Cinta Zahra

Cinta Zahra
pernikahan didalam kesedihan


__ADS_3

Aria menatap Zahra dan Yeni juga Tini berharap agar dapat berbicara berdua saja dengan Zahra. mereka yang seolah olah mengerti akan maksud Aria, akhirnya memutuskan untuk bergegas pergi memberi ruang kepada mereka berdua.


"hmmh bagaimana keadaan kamu, dan dia?," Aria menatap Azan yang berada di pangkuan Zahra lalu duduk disebelah Zahra.


"alhamdulillah Azan membaik, pengobatannya selama setahun ini alhamdulillah sangat baik," Zahra menjawab pertanyaan Aria dengan tersenyum


"aku mau ngomong sesuatu sama kamu,"


"iya, ada apa?" tanya Zahra


"aku menikahi kamu karena ibuku, jadi aku harap kamu jangan berharap lebih dariku, aku hanya bisa menafkahimu selebihnya kuharap kamu urus sendiri, masalah pengobatan aku akan memberikan yang terbaik," tutur Aria yang langsung mengarah pada inti pembicaraan dan berharap agar Zahra dapat mengerti kan dengan baik apa yang di maksud dengan Aria.


Zahra hanya tertunduk terdiam mendengar perkataan Aria ia tersenyum mengangguk. Lalu Aria memberikan selembar kertas pada Zahra.


"apa ini mas?,"


"itu adalah kontrak perjanjian, kamu boleh melakukan apapun tanpa seizinku selama masih menjaga nama baik keluarga, begitu pun dengan aku, jangan mengatur hidupku, aku akan tampak menjadi suami sesungguhnya dihadapan keluargamu, begitupun kamu, tapi dibalik itu semua kita tak lebih hanya sekadar orang yang baru mengenal satu sama lain," Jelas Aria


"aku mengerti, tapi surat kontrak ini aku tidak membutuhkannya, aku janji aku tidak akan melakukan hal yang melewati batas dan seperti yang tertera," jawab Zahra dengan lemah lembut


"oh dan ya aku mempunyai orang yang aku cintai," Lanjut Aria tidak ingin Zahra salah paham dengan sifat nya sewaktu waktu nanti.


"haha iya iya aku tau kok mas, gapapa aku ngerti, ya kan Azan sayang ya?," senyum Zahra sambil memainkan Tangan Azan seolah olah iya berbicara dengan azan.


"mama, mama," Azan memanggil Zahra memainkan wajah Zahra,


"uh sayang makin jelas aja suara bicaranya cepat besar ya anak mama," Zahra mencandai Azan sehingga Azan tertawa kencang. Aria yang melihat mereka entah ada perasaan apa yang dirasakan oleh Aria saat ini, ia bimbang antara benar ataukah salah.


" wah dia anak yang lucu," Aria memegang tangan azan.


Azan menatap Aria seperti minta digendong, iya memainkan tangannya dan menjulurkan tangannya pada Aria.

__ADS_1


"ah sepertinya azan mau digendong ya, tapi pak Aria capek sayang," cemas Zahra takut merepotkan Aria.


"gapapa sini om gendong, " Aria semakin ramah terhadap Zahra dan azan ada rasa persahabatan dihati nya.


hal tersebut disaksikan oleh Tari dan kedua sahabat Zahra, mereka tersenyum senang melihat keakraban antara Zahra dan Aria.


hari sudah malam Zahra memutuskan untuk menginap dirumah sakit merawat ayahnya.


"uhuk uhuk.. nak kamu istirahat saja ayah gapapa, cucu ayah juga sudah tidur, kamu harus menemani dia uhuk uhuk," Bayu memaksa Zahra yang sedari tadi terus mengurusnya membacakan nya ayat suci Al-Qur'an, membersihkan tubuhnya,menyuapinya bahkan sampai memijitnya.


