Cinta Zahra

Cinta Zahra
pengobatan


__ADS_3

Malam telah berlalu, Zahra terbangun dengan masih dalam posisi memeluk Rahman, Zahra membelai belai dada Rahman yang bidang.


Aku menyayangimu terima kasih banyak karena telah menyayangiku, terima kasih banyak karena telah menjadi imam yang baik untukku aku sangat bersyukur ka, aku sangat sangat mencintaimu, semakin hari aku semakin mencintaimu, semakin hari semakin susah rasanya aku untuk pergi jauh darimu, entah sampai berapa lama aku bisa bertahan di sisimu, ataukah engkau bertahan di sisiku semakin ku mencoba untuk melupakan mu semakin berat rasanya untuk meninggalkanmu. rasanya inginku menghentikan waktu saat ini agar aku tetap selalu berada di dalam pelukanmu. Rahman memandang dada Rahman yang bidang sambil mengelus ngelusnya perlahan, lalu memeluk tubuh Rahman dengan erat.


"hmmmh," Terdengar suara Rahman menggeliat.


"apakah kamu terbangun," ucap Zahra bertanya dengan nada manja dan semakin mengeratkan pelukannya.


"emmh," Rahman mengangguk sambil mengeratkan juga pelukannya.


"I LOVE U," gumam Rahman setengah berbisik pada Zahra.


"mmh!!" Zahra terkejut lalu mengangkat kepalanya dan memegang wajah Rahman.


"benarkah? apakah aku bermimpi? coba katakan lagi, aku tidak mendengarnya," ucap Zahra dengan manja kepada Rahman.


"hei apakah kamu sesenang itu? huh?," Tanya Rahman dengan sedikit tertawa.


"aaa apa susahnya mengatakan itu lagi kepadaku sih, hmmh," ucap Zahra dengan cemberut lalu menurunkan kepalanya lagi.


"haha apakah kamu ngambek," ledek Rahman.


"ngak," celetuk Zahra.


"mmh?," Rahman mencubit pipi Zahra.


"ngak," Zahra melepaskan tangan Rahman.


"mmh?," Rahman mencubit hidung Zahra.


"jangan sentuh aku," ucap Zahra dengan kesal.


"bagaimana aku tidak menyentuhmu, kamu yang memelukku," ucap Rahman meledek.


"ya sudah kalau begitu pergi saja sana, biar aku bisa tidur sendiri, aku tidak bisa pergi karena kasur ini hanya muat untukku," Kesal Zahra namun masih mengeratkan pelukannya.


"baiklah," ucap Rahman pasrah.


"mmh?!," Zahra terkejut karena mengira Rahman memilih pergi daripada menuruti keinginannya.


"aku mencintaimu," ucap Rahman dengan tersenyum.

__ADS_1


"mmh lagi lagi," pinta Zahra.


"aku mencintaimu nona Zahra," Rahman mengulangi lagi kalimatnya.


"lagi lagi," kini datang lah keinginan Zahra yang tiada habisnya.


"nona Zahra Adiwijaya saya Rahman Adiwijaya bersaksi sehidup semati, bahwa saya hanya mencintai nona seorang, saya sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, sampai kapanpun saya akan selalu mencintaimu bahkan malaikat dan Tuhan pun sudah menjadi saksi ku menyatakan cintaku padamu pada hari pernikahan kita. Dan pada saat itu aku telah bersedia menerimamu atas nama Tuhan ku Allah subahanahu wa taala dalam keadaan apapun," ucap Rahman yang seketika itu membuat Zahra merasa senang dan terharu sampai mengeluarkan air matanya.


"ummuach," Zahra mengecup Rahman.


"aku juga mencintaimu," ucap Zahra lirih.


ini adalah pertama kalinya kau mengungkapkan cintamu, dan ini adalah momen momen berharga bagiku. ucap Zahra dalam hatinya.


ini adalah kali pertamanya aku merasa kau membalas cintaku dengan rasa percaya sebagai seorang istri yang tulus. Ucap Rahman dalam hatinya sambil memandang wajah Zahra di hadapannya dan menyelipkan rambut Zahra di Selak Selak telinganya, lalu mencium Zahra lagi.


beberapa saat kemudian...


Zahra kini sedang duduk dan disisir kan rambutnya oleh Rahman, dengan manja Zahra menggoyangkan kakinya menikmati sentuhan suaminya, lalu dengan perlahan Rahman mencoba untuk mengikatkan rambut Zahra dan memakaikan Zahra kerudung, lalu mengecup kepala Zahra dengan lembut dengan senyuman yang begitu tulus.


"Raa..," panggil Rahman dengan lirih.


"mmh," sahut Zahra dengan pelan lalu terkejut karena Rahman berjongkok dihadapan nya.


"hmmh kenapa kak, haha jangan membuatku takut," ucap Zahra tertawa kecil.


"aku sangat menyayangimu," ucap Rahman dengan lirih.


