Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Penyesalan


__ADS_3

Aku menghembus nafas panjang ketika mengetahui jika itu adalah Mirna. Dan aku membiarkan Mirna untuk meluapkan kekesalannya padaku terlebih dahulu, baru setelah itu aku akan menjawab semua tuduhannya


“Sudah kamu ngocehnya?” tanyaku ketika Mirna diam


Mirna masih diam, dan sekarang adalah waktunya untuk aku balik mengocehinnya


“Dengerin aku ya Mir. Harus berapa kali aku bilang sama kamu, aku tidak tertarik lagi sama mas Arif. Dan asal kamu tahu, aku yang meminta mas Arif untuk menikahi kamu. Jika tidak karena aku yang memaksa mas Arif, aku yakin kamu akan menjadi ibu tanpa suami. Kamu sadar dirilah Mir, kamu itu siapa. Orang biasa, tidak cantik juga. Sebelas dua belas juga lah sama aku, sama-sama burik”


“Tapi aku masih punya hati dengan merelakan mas Arif menikahi kamu karena aku masih mikir masa depan kamu, kalau aku nggak mikir masa depan kamu yang sudah mas Arif hancurkan, ih bodoh amat. Mau kamu bunting nganggur juga apa peduliku, iya kan?”


Mirna diam tidak menjawab perkataanku, aku tahu dia pasti sakit hati dengan semua perkataanku, tapi terserah, toh dia yang memulai duluan. Selalu sengit tiap melihatku, dan kali ini malah menuduh aku yang tidak-tidak


“Dengar ya Mir. Aku akan menikah tiga minggu lagi, asal kamu mas Arif itu masa lalu aku, aku nggak perduli dengan dia saat ini. Kalau dia lari dari kamu, meninggalkan kamu, ya kamu terima takdir dong. Sesuatu yang diambil dengan cara dipaksa itu memang akan pergi suatu hari nanti Mir. Kamu ingat kan bagaimana kamu mengambil mas Arif dari ku dan kedua anakku?”


“Nah, kalau sekarang mas Arif pergi dari kamu bukan salah aku dong. Coba kamu intropeksi diri, sama kayak aku dulu yang selalu berfikir kenapa mas Arif selalu selingkuh dari aku. Aku aja yang pinter cari uang, yang nggak selalu menadahkan tangan ke mas Arif saja masih di selingkuhinya, apalagi kamu yang hanya bermodalkan apem basi?” ucapku sambil tertawa sinis


“Kurang ajar kamu Ntan. Terlalu kamu menghina aku mentang-mentang kamu beruang” maki Mirna yang membuatku kembali tertawa sinis


“Makanya kamu jangan sok-sokan. Tahu pelakor, sok-sokan nuduh aku pelakor. Maaf ya Mir, level kita beda. Kamu sekali rendah, tetap aja rendah”


“Awas kamu Intan…..” teriak Mirna yang makin membuatku terkekeh


“Sudah lah Mir, kamu ngamuk kaya gitu buang energi kamu aja. Aku kasihan nggak, jijik iya” balasku lagi yang langsung memutuskan obrolan dan meletakkan hp dengan kesal dan lansung naik ke atas menuju kamarku dan berniat hendak beristirahat


Pikiranku menerawang membayangkan Mario yang saat ini pasti sudah berada di rumahnya. Aku tidak bisa menebak apa yang terjadi saat ini disana. Tapi aku sudah bisa menebak bagaimana reaksi Tasya dan Raisa. Aku yakin mereka berdua masih tetap pada pendirian mereka berdua dan tetap tidak setuju denganku

__ADS_1


Sementara di kediaman orang tua Mario, kepulangan Mario dari dinas disambut dengan wajah tegang kedua adiknya. Mario masuk ke dalam rumah dengan santai. Melirik sebentar ke ruang tamu dimana suasana tiba-tiba berubah hening ketika dia masuk


