
"Pakeeettt.." teriakan kurir di depan membuatku yang sedang membawa baskom besar berisi pakaian yang harus aku jemur berhenti
"Iya sebentar....." jawabku sama berteriaknya
Aku segera meletakkan baskom tersebut dan berjalan ke depan
"Terima kasih" ucapku pada abang kurir yang menganggukkan kepalanya
"MP?" gumamku
Dengan segera aku duduk dan langsung mengambil gunting yang aku letakkan di bawah meja dekatku duduk
"Ini pasti dari Mario" gumamku
Segera aku unboxing paket tersebut dan aku langsung tercengang ketika melihat isinya
"Ya Tuhan......" desis ku tak percaya
Aku segera mengeluarkan isi paket tersebut dimana isinya adalah skincare lengkap, dan aku sendiri tahu skincare tersebut tak main-main harganya, karena itu produk luar, bukan produk lokal
Segera aku mengambil hp dan menghubungi Mario. Tersambung tapi tak diangkat, dengan mendecak kesal aku segera memasukkan kembali skincare tersebut kedalam dus nya tadi lalu membawa dusnya ke kamar Bobbi dan meletakkannya dalam lemari
Setelah itu aku melanjutkan menjemur pakaian dan tak mendengar jika hp ku berdering
Selesai dari belakang aku langsung naik ke atas menuju kamarku dan mandi
Setelah itu saatnya aku live barang produk jualanku, aku mengambil hp yang tadi aku letakkan di atas meja
"Mas Arif?" gumamku ketika melihat ada dua panggilan tak terjawab
Dengan malas aku membuka pesan yang juga dikirimkan mas Arif
Ma, aku hari ini diputuskan mutasi ke daerah jauh
Aku tersenyum sinis membaca pesannya
"Untung cuma dimutasi, harusnya kamu itu dipecat" ucapku dengan kesal sambil meletakkan hp
Lalu aku membuka aplikasi sosial mediaku, lalu aku mulai melakukan siaran langsung
Sebelum siaran langsung aku telah menyiapkan barang yang akan aku promosikan
Di sela-sela aku promo ternyata ada yang komen jika mereka mau mengajakku bekerja sama untuk mempromosikan makanan yang ada di restoran mereka
"Kita bicarakan setelah live ini ya pak...." ucapku membalas komentar beliau
Dan ternyata bukan hanya restoran tadi yang mengajakku bekerja sama, ternyata ada juga pihak kosmetik
Dan aku yang belum pernah mendapatkan endors hanya menyetujui dan meminta untuk membicarakan secara serius setelah live aku yang sedang mempromosikan barang daganganku
Ntan jualin barang aku juga dong, nanti adalah komisi untuk kamu
Aku mengangkat jempol ku mengomentari komentar temanku.
Diantara yang melihat live aku ada Mario, tentulah aku agak sedikit kaget dan juga malu, tapi ah, terserahlah, toh aku jualan kok bukan lagi live apa-apa
Baca inbox ya sis
Aku tersenyum membaca komentar Mario
"Apalah orang ini" batinku
Sekitar satu jam aku live, dengan cukup banyak komentar, like dan pesanan
Dan aku sangat bersyukur, tiap barang yang aku iklan kan ada saja yang memesan
"Inbox ya sista jika ingin info lebih lanjut" ucapku mengomentari pertanyaan yang panjang dan mendetail
Dengan melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih aku mengakhiri live ku kali ini, lalu aku segera membuka aplikasi messenger
Pesan dari Mario belum aku baca, aku lebih fokus membaca dan membalas dari orang lain yang bertanya harga, ongkos kirim, harga reseller dan juga lain-lain
Dan yang paling menarik minatku adalah ajakan kerja sama yang memintaku untuk mempromosikan jualan mereka
Tanpa pikir dua kali aku segera mengiyakannya karena aku yakin ini akan makin menambah penghasilanku
Dan terakhir barulah aku membaca pesan dari Mario
__ADS_1
Bisa antar alamat tidak?
Aku mendecak kesal membaca pesannya, baru juga aku selesai membaca pesan tersebut hp ku berdering
"Maaf ya Ntan tadi aku lagi ada tugas jadinya nggak bisa angkat telpon kamu"
"Iya nggak apa, harusnya aku yang minta maaf karena nggak sadar kalau kamu sedang dinas"
"Ada apa Ntan?"
"Mario, apa sih maksud kamu ngirimin aku skincare?"
Mario diam, tak menjawab pertanyaanku
"Mario?!" geram ku
"Kamu nggak suka Ntan?"
"Nggak!!"
"Loh, kenapa?"
"Ya nggak suka aja"
"Padahal aku sudah beli dan rela-rela nyuruh kurir dari sini langsung untuk ke rumah kamu"
"Gila kamu"
Terdengar suara tawa dari Mario
"Maaf ya Mario, aku nggak bisa nerima hadiahnya, aku akan kembalikan lagi sama kamu"
"Loh kenapa Ntan?, kenapa dibalikin, kan aku udah beli untuk kamu, ya kamu pakai aja"
Aku memegang keningku dengan frustasi
"Aku nggak bisa Yo"
"Ya kenapa nggak bisa?"
