
Memei setengah berlari dari anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan, lengkap dengan pakaian seragam silat nya, dan ia berharap agar datang ke sekolah dengan tepat waktu karena Memei benar-benar menyukai materi pelajaran silat meskipun itu hanya ekskul sekolah.
"loh mau kemana sayang kan masih libur," Tanya Andrean yang mendapati Memei sudah begitu rapi dan bersiap untuk pergi, Andrean bahkan mempersilahkan Memei untuk duduk, Andrean memang sangat sangat memanjakan Memei karena dia adalah Putri tercintanya, dan Putri satu-satunya.
"oh, iya memei mau latihan silat yah di sekolah, memei kan ikut ekskul silat, kayaknya akan di adakan 1-2 kali latihan dalam satu minggu," jelas Memei yang menjelaskan kepada ayahnya agar ayahnya tidak menghawatirkan tentang dirinya, dan membiarkan Memei pergi dengan tenang dan penuh doa restunya sebagai izinnya untuk melakukan kegiatannya.
"ooh, yang semangat ya anak mamah, buat jaga diri karena kita tidak bisa menduga-duga apa yang akan terjadi nantinya," ucap Yeni membelai lembut kepala Memei, karena Yeni sangat senang jika anaknya melakukan hal-hal yang positif, bukan hanya menghabiskan waktu liburannya dengan berbaring di rumah, tetapi juga melakukan hal-hal yang positif dengan melatih dirinya untuk bisa lebih menjaga diri lebih baik lagi kedepannya.
"aku minta dianterin sama kak Rahman ya?," Memei meminta dengan wajah memelas menghadap Rahman meskipun biasanya ia diantar oleh Andrean atau sopir namun kali ini iya betul-betul meminta Rahman yang mengantarnya, namun Rahman hanya terdiam melanjutkan sarapannya tidak menggubris perkataan Memei.
"ada kak Zahra juga loh yang ikut silat ka," goda Memei dengan mengangkat kan alisnya berkali kali, karena jujur pada hakikatnya Memei memang sangat mengharapkan agar Zahra lah yang akan menjadi kakak iparnya kelak nanti, karena ia sudah mengenal Zahra dengan begitu dekat dan meyakini bahwa Zahra adalah orang-orang yang baik dan pilihan yang tepat untuk kakaknya.
Tetapi reaksi dari Rahman hanyalah melihat adiknya dengan wajah masam sejenak lalu melanjutkan sarapannya kembali.
yaelah susah susah banget membujuknya, nggak bisa apa reaksinya itu itu lebih bagusan lagi dikit, yaelah deh masam banget dah tu wajah, jadi ngak berani ngeledek kan benar-benar enggak seru nih kalau begini bisa berabe ceritanya nih, padahal niatnya itu juga baik kok jadi begini, padahal mah ya kalau diperhatikan yaitu naksir juga sama kak Zahra, nggak perlu diungkapkan juga udah kelihatan nggak bisa dipendam lagi dah tuh, emang keren juga nih ya kalau punya kakak kayak begini modelnya meskipun sebenarnya sayang tapi sayangnya itu ngeselin Ya ampun nggak habis pikir coba kok hidup aku sama kakak kayak begini itu gitu-gitu amat ya, di meja dikit kek dengan cara yang sangat aku tahu kakak itu sayang aku tapi nggak mesti terlalu dingin kayak begitu kan etdah nggak habis pikir deh aku nggak tahu jadinya mau ngomong apa lagi mau ngeledek lagi juga takut ampun dah ampun. Memei menggerutu dalam hatinya.
Dan pada akhirnya Memei pun berhasil diantarkan oleh Rahman, karena permintaan Andrean yang ikut membujuk Rahman agar bersedia mengantar Memey ke sekolah. Sebenarnya Rahman akan selalu sedia untuk menjaga adik satu satunya hanya saja ia terkadang lebih suka terdiam karena menyukai ekspresi imut dari Memei saat Memei kesal padanya.
