Cinta Zahra

Cinta Zahra
perjalanan bisnis


__ADS_3

suasana kini menjadi indah bagaikan mentari yang sangat menarik, di hari yang penuh cerah dan ceria Zahra sangat senang dan juga bahagia, belum lagi Rahman yang menemukan sisi baru dari Zahra ia sangat bahagia karena ini kali pertama dia mendapatkan kecupan dari Zahra.


"kalian itu kalau mau mesra-mesraan jangan di sini dong," ucap Raditya dengan kesal


"iya nih kalian ini kalau mau romantis lihat situasi dulu kali!," Alfi juga ikut ketus karena sifat Rahman yang suka melakukan apapun sesuka hatinya.


"dasar mentang-mentang kamu itu jadi orang kaya ya, seenaknya aja seperti itu!" Raditya kesal lalu berjalan pergi menuju ke luar toko.


"baiklah bungkuskan lah saja perhiasan itu untuk aku, aku akan pergi masalah biaya urusan kalian biar nanti aku langsung melamar calon istriku," Raditya lalu melambaikan tangan sambil membalikkan badannya.


Zahra menunduk malu karena ia terkejut Rahman bisa melakukan hal itu di depan orang banyak, meskipun tanpa disadari oleh Zahra tidak ada orang yang melihat mereka, atas perintah Ferius, sesuai instruksi dari Rahman.


Rahman yang baru tersadarkan oleh apa yang ia lakukan juga ikut merasa malu dan ia tertawa kecil lalu memegang wajah Zahra dan melihat Zahra yang tersipu malu.


"baiklah aku bayar ini, dan sisanya biar dia yang bayar ya,"ucap Alfi pada seorang pegawai yang menunjuk ke arah kalung berlian yang akan diberikannya untuk Raditya dan juga istrinya.


"kenapa malu ya?," Rahman menggoda Zahra dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Zahra yang sedang tersipu malu.


"kenapa begitu, di sini kan banyak orang jadi malu," kesal Zahra pada Rahman.


"memangnya kenapa?, lagi pula juga tidak ada yang melihat kita siapa yang berani menghalangiku untuk melakukan sesuatu kepada istriku? lagi pula aku tidak melakukan tindakan kekerasan, iya kan?," ucap Rahman dengan menyombongkan dirinya.


"iya tapi enggak begitu juga kan kak?, udah di tempat umum lagi, udahlah aku mau balik," Zahra lalu pergi mendahului Rahman. Rahman yang melihat sikap Zahra ia tertawa merasa lucu atas reaksi yang terjadi pada Zahra, Rahman lalu tersenyum dan membayar semua perhiasan yang telah ia pilih untuk Raditya maupun untuk Zahra lalu ia kembali mengejar Zahra.


......


sesampainya mereka di villa.


Zahra memutuskan untuk langsung pergi tidur di kamar karena ia sudah merasa sangat lelah pada hari ini, mulai dari ia berlibur di pantai, main kejar-kejaran sampai berbelanja untuk keperluan Raditya yang akan melamar Nisa.


"huh capek nya," Zahra lalu berbaring di atas kasur.


"mau langsung tidur dek?," tanya Rahman yang mendapati Zahra langsung menidurkan dirinya di atas kasur.


"iya kak capek nih seharian di luar terus," ucap Zahra dengan suara letih.


"oh ya sudah baiklah kamu istirahat,"ucap Rahman yang lalu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur di dekat Zahra.


"iya,"angguk Zahra.


Rahman lalu memutuskan untuk pergi membersihkan dirinya di kamar mandi, sehabis mandi ia melihat Zahra yang sudah tertidur memejamkan matanya.


"kamu belum mandi lho Ra, nggak mandi dulu? memangnya nggak gerah apa?," Rahman memegangi kaki Zahra yang sudah tertidur.


"mmmmmh. Zahra ngantuk," Zahra dengan membuat suara manja pada Rahman.


