Cinta Zahra

Cinta Zahra
tak diinginkan


__ADS_3

Riska memberi tahu kepada Reza bahwa kedua orang tuanya ingin bertemu dengan Reza.


"ka bagaimana?," Tanya Riska memastikan


"iya ga apa apa, nanti akhir pekan ya," jawab Reza dengan tenang. Jujur sebenarnya ia juga mulai menyayangi Riska meskipun rasa sayangnya hanya sekedar saja.


....


"ka, Kaka bilang bisa keliling dunia kan?," Tanya Zahra memandang Rahman saat selesai shalat dan do'a nya. Rahman melihat Zahra mungkin saat inilah seorang suami benar benar dibutuhkan.


Rahman membuka tangan lebar lebar memberi tahu bahwa ia akan memeluk Zahra.


Zahra memeluk Rahman di atas sajadah yang masih di dudukinya. Mulai meneteskan air mata, Rahman memeluk Zahra dan mengecup kepala Zahra.


"Terima kasih," gumam Zahra perlahan didalam pelukan Rahman.


Rahman tidur dengan membuka tangannya lebar. Membuat bantal Zahra terhalangi oleh lengan Rahman.


"kaak ko gitu sih Zahra tidur dimana dong," kerutu Zahra karena sikap Rahman


"ya sudah sini, di dekat Kaka, di lengan Kaka."


"ah?," Zahra terheran.


"aku ga bakal ngapa ngapain ko, sini ayo jangan khawatir,"


"aku masih belum mau jadi..,"


"udah ah kelamaan," Rahman menarik tangan Zahra hingga tertidur di lengan Rahman, lalu memeluk Zahra.


"tenang aja aku juga masih belum mau jadi ayah," ucap Rahman lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Zahra, Rahman memejamkan matanya dan membuat kening serta hidungnya bertemu dengan kening dan hidung Zahra.


"ka,"


"mmh," Jawab Rahman dengan tenang sambil memejamkan matanya


"aku mau berbalik," ucap Zahra berusaha melepaskan pelukan Rahman yang membuatnya gugup.


"diam aja, tunggu sebentar,"


"ooh, iya," jawab Zahra gugup


"tapi kaa," panggil Zahra perlahan.


"mmh,"


"suara detak jantung Kaka besar sekali dan cepat," ucap Zahra perlahan.


"aku biasa aja lgi pula juga ga kedengeran, itu suara detak jantung kamu itu sayang," ucap Rahman dengan tenang dan menggoda Zahra.

__ADS_1


"ooh," ucap Zahra dengan polosnya, memanyunkan bibirnya lalu di kecup oleh Rahman.


"!!," Zahra terkejut dan menutup mulutnya.


"apa? masih belum mau tenang lagi?," Tanya Rahman sambil memandang Zahra. Zahra memejamkan matanya dengan cepat dan terdiam, membuat Rahman tersenyum puas kala itu.


.....


Akhir pekan telah tiba. Reza datang berkunjung ke rumah Riska, sesuai janji yang telah di buatnya dengan Riska dengan kedua orang tua Riska.


Setelah jamuan makan selesai, Reza dengan ramah menyapa kedua orang tua Riska, disana juga ada Alfie yang menemani keluarga Riska, karena Alfie sudah bagaikan Kaka untuk Riska.


"Jadi, bagaimana nak Reza apakah kamu benar menyayangi putri kami?," Tanya bapak Riska pada Reza.


"iya bapak, saya sayang sama anak bapak," jawab Reza dengan senyumnya. sedangkan Riska dengan ibunya berpegangan tangan dan Alfie memerhatikan dengan cermat pembicaraan kedua belah pihak.


"lalu nak Reza, kapankah kamu berniat untuk meminang putri kami?," Tanya bapak Riska.


Reza terkejut seketika saat itu karena tiba tiba membicarakan soal pernikahan, sedangkan semenjak ia terluka oleh Zahra, Reza tidak pernah memikirkan lagi soal pernikahan, dengan siapapun itu..


"tunggu pak, jadi maksud bapak mengundang saya ke sini, ya itu untuk membuat saya menikah dengan putri bapak yakni Riska?," Tanya Reza dengan setengah tertawa.


"Ya nak Reza lalu apa lag?i, dia adalah satu satu anak kami dan saya selaku menjadi bapak sangat mengharapkan kebahagiaan untuk putri saya," Ucap bapak Riska dengan memandang Riska penuh harap dan kasih sayang.


"tapi bapak, mohon maaf ya, saya bahkan tidak berfikir untuk menikahi putri anda," jawab Reza dengan setengah tertawa.


Riska terkejut seketika saat itu juga, mendengar perkataan Reza yang dengan santainya mengucapkan hal itu, sedangkan hal yang telah mereka lakukan sudah begitu jauh tahapnya.


"Ka Reza.." Riska mengangkat suaranya namun di jengah oleh ibu nya dengan memegang tangan Riska mempercayakan semuanya pada bapak nya. Alfie yang mendengarkan itu pun geram.