“Aku naik ma,pa….” hanya itu ucapan Mario, kemudian dia langsung naik ke lantai atas, menuju kamarnya. Dan begitu sampai di kamarnya, dia langsung mengunci rapat pintu dan masuk kedalam kamar mandi, mandi kemudian langsung merebahkan tubuhnya


Suara ketukan pintu tidak digubrisnya, Mario tetap memejamkan matanya. Sampai akhirnya dia bangun karena mendengar suara mamanya


“Makan dulu” ucap mamanya ketika Mario membuka pintu


Mario menggeleng dan mempersilahkan mamanya untuk masuk dan duduk di atas ranjangnya


“Tasya dan Raisa mau bicara sama kamu”


Mario bergeming, dan menarik nafas panjang


Mamanya Mario menarik nafas panjang mendengar jawaban Mario


“Mereka datang jauh demi untuk bertemu kamu Yo. Masa kamu tidak kangen dengan mereka berdua?”


Mario kembali menarik nafas panjang


“Aku nggak kangen ma sama mereka, buat apa kangen sama orang yang tega menyakiti dan menghancurkan hidupku. Mama tahu bagaimana sayangnya aku sama Tasya dan Raisa, tapi ternyata apa balasan mereka sama aku. Mereka keterlaluan ma, dan aku rasa sampai detik ini aku masih belum bisa memaafkan mereka. Jika mama meminta aku keluar hanya untuk mengobrol sama mereka, dan memaafkan mereka, maka aku yang meminta maaf sama mama. Maaf ma, aku nggak bisa, bukan nggak bisa sih ma. Lebih tepatnya belum bisa memafkan mereka. Tolong hargai keputusan aku ya ma”


Habis berkata seperti itu, Mario membalikkan badannya dan membelakangi sang mama. Mengambil bantal dan menutupkan ke telinganya. Mama Mario hanya bisa menarik nafas panjang dan mengelus kaki Mario sebelum akhirnya dia keluar dari dalam kamar anak sulungnya itu


“Gimana ma?” tanya Raisa dan Tasya ketika melihat mamanya turun dari kamar atas

__ADS_1


Mamanya menggeleng yang membuat keduanya kembali berwajah mendung dan menarik nafas panjang


“Beneran kak Mario nggak mau nemuin kami ma?” tanya Raisa


Mamanya mengangguk, yang membuat Raisa kembali menundukkan wajahnya


“Tolong beri waktu kakak kalian ya…. Kalian tahulah bagaimana kakak kalian, Mario sangat menyayangi kalian. Dan mama yakin, suatu hari nanti Mario akan memaafkan kalian”


Kembali Tasya dan Raisa menarik nafas panjang


“Tapi ini sudah lama ma, lebih dari dua tahun kak Mario mendiamkan kami” jawab Tasya dengan suara serak


“Makanya mulut kalian itu jaga. Jangan asal nyablak kalau bicara. Orang kalau sudah sakit hati, pasti akan diingat selamanya. Dan papa yakin Mario sudah sangat sakit hati sama kalian berdua. Jika tidak sakit hati, tidak mungkin dia sampai selama ini marah sama kalian” jawab sang papa yang membuat Raisa dan Tasya kembali menundukkan kepala mereka


“Kami sangat menyesal pa…..” lirih Tasya


“Menyesal kok sekarang. Kemarin kamu kemana?. Papa sama mama sampai turun tangan tapi kalian masih saja arogan. Dan papa yakin Mario juga tahu apa yang telah kalian lakukan di restoran Intan kemarin”


“Terus kami harus melakukan apa Pa untuk membuat kak Mario memaafkan kami?” tanya keduanya


Mama dan papanya diam dan hanya bisa menarik nafas panjang


“Mario bilang kasih dia waktu, Cuma itu yang dia bilang sama mama….”


“Kami sungguh menyesal ma…..” lirih keduanya kembali sambil menunduk dalam

__ADS_1


__ADS_2