
suasana kini hening beberapa saat, seketika Ningsih menatap Zahra penuh dengan tanda tanya, dengan gemetar ia meletakkan bubur yang ia suapi untuk Bayu dimeja, ia memandang Zahra dan seorang anak di gendong nya. Bayu juga ikut terdiam entah apa yang merasuki tubunhnya ia seperti patung tak melakukan apa pun, hanya diam dan melihat Zahra yang baru saja datang seolah olah masih belum percaya.
"Zahra?," tanya Ningsih untuk lebih meyakinkan dirinya lagi.
"Zahraaa!!, ya allah nak," Ningsih seketika itu setengah berteriak dan berlari kecil ke arah Zahra ia memeluk Zahra erat tanpa mempedulikan yang lain ataupun Azan yang sedang digendong oleh Zahra, ia menangis sejadi jadinya, seketika Ningsih terduduk, merasakan kakinya yang begitu lemas dan bertenaga, seolah olah tenaganya habis terkuras. Seketika itu juga Zahra ikut terduduk memeluk Ningsih, ia sudah sangat merindukan sosok seorang ibu tercinta nya itu, merindukan saat saat bersama bercerita bersama dan memasak bersama, yang paling dirindukan Zahra adalah tidur di pangkuan Ningsih sembari menceritakan sejuta cerita yang di alaminya pada hari itu.
Disisi lain Bayu membuang muka menyembunyikan air mata yang sudah tak tertahan dipelupuk mata nya, sejujurnya ia sangat merindukan putri semata wayang nya itu, hanya saja ia tak sanggup untuk mengutarakannya, keberanian nya masih terlalu kecil untuk mengatakan, "ayah merindukanmu nak."
" apakah ini cucuku nak,?" tanya Ningsih seraya menampakkan senyum bahagia nya yang menyambut kedatangan Zahra dan cucu nya
"iya bu," angguk Zahra pelan
"sini biar nenek gendong sayang, " Ningsih meraih azan dan menggendong nya. Sementara Zahra berjalan perlahan mendekat pada Bayu namun Bayu tetap tidak menoleh, ia malu Bahkan meski hanya untuk menatap wajah putri nya.
"ayah," terdengar lembut suara Zahra memanggil Bayu Zahra yang kini menduduki pinggiran kasur tempat Bayu berbaring lalu ia memegang tangan Bayu, merasa sedih dan penuh bersalah, ia mengusap pelan air matanya yang sudah mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
" Ayah sekarang kurusan ya?, Zahra rindu ayah, Zahra sekarang sudah hidup baik, meskipun Zahra belum menikah tapi sekarang sudah akan menikah yah, Zahra akan menjadi menantu dari seseorang yang terhormat yah, Zahra hebat kan yah?," Zahra berbicara lembut menahan isak tangis, ia memijat perlahan kaki Bayu, dan mencium kaki Bayu.
"ayah, Zahra kesini untuk meminta restu dari ayah, Zahra berharap Ayah sama ibu merestui kami, karena tanpa restu kalian semua tidak ada artinya, Zahra juga ingin minta maaf kepada Ayah dan ibu, selama ini Zahra sudah banyak salah pada ayah dan ibu, maafkan Zahra ya ayah." Bayu masih saja terdiam tak ingin menimbali ataupun menoleh pada Zahra.
"baiklah mungkin Zahra cuma bisa mengatakan itu saja maaf sudah mengecewakan ayah, ah haha, terima kasih ayah untuk semuanya," Zahra yang merasa Bayu masih belum menerima kehadirannya bergegas untuk berdiri ingin menjauh karena Bayu tak menoleh sama sekali.
" nak?, maafkan ayah," Bayu memegang tangan Zahra. mata mereka bertemu, terlihat penuh kerinduan diantaranya.
"Ayah," Zahra memeluk Bayu, suara pecah tangis keduanya memenuhi ruangan. Tini, Yeni dan semua yang menyaksikan termasuk Ningsih terharu dan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut, memberi waktu bagi Zahra dan Bayu untuk berbicara berdua, mengeluarkan segala isi hati mereka.
"ayah minta maaf nak, selama ini ayah mendidik mu dengan kurang baik, " tutur Bayu
" tidak ayah, ayah tidak salah, Zahra yang terlalu takut dan tidak pandai menjaga diri,"
" sudahlah nak, ayah hanya ingin kamu baik baik saja, dan mohon maafkan ayah karena tidak ada disaat kamu susah,"
__ADS_1
"ayaahh, " lirih Zahra tak kuat menahan tangis, Ningsih memasuki ruangan sembari menggendong Azan.