Ya Allah makasih Untung aja aku punya Ayah tuh baik banget kayak begini, bisa dimanja terus, dibaikin terus dan apa-apa mau ku pasti dikasih, tapi ya gimana ya, punya ibu baik bapak ramah royal perhatian hangat dan memanjakan, tapi pas diolah kok anak cowoknya kayak begitu ya dingin banget gitu loh kayak es batu, aku tahu orang-orang juga kadang nggak kayak aku itu dingin dan tomboy, tapi aku ga sedingin itu sumpah dah tanya aja sama orang yang udah kenal aku aku tuh itu. ucap Memei dalam hatinya dengan penuh berterima kasih pada ayahnya
"kak tau ngak..." ucap Memei yang mencoba untuk sedikit menggoda kembali kakaknya itu.
"ngak tau," jawab Rahman langsung sebelum Memei menyelesaikan kan kalimat nya dan itu benar-benar membuat Memei sangat kesal.
"ish," gerutu Memei yang sukses membuat Rahman tersenyum karena favoritnya adalah membuat wanita yang disayanginya menjadi kesal dan menggemaskan.
"iya ada apa adik kakak tersayang," Rahman membelai kepala Memei dan mengalah pada Memei.
"ka Zahra kemarin dikasih cincin, boneka coklat, cemilan coba sama kak Reza" cerita Memei sedikit memamerkan dan mengesalkan kepada Rahman yang sedang mengemudi saat itu.
"orang nya ganteng loh, dan.. kak Zahra terima cincin itu, wow so sweet kan," Memei sedikit membulatkan matanya mendekat ke arah Rahman.
"lalu?,"
"what?!!, cuma lalu doang, yaelah pantesan dicuekin," memei cemberut masam mendengar renspon dari Rahman.
"padahal nih ya aku itu berharapnya kakak bisa jadi lebih bertindak lagi ke kak Zahra bukan hal yang negatif sih melainkan hal yang positif, kayak perjalanannya kak Reza biar dia tahu gitu kalau kakak itu bener-bener suka sama kak Zahra, jadi nggak kayak cuma main-mainan aja, emangnya kalau nggak suka apa sama kak Zahra?," tanya Memei yang mengharap lebih dari Rahman namun Rahman hanya terdiam mendengar perkataan Memei, dan memei pun menyerah sehingga ia pun juga memutuskan untuk terdiam karena ia juga merasa itu semua percuma jika kakaknya saja tidak menggubrisnya.
***
"ah, biasa pah anak gadis masa pakai cincin gak boleh sih," ucap Tini yang ingin memberi tahu Marko, bukan kebohongan juga bukan memberi tahu semuanya.
"oh, cincin nya bagus loh nak, cocok di jari kamu," ucap Marko sembari memberi senyuman.
"haha, iya pah terimakasih," Zahra tertawa namun tak ingin tertawa.
"iya iya bagus sih nya, ya udah pah Dhani mau main dulu, assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," ketus Ramadhani dengan kesalnya melihat tangan Zahra dan berlari pergi mengayunkan sepedahnya.
"Dih itu si adek mu kenapa? apakah dia iri sama kamu haha, masa ia cincin perempuan begitu doang," kekeh Marko, yang sedetik kemudian ia merasa seperti menyadari sesuatu, dan memandang ke arah tangan Zahra lalu menunjuk jari Zahra.
"jangan jangan..," mendengar kalimat Marko Raditya juga ikut menyadari apa yang disadari Marko
"ah?, sudah sudah segera berangkat sana haha nanti Zahra telat loh," Tini berusaha menyelamatkan Zahra dari anak sulung dan suaminya itu.
....
"Zahra anak kesayangan papah?," panggil Marko dengan nada yang begitu lembut.
"iya pah?," sahut Zahra.
