Cinta Zahra

Cinta Zahra
keluarga


__ADS_3

Suasana yang romantis kini menjadi canggung, entah mentari berpihak pada siapa intinya Zahra merasa sangat malu saat ini.


"Memei ko bisa disini?" Rahman bertanya dengan nada dinginnya.


"aku rindu, aku marah sama mamah dan ayah,"


"kenapa?," Zahra bertanya dengan lembut setelah merapikan pakaian di tubuhnya


"mmh mereka ga mau nemenin Memei tidur," Rengek Memei.


"jadi memei kesini untuk nginap? memei mau tidur bareng?," Tanya Rahman antusias dan memegang tangan Zahra.


"hmmph haha," Zahra menahan tawanya.


"iya, boleh ya memei pengen tidur sama kak Zahra, kak Rahman sendiri aja ya, hehe," Memei merengek seperti anak kecil pada Rahman dan Zahra.


"iya ga apa apa ko," jawab Zahra lembut.


"hei siapa bilang boleh? ga ada, ga boleh titik, sekarang kamu Kaka antar pulang," Rahman sedikit memarahi Memei.


"umh ko gitu sih, kenapa ka Rahman marah marah sama Memei," Memei mulai menangis seperti anak kecil, entah kenapa saat ini memei sangat menginginkan seseorang yang disayang nya untuk menemaninya tidur.


"ga apa apa ko, Memei kesini sama siapa?," Zahra mendekat pada Memei, Rahman berusaha mengeratkan genggaman tangannya pada Zahra dan beradu tatapan dengan Memei.


"kakak, ga boleh gitu dong," Zahra berusaha melepaskan tangannya, dan akhirnya Rahman melepaskan tangannya, lalu pergi ke kamar dengan kesal.


"aku kesini sama sopir, boleh curhat ga?" ucap Memei dengan nada bersedih hati.


"boleh sayang, kita ke kamar yuk,"


......


Rahman tidak bisa tidur ia berjalan kesana kemari, lalu pada akhirnya memutuskan untuk menemui Zahra.


"mh? sstt," Zahra menyuruh agar Rahman tidak berisik karena Memei telah tertidur.


"ada apa?," Zahra memegang kepalanya sambil bertanya pada Rahman ia merasa sedikit sakit di kepalanya seperti ada sesuatu yang berat, yah akhir akhir ini ia sering merasakannya.


"kenapa?," Rahman bertanya dan duduk di sebelas Zahra.


"aku ga apa apa,"


"Memei?,"


"dia sepertinya merasa ada rasa pilih kasih sedikit, mungkin dia cemburu padamu,"


"kenapa?,"


"aku ga tau pasti sih ka, cuma seingat aku tadi dia cerita, ada saudara angkat Kaka, lelaki yang gagah berani meskipun berwajah yang seram karena auranya, kalau ga salah namanya nius atau apa," ucap Zahra mulai bercerita.


"Arnius," jawab Rahman, lalu tertidur di pangkuan Zahra.

__ADS_1


"teruslah bercerita," Rahman meletakkan tangan Zahra di kepalanya.


"hmmh, katanya tadi dia ingin makan serta bermain bersama dengan Arnius, karena rindu sudah lama tidak bertemu, tetapi Arnius tidak mau karena dia selalu bersiap siaga dengan komputer di depannya,"


"Mungkin yang ia lihat adalah CCTV" sahut Rahman mulai menyelimuti kakinya.


"mmh? entah," Zahra mengangkat alisnya.


Memang CCTV rumah kita karena bagaimanapun juga dia tidak akan lengah sedikitpun, meskipun aku menyuruhnya untuk berhenti, dia tetap saja akan berkata aku adalah hidup dan matinya serta aku adalah mutlak untuknya. Ucap Rahman dalam hati.


"terus?," Tanya Rahman.


"Sepertinya Memei terluka, karena ia ingin mengajak Arnius makan bersama meskipun sudah lelah karena ia sedang kecewa dengan nilainya yang sedikit menurun, sebenarnya bukan menurun tapi bisa dikalahkan oleh orang lain, jadi berniat menghibur dirinya sendiri"


"apa kamu bilang, nilainya dikalahkan?," ucap Rahman lalu terbangun.


"hei jangan begitu, manusia itu ga ada yang sempurna, intinya dia sudah berjuang, lagi pula juga nilainya tidak menurun hanya masih bisa dilampaui saja," Zahra memukul pelan pundak Rahman.


"mh," lalu Rahman tertidur lagi di pangkuan Zahra.


"tadinya memei ingin berbagi sama mamah, tapi mamah kayaknya kelelahan karena dari acara resepsi, jadinya ga bisa nemenin Memei, terus pas ke Arnius juga ga bisa, dia lebih kesal lagi saat Arnius bahkan tidak berkata apapun meskipun hanya meminta maaf kepadanya,"


"Arnius memang begitu, dia berhati batu tetapi ia sebenarnya penyayang,"


"hmmh yah, jadi seperti itulah makanya dia akhirnya kemari, dan berharap agar kita bisa menemani dia, memang aku tidak pernah menjadi peringkat pertama di kelas, tapi aku bisa membayangkan bagaimana rasanya saat sudah sangat berjuang tetap saja itu tidak berpihak pada kita," Zahra membelai kepala Rahman dengan lembut.