"kenapa kak? ada apa?," tanya Zahra memegangi rambut Rahman.


"kamu bilang mencari istri baru," ucap Rahman dengan menundukan kepalanya.


"mmh," Zahra pun menyahut dengan perasaan sedihnya.


"jika itu yang kau inginkan," ucap Rahman terbata bata.


"aku punya permintaan untukmu," imbuh Rahman mendongakkan kepalanya menghadap Zahra.


"apa?," tanya Zahra dengan lirih dan berusaha untuk tersenyum.


"lakukan dulu pengobatan nya dengan prosedur, jika berjalan dengan lancar makan aku akan mempertahankan pernikahan ini, tanpa ada orang ketiga, tapi jika memang gagal dan sesuai yang kamu takutkan, hanya..," ucap Rahman di akhir kalimat sedikit membuatnya sakit hati hingga terputus.

__ADS_1


"hmmh,?" Zahra menanyakan dengan suara lembut.


"hanya saat kamu benar benar sudah tidak ada di dunia ini, baru aku akan mencari wanita lain," ucap Rahman yang membuat Zahra tersentuh dan dan bersedih.


"aku berjanji, aku akan menjalankan kehidupan ku dengan bagus, aku akan mencoba untuk mencintai yang lain, akan ku coba untuk terus bersemangat, akan ku perjuangkan untuk menjadi normal seperti biasanya, tidak akan kusia siakan siapapun dia nanti, tapi itu akan terjadi jika hanya kamu telah tiada, sebelum kamu pergi aku tidak akan kemana mana," ucap Rahman mulai meneteskan air mata nya.


"hanya sampai saat itu, baru aku akan menyerah tentang dirimu, hanya sampai saat itu, jadi kumohon tolong ikuti proses pengobatan mu sesuai dengan prosedur, aku mohon setidaknya kita telah berjuang," Rahman menjatuhkan wajahnya dipangkuan Zahra.


"hmmh, mmh," Zahra mengangguk sambil menangis dan membelai kepala Rahman.


"aku akan lakukan, kita akan berjuang bersama, terlebih lagi Kaka sudah berjanji dan aku percaya pada Kaka," ucap Zahra dengan lirih, yang mendapatkan Rahman memeluk pangkuannya dengan erat.


dibalik pintu ternyata sudah ada Tini dan Raditya yang mendengarkan percakapan Rahman dengan Zahra, Tini menahan tangisnya lalu mencoba menjauhi ruangan bersama dengan Raditya. Setelah dirasanya mereka telah pergi lumayan jauh dari ruangan Zahra, Tini langsung menangis dan dipeluk oleh Raditya.


"sudah ma, sudah," ucap Raditya membelai punggung Tini.


"mama sangat menyayangi adikmu nak," ucap Tini dengan terbata bata.


"iya mah Raditya tau, tapi kita harus kuat dan haru mendukungnya, terlebih lagi mamah dengar sendiri kan tadi Zahra sudah mau untuk mengikuti pengobatan sesuai dengan prosedur, kita harus bersyukur setidaknya Zahra telah bersedia dulu untuk melakukannya iya kan?," ucap Raditya berusaha untuk menenangkan Tini, dan Tini pun menjawab dengan mengangguk sambil terisak tangisnya dan berusaha untuk menghentikan tangisnya, dan mengusap air matanya.


.....


"hmmh sudah sarapan sayang? pasti belum ya mamah tau tidak ada masakan yang lebih enak dari masakan mamah, terlebih lagi masakan rumah sakit itu tidak enak," ucap Tini pada Zahra dan berbisik di akhir kalimat. Zahra tertawa kecil dan mengiyakan kata kata Tini dengan senang dan Tini mulai menyuapi Zahra.


"permisi nona," ucap Dokter wanita yang datang ke ruangan Zahra.


"iya silahkan," ucap Raditya mempersilahkan.


Dokter itu lalu memeriksa infus serta detak jantung Zahra.


"nanti sore kita akan melakukan perawatan ya nona, lalu kita akan melakukan kemoterapi dan melihat perkembangan tubuh nona, setelah itu baru kota memutuskan tentang operasinya," ucap dokter dengan lembut kepada Zahra.


"baik Dok, terima kasih banyak," ucap Zahra.


"baiklah kalau begitu, silahkan lanjuti kegiatan kalian, saya permisi dulu, nanti saya akan datang kemari lagi," ucap sang dokter lalu meninggalkan ruangan Zahra.


"hmmh aku takut," gumam Zahra dengan menundukkan kepalanya.


"ga apa apa ga usah takut sayang kan ada kami, kamu ga sendirian ko kami semua akan selalu menemanimu sayang," ucap Tini menghampiri Zahra.


"iya benar adik Kaka kan kuat," sahut Raditya.

__ADS_1


"mmh, istriku adalah wanita yang tangguh, fithing," ucap Rahman menyemangati dan Zahra pun tersenyum mendapat dukungan besar dari keluarganya.


bersambung....


__ADS_2