Cinta Zahra

Cinta Zahra
Step by Step


__ADS_3

*Langkah pertama*


pesan Tini pada Aira melalu handset bluetooth yang sedang di kenakan Aria pada ponsel nya saat ini:


dekati Zahra ketempat kerjanya yakni ke kedai kopi, ambil hati Zahra dengan perhatian penuh, dekati dia dengan perlahan dan buat dia jatuh hati lagi pada tuan. kata Tini dengan penuh keyakinan dan penekanan


Dan benar saja Aria mengikuti instruksi dari master cinta yang mengarahkan nya saat ini. Aria yang kini telah berada di Antrean para pelanggan yang memesan kopi pada Zahra. setelah ia menunggu antrean beberapa saat akhirnya tibalah saat giliran Aria yang memesan, ada sedikit kegugupan pada diri Aria karena ini lebih terkesan seperti seorang pria yang sedang mencoba merayu seorang wanita.


"silahkan anda ingin memesan apa, cofee latte, capuchino, tora chino, kopi pahit, es kopi, " kata Zahra dengan ramah tamah sambil memandang komputer tempat pemesanan,


"!..." Zahra terdiam seketika ia terkejut melihat sosok yang ia temukan didepan nya, ia tidak menyadarinya sedari tadi karena ia tidak memperhatikan.


" Ra.."


"maaf saya sedang bekerja, " potong Zahra, "jika anda tidak ingin memesan tolong jangan halangi antrean, " Zahra menunjuk kearah antrean.


" oke kalau begitu aku pesan apa saja yang penting buatan kamu,"


"sssstttttt ya allah, " geram Zahra, masih mencoba untuk bersabar.


"oh itu deh kalau begitu begitu, Coffee latte aja," cengir Aria. Beberapa saat kemudian Aria menerima pesanannya.


"ini pesanan anda, totalnya RP12.500," Zahra memberikan coffee latte yang dipesan Aria


"tapi aku ngak bawa uang kecil, ck lupa tukar uang dollar ke bank juga tadi, lupa untuk ambil uang cash," Aria mengeluarkan dompetnya yang berisi dollar semua, ia benar benar lupa untuk ke bank hari ini.


Tini yang mendengar dari telepon sempat tercengang. buset gila bener dah ni orang segitu kayanya dia, gua jadi Zahra ngak bakal dilepas!!. Begitulah isi dari pikiran Tini saat ini


"ya udah gapapa nanti aja biar aku yang bayarin sekarang tolong jangan menghalangi antrean bisa?," ucap Zahra yang awalnya senyum dan ramah menjadi penuh penekanan pada akhir kalimatnya.


Lalu Aria duduk ditempat duduk yang tersedia. Ia memegang handset yang ditelinganya.


"yaelah masa iya PDKT kaya begitu sih ngomong nya," kata Tini dari seberang yang mendengarkan gerak gerik Aria melalui telepon.


"kamu kenapa ngak bilang harus Bae uang kecil, aku mana tau harga kopi semurah itu, biasanya aku cuma tinggal langsung minum aja, sisanya Yus yang mengurus, entah bayar kopi dan yang lainnya ngerti ngak sih," celetuk Aria dengan kesal


"ye mana ku tau bos itu sampe segitunya. Eh tapi bukan itu yang aku maksut ya ampun deh," sambung Tini


"yah terus gimana dong?"


"lu mah gak cocok jadi playboy bos,"


"kamu ini ngomong apa sih!,"


"eh iya iya tuan maaf maaf keceplosan tadi ituh,"

__ADS_1


"yaudah sekarang gimana?," Aria melihat Zahra, ia menatap Zahra yang kini nampak risih dengan seorang pelanggan yang mencoba merayu Zahra.


"dasar anak gak tau diri!,"


"woi selow bos jangan ngegas kek," cerocos Tini yang tersinggung dengan perkataan Aria.


"bukan kamu tapi lelaki yang lagi deketin Zahra, sekarang juga aku harus hajar dia,"


" stop dulu bos, sekarang aku kasih taktiknya,"


Aria tidak mendengar kan Tini karena api kecemburuan nya sudah membara, lalu ia menghampiri Zahra, menggenggam tangan Zahra yang hampir saja tersentuh oleh lelaki tersebut karena modus ingin mengambil kembalian.


"woi dasar kere," kata Aria terhadap lelaki tersebut.


Buset sejak kapan nih bos kaya bisa ngomong pake bahasa kasar begitu yak. Pikir Yeni yang mendengar gaya bicara Aria sedikit terkejut karena sudah tak ada nada ber wibawa lagi.


"enak aja lu bilang kere pak,"


"nih kembalian receh lu, " Aria memberikan kembalian lelaki tersebut yang bernama Alex .


"apaan sih mas dia itu,...." kata kata Zahra terpotong oleh Aria.


