
hari ini begitu bergemuruh, suasana cerah menjadi haru, seolah olah langit pun ikut merasakan apa yang dirasakan Zahra, Matahari saat itu mungkin bersinar namun seolah olah berkata " kau pergi begitu lama dari beliau dan sekarang saat kau kembali sesaat beliau pun pergi,". Sehingga saat itu cahaya matahari memerah dan mulai diselimuti awan yang dingin.
"laa ila ha illallah, laa ila ha illallah, " suara para pengelayat, Zahra terisak tangis yang terus menerus menderas, tak ingin berhenti, ingin rasanya ia seperti rasul yang tak ingin ditangisi jasadnya namun apa daya ia hanyalah manusia biasa yang memiliki hati yang begitu lemah sehingga ia tak sanggup lagi menahan tangisannya, Ningsih yang sangat merasakan kesedihan yang sama dengan putri tercinta akhirnya memeluk Zahra erat, berharap bisa memberi sedikit ketenangan.
Teringat beribu macam kenangan yang pernah Zahra lakukan bersama kedua orang tuanya, disaat Zahra berlari sepulang sekolah atau pun sepulang lomba yang pernah di ikutinya, serta bermain dipeluknya sang ayah dikecupnya pipi ayahnya, saat Zahra tidur dipangkuan ayah nya yang sebelah dan ibunya tidur dipangkuan sebelahnya lagi, tertawa bersama mengaji bersama, saat ia tertidur di sofa lalu di gendong oleh ayahnya, saat Zahra lelah dan menangis ayahnya lah yang mending Zahra di punggung hangat sang ayah, serta sang Ayah akan bergabung dengan ibu untuk menenangkan Zahra di kala Zahra risau dan bersedih, tak sedikit pun kenangan buruk yang ingin diingat Zahra, baginya kenangan buruk itu tak pernah nyata adanya itu hanyalah bayangan yang bersifat sementara adanya.
keesokan harinya
" bu ikut sama kami ya?," Zahra menggenggam tangan Ningsih meminta ibunya untuk ikut tinggal bersamanya karena khawatir akan ibunya yang sudah tidak ada ayah lagi disisinya." ibu tinggal sama Zahra nanti Zahra yang kerja ibu gak perlu capek capek kerja lagi,"
" gapapa nak, kamu pergilah dengan tenang bersama suami dan mertuamu ya nak ya, ibu akan mengurus acara zikiran ayahmu, serta ibu lebih suka tinggal disini, terlebih lagi dirumah ini begitu banyak kenang kenangan indah bersama ayahmu, dimana kami tertawa bersama, berdebat kecil ataupun hebat, menangis bersama berduka bersama, kami betul betul melewati begitu banyak rintangan bersama,"
Ningsih meraba tembok dan foto bersama yang ada di rumah itu, dia sangat merindukan kenang kenangan bersama sang suaminya mengingat segala yang pernah mereka lalui bersama sungguh rumah itu penuh dengan kenangan yang tak pernah ingin dilupakannya baik kenangan manis ataupun pahit selagi dilewati bersama itu semua bukanlah masalah bagi Ningsih.
"kamu harus seperti itu bersama suamimu ya nak ya, berbaktilah kepadanya , kalian harus berbahagia dan terus bersama hingga jannah nya Allah nak," Ningsih membelai lembut kepala dan wajah Zahra, wajah yang telah lama dirindukan nya
"iya iya tapi ibu, nanti yang mengurus ibu siapa? sekarang ayah sudah tiada ibu juga sudah tua, seharusnya sudah kewajiban Zahra mengurus ibu melayani ibu sepenuh hati Zahra," Zahra memohon pada Ningsih
" ibu akan tinggal bersama saudara ibu nak, tenang saja ya, kamu pergilah bersama suami mu kamu miliknya sekarang tanggung jawab ibu telah di ambil olehnya, ibu tidak masalah dengan ini semua justru memang inilah yang ibu inginkan meskipun ayahmu telah tiada, ibu juga yakin kamu pasti akan bahagia bersama suamimu nak, dan juga maaf karena ibu tidak bisa hadir diacara resepsi kalian," tunduk Ningsih penuh kesedihan.
