
"ba.. bapak?," mencari terkejut melihat bapak angkatnya yang telah mengawasi mereka dari jauh.
"coba lihat sini!!," ucap bapak angkat nya dengan kasar, iya melihat uang recehan yang berada di tangan arnius saat itu.
"cepetan lama banget ah!," bapak angkat arnius langsung merebut uang dari tangan arnius, lalu ia terlihat sedikit tersenyum dan menghitung jumlah uang recehan itu.
"bagus-bagus lumayan penghasilan lo hari ini, sering-sering dahlah lu pada, ngamen di mobil-mobil mewah pasti mereka punya uang banyak kayak gini kan," ucap bapak angkat Arnius.
"??," Arnius dan mentari kebingungan itu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh bapak angkat nya.
"kenapa wajah lu bingung begitu?,"
"oh gue tahu, lu berdua mau nyembunyiin ini kan dari gue, lu pikir gua nggak bisa apa cari tahu bagaimana penghasilan lu pada dalam sehari?, tadi gua liat lu pada lagi ngamen di depan mobil mewah kan? terus lu dapat uang ini kan? nggak usah bohong deh lu pada ya, gue lihat lu deket sama tuh mobil bahkan sampai dikasih uang ini kalau lu pada enggak ngamen lu ngapain namanya lu pikir kau bodoh dasar!," ucap bapak angkat arnius dengan sedikit kesal lalu pergi berlalu tanpa meninggalkan sepeser uangpun untuk Arnius.
syukurlah kami nggak perlu tidur dengan perut lapar kali ini, tapi apakah para ibu-ibu dan bapak-bapak yang tidur di jalanan kemarin baik-baik saja ya mereka? apa mereka tidak kelaparan. pikir arnius dalam hatinya yang juga memikirkan orang lain.
"oke malam ini gue kasih lo tidur di dalam, gua nggak hukum lu tidur lagi, cuma lu jangan berharap lebih ya hidup itu butuh biaya ngerti! jadi ini semua duit gue! kayak biasa dan elu pada tidur di bawah, tuh ada karpet dan 1 bantal berdua ingat itu juga ada 1 sarung buat kalian berdua oke gue mau tidur dulu capek nih," ucap bapak angkat arnius.
"bentar dulu bang emang nih anak-anak Mbak nggak bakalan Abang kasih makan dulu, kali aja besok dia kuat lagi buat ngamen bang," ucap Ibu angkat arnius dan mentari.
"udahlah nggak usah kalau mereka terlihat lebih kurus maka uang juga yang akan dihasilkan lebih banyak paham enggak lu jadi bini," ucap bapak angkat Arnius.
"iya bang aye paham!," Jawab ibu angkat Arnius.
......
"wah mewah sekali!," teriak mentari yang sedang berada di tempat bermain bersama dengan Rahman juga arnius.
"karena hari ini kita pergi dari pagi jadi kita punya waktu yang lebih banyak kan dari yang kemarin?" ucap Rahman kepada mentari sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
"iya ka," jawab mentari dengan menganggukkan kepalanya.
"tapi emang kalian nggak gerah apa pakai baju kotor seharian kayak begitu? beli baju dulu ya biar kalian itu lebih nyaman," tawar Rahman.
"nggak bisa kak, aku minta maaf karena kami juga takut nanti kalau bapak angkat kami memarahi.....," mentari hampir saja keceplosan ia langsung menutup mulutnya.
"hai bukannya kamu sebagai kakak ya?," tunjuk Rahman kepada arnius.
"siapa namamu? aku belum pernah mendengar kamu menyebutkan namamu ataupun namamu disebutkan oleh adikmu? aku hanya pernah mendengar adik mu menyebutkan namanya sendiri beberapa kali tapi tidak pernah menyebutkan namamu," tanya Rahman.
"dia adalah Kaka! tentu saja namanya kakak!," sahut mentari.
"!!" Rahman terkejut Rahma menyadari bahwa Anius belum memiliki nama kala itu.
"oke mari kita lanjutkan ke permainan, adik manis mainlah sesuka hatimu apapun yang kamu mau makan lah jangan takut bersosialita nyata dengan yang lain, mereka semua adalah teman-temanku bermainlah dengan puas jika ada masalah beritahu saja aku maka masalah itu akan keluar dalam hitungan detik oke," ucap Rahman memberikan perlindungan kepada mentari sambil mengedipkan sebelah matanya.
setelah beberapa saat kemudian memutuskan untuk beristirahat dalam bermain namun ia membiarkan mentari yang tengah asyik bermain, mereka belum sarapan mereka hanya memanfaatkan beberapa roti tadi pagi saat di perjalanan, arnius begitu bahagia melihat tawa ceria yang keluar dari wajah mentari.
