlet saja. Yeni telah geram dalam hatinya yang melihat Angel datang bertamu ke rumahnya
__ADS_1
"sebentar saya akan memanggil mas Andrean,"
"terima kasih," Angel memberikan senyuman pada Yeni.
lihat lihat wah, apakah benar benar aku harus membiarkan mas Andrean bertemu dengan nya?.
Yeni memasuki ruang khusus untuk Andrean bekerja dirumah.
"Ayah?,"
Andrean yang sedang melihat ke arah dokumen yang sedang ia kerjakan lalu mengangkat kepalanya menghadap Yeni.
"iya ma? ada apa," Andrean menarik tangan Yeni dan mendudukkan nya di pangkuan Andrean.
"hmmh ayah ini," gerutu Yeni.
"memang kenapa? mama kira hanya pengantin baru dan anak muda saja yang bisa melakukan ini, hmh aku lelah dan seketika lelahku terbayarkan saat kamu datang mencariku," Andrean mengecup pipi Yeni.
"ayaah mama serius, diluar ada yang mencari Ayah,"
"mh, siapa? perasaan hari ini ayah tidak membuat janji,"
"Angel, Angel yang datang kemari," Yeni mengatakan nama Angel sambil memandang serius wajah Andrean bahkan terlihat jelas ekspresi Andrean yang terkejut. Dengan nafas dan langkah yang berat Andrean berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Angel dan putri nya
"iya ada apa?,"
"ah Kaka, sudah lama tidak berjumpa," Angel menunjukkan senyum ramah dan menunjukan rasa rindunya, bahkan ia sempat memegang tangan Andrean yang membuat Yeni membulatkan matanya, tapi kala itu juga Andrean menepis tangan Angel yang menyentuhnya.
Angel menunduk dan melihat foto Rahman juga Memei yang terpanjang disana, lalu menggenggam tangan putri nya dan memeberikan senyuman dan pandangan sendu.
"ka aku kesini hanya ingin menjalin hubungan yang pernah hilang di antara kita, dulu kita sangat dekat engkau sudah seperti malaykat penjagaku, Kaka yang selalu peduli pada adiknya. Kali ini aku ingin menjalin hubungan itu lagi, dan aku melihat anak Kaka juga sudah dewasa" Angel melempar kan senyuman pada Andrean.
"lihatlah juga putriku sudah tumbuh dan cantik, bisakah dia menikah dengan putramu ka," ucap Angel sambil membelai kepala putrinya.
"Maaf bukan aku sudah tidak menganggapmu sebagai adik ku lagi hanya saja jalan masa depannya biar lah anakku yang menentukan," jawab Andrean dengan perasaan tak tega juga sedikit kesal.
"tidak bisakah difikirkan lagi ka?," Angel mengeraskan genggaman nya pada putrinya Alexia, dan terdengar lirih Alexia memanggil "mama" dengan suara bergetar.
"maaf tapi nona Angel aku memiliki calon menantu idamanku, dan bahkan sudah kenal dengan anak anakku dari kecil, bahkan keluarga kami juga setuju jika mereka menikah," Yeni yang sudah tidak tahan mengangkat kan suaranya.
"bisa diam?! aku berbicara pada Kaka bukan kamu, apa hak mu ikut campur pada pembicaraan kami?," Angel setengah berteriak pada Yeni
"Angel cukup!!," Andrean berteriak pada Angel karena kesal mendengar Yeni mendapat teriakan yang tidak sopan dari Angel.
"Kaka?," Angel memanggil Andrean lirih.
"huh! cukup Angel dia istriku hormati dia, bagaimana pun juga dia adalah wanita yang Allah titipkan untuk ku, jadi aku akan seribu kali memilih dia dari pada kamu. Baiklah, kalau sudah tidak ada keperluan lagi bisakah kamu pergi dari sini," Andrean mempersilahkan Angel untuk pergi bahkan sampai memanggil pelayan untuk menunjukkan jalan keluar pada Angel.