"Kamu boleh balikin, tapi kamu antar kesini, ketempat aku!!"
"What?!"
"Iya, aku loh nyuruh kurir dari sini nganter ke rumah kamu, jadi sebagai gantinya kamu yang antar balik kesini barangnya"
Tentulah aku menjadi kesal dengan jawaban Mario
"Oke, besok aku balikin!"
Setelah berkata begitu aku menutup panggilan sepihak lalu meletakkan hp dengan kesal
Sorenya saat aku mencatat barang-barang pesanan orang, suamiku pulang
Aku hanya menjawab salamnya tanpa mengalihkan perhatianku dari hp
"Ma.....?" ucap mas Arif yang menarik kepalaku lalu mencium keningku
Aku mendorong dadanya agar menjauh dariku lalu aku kembali fokus menulis, lebih tepatnya aku merasa risih diciumnya
"Nyatet apa sih ma?"
"Pesanan orang"
"Ma?"
Aku meletakkan pena, lalu menatap kearah suamiku yang duduk di kursi sedangkan aku duduk di lantai
"Kenapa?" jawabku dengan wajah masam
"Besok papa berangkat keluar daerah ma"
Aku bergeming, sedangkan wajah suamiku berubah sendu
"Terus kenapa memangnya?" tanyaku masih dengan nada cuek
"Kok nanya nya gitu ma?, apa mama nggak sedih jauh dari papa?"
__ADS_1
Aku melengos dengan tertawa kecut
"Ada atau nggak ada kamu, sama aja mas"
Mas Arif diam, kudengar dia menarik nafas panjang
"Kapan sih ma, mama memaafkan papa"
Aku tak menjawab melainkan terus menulis dan menghitung menggunakan kalkulator hp, lalu aku tersenyum sambil membayangkan uang laba yang akan aku terima
"Kenapa ma?"
Aku tak menjawab melainkan segera berdiri lalu meninggalkan suamiku sendiri
Malamnya sebelum tidur, kulihat mas Arif tampak berkemas, dan aku hanya membiarkannya saja, aku memilih naik ke ranjang dan membelakanginya yang masih sibuk memilih pakaian
"Ma?"
Aku diam tak menjawab
"Besok papa pergi ma, jauh, seminggu sekali baru bisa pulang"
Aku masih diam tak menjawab
"Ma, bantuin kenapa sih ma?, papa bingung nyusun pakaiannya"
"Belajar, jangan selalu aku, selalu aku. Jangan giliran nggak enak balik sama aku, giliran enak kamu lupa sama aku" jawabku ketus
"Ya Alloh tolong dong ma...."
Aku menutupkan selimut ke dadaku lalu memejamkan mataku biar mas Arif tidak sibuk minta bantu lagi
"Ma, papa nyesel ma, masa mama nggak mau maafin sih ma, ma?"
Aku menahan kesal karena mas Arif terus-terusan berbicara yang nggak bermutu
"Mama dengan siapa kalau papa jauh?, mama ikut papa aja ya?, kita pindah...."
"Nggak, mas kalau mau pindah, pindah saja sendiri jangan ajak-ajak kami, makanya mas kalau melakukan sesuatu itu mikir jangan tahunya senang aja. Ingat selincah-lincahnya tupai melompat pasti jatuh juga ke tanah"
Kudengar tarikan nafas panjang dari mas Arif dan aku kembali memiringkan tubuhku membelakanginya
"Masa mama tega sih ma biarin papa sendiri di negeri orang" suara mass Arif tampak sedih
Aku duduk lalu menatap kearahnya
"Yang tega itu kamu mas, mengapa kamu tega serong di belakang aku, dan asal mas tahu, aku sudah tahu semua kelakuan mas diluar kaya apa. Jangan pikir aku nggak tahu mas ya, kemana mas jika telat pulang, jangan mas pikir aku nggak tahu jika mas itu sering ngamar dengan pelacur"
Mas Arif berdiri lalu duduk di dekatku
"Fitnah apa yang telah kamu lontarkan sama aku ma?, tega kamu ma, aku sudah berusaha lembut, ngomong baik-baik malah mama semakin hari semakin ketus sama aku"
"Oh masih mau ngeles kamu, oke, tunggu disini" jawabku sambil menyibak selimut dan turun dari ranjang lalu aku mengambil hp
Segera aku mendial nomor Mario
"Ya Ntan?"
"Tolong kirimin video tentang kelakuan suami aku ke aku sekarang, ya?"
"Kok nada suara kamu kaya kamu marah gitu, Ntan?"
"Udahlah nggak usah banyak tanya, aku lagi kesal sekarang" ucapku sambil segera mengakhiri obrolan
Ting!
Aku segera membuka video yang dikirimkan Mario, lalu aku meneruskannya ke hp mas Arif
"Buka sekarang hp mas, mas lihat sendiri bukti yang aku dapatkan!" ucapku lagi dengan marah
Mas Arif bangkit lalu mengambil hp yang diletakkannya di dekat koper
Kulihat jelas jika matanya terbelalak kaget dan aku yang melihat perubahan wajahnya menjadi makin kesal
"Masih mau ngelak?" ucapku lagi
Mas Arif diam, dia hanya menelan ludahnya dengan memandang tegang ke arahku
__ADS_1