"apa dia itu siapa hah! sengaja ngambil kopi berlebihan biar bisa nyentuh kamu gituh?, ambil kembalian biar megang tangan kamu, mandang kamu pake mata gatal, iya kamu suka gituh?," bentak Aria tak suka. Zahra hanya terdiam karena merasa yang Aria katakan benar, namun ia juga merasa sedikit bahagia dan takut, bahagia karena perhatian Aria dan takut karena amarah Aria yang kian membara.


"lah biarin dong suka suka gua emang lu siapa?, gua mau sama siapa juga itu urusan gua, gua juga kagak kenal ama lu, haha wajah lu aja yang agak familiar, " geram Alex.


pukulan Aria menghantam tubuh Alex , tiba tiba datang lah pengawal lelaki tersebut ingin menghajar Aria.


Namun Aria tertawa dan menepukan tangannya.


sepuluh menit kemudian


"hahahaha cuma segitu kemampuan kamu, aku bahkan jijik melihat bayanganmu," Ejek Aria dengan bahasa sok wibawanya menekankan bahwa dialah sultan nya. Aria kini menyaksikan kedai kopi itu telah sepi pelanggan, tertutup Tirai agar tak terlihat siapapun diluar yang dapat disaksikan dari luar hanya Suara hantaman dan barang yang berhancuran. kini pula para pengawal Alex telah ambruk.


" si siapa kamu, akan kuberi tahu pada ayahku, ayahku pengusaha dan kedai kopi dikafe ini adalah milik ayahku," geram Alex


"hahaha baguslah, Yus siapa pemilik kafe ini?" Aria berbicara pada Yus yang berdiri disampingnya.


"hermanto sutomo, tuan,"


"katakan padanya aku menutup kafe ini, jika dia tidak ingin aku menutup perusahaannya katakan padanya bahwa anaknya ini harus menghilang dari hadapanku selamanya!," perintah Aria telak tak dapat dibantah.


Aria lalu meraih Zahra yang masih terdiam menyaksikan adegan kekerasan tersebut meskipun dia sendiri tak tergores sedikitpun.


"sini sayang, " Aria menggendong Zahra, Zahra terdiam tak membantah ia merasa masih ada hawa pembunuh dari Aria dan jika ia melawan maka habislah dia.

__ADS_1


gila! hebat bener dah ini orang kaya, demen ya punya kelewatan tajir kek begini. Pikiran Tini sudah mulai halu seolah olah ia sedang menyaksikan sebuah drama Korea di bioskop


"tunggu dulu si siapa sebenarnya... " kata kata Alex yang terbata bata terpotong oleh Yus sekretaris pribadi Aria.


"dia adalah tuhan kami rajanya Asia yakni tuan Aria Adiwijaya, "


"a apa a aria Adiwijaya, tapi bukankah dia sudah beristri lalu," gugup Alex


"ya yang anda ganggu adalah nona muda kami istri tuan Aria, anda masih beruntung karena masih hidup berkat tatapan nona kami yang iba, berterimakasihlah pada tuhan," Yus lalu pergi berlalu.


****glek****


Alex menelan Ludah hampir saja ia membuat keluarga nya tak memiliki kehidupan sedikitpun.


***


dimobil Aria membasuh tangan Zahra berkali kali, mengelapnya, bahkan sampai meniupnya dan menciuminya.


"apa sih mas," geram Zahra.


" jika seandainya dia tidak pernah menyentuhmu meski hanya sehelai bulu tubuhmu aku akan lebih mengontrol diriku,"


"dia ngak sengaja kok nyentuh tangan aku, aku juga ngak mau bersentuhan sama yang bukan mahram," kata kata Zahra penuh penekanan di ujung kalimat


"aku ingin sekali membunuhnya, seandainya saja aku tidak ingat kamu," kata Aria tidak menghiraukan Zahra.


"stop mas aku turun disini,"


"ngak!!, kamu aku antar sampe rumah, tidak ada penolakan, " kini nada Aria lebih serius dari yang sebelumnya, Zahra akhirnya terdiam melihat Aria yang kini memeluk tangannya memainkan tangannya bahkan menciumi tangannya.


"bagus tuan top bangetlah tu, andainya gua diposisi Zahra," Suara tini mengejutkan Aria, ia terlupa bahwa telepon nya masih tersambung.


"ra pulanglah kerumah, aku rindu," suara Aria membuyarkan Zahra


deg


Zahra menatap Aria lalu memalingkan wajah, melepaskan tangannya dari genggaman Aria.


"maaf mas saat ini aku masih belum bisa,"...


Aria menatap Zahra sedih ia pun sedikit meminggirkan tubuhnya, dan menghadap jendela, ia merasa berkecamuk dalam hatinya.


"baper gua baper, sumpah!!," teriak Tini dari telepon yang mengejutkan Aria, karena Aria kesal ia pun mematikan telepon dari Tini.


"lah kok terputus, halo! halo!," Tini berbicara namun sudah tidak ada sahutan.

__ADS_1


"tuh kan gagal dah menyaksikan real drama, nyerocos terus si lu Tin," gumam Tini kesal pada dirinya sendiri


bersambung...


__ADS_2