
waktu sudah magrib, setelah selesai shalat magrib, Aria dan Zahra kembali pulang, azan yang begitu kelelahan sudah tertidur begitu lelap mulai dari perjalanan nya pulang bahkan tak terbangun meskipun Zahra mengganggu nya dengan menggantikan nya pakaian sesekali Azan hanya mengeliat karena merasa terganggu oleh Zahra yang menggantikannya pakaian.
Zahra yang kini juga kelelahan memilih untuk pergi mandi setelah berberes karena badan nya yang penuh dengan keringat karena aktifitas nya seharian ini, Aria telah mandi terlebih dulu dan seperti anak anak Aria meminta Zahra untuk membersihkan kepala Aria dengan Handuk, Aria begitu manja pada Zahra, semakin hari ia semakin menjadi manja namun ia tetap saja bingung dan bimbang dalam menimbang hati nya karena di dalam hatinya tetap saja ada nama Angel.
"Ra," lirih Aria.
"mmh," sahut Zahra perlahan
" kenapa masih bertahan jadi istri aku, kamu kan tau aku suka sama siapa,?" Aria bertanya dengan menundukkan kepalanya yang sedang di keringkan oleh Zahra
"entahlah rasanya tidak ada salahnya jika aku berjuang, aku percaya pada allah, allah tau yang terbaik, dan dia dapat membolak balikan hati manusia segampang membolak balikan telapak tangan, lagi pula aku berjuang untuk suami aku lelaki yang sudah menjadi mahram ku bukan lelaki yang bukan mahram ku yang apa bila aku berjuang untuknya maka akan sia sia dan Allah pun akan cemburu nantinya sehingga bisa membuat hambanya itu merasakan rasa di khianati sama seperti hambanya yang telah mengkhianati diri Nya" jelas Zahra panjang lebar dengan penuh senyuman yang begitu tulus
"tapi ra untuk saat ini.."
"ah sudah selesai, nah rambutnya sudah kering dengan bersih, sudah disisir wahh tampan juga ya suami aku, uuu cucucu lucunya" potong Zahra yang merasa tak sanggup mendengar kata kata yang akan dilanjutkan Aria ia takut jika itu sampai melukai hatinya, karena semakin hari pertahanannya semakin melemah jika Aria terus melemahkan ya menabrak nya dengan selalu mengingatkan dirinya bahwa Aria sesungguhnya menyukai siapa.
"Ra," lanjut Aria kali ini dengan menghadap Zahra yang Awalnya membelakangi Zahra karena dibersihkan rambutnya oleh Zahra.
"fiuhhh capek ya mas, aku mau mandi dulu dah keringatan banget nih hehe mandi dulu yah," Zahra mengalihkan pembicaraan dan langsung pergi meninggalkan Aria.
setelah 20 menit kemudian, Zahra keluar dari kamar mandi dan mendapati Aria yang hanya berbalut handuk sedang sibuk mengobrak abrikan lemari.
"mas cari apa,?" tanya Zahra yang memerhatikan Aria sembari mengelap rambutnya yang basah dengan handuk, sekalian saat itu ia melakukan mandi suci.
"kamu tau ngak? dimana piama tidurku yang warna abu,?"
"ya Allah mas masih belum berpakaian juga haha, kenapa ngak pake yang ada aja si? dasar kamu mah ya mas, coba sini aku yang cari," Zahra lalu mencari piama tidur Aria dengan memegang handuknya di tangan sebelahnya," mana ya?, perasaan aku taruh disini,"
Tanpa di sadari Aria telah memperhatikan Zahra yang menggunakan kemeja tidur selutut tanpa bawahan, berwarna putih yang membuat lekukan tubuh nya sedikit terlihat, ditambah rambutnya yang basah membuat Aura Zahra semakin memikat saat itu.
"nah ini dia ketem.. mmmh,"
Zahra yang berdiri ingin memberikan piama tidur pada Aria, seketika kata katanya tertahan karena Aria tiba tiba saja menghampiri Zahra dan mencium Zahra perlahan ia memberi kecupan mesra nya pada Zahra, Zahra terkejut ia membulatkan matanya seketika, ini pertama kalinya ia disentuh oleh lelaki yang memang benar benar sah untuk nya dimata agama.
