
"Zahra aku akan mendapatkan mu, aku akan menggenggam mu!," Reza berada di depan gerbang rumah Zahra sembari menatap kedalam rumah Zahra dengan sepeda motornya, memang Reza sering datang ke rumah Zahra meskipun tak pernah masuk untuk berkunjung, Reza melakukan kegiatan rutin itu hampir setiap hari, karena ia datang untuk melihat keadaan Zahra dan memastikan pada dirinya sendiri dengan kedua matanya bahwa Zahra sedang tidak apa apa atau dengan kata lain Zahra sedang dalam kondisi baik baik saja, dia bisa merasakan apa yang terjadi pada Zahra melalui interaksi hatinya atau firasatnya karena kasih sayangnya yang tulus dan ia bahkan bisa merasakan bagaimana kehangatan yang ada pada keluarga itu, keluarga yang lengkap dan penuh kasih sayang dapat terlihat jelas dari aura yang cerah dan ceria serta dapat terdengar melalui suara Zahra yang tertawa bahkan suaranya dapat didengar sampai luar rumah,dan Reza menikmatinya bahkan juga berasa sangat bersyukur karena Zahra selama ini bisa hidup dengan baik dan dengan bersama keluarga yang sangat layak untuk dipuji, kerukunan yang ada bahkan akan dapat membuat siapapun yang mengetahuinya akan merasa iri, bukan dengki tetapi rasa iri menginginkan hal yang sama untuk didapatkan dari keluarga sendiri, dan Reza pun memutuskan untuk pergi dari halaman rumah gadis yang sangat di sayangi nya itu dan sebelum pergi Reza menyempatkan dirinya untuk tersenyum terlebih dahulu sebelum meninggal kan ke kediaman itu.
bruum..
Reza mengendarai sepeda motor nya dengan kecepatan penuh dan dia mengendarai motor dengan perasaan bahagia, ia selalu merasa bahagia jika mengetahui Zahra baik baik saja, dan dia akan merasa murung serta marah jika ia mengetahui Zahra tidak dalam keadaan baik baik saja, entah itu karena hal yang di sengaja ataupun tidak pada intinya Reza sangat benci merasakan rasa sakit pada diri Zahra, Reza benci jika harus melihat senyum ceria Zahra menghilang atau jika bahkan sampai air mata Zahra jatuh dari pelupuk matanya, jangan di bilang Reza tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada diri Zahra, karena Reza sendirilah yang akan menjaga Zahra dengan kekuatan penuh nya dan dengan sepenuh hatinya.
"Zahra, sampai kapanpun juga aku akan memperjuangkan mu, karena kamu adalah hidupku," gumam Reza di tengah perjalan dengan membayangkan wajah Zahra, tawa ceria Zahra serta keramahan Zahra yang selalu ia berikan kepada setiap orang dan Zahra adalah wanita yang paling berkesan pada dirinya, bahkan Reza sampai bisa berkali kali tersenyum sendiri jika ia mengingat ngingat kembali masa masanya bersama dengan Zahra atau saat ia mengamati kegiatan Zahra.
Dan ya, saat itu Reza teringat saat penerimaan murid baru di sekolahnya itu adalah kenang kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Reza karena itu adalah awal pertemuan Reza dengan Zahra juga adalah pertemuan yang tidak akan pernah dilupakannya terutama bagaimana saat ia bisa melihat wajah Zahra untuk pertama kalinya, itu sudah bisa menggambarkan perasaannya yang bagaikan baru saja terlahir kembali, dan pada saat itu dia kelas xi sedangkan Zahra masih dalam proses penerimaan siswa baru yang berarti Zahra akan masuk sekolah pada kelas x.