"iya tapi kan biar enak gitu nanti kamu tidurnya mandi dulu sana, kalau enggak mau ya aku lapin ya?," ucap Rahman dengan sedikit menggoda Zahra.


dan alhasil Zahra pun mematuhi apa perkataan Rahman ia pun pergi untuk mandi agar dirinya bisa merasa lebih segar.

__ADS_1


setelah mandi dan salat isya Zahra pun tertidur di kasur namun ia masih belum tertidur pulas, Rahman ikut berbaring disebelah Zahra ia melingkarkan tangannya di pinggang Zahra. Memberikan senyuman lebar bak mentari, lalu memegang wajah Zahra dan menarik kepala Zahra untuk tertidur di lengannya, membuat lengannya menjadi bantal yang paling nyaman untuk sang istri tercinta.


"kamu capek ya Ra?, sama aku juga capek," ucap Rahman yang hanya dijawab anggukan oleh Zahra.


" tadinya aku ingin melakukan hal yang lebih tahu, tapi ya berhubung kita berdua sudah sama-sama capek dan tidak bisa melakukan hal yang lebih, jadi ditunda dulu lah," ucap Rahman menggoda Zahra. Zahra yang merasa dirinya digoda dan diledek oleh suaminya ia langsung membuka matanya dan memberi tatapan tajam pada Rahman.


"kakak ini ngomong apa sih ingat ya Zahra masih kuliah, Zahra masih fokus dulu sama kuliah Sahara kan kak Rahman juga udah ngijinin Zahra," ucap Zahra membela dirinya dengan membuat dinding yang kokoh.


"memangnya aku bilang apa? aku udah bilang gitu nggak pernah mau ngapa-ngapain sama kamu?" ucap Rahmat semakin menggoda Zahra.


"ih udah deh Zahra sebal sama ka Rahman, tidur aja ah," Zahra kesal dan membalikkan tubuhnya lalu tertidur memaksakan dirinya untuk memejamkan matanya.


"hei jangan ngambek dong,"ucap Rahman yang tertawa lalu memeluk tubuh Zahra dan mengecup pelan bahu Zahra. Dan pada akhirnya mereka pun tertidur bersama.


keesokan harinya mereka memutuskan untuk segera kembali ke kota asalnya, beberapa hari liburan adalah waktu yang sangat lama bagi mereka untuk berada di luar rumah mereka. bagi mereka kini masa-masa hiburan mereka sudah saatnya untuk diakhiri dan akan dilakukan lain kali lagi jika ada kesempatan yang datang.


beberapa hari kemudian setelah mereka pulang dari tempat berlibur, Raditya memutuskan untuk pergi melamar Nisa. Dan Ya tentu saja jawabannya adalah kabar gembira, Nisa adalah wanita yang telah setia menunggu Raditya bertahun-tahun lamanya dari semenjak Marco belum meninggal


seharusnya mereka segera menikah namun ditundanya, hingga pada akhirnya saat setelah mereka telah meninggal mereka juga pernah memutuskan untuk menikah namun ditunda lagi karena ekonomian yang tidak mencukupi, dan ini adalah masa-masa yang sangat ditunggu oleh mereka, untuk hidup dengan satu sama lain dan akhirnya mereka pun bisa mantapkan diri mereka, untuk pergi ke hadapan penghulu dengan orang-orang yang kini telah mendukung mereka, dengan segenap hati mereka dan mendoakan hal-hal yang terbaik untuk mereka.


"Alhamdulillah ya akhirnya acara pertunangan kak Raditya kini bisa terlaksana kan," ucap Zahra dengan penuh syukur karena hari pertunangan untuk Raditya dan Nisa kini telah tiba.


"terima kasih banyak ya kak ya karena kakak telah membantu keluarga aku, hingga sejauh ini aku nggak tahu kalau enggak ada kakak bagaimana jadinya." bocah Zahra dengan penuh syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan perantara pertolongannya melalui Rahman.