belum genap sembilan hari kematian Bayu, namun Zahra sudah harus pergi dikarenakan keadaan dan kehormatan martabat pihak pria. Begitu sesak yang dirasakan Zahra ditambah lagi kekhawatiran nya tentang ibunya yang kini ditinggal sendiri oleh sang ayah, meskipun Ningsih berkata akan membawa saudaranya untuk tinggal bersama tetap saja ada sedikit ke khawatiran pada diri Zahra.
__ADS_1
***
Zahra kini tiba dihotel yang telah dipesan oleh Tari untuk persiapan resepsi, Zahra hendak tidur, diikutinya Aria yang memberitahu dimana kamarnya.
"ini kamarmu aku tinggal dikamar lain," Aria memberi kunci kamar Zahra, sesampainya dikamar Zahra.
"ahh iya mas,"Zahra tersenyum paksa, mengerti akan maksud Aria.
"aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita, besok acara resepsinya, jangan sampai kesiangan ibu akan mengajakmu pergi kesalon, " Aria lalu melangkah meninggalkan Zahra,namun ia berbalik dan berkata.
"ah, dan ya, aku tidak suka saat aku tidur lalu terganggu oleh suara tangis anak kecil, oleh karena aku itu tidak ingin sekamar. Tolong mengerti ya " Aria pun pergi meninggalkan Zahra setelah mengatakan semua itu
***
"hai, wow istrimu cantik juga yo, kamu memang pintar memilih istri, ini bahkan lebih baik rupanya daripada yang terdahulu (angel)," sapa anton salah satu teman Aria.
"ah biasa aja," balik sapa Aria dingin
"hai kaka ipar, perkenalkan aku anton " sapa anton kepada Zahra sembari mengulurkan jabat tangan.
"ah iya hai juga, saya Zahra, " namun Zahra hanya memberi salam tanpa membalas uluran tangan Anton baginya mereka bukanlah muhrim yang layak bersentuhan sesuka hatinya, ya Zahra kini telah kembali pada diri Zahra yang dulu yang tertutup pada lawan jenisnya.
__ADS_1
Zahra kini sedang berbicara dengan Leela, Yeni dan Tini mereka saling menertawai penampilan masing masing yang tak pernah dikenakan sebelum ini, seperti Zahra yang berpakaian megah, Tini yang berhijab dan juga Yeni yang melakukan hal serupa demi sahabatnya.
"eh Aria istri kamu cantik tau," Aria yang sedang berbicara dengan Anton tidak terlalu jauh dari sana.
"ah biasa aja ko ton,"
"dih gak percaya aku itu sahabat kamu, aku itu melihat kecantikan yang berbeda pada dirinya, bukan cantik yang biasa kaya wanita lain tapi ini itu cantik dari dalam bahkan bercahaya," Anton yang melirik Zahra yang sedt tertawa dengan kedua sahabatnya.
sial, dia manis juga. batin Aria
hari resepsi sudah berlalu kini zahra berada dirumah Pribadi milik Aria.
"kamarmu disana, kamarku ada diatas, kamu gak perlu naik keatas aku gak suka barangku disentuh masalah beres beres biar aku sendiri yang atur," jelas Aria.
Zahra mengangguk mengerti dan hendak menuju kamarnya, namun langkah kakinya dihentikan oleh Aria.
"mmm aku bukan membencimu makanya kita pisah ranjang, tapi yang seperti kamu tau aku gak suka diganggu anak kecil, dan yah aku tetap akan menjadi walinya, "
Zahra tersenyum mendengar kata kata Aria, meskipun tidak begitu lembut namun kata katanya penuh makna dan tanggung jawab. Zahra pun berlalu membawa azan menuju kamarnya untuk beristirahat.
bersambung...
__ADS_1