__ADS_1
Aria membuang piama yang dipegang Zahra, melepaskan tindakan nya dan memberi Zahra waktu untuk bernapas, ia mengecup pelan kening Zahra sembari berkata "ini semua milikku," lalu menggendong Zahra menuju tempat tidur, tak lupa sama sama mengucapkan doa saat akan berhubungan layaknya suami istri.
"bismillah, allahumma jannibassyaithona wa jannibi syaithona marozaqtana ( dengan nama allah, ya allah jauhkanlah kami dari godaan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang engkau anugerah kan kepada kami),"
nafas yang panjang keluar dari suami istri yang sedang melakukan Sunnah Rasul nya nya pada malam itu
***
hari sudah menunjukkan pukul 4.00 pagi, suara seseorang yang sedang mengaji telah terdengar dari masjid, kali ini Aria terbangun lebih dulu, ia menciumi bahu Zahra yang membelakanginya tepat disebelah tanda yang ia buat pada Zahra semalam, Aria tersenyum lebar saat menciumi bahu Zahra entah mengapa tapi ia akan tertawa bahagia sekaligus merasa lucu karena apa yang telah ia lakukan semalam. Namun ia masih mencoba menetapkan hatinya, jika kini ia benar benar mencintai Zahra lalu apakah maksudnya angel yang masih dihatinya.
"mmmh, " lirih Zahra karena Aria yang tak henti menciumi nya.
"tidurlah sebentar lagi masih ada waktu, nanti ku bangunkan," bisik Aria masih dengan posisi wajah dibahu Zahra.
"mmmh" angguk Zahra entah karena terlalu lelah atau apa kali ini Zahra memilih untuk tidur lebih lama lagi lebih tepatnya Zahra juga merasakan begitu malu terhadap Aria karena kejadian semalam yang masih terbayang.
Hari sudah cerah Zahra sudah berada didapur sedang memasak, Aria turun dari Atas, ia mendapati Zahra yang memasak.
"hmmh hati hati ya, bawa bekalnya aku siapin sebentar," senyum Zahra sembari memegang tangan Aria
entah aku saat ini mungkin menjadi serakah karena tak ingin kehilangan Zahra dan juga tak ingin menyakiti angel. batin Aria
"tuan maaf,!" pak udin setengah teriak pada Aria.
"kenapa pak,"
"anu anu tuan,"
"iya bilang aja,"
"anu tuan diluar sedang ribut ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan anda namun sesuai keinginan anda saya tidak mengizinkan nya masuk," pak udin khawatir dan memandang zahra cemas.
"iya tapi itu siapa?,"
__ADS_1
"anu,"
"anu anu siapa sih pak!," Aria kesal hingga berteriak.
"nona angel,"
Aria terkejut ia pun berlari menuju angel dan pergi membawa angel hingga ia pun terlupa bersalaman dengan Zahra
apakah yang semalam hanya mimpi?, Batin Zahra terluka ia memegangi dadanya menahan sesak
Sore tiba, Aria pulang sesampainya dari rumah ia disambut hangat oleh Zahra namun saat melayani Zahra untuk makan dan mandi Zahra hanya terdiam karena masih terluka.
"ra, " panggil Aria
dreet dreet
kata kata Aria terpotong karena ada telfon masuk, ia memandang Zahra.
"ra angel masuk rumah sakit, aku minta maaf ya kita harus segera kerumah sakit sekarang."
Zahra menggangguk mengikuti Aria, sesampainya disana Aria melihat Angel yang merengek seperti anak kecil dan kegirangan saat Aria datang ia memeluknya bahkan meminum obat yang disuapi Aria yang diperoleh dari dokter.
disisi lain Zahra menunggu di diluar, tiba tiba seorang pria menghampiri Zahra.
"gimana kabarnya ra?, lama ngak ketemu,"
*deg
suara ini ngak asing*. batin Zahra lalu ia menoleh.
"mas Andrean,!"
bersambung....
__ADS_1