~flash back onn~
begitu banyak murid murid yang akan menjadi siswa baru sekolah berdatangan dengan ramainya bahkan sampai terlihat seperti semut karena banyaknya dan jika di lihat sekilas bisa di katakan tak terhitung jumlahnya meskipun sebenarnya masih bisa dihitung, kini para murid murid itu sedang saling terburu buru datang dengan saling desak mendesak karena peraturan MOS yang mengharuskan ia terbangun lebih pagi dari siswa yang sudah aktif belajar, bahkan masih begitu pagi pagi sekali siswa siswi yang mengikuti MOS harus datang dengan membuat name take sendiri dari kardus dan juga tali rafia, belum lagi harus menggunakan tas kresek dan membawa bekal sendiri menggunakan daun pisang dan hebatnya sebagian dari mereka memang benar benar patuh sehingga pada waktu yang sangat pagi mereka benar benar sudah berkumpul demi menghindari hukuman.
"heish rusuh banget sih masih pagi juga," Reza sedang berjalan memasuki gerbang sekolah dengan kesal nya harus mendapati suasa yang ribut di pagi hari karena biasanya Reza masuk kelas dengan lebih pagi dari teman temannya bukan karena ingin menjadi siswa disiplin melainkan karena menyukai sesuatu yang berbau keheningan yang bisa membuat dirinya merasa tenang sejenak, bukan karena ia tidak memiliki teman tetapi memang karena ia sangat membutuhkan waktu untuk sendiri dalam beberapa waktu tertentu.
"ah telat nih," Zahra berlari dengan beberapa siswa yang lainnya yang juga sama telat nya dengan Zahra dengan terburu buru Zahra mengecek perlengkapan nya sambil berlari, dan dia terus berlari tidak memperhatikan jalan yang ia tempuh, bahkan sampai saling mendorong satu sama lain dengan siswa yang sama telatnya dengan dia.
brukk
Zahra secara tidak sengaja menabrak Reza yang berada di depannya hingga terjatuh dengan posisi tubuh yang tengkurap,dan hal itu membuat Reza sangat kesal karena pagi pagi sudah tertimpa hal yang tidak diinginkan, Reza berfikir belum lagi siswa yang sudah ramai pada pagi pagi buta dan apa lagi ini? ia terjatuh karena tertabrak oleh seorang siswa atau siswi baru, Reza benar benar kesal dan ia sangat membenci masa masa penerimaan siswa atau siswi baru di sekolahnya, Reza geram bahkan ia sudah ingin memukul seseorang yang membuatnya jatuh sehingga merasakan kesialan berkali kali pagi itu.
"Aargh!!" geram Reza sambil mencoba membangunkan tubuhnya dan mengepalkan tangannya dan mengusap tangannya yang kotor karena terjatuh.
"ah maaf ka maaf, sini saya bantu," dengan perasaan bersalah Zahra mengulurkan tangan ingin membantu Reza untuk berdiri, karena ia sendiri juga sadar bahwa itu memang kesalahan nya dan Zahra benar benar menyesalinya dan harus bertanggung jawab atas segala kesalahan.
"ck ngak perlu, menganggu mood pagiku saja, aishh" Reza dengan kesal melanjutkan dirinya untuk membersihkan tangan nya yang kotor dan juga tergores terluka akibat terjatuh yang lumayan keras dan membuat tubuhnya lecet, bahkan beberapa bagian kecil di pakaiannya robek, ia terus membersihkan dirinya tanpa melihat ke arah Zahra.
Zahra pun merasa sangat kesal karena sikap Reza yang tidak begitu memperdulikan rasa bersalah Zahra, dan pada akhirnya dengan kesal Zahra memutuskan untuk mengeluarkan tisu dan bekal air minum nya dari tas MOS nya itu, lalu menarik tangan Reza dengan paksa dan ia membersihkan tangan Reza yang terluka meniupnya dan membalutnya dengan plester, karena untuk berjaga jaga dengan hal inilah yang membuat Zahra harus selalu menyediakan plester agar tidak terjadi hal hal yang tidak dinginkan.