" jaga baik baik ya sayang, kalau kamu menyukai seorang lelaki papah tidak masalah, perjalanan kamu masih panjang, jadi papah tidak mau memaksakan kamu harus dengan Rahman, itu hanya harapan papah saja, tapi tolong difikirkan baik baik ya sayang yah.
Papah hanya menginginkan kebahagiaan kamu, dan jangan terlalu dekat dengan lelaki itu, entah siapa dia tapi papah tau pasti ada yang sedang mendekati anak papah yang tercantik ini haha," Marko membelai pelan kepala Zahra, dan tersenyum agar Zahra tidak canggung kepadanya.
"iya pah terima kasih banyak ya, maaf Zahra belum bisa menjadi anak yang baik buat papah." sahut Zahra.
"ya sudah udah nyampe, cepat nanti telat," suruh Marko. Zahra memeluk Marko sebelum ia turun dari mobil.
"Zahra sayang papah,"
"papah juga nak, mh kalau ada yang menyakitimu jangan takut takut lawan dia nak, papah akan selalu ada di belakangmu, kalau perlu beri tahu papah biar papah yang turun tangan,"
"iya pah, terima kasih banyak, Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," Pamit Zahra.
"waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh," Marko memandang Zahra sejenak sebelum ia menjalankan mobilnya.
"tidak ku sangka putri ku secepat itu ia tubuh, rasnya baru kemarin ia masih membuang air di pangkuanku, tapi mengapa sekarang aku merasa ia begitu dewasa, hanya saja jika ia bersama Rahman aku merasa ia masih putri kecilku, karena aku percaya Rahman bisa memanjakan putri ku yang lucu," gumam Marko secara tidak sadar ia meneteskan air mata nya.
"baiklah sekarang jadwal penerbangan kemana?, huh! aku rasa aku butuh liburan bersama keluarga ku lagi, karena kurasa bulan depan aku harus melakukan penerbangan keluar kota," semangat Marko, membayangkan senyum tawa keluarga kecilnya.
__ADS_1
.....
"eh, kak Zahra!!," teriak Memei yang menemukan Zahra didepan gerbang, sedangkan Memei masih berada di dalam mobil.
seketika itu Rahman langsung melihat ke arah Zahra, sejenak ia tersenyum, seperti ada sesuatu yang menyemangatinya.
"ekhem yang senyum senyum," ledek Memei yang langsung mendapati tatapan dingin dari Rahman.
"ya salah gitu doang, canda kali kak canda doang," gerutu Memei, yang tanpa ia sadari Zahra menghampiri nya.
"de? ayo nanti telat," ajak Zahra, yang bahkan tidak mendapat sapaan dari Rahman.
eish orang dingin kaya begitu yang papah inginkan? hufh ngak habis fikir aku. Gumam Zahra dalam hati.
....
"assalammualaikum aku pulang," Zahra kini dengan penuh keringat telah sampai di rumahnya yang bagaikan istana baginya.
"waalaikummussalam udah pulang de?," jawab Raditya
"loh Kaka ngak kerja paruh waktu," tanya Zahra yang jarang menemui Raditya dirumahnya.
"lagi banyak tugas kuliah de," jawab Raditya yang disalami Zahra.
"eh mamah mana ka?,"
"dia katanya mau ke ruko olshop nya si ibunya Riska,"
"ohh udah makan? mau Zahra masakin?," Tawar Zahra.
"mandi aja dulu sana, bau tau masa iya sih anak gadis bau keringat ish,"
"dih ini juga mau mandi kali,"
.....
Zahra telah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya itu, lalu ia langsung memasak untuk kakak tercintanya.
"kak makan dulu yok, Zahra udah masak, ntar keburu dingin makanan nya," Zahra mengajak Raditya yang tengah asik dengan handphone nya. Raditya hanya mengiyakan ajakan Zahra namun masih tidak beralih dari duduknya, Zahra kesal melihat kakaknya yang tersenyum sendiri dan tidak menghiraukan Zahra.