"nak apakah calon suami mu tau tentang anakmu?," tanya Ningsih
" iya bu, mereka tau,"
" apakah dia tau bagaimana kamu mendapat kan anak ini?,"
" mereka tidak pernah bertanya bu dan kalau ibu mertuaku dia sepertinya sudah tau bu, tapi aku memang berniat untuk memberi tahu calon suami ku juga, diwaktu yang tepat, "
Zahra menatap Ningsih dan Bayu secara bergantian. melihat pandangan cemas dari kedua orang tua nya itu.
" ayah sama ibu percayakan sama Zahra,?" tanya Zahra penuh harap.
" ayah percaya nak, sudah cukup selama ini ayah meragukan kamu, uhuk uhuk," jawab Bayu sembari terbatuk batuk, karena kondisinya saat itu. Ningsih tersenyum mendengar suaminya.
kini keluarga kedua belah pihak berbincang mengenai pernikahan, Bayu yang kondisinya lemah memilih untuk beristirahat dan mempercayai keputusan pada istrinya.
" baiklah seperti yang ibu Ningsih inginkan, tapi di kota saya nanti saya akan mengadakan pesta pernikahan lagi, yaa permakluman bu, saya memiliki banyak kerabat, "
" oh iya buk Tari saya mengerti, tapi mohon maaf jika saat itu saya dan mas Bayu tidak dapat hadir,"
" iya buk Ningsih, saya akan bantu buk Ningsih dengan perawatan pak Bayu, jika ibu berkenan agar pak Bayu dirawat di luar negeri siapa tau dapat mempercepat kesembuhan,"
" tidak apa apa buk, saya percaya sama allah, kesehatan hanya dari allah obat hanya perantara saja bu, lagi pula juga mas Bayu lebih ingin dekat dengan kota kelahirannya saja,"
"baiklah jika begitu, kalau ada apa apa tolong hubungi saya ya bu," pinta Tari karena ia juga merasa khawatir
"baik bu,"
perbincangan berlalu rencana demi rencana disepakati. kini zahra tengah terduduk dengan kedua sahabatnya, membicarakan pembicaraan kecil dengan sesama sahabat.
__ADS_1
" alhamdulillah ya ra akhirnya berjalan lancar," elus yeni pada pundak Zahra.
" iya alhamdulillah ya," sambung tini.
"mmmh alhamdulillah hisyukur, kita harus mensyukurinya," syukur Zahra.
"kamu maunya pernikahan seperti apa ra," penasaran Tini.
" yah kalian tau kan, aku hanya memimpikan pernikahan yang sederhana, tanpa perlu musik modern hanya hadroh saja, serta ada tilawah nantinya, syukuran dan yaahh jika harus berdandan aku berharap dandan yang biasa saja,"
"kalo mas kawin?," Yeni kini memilih bertanya yang lebih dalam.
"aku memimpikan di maharkan surrah arrahman. dan uang tujuh ribu rupiah, atau paling tidak sepuluh ayat pertama surrah al kahfi, tapi jika tidak sanggup aku hanya ingin seperangkat alat shalat, "
"mmmmm Zahra terharu tau," Yeni kini memeluk Zahra.
"mmm kalo aku sih minta mahar yang banyak banyak besar besar harganya," sambung tini.
"uang bisa dicari bersama tin, dan ya tidak ada yang lebih berharga atau tiada yang dapat menandingi besar nilai sesuatu melebihi dari seperangkat alat shalat dan firman allah, jika harta aku tidak ingin ia memberikan hanya karena menikahiku, tapi karena berterimakasih pada orang tuaku. jelas Zahra panjang lebar.
"tapi kan bukannya sebaik baiknya pria, yang memberi mahar yang banyak," tanya tini penasaran..
" mmm betul sayang, dan sebaik baiknya wanita yang meringankan mahar, sebenarnya aku bukan meringankan mahar sih malah lebih memahalkan karena mahar dengan uang banyak itu sudah biasa tin,"
mereka meresapi dalam dalam penjelasan dari Zahra merasa tersentuh. namun yeni terdiam mematuhi saat melihat lelaki didepannya kini mendekati mereka dan terlihat ingin berbicara dengan Zahra.
"ra, itu," tunjuk yeni pada pria didepannya.
" mmh mas Aria, eh tuan Aria, eh mas," hmmh kikuk Zahra.
bersambung....
__ADS_1