~Flash Back Off~
setelah satu bulan aku mencari siapa gadis yang akan menikah dengan anak Kaka, yang ingin merebut posisi putriku, akhirnya aku menemukannya dan aku tidak akan melepasnya. Angel
.....
Haru ujian kelulusan telah selesai, Zahra dan Yeni sangat senang karena akhirnya mereka lulus sekolah dan masa masa menegangkan pada diri mereka kini telah dilalui.
Zahra memutuskan untuk pergi berlibur akhir pekan ini bersama para sahabat nya.
"woahhhh!!!," Riska berteriak sekuat tenaga nya dipinggir pantai, begitu juga dengan teman teman sekelasnya yang lainnya. Mereka semua melepas beban dipundaknya karena Ujian kelulusan yang mereka lalui.
"huh! padahal ya kita ngak kerja tapi ternyata mikir itu capek banget!!," Zahra juga ikut setengah berteriak untuk melepaskan semua yang membebankan dirinya.
"huh!! gua lulus!! sekarang gua bisa bisa nikah!," teriak salah seorang teman sekelas Zahra. Zahra yang mendengar teriakan itu langsung melihat ke arah teman nya itu, berniat ingin menghampiri dan berteriak kesal.
__ADS_1
"woi otak lu ni nikah Mulu hak, kerja kek bahagiain orang tua lu dulu, masa ia lu nikah ama orang se usia lu dan belum ada pekerjaan juga kalian nya, emang lu mau makan pake apa? huh! pake batu!," Riska mendahului Zahra dan berteriak kesal pada teman nya itu sambil mencubit pinggang temannya itu.
"Aw! sakit ah! gua becanda doang canda huh! serius gua becanda, gua juga mau kuliah adoh,"
"huh! iya ya masih harus menikah," ucap Zahra.
"Woahh kuliah juga kah? aaaaa ternyata mikir itu capek tau!, tapi gapapa lah demi masa depan, semoga aja gua sukses nanti, huuh!!," Teriak Riska yang melebarkan tangannya menikmati angin pantai yang begitu sejuk dan menerbangkan rambutnya juga kerudung Zahra. Seolah olah memasuki tubuh untuk membersihkan diri dari semua pikiran untuk sesaat.
hmmh ngomong ngomong ka Reza lagi apa ya, sudah satu dua bulan ngak ada kabar, aku kangen, SMS aku ngak pernah di balas telepon juga ngak pernah diangkat, huh! mungkin saja dia sibuk belajar dan magang kan haha percayalah Zahra semua pasti berjalan dengan lancar tinggal sebentar lagi kita akan berjumpa. Zahra tersenyum memandang laut tidak sabar menunggu waktu waktu pertemuan tiba, ia akan mencoba untuk bersabar hingga saat itu tiba.
Pada akhir akhir waktu saat Reza pergi Rahman juga tak jarang memberikan perhatian pada Zahra, ia memperhatikan keseharian Zahra Rahman juga setiap bulan mengantarkan skincare untuk Zahra bahkan sampai membelikan pembalut tebal, tipis, siang malam untuk Zahra. Kapan pun Zahra butuh Rahman selalu bersiap siaga untuk dimintai bantuan oleh Zahra meski terkadang Rahman juga suka mengejek dan membuat Zahra kesal karena baginya itu adalah hal hal yang membahagiakan dirinya bisa melihat ekspresi Zahra yang lucu dan imut.
....
"Yus, persiapkan anak mu dalam kurun waktu setengah sampai satu tahun ke depan, aku ingin ia menjadi penerus mu untuk menjadi sekretaris pribadi sekaligus sahabat Rahman, bukankah kamu juga telah melatih dia dalam ilmu bisnis dan militer? seperti yang aku pinta?," Perintah Andrean pada Yus
"iya tuan,"
"engkau sudah begitu berjasa pada keluarga besar Adiwijaya, bahkan engkau dulu adalah sekertaris kakakku Aria dan menjadi sekretaris ku. Maaf jika selama ini selalu merepotkan mu, tapi maaf karena memang dirimulah yang paling kupercaya, dan aku berharap anak mu juga bisa seperti mu,"
Yus berdiam diri dengan sikap siaga nya, selalu mematuhi apa yang diperintahkan oleh Andrean.