"aku tidak tahu apa yang terjadi dalam keluarga kalian, tapi intinya jika kalian sudah lelah datanglah kepadaku aku benar-benar tulus kepada kalian, akan kuberikan kehidupan yang layak untuk kalian akan kuberikan pendidikan serta segala yang telah terbuang selama ini," ucap Rahman lalu mengalihkan pandangannya, Rahman memiliki rasa bahagia saat melihat orang lain bahagia karena perbuatannya dan juga yang merasa kasihan terhadap kehidupan arnius belum lagi ternyata rasa kasih sayang dalam diri Rahman kini telah tumbuh.
"pikirkanlah baik-baik, kapan pun kalian butuh datanglah kepadaku kapan pulang kalian siap kemari lah kepadaku,aku tidak akan menghilangkan penawaranku," ucap Rahman dengan senyuman karena ia melihat armes hanya melihatnya dengan dalam namun tidak menjawab pertanyaannya.
"baiklah waktunya makan," ucap Rahman.
"adik manis kita makan siang dulu yuk kamu pasti udah laper kan?! dari pagi main-main terus sampai sekarang, pasti lelah kan?," imbuh Rahman yang bertanya kepada mentari dengan setengah berteriak.
mereka pun melakukan makan siang mereka dengan lancar seperti biasa, mentari makanan yang sangat lahap begitupun dengan arnius.
kini hari sudah menunjukkan waktu petang Rahman mengantarkan arnius pulang, di perjalanan saat arnius dan mentari sudah turun dari mobil, mereka berjalan dengan sangat senang dan tersenyum manja.
__ADS_1
namun saat sampai rumah arnius melihat kedua orang tua angkat mereka, yang sudah berjaga di depan rumah.
"bagus ya kalian!," bentak Ibu angkat mereka.
"lu pada temenan sama anak orang kaya akan? nggak usah bohong gua lihat elu sama anak itu, ternyata kalian enak-enak ya selama ini," bentak bapak angkat arnius.
plakk
"lu jangan macam-macam ya sama gua, lu jangan pernah berpikir buat lari dari gua, yang ngerawat elu dari kecil itu gua, camkan itu!," ucap bapak angkat arnius yang mulai merenggut pakaian Arnius.
arnius hanya membalas tatapan bapak angkat ya dengan tatapan tajam.
"lu tahu kan udah orang tua lu itu nggak ada yang mau sama lu, masih mending ya lu itu gue yang ngurus kalau kagak mati lu di jalanan tahu nggak! lu seharusnya bersyukur jadi anak,"
plakk
tamparan keras mendarat di wajah arnius, dan tanpa sengaja itu membuat kayu berjatuhan ke tubuh Arnius, karena mereka saat itu sedang berdekatan dengan tumpukan kayu bakar yang sedang dikeringkan.
"bapak!!!! jangannn pakk!!," teriak mentari yang melihat bapak angkatnya memukul arnius, hingga arnius tertimpa kayu bakar itu, Dan Arnius tidak bergerak sedikitpun saat itu.
"woi bangun lo, jangan pura-pura ya jadi anak," ucap bapak angkat arnius yang menyenggol nyenggol tubuh arnius. saat menyadari arnius ternyata tidak bergerak sama sekali, dan dia tidak sadar atau mengalami kehilangan kesadaran, di saat itulah bapak angkatan Arnius panik, iya mulai mengalihkan kayu kayu yang menimpa arnius, lalu berusaha membangunkan arnius.
"bang gimana nih jangan-jangan anak mati," ucap ibu angkat arnius.
"ah!! diem lo!," jawab bapak angkat Arnius.
"kakak!!!," teriak mentari yang menangis. lalu mentari melihat ke sekeliling seperti mencari bantuan.
"!!"
__ADS_1
"kak Rahman!!," seketika tangis Mentari semakin pecah karena menemukan sesosok Rahman di hadapannya kala itu, seperti seorang anak yang meminta bantuan dengan bersungguh sungguh dalam situasi yang begitu genting.
bersambung..