"nah sudah, ini baru baik, sekali lagi maaf ya ka," Zahra mengangkat wajahnya menghadap Reza dengan tersenyum ramah ia bahkan membungkukkan dirinya untuk memberi tanda hormat kepada Reza karena baginya sopan santun perlu di tanamkan pada diri sendiri.
Reza pun sontak melihat wajah Zahra karena prilaku Zahra dan saat seketika itu juga Reza terpukau dengan sikap dan wajah Zahra yang langsung membuat jantung nya berdebar saat itu juga karena Zahra begitu memukau dan baru pertama kalinya juga ia diperlakukan lembut dan terhormat bahkan dengan wanita berwajah cantik seperti Zahra. Lalu Zahra berdiri dan permisi pamit karena ia memang sudah sangat telat, dan Zahra pun pergi untuk menghampiri siswa dan siswi MOS yang lainnya untuk bergabung mengikuti kegiatan nya
Akan tetapi karena Zahra sudah terhitung telat bahkan menjadi lebih telat dari yang lainnya jadi ia mendapat kan hukuman berlari keliling lapangan 5 kali dan harus segera dilaksakan dan harus menanamkan kedisiplinan pada diri sendiri.
Tanpa membantah Zahra langsung mematuhi apa yang sudah seharusnya menjadi hukumannya karena ia tau peraturan itu memang harus di patuhi. dan tanpa di sadari Zahra mendapat perhatian dari jarak jauh oleh Reza, yang masih terduduk memperhatikan dengan khitmat wajah Zahra yang sedang berlari itu.
dan waktu istirahat sudah datang Zahra kini sedang siap untuk memakan makan siang dengan Riska di kantin.
"kamu ko telat tadi Ra?," tanya Riska dengan antusias kepada Zahra karena biasanya Zahra adalah anak yang paling disiplin di sekolah.
"iya Riska aku kesiangan tadi aku kan lagi ngak shalat, terus aku bangun telat mana harus lama di kamar mandi lagih, uh mokoknya mah ribet!, udah pinggangku sakit sampe ke perut bahkan sampe ke hati tau ga rasanya, uhhh mokoknya mah susah banget dah, ih dah ribet beut" cerita Zahra dengan ekspresi nya yang membayangkan bagaimana repot nya seorang wanita yang haid karena harus melakukan banyak hal.
"siapa namamu?," tanya Reza yang tiba tiba datang dan mengejutkan mereka bahkan sampai mengambil kursi dari meja lain agar Reza bisa dididik tidak jauh dari Riska dan Zahra.
"wah Ra siapa ni, ganteng banget," geger Riska yang mendapati lelaki tampan di sekolah nya, setahunya lelaki tampan jarang ada yang akan menghampiri secara tiba tiba, terkecuali garis besarnya ya itu di fuckboy.
"aku nanya sama kamu ko diem," tanya Reza sekali lagi menghadap Zahra dan mencoba mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"oh, nama saya Zahra ka," jawab Zahra namun tidak membalas tangan Rahman, Zahra memilih untuk membalas dengan singkat dan menunduk lalu mencoba sedikit menjauh karena ia merasa sedikit tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.
"mh Zahra, ini cemilan buat kamu, oh iya aku suka sama kamu mau ngak jadi pacar aku?," tanya Reza langsung pada intinya tanpa basa basi yang mungkin tidak semua wanita menyukainya dan akan sedikit merasa il feel dengan sikap yang seperti itu.
__ADS_1
what the hell. Teriak Zahra dalam hati bersamaan dengan Riska yang kini saling memandang dengan Zahra. Riska hanya bisa angkat bahu karena Riska juga merasa bingung.
"maaf ka," jawab Zahra dengan senyuman paksanga.
"kamu ngak perlu jawab sekarang, jawab aja nanti, ini cemilan nya, aku balik ya bye," Reza melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Zahra.
"maaf, mungkin aku ngak butuh waktu nanti, aku tetap akan menjawab tidak," ucap Zahra yang hanya mendapatkan acungan jempol dari Reza.