"ayolah jangan terlalu sungkan sekarang kita ambil waktu sebagai sahabat saja oke, besok baru kau dan aku menjadi atasan dan bawahan lagi oke," Andrean merangkul Yus dan membawanya duduk di kursi.
"terima kasih banyak tuan," ucap yus lirih
"HM??,"
"terima kasih banyak kepada keluarga besar Adiwijaya, jika bukan karena mereka nyawa istriku saat itu tidak akan terselamatkan, juga almarhum kedua orang tua ku, akan meninggal lebih cepat dan hidup dalam kesengsaraan untuk seumur hidupnya jika bukan karena tuan Aria dan dirimu tuan. Maaf jika hanya bisa memberikanmu kesetiaan sebagai gantinya, terima kasih banyak karena telah memberikan pendidikan yang terbaik untuk satu satunya putra saya, saya bersumpah saya akan melindungi anda dengan nyawa hamba, dan anak saya akan setia kepada keluarga Adiwijaya terutama pada tuan muda Rahman," Yus sangat sangat berteri makasih pada keluarga itu sehingga ia merasa tak enak hati jika Andrean sering mengucapkan maaf pada Yus.
Andrean yang mendengarkan Yus menepuk pelan bahu Yus, dan tersenyum.
"jika bukan karena mu, jika bukan karena kesetiaan mu juga aku tidak akan tau bagaimana kejayaan keluarga ini akan berjalan dengan lancar. Terima kasih banyak karena telah se setia itu pada keluarga ku, terutama pada almarhum kakak ku,"
...
Zahra baru saja pulang dari berliburnya dengan para sahabat dan teman temannya, menikmati liburan nya dengan sepenuh hati.
"Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh!," teriak Zahra sesampainya dirumah karena hari ini ia sangat senang. Tapi ia terkejut karena diluar tengah ternyata keluarganya sedang berkumpul bahkan ia menemukan ada ibunya Reza disana. Mereka memandang ke arah Zahra dengan wajah yang serius yang membuat Zahra ketakutan saat itu, takut untuk mendengar kabar buruk.
"nak duduklah sayang," Tini menepuk pelan sofa didekatnya.
Zahra pun terduduk didekat Tini.
"Maaf nak Zahra, maaf telah mengecewakanmu tapi sebaiknya tolong lupakanlah anakku, ibu sungguh benar benar meminta maaf nak," ibunya Reza berbicara dengan suara gemetar dan sesegukan karena sedang menangis pelan.
"Mah, pah, ada apa sebenarnya ini?," Zahra melihat ke kedua orang tuanya dan Kaka adiknya secara bersamaan.
"dengar dulu ya nak, tenangkan dirimu," ucap Marko dengan lembut
"Reza anak ku sekarang sedang dipenjara di mintai pertanggung jawaban, karena sudah menghamili anak orang," Ibu Reza memandang Zahra dengan penuh penyesalan dan meminta maaf yang sebesar besarnya karena telah mengecewakan Zahra.
"haha apa apaan sih ini, ngak lucu ah," ucap Zahra tak percaya.
"ngak ada yang berbohong de, yang kuat ya," ucap Raditya meyakinkan Zahra.
ngak, ngak mungkin kak Reza ngak mungkin menghancurkan kepercayaan aku iya kan gak mungkin kan.
Brakk
Zahra terkulai lemas dan pingsan saat mencoba untuk terbangun dari duduknya karena ingin menuju kamarnya untuk menyembunyikan sedihnya. Tapi ternyata hatinya tidak kuat bahkan meski hanya untuk menopang tubuhnya sendiri.
bersambung...
__ADS_1