Cinta Zahra

Cinta Zahra
Harmonis


__ADS_3

"heish, Kaka ini ngomong apa sih banyak orang tau!,"


Kebahagian, ke haruan serta kasih sayang kini berkumpul menjadi satu, para hadirin yang datang untuk memberikan ucapan selamat dan doa yang baik baik kepada para pasangan yang sedang berbahagia.


"Selamat ya Riska semoga kalian bahagia," tak luput juga dari Reza yang ikut mengucapkan selamat pada Riska, meskipun ia hanya berani mengucapkan lewat surat dan hadiah yang ia kirimkan, ia tidak ingin hadir di acara pernikahan Riska meskipun ada undangan karena ia tidak ingin merasakan rasa luka di hatinya yang terjadi karena perbuatannya sendiri.


"ini adalah hadiah dari ka Reza," Gumam Riska setelah acara pernikahan selesai dan sedang membuka hadiah satu persatu bersama suami dan sahabatnya itu.


"ga apa apa, bagaimana pun juga dia pasti memiliki sedikit rasa menyesal telah memperlakukan kamu dengan buruk," ucap Zahra tersenyum dan memegang tangan Riska.


"ka?," Riska menyapa Alfie khawatir Alfie tidak menyukainya.


"mh?," ucap Alfie tersenyum menghadap Riska.


"ga apa apa ko, aku mencoba untuk mengerti, dia juga ada bagian darah dari anak kita," Alfie membelai mesra rambut Riska.


Zahra yang terharu, kini terpesona dengan pemandangan kehangatan di depannya, dan membayangkan dia mendapatkan kehangatan itu, yang tanpa ia sadari sebenarnya dia telah mendapatkan lebih dari apa yang diinginkan.


"!," Zahra sedikit terkejut karena Rahman menggenggam tangannya dan mencoba mengaitkan setiap jari jarinya ke sela sela jari Zahra, tanpa melihat Zahra hanya melihat tangan Zahra dan seperti ada rasa yang dalam dan tatapan yang penuh makna melalui Rahman.


Glek


Zahra seolah tersihir karena terpesona oleh Rahman yang memiliki aura begitu hangat saat itu, terasa kasih sayang Rahman begitu dalam untuk Zahra pada saat Rahman mencoba mengaitkan tangannya pada Zahra dan menatap tangan Zahra.


"wah hadiah yang ini bagus sekali ya," Zahra mencoba melepaskan genggaman tangan Rahman dan mengalihkan pandangannya, namun Rahman mengeratkan genggaman nya. Dan tersenyum tipis seolah terlihat ia bergumam dalam hati.


"tenagaku bahkan jauh lebih kecil dibandingkan tenagaku, tapi kamu bisa begitu kuat dalam dirimu,"


Acara sudah selesai dan hari sudah semakin larut Zahra memutuskan untuk pulang bersama Rahman, begitu juga dengan para orang tua sahabat dan mertua yang datang.


"Ekhem," ucap Alfie berdeham.


"apa?," sahut Riska meledek Alfie dan masuk ke dalam ruangan untuk membersihkan diri serta bersiap untuk tidur karena lelah.


....


Zahra terkejut di dalam mobil karena wajahnya dan wajah Rahman berdekatan hanya memiliki jarak beberapa cm di dalam mobil, karena Rahman memasangkan sabuk pengaman pada Zahra. Meskipun tidak terjadi apa apa tetap saja Zahra merasa terheran karena pada saat itu Rahman terasa berbeda ia terasa jauh lebih berperasaan dari pada biasanya.


"kenapa ka?," ucap Zahra terheran.


"mmh? ga apa apa," ucap Rahman tersenyum lalu membelai pipi Zahra lembut dan mengemudikan mobilnya dengan fokus.


"kamu ice cream vanila? kita beli ya, banyak varian terbarunya," ucap Rahman dengan sangat ramah sambil menunjuk ke arah toko ice cream.


"boleh," Zahra menjawab masih merasa heran dan bertanya tanya mengapa Rahman serasa berbeda saat ini.


"nih ice cream nya cantik, coba deh tadi kelihatan nya enak banget," Rahman datang dengan membawakan se plastik ice cream


"!" Zahra terkejut mendengar kata kata Rahman.

__ADS_1


Ya ampun tanggal berapa sekarang ini? jam berapa? aku harus mencatat momen bersejarah ini!. Ucap Zahra terkejut di dalam hatinya.


"kenapa ga mau?," ucap Rahman bertanya karena Zahra terdiam dan membulatkan matanya. Zahra menggelengkan kepalanya pelan.


"ah? jadi ga mau?," Tanya Alfie.


"mau ko mau, maksudnya tadi itu ga ada apa apa," ucap Zahra dengan sigap lalu mengambil ice cream dari tangan Rahman.


Rahman tersenyum dan mulai fokus mengemudi lagi, lalu ia melihat Zahra dengan tersenyum dan sesekali ia menggenggam tangan Zahra yang tidak memegang ice cream.


"jangan makan ice cream terlalu banyak ya nanti sakit, kamu capek ga, kita istirahat yang cukup ya hari ini, besok libur kuliah kan? mau liburan? hah?," Rahman terus bertanya dan tersenyum bahkan sesekali mencubit pelan pipi Zahra dan hidung Zahra.


"coba aku mau coba ice cream nya," Tanpa basa basi saat lampu merah Rahman langsung merasakan Ice cream yang baru saja di makan Zahra bahkan itu bekas bibir Zahra.


"!!!"


sumpah aku merinding, lihatlah bulu kudukku berdiri semua, ini pasti ada maunya iya kan? Ya Allah ini beda banget dengan ka Rahman yang aku kenal. Zahra benar benar merasa terheran dan merinding dengan prilaku Rahman kepadanya saat itu.