"kakak! Ayok ah ya Allah, subhanallah cepet! nanti balas chatnya lagi ya Allah tuh cewek juga ngak bakalan kabur kali kak," Zahra kesal pada Raditya lalu ia menarik paksa lengan Raditya agar berpindah tempat duduk.
....
"de?," setelah Raditya menghabiskan makanan nya ia mulai ingin berbicara serius pada Zahra.
"iya ka ada apa?,"
"hati hati ya, kalau ada apa apa kasih tau kakak, kakak berharap kamu bisa menjaga nama baik keluarga dan bisa menjaga kepercayaan keluarga, kamu itu perempuan de,"
"iya ka, Zahra ngerti in shaa Allah Zahra bisa jaga diri," Zahra tersenyum dan menunduk mendengar nasihat dari kakaknya ia tak ingin membuat hatinya tersinggung, mungkin terkadang dikomentari itu akan membuat diri menjadi lebih kesal, tapi jika kita memang ingin menjadi orang yang benar maka harus bisa menerima kritik dan saran dari sebuah komentar dengan baik, karena sifat marah tidak bisa membuat fikiran menjadi jernih, bahkan hal yang salah bisa saja menjadi benar. Itulah yang di dalam pikiran Zahra saat ini berusaha mencerna dengan baik untuk menerima kritik yang baik. Agar bisa menerima dan memberi saran dengan baik pula.
"kamu itu adalah seorang wanita, wanita begitu dimuliakan dalam agama, apa bila ia terlahir maka ia akan menjadi jalan menuju surga bagi orang tua dan saudara lelaki nya, dan apa bila ia dewasa dan menikah ia akan menjadi surganya, bukan hanya menjadi jalan menuju surga nya lagi, oleh karena itu Kaka tidak mau jika sampai surga di keluarga ini menjadi rusak," Raditya memberi nasihat pada Zahra satu satunya adik perempuan yang dimiliki Raditya.
"iya ka, Zahra berjanji bukan hanya berusaha tapi benar benar akan menjaga diri Zahra, sebisa mungkin Zahra akan mencegah diri Zahra untuk melakukan hal yang tercela," senyum Zahra.
"eh btw cantik gak nih, ini calon istri Kaka loh," Raditya menunjukkan foto seorang wanita cantik di handphone nya untuk mencairkan suasana.
***
kini 2 bulan berlalu...
Zahra sering menemani Reza belajar, ia selalu menyemangati Reza kala itu, bahkan tak jarang Zahra lah yang membelikan buku buku pelajaran untuk persiapan ujian kelulusan, belum lagi Zahra juga bahkan mengeluarkan uang untuk patungan dengan Reza agar Reza bisa menggunakan laptop agar dapat lebih efektif lagi belajarnya.
selama ini Zahra memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan Reza hanya saja ia juga ingin memberi Reza semangat dan dukungan langsung, Agra Reza belajar lebih giat lagi, dan bukan main Reza menjadi semakin rajin juga nilainya mendapatkan peningkatan.
"heish kalian berdua ini, berpacaran pun di perpus memang nya ngak bosen apa?," ledek Riska yang melihat sahabatnya itu menemani Reza belajar bahkan meskipun Zahra sendiri tidak terlalu mengerti dengan yang sedang dipelajari Reza.
"Riska, aku ngak pacaran," kesal Zahra karena terlebih lagi Riska mengatakan itu di perpustakaan.
"haha iya iya, kalian itu udah kayak pacaran tau, heh cocok cocok," Riska lalu membuang muka dan menggenggam tangannya sendiri. Reza yang mendengar Riska sedikit tersenyum.
"e dodol dari pada jadi nyamuk terus mending cari pacar," ledek Reza langsung, ketika Riska membuang muka bahkan Reza sempat memukul pelan kepala Riska dengan pulpen.
"hey!!," Riska setengah teriak lalu melihat orang orang disekitar karena kini sedang melihat ke arah Riska yang berteriak di perpustakaan.