"hmh, gua juga bakal nolak kali ya tiba tiba di ajak pacaran gitu, ngak kenal juga. Ngak jadi deh gua naksir Ama dia," gumam Riska.
"dih," Zahra terheran dengan Sahabat nya itu yang malah mendapat cengiran dari Riska
~flash back off~
Begitulah cara Zahra dan Reza bertemu pertama kali.
"hei bro," sapa teman Reza karena Reza kini telah sampai di tempat tujuannya yaitu bertemu dengan teman temannya
Reza bertemu dengan sekawanan geng motor nya, ia terbiasa menghibur dirinya, dengan teman teman sekumpulan nya di alam bebas. Udara yang segar dan menyejukkan. Reza terus terbayang bayang bagaimana ia memerhatikan Zahra yang terkadang lembut dan juga terkadang marah namun tidak menggunakan kata kasar.
Reza juga sering tersenyum hanya dengan membayangkan tertawa Zahra yang kadang terlepas saat bersama sahabat nya.
....
Zahra kini sedang berada di sekolah ia memikirkan kata kata mama nya semalam.
"meskipun mama ingin kamu seperti mama Zahra sahabat mama yang mama ceritakan itu. Tapi tetap saja kamu bukan dia, dan mama juga dulu lebih buruk darimu, mama tidak mau hanya karena kamu merasa terkekang lalu kamu akan memberontak, mama akan izinkan kamu untuk berpacaran tapi harus janji, bisa jaga diri jangan mau dipegang pegang, apa lagi sampai dicium dan dipeluk, mama tidak mau kamu kehilangan cahayamu.
carilah lelaki yang menghormati mu sayang, lelaki yang bertanggung jawab, dan mencintai mu karena Allah, karena rata rata lelaki sekarang mencintai hanya karena nafsu. Yah meskipun sesungguhnya cinta yang sebenarnya itu akan terasa atau terjadi jika kamu sudah menikah, tapi untuk dimasa pubertas mu yang sekarang, bolehlah kamu mencoba untuk mencari," Masih terbayanh senyuman Tini yang begitu tulus mengharapkan sesuatu yang berharga melalui Zahra, bukan sebuah prestasi yang sangat membanggakan, melainkan keteguhan hati dalam menjalankan syariat Islam.
"dhorr, woah kenapa melamun? masih pagi tau," Riska mengejutkan Zahra yang sedang melamun.
Riska khawatir terhadap Zahra karena tidak biasanya ia menemui Zahra dengan suasana murung Dipati hari.
"kenapa? ada masalah coba cerita," Riska yang memutuskan bertanya.
"aku ngak tau apa aku terlalu jahat terhadap ka Reza atau ini memang sudah benar karena aku menjauhi larangan agama, aku ingin bertanya pada yang lebih paham agama, tapi kalau sama guru atau ustadz kan malu,"
"kenapa ngak tanya Kaka dari sahabat mama mu aja diakan dulu anak pesantren selama 6 tahun," usul Riska
"ka Rahman?, ah ngak ngak cowok dingin kek dia, ih ogah,"
"tapi aku rasa dia baik ko, apa lagi nih setahu aku yang udah sekolah di pondok pesantren Azan Al-akbar itu hebat hebat, kiyai dari Iran tau yang jadi gurunya, hebat kan,"
"aku tau!," ketus Zahra yang merasa kesal karena Rahman mendapat pujian dari Riska.
.....
"nak?," panggil Andrean pada Rahman di ruang kerja nya.
"iya ayah?," Rahman yang mendapati Andrean datang langsung menyalami tangan Andrean untuk memberi hormat.
"kenapa ayah harus repot repot jika ada apa apa biar Rahman yang mencari Ayah." imbuh Rahman tak enak hati.
__ADS_1
"tidak ada apa apa, bagaimana pekerjaan mu nak?," tanya Andrean pada Rahman sembari melihat laporan laporan dokumen di mejanya.