"ini sudah kewajibanku sebagai seorang suami," jawaban halaman dengan penuh kehangatan dan senyuman.


mungkin di hari pesta pertunangan mereka tidak semoga para artis konglomerat ataupun para orang-orang yang kaya raya namun hal itu semua tidaklah hal penting yang diinginkan oleh Raditya dan Nisa karena pada intinya yang mereka inginkan adalah benar-benar menjadi satu di mata dunia dan di mata Tuhannya yang dimaksudkan adalah di dunia dan di akhirat.


"Alhamdulillah wah akhirnya acara pertunangan telah dilaksanakan dan minggu depan kami akan melaksanakan acara pernikahannya," ucap Rahman yang memberikan puji syukur Nya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan juga ia mengucapkan terima kasih kepada para sahabatnya yang telah mendukungnya dan kepada keluarga yang selalu ada untuknya terutama kepada orang tua kandungnya.


Zahra begitu sangat senang sehingga seharian ia terus menempel pada Nisa, Nisa adalah sesuatu yang memiliki pribadi diri yang baik melainkan ia adalah sosok wanita yang sangat Anggun elegan walaupun pendiam tidak se cerewet wanita pada umumnya.


"lihatlah lihat sebenarnya yang bahagia disini itu siapa sih?, yang memiliki Hari kebahagiaan pada hari ini itu siapa?," ucap Raditya dengan menyindir.


"hahaha lihatlah istrimu itu Rahman dia mengambil calon istri orang," ucap Alfi dengan meledek Rahman yang tersenyum melihat tingkah istrinya seperti anak-anak saat di depan Nisa.


"wah lihatlah bahkan Mimi pun ikut menyukai Nisa," ucap Riska kepada Rahman.


"wah kenapa mereka mendadak jadi sangat menyukai calon istriku," ucap Raditya membanggakan dirinya karena akan memiliki istri yang sangat spesial.


"wah kenapa adikku juga ikut menempel padanya bahkan istriku itu sampai seperti itu?," Rahman hersan melihat reaksi Zahra dan Memei saat bertemu Nisa.


"sudahlah sudah itu semua kan keberuntungan Nisa lagi pula juga Nisa memang adalah seseorang yang sangat dewasa dan penyayang Zahra sering menceritakannya kepadaku," ucap Rahman dengan sedikit tertawa.


"terkadang aku berfikir suaminya itu siapa aku atau kak Nisa karena seolah-olah itu selalu memuji Nisa, tetapi dia tidak pernah menunjukkan kepadaku kalau ia sangat peduli kepadaku," ucap Rahman dan tiba-tiba saja menjadi suasana yang canggung.


"ah sudahlah. jangan berpikiran negatif kepada adikku dia itu masih anak-anak dia memang suka bertingkah laku seperti itu tapi percaya atau tidak dia itu adalah anak yang setia dan sangat menyayangi kamu,". ucap Raditya yang lalu datang dan merangkul bahu Rahman.


"iya bagaimanapun juga aku juga punya istri yang menyebalkan kali," ucap Alfi yang datang ikut merangkul Rahman bersama dengan Raditya.

__ADS_1


" oh jadi aku itu menyebalkan ya," sahut Riska yang mendengar perkataan Alfi tidak jauh dari sana.


"ah enggak kok sayang masa iya sih kamu nyebelin nggak dong kamu kan nyayangin," ucap Alfi dengan nada yang sedikit merayu.


......


ini acara pertunangan telah selesai Hari sudah larut dan mereka semua termasuk para hadirin memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


"wah melelahkan sekali akhirnya mereka bisa melaksanakan sunnah Rasulullah meskipun masih belum sepenuhnya karena ia masih belum melaksanakan nikahnya atau dengan kata lain sah halalnya," ucap Zahra saat sesampainya mereka di rumah.


"dek," Panggil Rahman iri kepada Zahra.


"iya kak Ada apa?,'' ucap Zahra dengan menyahut lembut.


"dek besok pagi aku harus pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis ini adalah bisnis pertama aku untuk menangani bisnis luar negeri, doakan ya supaya lancar karena biasanya aku hanya melaksanakan bisnis dalam negeri namun mulai besok aku harus terbiasa untuk melakukan bisnis luar negeri ini semua demi keluarga," ucap Rahman meminta doa restu kepada istri tercinta.