"sstt," Reza dan Zahra menyuruh Riska mengecilkan suara, secara bersamaan.
"e dodol ngak perlu pake teriak kale," ledek Reza lagi sembari tersenyum sinis.
__ADS_1
"ish ka Reza jangan begitu," Zahra membela Riska karena merasa Riska sudah benar benar kesal. Dan ya tak perlu lama Riska langsung melangkah kan kakinya keluar perpustakaan.
"tuh kan apa aku bilang marah kan dia," ucap Zahra sembari bersiap untuk menyusul Riska.
"ya udah ya Kaka belajar sendiri aja,"
"loh mau kemana Ra?,"
"ya susul Riska lah,"
"ngak nemenin aku?," cegah Reza
"ngak boleh berdua dua an antara lelaki dan wanita yang bukan mahram!, dah ka bye bye," Zahra lalu pergi meninggalkan Reza, dan Reza tersenyum seketika mendengar kata kata dan melihat tingkah laku Zahra
"semakin hari rasanya aku semakin cinta sama kamu Ra," gumam Reza perlahan.
....
"Riska jangan marah ya," Zahra mengejar Riska dengan setengah berlari.
"Belain aja dia terus, terus belain, sama dia aja udah ngak usah sama gua,"
" i ya Allah Riska, aku kan ngak bermaksud begitu," Zahra merendahkan suaranya dan menundukkan kepalanya, lalu memandang ke arah lain dengan nafas panjang, ia berfikir apakah Riska merasa tidak adil jika Zahra juga memperhatikan orang lain selain Riska?.
"hmmh huh!," Riska menarik nafas panjang melihat tingkah Zahra
"ya udah sekarang traktir bakso 3 mangkok di kantin baru gua maafin, itu baru adil," Riska merangkul Zahra sambil berjalan dengan tomboinya dia.
"ya ampun 3 mangkok emang bisa habis?," tanya Zahra terheran
"mau kagak?," Riska bertanya dengan menekan.
"iya ya Allah kuy lah haha,"
***
dreet dreet
"hmmh kak Alfie telfon lagi," Riska tersenyum lalu mengangkat telfon..
"halo ka,"
"hallo my wife, kangen banget,"
"haha iya ada apa?,"
"lagi dimana?,"
"dirumah ka, lagi tiduran sambil main game,"
"boleh minta tolong ngak?," pinta Alfie dengan suara memelas
"haha minta apa?,"
"tadinya mau ngasih kejutan tapi kayaknya gagal deh, hehe aku lupa jalan nih,"
"ah? maksudnya?" tanya Riska terheran heran dengan perkataan Alfie.
"iya aku udah ada di Indonesia cuma masih di bandara, aku lupa jalan mau pake Taksi tapi lupa alamat hehe, tolong jemput yah,"
"what!! serius?," tanya Riska tak percaya.
"iya sayang,"
"ya udah tunggu disitu ya Riska kesana sekarang," Riska percaya karena ia juga mendengar orang orang disana berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
....
sesampainya Riska di bandara Riska mencari kesana sini, ia menelfon Alfie via WhatsApp namun Alfie tidak mengangkat yang membuat Riska khawatir.
"ah apa iya gua di bohongin ya? heish," Riska kesal karena merasa di bohongi, tapi saat Riska berbalik ia menemui sosok yang ia kenal.
"huh! ternyata itu dia, haha semakin tampan aja Lo kak, udah tu muka blasteran belum lagi di luar negeri udah asli bukan orang lokal aja lu bang," gumam Riska yang menghampiri Reza.
"eh btw kenapa ni cowok banyak juga blasteran yak mukanya, kek kakanya si Zahra sama si Memei bahkan adek nya Zahra kelewatan ganteng, generasi bangsa terdepan dah tuh, haha eish," Riska tertawa sendiri memikirkan apa yang ada di pikiran nya.
"kak!," Riska melambai ke Arah Alfie yang seketika itu Alfie pun juga melihat nya.
__ADS_1