"tidak ayah, aku tidak lelah, aku bangga bisa seperti ini merawat ayah dengan sepenuh hati, sudah lama aku merindukan saat saat bersama ayah,"


"nak kamu adalah satu satunya anak ayah, salah satu mimpi terbesar ayah adalah menjadi wali dihari pernikahanmu uhuk uhuk uhuk,"


"ayaah sudah, ayah pasti akan menjadi wali Zahra, jika bukan ayah siapa lagi, ayah sudah lelah ayah istirahat ya jangan terlalu banyak berbicara, ayah masih belum sehat," hati Zahra sudah menyesak mendengarkan kata kata Bayu


"uhuk uhuk nak ayah sudah tua, bahkan sakit sakitan seperti ini, ayah rasa umur ayah..,"


Zahra menangis sejadi jadinya didalam kamar mandi ia tak sanggup menyaksikan orang yang begitu disayangi nya, diberi cobaan oleh allah swt. untuk diambil segala dosanya, namun begitu nikmat rasa sakit yang dirasa.


Zahra khawatir terhadap Bayu yang sudah lumayan lama ia tinggal kekamar mandi, Zahra memilih kamar mandi yang berada diluar kamar inap Bayu agar Bayu tak menyadari tangis Zahra. Diperjalanan kembali kekamar Bayu Zahra melihat ada beberapa suster dan juga dokter didalam sedangkan Ningsih Tari serta sahabatnya nampak begitu khawatir.


Zahra panik ia berlari mendekat, disangsikan nya lah ayahnya yang kini kejang kejang, infus yang sudah dibuka oleh dokter untuk mencegah terjadinya hal yang lebih parah, keluar busa dari mulut Bayu bola mata yang mengarah keatas hampir hanya putihnya saja yang terlihat, membuat Zahra begitu panik.


"laa haula wala kuwata illa billah, subhannallah subhannallah allah huakbar akbar, ya allah berilah aku kesempatan mewujudkan keinginan ayah hamba mohon ya allah hamba mohon," Zahra terduduk dilantai dia mengulangi berkali kali permohonannya pada allah swt.


dokter akhirnya keluar ruangan.


"dok gimana dok, gimana keadaan suami saya," Ningsih yang begitu khawatir akan keadaan Bayu.


"maaf buk kita memang sudah bisa menyadarkan pak Bayu namun keadaan nya masih belum stabil, dan ya pak Bayu memanggil manggil nama Zahra, siapa kah diantara kalian yang bernama Zahra?,"

__ADS_1


Ningsih memandang Zahra, Zahra mengangguk mengerti ia langsung berlari pada Bayu, Bayu menjulurkan tangannya Zahra dengan sigap meraih tangan Bayu diciumnya berkali kali, ia memeluk tangan Bayu erat. Dipandangnya mata yang sayu lemah dan berair mata itu, seperti Bayu menyesali perbuatan yang lampau.


Zahra tak kuasa melihat ayahnya ditaruhnya pelan tangan ayahnya lalu berlari keluar menuju Tari.


"buk Tari saya mohon kabulkan permintaan saya," Zahra menggenggam erat tangan Tari.


"iya nak iya,"


"tolong panggil pak penghulu, saya ingin menikah sekarang saya mohon, saya tidak ingin menyesal."


Tari melihat kekhawatiran dimata Zahra, dengan penuh harapan tari pun mengabulkan keinginan Zahra.


sebelum ijap qobul pak penghulu menanyakan mahar apakah yang diinginkan Zahra.


Zahra menatap kearah Aria penuh harapan.


"Aku akan langsung menyuruh seseorang membawakan yang kamu inginkan nak, katakanlah, " sela Tari ditengah tengah kegelisahan Zahra.


" tidak ibu saya hanya ingin uang tujuh ribu rupiah saja," ucap Zahra sembari mengusap air mata.


"akan kubacakan surah al kahfi sepuluh ayat pertama in shaa allah aku masih ingat, namun maaf jika surrah arrahman yang kamu inginkan aku sudah tidak bisa,"


Zahra terkejut dengan pernyataan Aria dan Zahra pun mengiyakan perkataan Aria. dan alhamdulillah pernikahan pun berjalan dengan lancar Ningsih yang menggenggam tangan Bayu, memberikan tangan Zahra dan Aria pada Bayu agar ia genggam bersama.


dengan wajah tersenyum Bayu menangis, ia memandang anak, menantu, istrinya serta besannya bergantian.


"laa... illa.. ha illallah.. " ucap Bayu lirih sembari memejamkan matanya, dan seketika tangan nya yang menggenggam tergeletak.


"ayaahhhhhhhhhh!!,"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2