"mmh? kenapa?," Rahman bertanya dengan sangat lembut dan penuh kehangatan melihat Zahra yang mengkerut kan kening dan alisnya.


"kenapa? aku yang nanya ke Kaka kenapa? pasti ada maunya kan, buktinya dari tadi Kaka beda banget, lembut? bersikap manis? baik? perhatian? hangat? terus apa lagi, kenapa Kaka seperti itu?,!" Zahra bertanya dengan nada kesal dan heran.


Rahman yang sudah gemas melihat mulut Zahra yang terus mengomel, meminggirkan mobilnya dengan cepat lalu mengecup bibir Zahra kala itu juga, yang tambah membuat Zahra terkejut setengah mati.


"memangnya aku ga pernah perhatian sama kamu selama ini? ataukah aku ga pernah memberikan ice cream untukmu? kebutuhanmu?," ucap Rahman sambil mulai melingkarkan tangannya di pinggang Zahra, sambil menatap wajah dan mata Zahra dari jarak yang sangat dekat.


"apakah selama ini aku ga baik sama kamu? coba jawab," ucap Rahman dengan serius dan seperti menatap Zahra dalam.


"mmh? coba jawab aku," ucap Rahman dengan lirih namun matanya melihat alat yang akan digunakan untuk berbicara oleh Rahman.


"bukan..mh," saat Zahra akan berbicara Rahman mengecup Zahra lagi namun hanya sesaat


"coba jawab," ucap Rahman lagi.


"bagaimana..mh," setiap kali Zahra mencoba untuk menjawab Rahman pasti akan mengecupnya, dan akhirnya Zahra memutuskan untuk diam, tetapi ia malah mendapatkan sesuatu yang lebih dari Rahman.


"aaaa apa sih ka!," Zahra kesal akhirnya mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Rahman agar menjauh darinya.


"ga apa apa ya... hanya saja, kira kira sahabatmu yang baru saja selesai menikah sedang apa ya? haha," Rahman mulai meledek Zahra dan mengemudikan lagi mobilnya.


.....


Riska sedang membersihkan sisa sisa make up di wajahnya di depan cermin, dengan menggunakan pakaian tidur.


Alfie yang baru saja selesai membersihkan dirinya melihat Riska dan memandangnya lekat. Lalu melihat ke ranjang Yusuf yang berisikan Yusuf yang sudah begitu terlelap dalam tidurnya.


"Dia sangat lelah ya?, tidurnya pulas sekali," ucap Alfie mengayunkan Ranjang Yusuf.


"mh sepertinya dia memang sangat lelap, aku juga mau langsung tidur sekarang capek banget ga ada yang harus dikerjakan kan?" Riska dengan tersenyum bertanya pada Alfie.

__ADS_1


"iya," jawab Alfie singkat


"eh? langsung tidur? masa langsung tidur," Tiba tiba sikap Alfie yang begitu dewasa berubah seketika menjadi seperti seorang anak kecil yang ingin dimanja.


"emang kenapa? haha ko tiba tiba jadi kaya anak kecil si?," ucap Riska tertawa merasa lucu atas kelakuan Alfie.


"kaya anak kecil ya?," Alfie pun berjalan mendekati Riska lalu memeluk Riska dari belakang, menyampingkan rambut Riska dan mengecup pundak Riska.


"apa?," Riska berdiri dan sedikit tertawa. Alfie kesal dengan sikap Riska, Alfie lalu menarik tangan Riska dan menggendongnya ke kasur untuk menidurkan Riska.


"haha geli tau," Riska tertawa terbahak dengan perlakuan Alfie.


"kamu si ga bisa diam," Alfie mencumbui Riska dengan penuh rasa sayang dan tersenyum bahagia.


"aaahahaha jangan disitu, gelii," Riska berteriak dan menyingkirkan tangan Alfie namun Alfie membungkam mulut Riska dengan tangannha dan berbisik.


"jangan teriak nanti Yusuf bangun,"


"biarin week!," Riska mengejek Alfie, dan yang terjadi adalah adegan suami istri yang bersifat privasi.


.....


Rahman telah sampai di kediamannya bersama dengan Zahra.


Tuh kan dia diem lagi, dan kedinginan nya telah kembali lagi.


Zahra cemberut memanyunkan bibirnya dengan sedikit kesal lalu mendahului Rahman untuk membersihkan dirinya.


Rahman tersenyum ia mengetahui Zahra sedang kesal dan ia suka itu.


Zahra pergi keruang tengah untuk menonton TV dan memakan cemilan dengan sedikit kesal, begitu juga dengan Rahman yang datang menghampiri.


"cemberut aja, itu bibir apa ikan haha," Rahman kembali menggoda istri tercintanya


"apaan sih," ketus Zahra.


"kenapa? oh ya tuhan apakah kamu kecewa?, tadi hangat lalu dingin?," goda Rahman lagi pada Zahra.


"bukankah kamu lebih suka dengan aku yang dingin ya, kalau yang hangat nanti yang ada kamu takut ya kan haha," goda Rahman yang membuat Zahra begitu kesal lalu berdiri ingin pergi dari situ. Namun Rahman menarik tangan Zahra dan mencium Zahra.


Perlakuan yang sangat dalam dan intim, perlakuan suami terhadap istri nya yang membuat Zahra pun sangat terkejut, Zahra ingin memberontak tetapi Rahman masih melebihi kekuatan Zahra hingga Zahra tak bisa berkutik.


"kamu ga bisa membuatku menunggu lagi," ucap Rahman berbisik.


"kak Rahman!? kak Zahra?! aku Rindu!!," Teriak Memei yang memasuki rumah Rahman dan Zahra.


"!!" Zahra dan Rahman saling melihat satu sama lain.


"Memei!!"

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2