Cinta Zahra

Cinta Zahra
keinginan


__ADS_3

Tini mendekati Zahra dengan wajah sedihnya, iya duduk di dekat Zahra lalu menggenggam tangan Zahra, ia memandang kepada setiap orang yang ada di sana seolah memberikan kode, bahwa hati ini hanya ingin berbicara dengan Zahra berdua saja, agar terjadi ketenangan di antara mereka, yang lainnya pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tini, dan mereka semua tahu bahwa itulah yang terbaik, pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke luar dan membiarkan Tini berbicara empat mata bersama dengan Zahra, setelah mereka keluar Tini memegang tangan Zahra dan mengecup pipi Zahra, digenggamnya tangan bunga Zahra itu lalu diciumnya tangan itu berkali-kali.


"Mama kenapa, Zahra nggak enak kalau mama kayak begini," ucap Zahra karena mamanya mencium tangannya terus-menerus sambil meneteskan air mata.


"nggak ada, mungkin kamu udah nggak sayang sama mama jadi Mama melakukan ini biar mama masih bisa mengingat masa-masa kamu saat bisa bahagia bersama mama," ucap Tini dengan suara yang sedikit bergetar, Zahra yang mendengarnya pun terkejut lalu melepas tangannya dari tangan Tini, dan menggenggam balik tangan Tini dan lalu memandang wajah Tini dengan lekat.


"mama, aku ngomong kayak begitu besar akan jadi sedih dengar mama ngomong kayak begitu, Zahra sayang sama Mama, Zahra nggak mungkin lupain mama, Zahra sayang banget sama mama jadi jangan ngomong kayak gitu lagi ya, karena Zahra nggak bisa denger kata-kata itu keluar dari mulut Mama," ucap Zahra yang juga mulai menangis sambil mencium tangan Tini.


"kalau kamu sayang sama Mama, dengerin dong apa kata Mama, ini semua demi kebaikan kamu, mama maunya supaya kamu itu bisa salah Mama lebih lama lagi, bisa bersama sama mama, bisa kita bermain-main lagi, jalan-jalan bersama bahagia bersama meskipun Ayah udah nggak ada di dunia ini," ucap Tini dengan Lirihnya, iya mengusap air matanya dan berusaha untuk kuat memandang mata Zahra.


"Ayah kamu udah nggak ada di dunia ini, kalau kamu juga nggak ada terus mama sama siapa? mmh? kakak kamu ada sama adik kamu juga ada, tapi Mama nggak bisa untuk kehilangan lebih banyak lagi, Papah kamu nggak ada itu baru satu, Dan tolong kita berjuang bersama-sama supaya kamu juga bisa sama mama, temenin mamah melangkah lebih jauh lagi temenin Mama di usia tua mama, manjain mama ngurus mama kita senang-senang bareng ya sayang ya, kamu mau ya lanjutin pengobatannya Mama mohon sama kamu," ucap Tini kembali terisak Isak tangisnya.


"mama tapi ini udah keputusan Zahra, Zahra sayang sama kalian semua, tapi percuma saja kalau kehidupan Zahra aja udah sedikit kemungkinan untuk bertahannya, bagaimana jika nanti operasinya berjalan dengan gagal, bagaimana jika nanti semuanya nggak berhasil, bagaimana jika nanti semua malah akan menjadi sia-sia? maka akan jauh lebih buruk lagi saat Zahra Masih bersama dengan kalian, tapi semua itu malah sia-sia, Zahra tahu kalian itu berjuang demi Zahra tapi saya juga sedang mencoba untuk berjuang demi kalian," ucap Zahra dengan liriknya dan memegang wajah Tini.


"setidaknya anak kita kan sudah ikhtiar, memangnya waktu itu ada di tangan Allah tapi apa salahnya kita untuk ikhtiar, terus berdoa dengan kunfayakun Maka Allah bisa melakukan segalanya, kita bisa melewatinya bersama sama, setidaknya kita telah berjuang, karena semua itu akan menyakitkan jika kita gagal terlebih dahulu tanpa pernah mencobanya atau berjuang untuk mendapatkannya, bukankah papa dulu selalu mengajarkan itu kepada kamu? kamu enggak boleh melupakan itu," ucap Tini sambil terus memohon kepada Zahra.


"maaa," cara memanggil Tiny dengan lirih masih dengan nada untuk menolak apa yang diinginkan oleh Tini.


"setidaknya! jika kamu mau mati! biarkanlah mati lebih dulu daripada kamu!," ucap ini yang sudah tidak tahan lagi, dini mengungkapkan itu semua dengan nada yang setengah keras dan juga dengan penuh penekanan seolah-olah ia sudah tidak kuat dengan apa pun itu.


"kamu jangan ngomong kayak begitu dong," ucap Zahra yang sudah tak tahan dengan kesedihan ibunya.