"Nak Reza jadi maksud kamu itu apa, mengencani anak saya tetapi tidak ingin menikahinya?,"


"ya sederhana saja saya masih ingin menikmati masa masa muda saya, dan anak anda mau jadi mengapa saya harus menolak," jawab Reza dengan tenang.


Alfie yang mendengar sudah tidak tahan akan kelancangan Reza, terlebih lagi bapak Riska yang sudah begitu terkejut dengan sikap Reza.


Bukk


"kamu itu ga ada akhlak ya jadi anak, semakin di biarin semakin menjadi, kamu ga berfikiran kamu itu lagi ngomong sama siapa? huh! bisa hormat sedikit gak sih?," Ucap Alfie dengan membentak.


"Sudah nak Alfie sudah itu anak orang," cegah Ibu Riska.


"dia ga bisa di biarin Bu aku ga terima," jawab Alfie.


"Apa apaan sih, saya kesini dengan tenang bukan untuk menerima perlakuan seperti ini, kalau saya mau saya bisa membalas, tapi karena saya masih hormat jadi saya diam.. sudahlah kalau begitu saya diam," Reza pergi beranjak pergi.


"kak Reza tunggu!," Teriak Riska ingin mengejar Reza yang pergi namun di cegah oleh Alfie dan bapa Riska.


Riska menangis, tak dapat menahan rasa sakit hati yang tak tertahankan. Perkataan Zahra yang selalu me ngiang di kepalanya akan seribu nasihat Zahra yang selalu di acuhkan oleh Riska, Riska menyesal saat itu namun apa boleh buat semua sudah terlambat. Nasi kini telah menjadi bubur.

__ADS_1


......


Satu Minggu berlalu, Zahra tak kunjung terlihat di kampus, semenjak Zahra bertengkar terakhir kali dengan Riska.


apakah benar Zahra pergi untuk selamanya? seperti yang ia katakan terakhir kalinya? aku sungguh merindukan dia sekarang, tidak ada yang bisa ku lakukan aku menyesal, aku sungguh menyesal belum lagi, sudah seminggu ini semenjak ka Reza ber konflik di rumah ia sangat sulit untuk di hubungi. Riska berkecamuk dalam hatinya.


.....


Riska sering melamun akhir akhir ini, ia terpaksa menampakan senyum di wajahnya untuk para teman temannya, tapi tetap saja ia merasa terluka, tehkianati dan kecewa oleh Reza serta perasaan rindu dan menyesal terhadap Zahra.


Riska sekarang sedang berada di tepi danau dia memandangi danau yang tenang namun tak tentu dalam ataukah tidak.


"apakah aku bisa setenang dirimu huh! apakah bisa aku membuat dunia terasa adil untukku, disaat tuhan memberikan aku kebahagiaan melalui sahabat ku tetapi aku malah membuang kebahagiaan itu, apa kah ada yang lebih pantas lagi untukku?," Riska melempari batu ke dalam danau.


"Sering orang berkata bahwa dunia itu tak adil, tak berpihak kepadanya, sehingga tidak memiliki kebahagiaan. Padahal yang terjadi adalah tuhan selalu memberi kebahagiaan tetapi manusia itu sendirilah yang menolaknya, namun dengan ego yang begitu besar membuatnya merasa benar di dalam posisi yang salah," fikir Riska dalam dalam.


"Sudah ya jangan sedih lagi," ucap Alfie yang menghampiri Riska, Riska melihatnya dan tersenyum.


"kan Aku masih ada, kekasihmu yang tampan ini loh," ledek Alfie yang sukses membuat Riska tertawa. Lalu membawa Riska pulang.


....


"ibu, bapa Riska pulang!" sapa Riska sesampainya dirumah.


"iya waalaikummussalam," jawab ibu Riska.


"hehe assalammualaikum, maaf Riska lupa," Lalu Riska menyalami ibunya.


Tiba tiba Riska merasa pusing dan mual mual. Ia berlari menuju kamar mandinya. dan memuntahkan isi perutnya ia bahkan sensitif terhadap aroma yang terlalu menyengat entah itu harum ataupun aroma yang tidak sedap.


"kamu kenapa nak?" Tanya bapak Riska.


"ga apa apa ko pak, cuma ga enak badan aja," jawab Riska.


"kita kerumah sakit yuk," ajak Alfie yang sudah sangat khawatir pada Riska.


"ga apa apa Ka gak usah aku baik baik aja ko,"


"udah nak ke rumah sakit aja,"


Akhirnya dengan bujukan keluarga Riska mau untuk dibawa pergi kerumah sakit terdekat.


....


Sesampainya mereka dirumah sakit, Dokter memeriksa Riska dengan seksama, bahkan sampai melakukan USG pada Riska.


"Bagaimana dok, apa yang terjadi pada putri saya," ucap bapa Riska.


"Tidak perlu khawatir anak bapa tidak apa apa, dia hanya kelelahan, dan selamat ya bapak anda akan segera memiliki seorang cucu," ucap dokter itu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"apa! cucu?," Tanya bapa Riska dengan terkejut.


__ADS_2