"iya kak, semoga kakak bisa mendapatkan kebahagiaan, sehat selalu, keselamatan dan akan selalu berada dalam perlindungan Allah subhanahu wa ta'ala dan diberikan kelancaran dalam segala urusannya amin amin ya robbal alamin," jawab Zahra dengan lembut lalu ia memeluk tubuh Rahman dan tertidur kehilangan Rahman.


keesokan harinya Rahman sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara yang akan ia lakukan bersama dengan ferius sedangkan Arnius didiamkan untuk menjaga Zahra


ada rasa haru dan sedih dalam diri Zahra namun apa boleh buat karena itu adalah kewajiban sang suaminya.


"kalau udah sampai hubungi aku ya ka,"ucap Zahra sesaat saat Rahman akan pergi ke luar negeri untuk menjalankan bisnisnya.


"iya istriku tercinta nanti aku pasti akan kabari ke kamu kok jaga diri baik-baik ya di rumah jangan keluyuran kalau bukan untuk hal yang penting lebih baik gak usah keluar, tunggu aku di rumah ya kalau kamu merasa kesepian lebih baik ke rumah Ibu sesekali kamu ke rumah ibu aja daripada kamu pergi nggak jelas kan," ucap Rahman dengan menasehati Zahra jujur sesungguhnya dalam hatinya Rahman tidak menginginkan Zahra untuk berada jauh dari dirinya tapi karena pendidikan Zahra harus jauh dari Rahman karena tidak bisa mengikuti kepergian Rahman.


seminggu berlalu acara pernikahan Raditya dan Nisa telah terlaksana kan, namun Rahman hanya mentransfer biaya sebagai hadiah pernikahan untuk Raditya dan juga Nisa, sedangkan dirinya masih harus berada di negeri orang.


"aku rindu kalian semua," ucap Rahman bergumam.


......


setelah acara pernikahan Raditya danisa telah terlaksana kan tiba-tiba kepala Zahra terasa sangat sakit lebih sakit dari biasanya.


Braak


Zahra terjatuh pingsan yang membuat semua orang ada di sana ikut panik melihat keadaan Zahra. Zahra langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.


"apakah kamu akhir-akhir ini sering merasakan sakit di bagian kepala bahkan terkadang ada rasa nyut nyut di bagian kepala dan juga merasakan ada rasa beban yang sangat berat di bagian kepala?," tanya sang dokter pada Zahra untuk memastikan kesehatan Zahra.


"iya dokter akhir-akhir ini saya sering merasakan itu bahkan sudah berbulan-bulan dan saya merasakannya tapi saya pikir itu hanya kelelahan saja jadi saya tidak mempermasalahkannya". jawab Zahra pada sang dokter dengan sedikit rasa kecemasan di dalam dirinya.


"baiklah Ibu mari ikuti saya," ucap sang dokter berbicara kepada Tini yang mengantarkan Zahra untuk pergi memeriksa kepada dokter.


"Ibu mungkin ini masih hanya permulaan tapi saya tidak tahu pasti saya hanya ingin memastikan dan besok saya mau minta ibu untuk kembali datang kemari membawa anak ibu untuk kami rontgen karena sepertinya ada benjolan di bagian kepalanya dan kami takutkan itu adalah kanker otak," ucap sang dokter kepada Tini yang tentu saja kalau itu membuat kita sangat terkejut.


bersambung.....


hai semua para pembaca aku yang setia aku cinta kalian, bagaimana kabar kalian hari ini semoga kalian semakin suka membaca ceritaku, menurut kalian apakah Zahra akan benar-benar mengalami kanker otak atau bagaimana komentar ya 🤗, dan jangan lupa untuk mampir ke cat storyku yang berjudul "Cinta Di Negeri ginseng" selamat baca dan menikmati see you next episode reader bye bye.

__ADS_1


__ADS_2