"gimana nggak kamunya aja kayak begini, kamu itu keras kepala padahal ini semua demi kebaikan kamu, setidaknya kamu gantiin posisi Mama dengan merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang kamu sayangi jangan hanya terus mama yang harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang mamah sayang, bisa?" ucap Tini mengeluarkan kata-katanya dengan sedikit terbata-bata.

__ADS_1


"kita gantian posisi, Mama lebih dulu mati sedetik sebelum kamu biar mama enggak merasakan bagaimana rasa sakitnya lagi setelah kehilangan kamu, cukup hanya papamu jangan ada lagi setelah dia sebelum mama," ucap ini lalu melepaskan tangan Zahra dan pergi meninggalkan Zahra dengan perlahan dengan penuh air mata lalu pergi ke luar ruangan.


setelah beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk pulang karena kemungkinan Zahra ingin merasakan tenang tanpa ada yang harus mengganggunya dulu saat ini.


Rahman memasuki kamar Zahra dan ia mendapati Zahra yang sedang menangis tersedu-sedu, Zahra menangis dengan suara yang sangat keras dan menutupi wajahnya sambil tertunduk dan terduduk, tampak jelas dalam posisinya yang saat ini bahwa dia merasakan sangat berat beban yang sedang berada di pundaknya, seolah-olah seluruh bumi berada di pundaknya, dan Rahman ingin mencoba untuk menenangkan Zahra.


"Ra... boleh aku temani kamu," Rahman pun duduk disamping Zahra sambil membelai kepala Zahra,


greb


saat itu juga Zahra langsung memeluk Rahman, tangisannya semakin menjadi-jadi tangisannya semakin kuat ia semakin memeluk Rahman dengan kuat seolah-olah ia berkata, "aku membutuhkan pundak seseorang menjadi tempat aku menangis, aku membutuhkan seseorang menjadi sandaran ke untuk menangis, aku membutuhkan seseorang menjadi tempatku berbagi luka dan duka sehingga aku pun bisa merasakan sedikit lebih tenang,"... Rahman yang mengerti akan posisi Zahra membalas pelukan Zahra dengan erat, ia terus membelai pundak Zahra membelai kepala Zahra memeluk erat tubuh Zahra, dan rasanya tidak akan pernah melepaskan tubuh Zahra.


"aaaaaaaa, kenapa semuanya begini, aku begitu kuat sehingga Allah memberikan ini semua kepadaku, bukankah Allah akan memberi cobaan tidak melebihi batas kemampuan ku, tapi ini sungguh berat sungguh sulit saat aku harus melihat beberapa air mata dari keluarga yang ku sayang, saat aku pun harus memikirkan bagaimana dan apa yang akan terjadi oleh orang-orang yang aku sayang, saat aku harus memikirkan apa yang akan terjadi suatu saat nanti setelah salah satu tindakan dan keputusan yang akan aku ambil, aku bingung aku lelah aku pusing, entahlah ini semua apa? aku nggak ngerti sama sekali," ucap Zahra dengan berteriak sambil menangis didalam pelukan Rahman.


"sudah sudah, menangis lah tanpa lelah, ada aku disini," ucap Rahman yang mencoba untuk menenangkan Zahra.


"berat rasanyasaat aku harus berusaha memilih keputusan yang tidak sesuai dengan perasaan ku tidak sesuai dengan keinginan ku, dan semua itu kelakukan terpaksa karena aku mengira itu yang terbaik untuk kalian," ucap Zahraa sambil meremas pakaian Rahman.


"dan yang paling menyakitkan adalah saat aku tidak tahu keputusan yang akan aku ambil ini itu benar atau tidak, aku takut saat aku melakukan ini maka aku salah tapi aku juga takut saat aku melakukan itu ternyata aku juga akan melakukan kesalahan aku takut, itulah yang kurasakan saat ini takut takut takut takut sekali," ucap Sahara dengan suara yang sudah tak bertenaga.


"sekarang kamu istirahat dulu ya, kamu lelah, kamu istirahat dulu tidur ya nyenyak habis itu biarkan pikiran kamu jernih, biar kamu bisa berpikir dengan sehat dan bisa memutuskan apa yang sebenarnya kamu inginkan," ucap Rahman dengan lembut dan Zahra mulai melepaskan pelukannya.


"aku mau kita bercerai, nggak ada penolakan gak ada toleransi, yang aku inginkan kita bercerai," ucap Zahra yang saat itu langsung membuat Rahman terkejut seketika bagaikan petir yang langsung datang, tanpa ada awan hitam ataupun hujan.