"mmh," Sahut Rahman mulai mengantuk.


"ada sedikit rasa kecewa, tapi tetap saja harus bangkit dan berfikir positif harus menanamkan jiwa yang baik agar tetap memperoleh energi yang baik juga, ga boleh curang ataupun dendam," ucap Zahra namun tidak ada sahutan.


"ka?," Zahra mencubit pelan pipi Rahman.


"haha entah sejak kapan aku sangat menyukai ini, aku mencintai kalian, Ya Allah ini adalah cinta yang benar, cinta yang kurasakan di antara hubungan halalmu, atas perintahmu pada mahram ku, tanpa harus ada dosa jika aku ingin menatapnya dan menyentuhnya," gumam Zahra tanpa sadar telah menyukai Rahman dari waktu yang lama.


"entah sejak kapan aku mulai begitu menyukai sikapnya yang seperti ini," imbuh Zahra.


.......


ke esokan harinya...


Rahman terbangun mendengar suara orang mengaji dari masjid.


mmh, aku kesiangan jadi ga bisa shalat tahajjud. gumam Rahman dalam hati sambil berusaha membuka matanya dengan malas.


"!!," Rahman terkejut.


"!!! kak Rahman!!," Memei setengah berteriak karena terkejut menemukan Rahman di depannya saat ia terbangun.


"ko kamu?,"


"Memei yang seharusnya bertanya bukankah seharusnya ka Zahra yang tidur sama Memei ko jadi ka Rahman si?," Memei menggerutu kesal, rasa kantuk malasnya hilang seketika karena perasaan kesal terhadap orang tuanya.

__ADS_1


"heish," Rahman teringat semalam ia memang tertidur dipangkuan Zahra, jadi yang pasti terjadi malah Zahra yang tertidur sendiri.


.....


"Kalian sudah bangun? sudah mandi? siap siap dulu untuk shalat habis itu sarapan," Zahra sedang memasak di dapur dan di hampiri oleh dua saudara itu dengan wajah kesal Memei.


"ko Memei tidur sama ka Rahman? Memei kan marah," ketus Memei.


"iih siapa juga yang mau tidur sama kamu kayak anak kecil aja," Rahman lalu pergi ke kamar nya untuk mandi, dan bersiap pergi ke masjid untuk shalat subuh.


"tuh kan ka, lihat ka Rahman kayak bagaiman," Memei mengeluh pada Zahra.


"haha sudah sudah, siap siap sana cepat nanti shalatnya telat loh," ucap Zahra.


"ko masaknya pagi banget ka?, tetap sarapan sepagi ini?" Tanya Memei yang mencicipi masakan Zahra dan Bibi.


"iya soalnya kan ka Rahman kalau kerja itu pagi pagi jadi harus siapin sarapan pagi pagi,"


"sendiri ka?,"


"ga tadi sama bibi tapi barusan pergi ke pasar soalnya bahan di kulkas sudah habis,"


"mmh," Angguk memei lalu pergi membersihkan dirinya di kamar mandi.


......


Mereka telah mengerjakan shalat subuh tepat waktu, lalu sedang bersiap untuk sarapan, mendengar kicauan burung yang melengkapi suasana bagi siapa saja yang sedang menikmati embun pagi kala itu.


"Ayok sarapan dulu," Zahra menyediakan sarapan di meja.


Memei masih memasang wajah kesal pada Rahman begitu juga dengan Rahman yang tak kalah kesal dari Memei karena kejadian semalam.


"hahaha sudah sudah sarapan dulu, bertengkar nya nanti saja ya," Zahra merasa lucu dengan sikap dua orang di hadapannya saat ini.


"ga joging ka?," Tanya Memei yang biasanya ia joging pagi.


"terkadang de, paling 1-2 kali seminggu itu juga kalau sempat,"


"ga perlu joging kalau mau tinggal olahraga aja alat gym udah tersedia," Ucap Rahman dengan dingin.


"Kaka aja yang ga tau bagaimana sejuknya embun pagi,"


"heish," kesal Rahman memandang Memei.


"mmh," Memei juga tak kalah geram dengan Rahman.


dzzzzttt


"hei udah ya udah, please jangan bertengkar di depan makanan!," Zahra setengah berteriak pada kedunya yang membuat keduanya terkejut, dan dengan wajah masam Zahra memulai sarapan lebih dulu, lalu bergegas untuk membersihkan tempat makannya, dengan penuh diperhatikan oleh Memei dan Rahman yang masih terdiam dan menjadi hening.


bersambung....

__ADS_1


Hi semua, jangan lupa untuk cek profil ku ya, baca juga chat story yang baru aku perbaharui berjudul "Cinta di Negeri Ginseng"


dan para Army cobalah baca dulu🤗.


__ADS_2