"Alhamdulillah baik ayah, hanya ada sedikit masalah, apa ada pekerjaan yang salah sehingga merepotkan ayah?," tanya Rahman langsung memeriksa dokumen nya takut ia memang telah melakukan kesalahan.
"tidak bukan itu, kamu sudah dewasa dan ayah salut padamu tidak ada pekerjaan yang tidak dapat kamu selesaikan ayah bangga kepadamu," Andrean menepuk bahu Rahman. Rahman mengucapkan terima kasih pada Andrean atas pujian yang ia terima lalu menundukkan kepalanya.
"Rahman berapa usiamu?," tanya Andrean yang seolah olah tidak mengingat umur anaknya, namun ia memang sengaja menangkan hal itu untuk memulai pertanyaan yang sesungguhnya, Rahman yang mengerti akan maksud pertanyaan Ayah nya hanya tertawa pelan dan menjawab semua pertanyaan yang ingin diketahui Andrean.
"ayah umurku 26 tahun,"
"ah? dan siapa wanita yang menjadi anak Tante Tini itu dia masih sekolah bukan?,"
"iya ayah dia masih SMA dan dia kakak kelasnya memei anak tersayang ayah," senyum Rahman menanggapi Andrean
"oh tidak beda jauh dengan mu," gumam Andrean.
"jauh Ayah dia berusia 17 tahun, selisih umur kami 9 tahun," lanjut Rahman.
"tidak apa apa punya akan lebih baik jika lelaki yang lebih tua, dewasa, bertanggung jawab terlebih lagi lelaki yang sudah bisa bekerja untuk menafkahi istri, meskipun dari bawah ia berjuang setidaknya sudah tidak meminta kepada orang tua lagi iya kan?," Andrean membuat pernyataan yang membuat Rahman jadi terkekeh.
"dia juga cantik dan..," saat Andrean ingin berbicara Rahman langsung memotong perkataan Andrean.
"maaf ayah bukan nya aku lancang sampai memotong perkataan ayah, ekhem baiklah jangan pakai bahasa yang terlalu formal," Rahman lebih merilekskan diri agar ia tak terlalu canggung dengan Ayahnya
"ayah datang kemari membicarakan seorang wanita, em cantik muda pula," Andrean menghitung kelebihan Zahra dengan jarinya
"betul!" sahut Andrean
"terlebih lagi nama nya Zahra sama seperti wanita yang pernah ayah cintai, betul,?
"mh, tentu saja be.. eh dasar anak nakal! cinta ayah hanya untuk mama mu seorang," Andrean memalingkan wajahnya. Rahman yang melihat reaksi Andrean jadi tertawa geli.
"jadi maksud ayah tiba tiba membicarakan Ade Zahra adalah?..," tanya Rahman dengan memperhatikan Andrean dengan seksama.
"apakah kamu tidak menyukainya, tidak kah mau menikah dengannya?,"
Rahman memandang Andrean dengan perasaan sedikit terkejut mendengar kata kata Andrean namun terbesit sedikit senyuman di wajah Rahman.
....
Zahra kini sedang makan malam dimeja bersama keluarganya, bukan makan malam yang sunyi melainkan rusuh karena tertawa canda gurau bahkan sampai saling mengejek antar saudara.
"nak," panggil Marko pada Zahra.
"iya pa?," tiba tiba suasana menjadi hening karena ada aura serius dari Marko setelah menghabiskan makanannya.
"boleh papah meminta sesuatu?," tanya Marko.
"hehe papah aneh ya, memang apa yang Zahra bisa berikan mmh? coba papah katakan," tanya Zahra pada Marko yang memang telah penasaran pada apa yang akan disampaikan Marko belum lagi suasana berubah menjadi sebuah keheningan
"maukah kamu menikah dengan Rahman, anak nya om Andrean dengan Tante Yeni,"
"!!!,"
__ADS_1
bersambung....