__ADS_1


"Zahra aku bilang kamu istirahat dulu baru kamu berpikir jernih, kamu sedang kacau dan kamu nggak bisa memutuskan semua itu sekarang, oke," ucap Rahman yang masih berusaha untuk mengontrol dirinya dari emosi yang langsung bergejolak di saat ia mendengar kata-kata cerai dari mulut istrinya.


"atau enggak setidaknya aku mau kakak menikah lagi dengan orang lain, jadilah orang yang lebih baik dari aku yang bisa ngertiin kakak yang bisa ngurus kakak yang bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri sama, huh! carilah istri yang sempurna lebih sempurna dari aku," ucap Zahra mengepalkan tangannya dan menunduk.


"Zahra!," Rahman sedikit mengeraskan suaranya hingga membuat Zahra mendongakkan kepalanya.


"aku bilang kamu istirahat dulu, kamu harus berpikir jernih baru kamu berbicara, kamu nggak bisa berbicara seenaknya begitu, Dan ya masalah perceraian aku nggak akan pernah ceraikan kamu, mau kamu bilang cerai seribu kali pun kalau aku bilang enggak tetap enggak, dan dimata agama asalkan suami tidak ingin bercerai maka kamu tidak bisa menceraikan aku, terlebih lagi aku itu masih sanggup untuk menafkahi kamu lahir dan batin, kalau aku udah enggak sanggup baru kamu terserah mau bilang cerai atau apapun aku iyain kemauan kamu," ucap Rahman karena ia sudah tak tahan dengan apa yang dikatakan oleh Zahra.


"apapun yang kamu katakan sekarang kamu sudah nggak berfikir jernih, aku bilang kamu istirahat jadi mohon istirahat, jangan uji kesabaran aku jangan sampai aku memutuskan sesuatu tanpa seizin kamu," ucap Rahman lalu beranjak dari duduknya yang disamping Zahra dan berpindah ke sofa.


"oke aku nggak akan minta cerai sama kakak, tapi aku minta kakak nikah lagi, aku cuma mau minta hal yang sederhana seperti itu, Dan ya kakak masih sanggup untuk menafkahi aku, tapi batin aku udah nggak ada lagi buat kakak hati aku udah nggak kuat," ucap Zahra dengan keras kepalanya lalu memutuskan untuk tertidur dengan membelakangi tubuh Rahman.


"haaiihh," terdengar jelas suara Rahman yang membuang nafas dalamnya sambil terus beristighfar dzikir dan berusaha untuk menenangkan dirinya, lalu ia mengambil air wudhunya dan memutuskan untuk salat dan menenangkan dirinya dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi kepada Tuhannya Yang maha esa.


sedangkan Zahra diam-diam menangis dan memeluk selimutnya, ia berusaha untuk memejamkan matanya dan berkali-kali mengusap air matanya, terasa begitu sesak di dada Zahra mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri, dan semakin sedih lagi karena ia mendengar kata-kata Rahman yang ingin terus mempertahankan pernikahannya. belum lagi saat ia mendengar kata-kata ibunya yang sudah mengira dia tidak menyayanginya lagi karena tingkah lakunya yang sangat keras kepala dengan keinginannya yang sudah ingin berpisah telah ke dengan Rahman, dan tidak ingin melakukan pengobatan atau dengan kata lain sudah menyerah dengan kehidupannya sendiri.


aku juga ingin bahagia sama kayak kalian, aku juga sebenarnya sangat ingin melakukan pengobatan tapi aku takut jika itu semua akan gagal dan tidak sesuai rencana malah akan membuat kalian semakin terluka, dan aku juga sangat terluka saat aku harus mengeluarkan kata-kataku yang menyakiti kalian, aku yang egois aku yang keras kepala aku yang membuat kalian kesusahan, dan aku yang sudah sangat merepotkan kalian dan menyusahkan kalian, aku minta maaf aku melakukan itu semua karena terpaksa Dan ini juga sangat menyakiti hati aku, dimadu? sebenarnya itu bukan lah ya aku inginkan, aku merasa sakit saat aku sendiri yang mengatakan bahwa aku menginginkan seorang madu, aku tidak bisa membayangkan saat suatu saat nanti kamu bersama wanita lain kak, karena sejujurnya pada hakikatnya nya hati ku kini milikmu. Zahra diam-diam menangis dengan dada yang bergejolak ia pun merasa bingung dengan apa yang telah ia putuskan sebenarnya ini semua benar atau salah ia bimbang dan ia berharap semua menjadi benar.


bersambung...


hai guys semoga aku nggak bolong-bolong lagi ya untuk upp episode-nya, sebentar lagi udah mau Akhir bulan nih, dan sekarang juga udah bulan Muharram udah tahun baru Islam aku lupa ngucapinnya selamat tahun baru Islam bagian Islam, i love you semua bye bye and see you next episode.


saranghaeyo 🥰

__ADS_1


__ADS_2