
"Apa pa?" tanyaku masih dengan wajah tak percaya
"Kamu nggak budeg, jadi nggak usah sok-sokan nggak dengar gitu"
Aku melirik kearah mamanya mas Arif yang wajahnya kian tak sedap dipandang
"Arif ingin rumah ini di jual" ulang papanya mas Arif pelan
Aku menggeleng sambil tertawa nggak jelas kearah mantan papa mertuaku yang menatapku dengan gesture serba salah
"Masih itu nggak percaya" sambung mamanya mas Arif lagi demi melihatku yang masih tampak kebingungan
"Aku boleh nanya langsung ke mas Arif, pa?" tanyaku akhirnya dengan pelan setelah cukup lama aku diam dalam kebingungan
Papanya mas Arif mengangguk sambil tersenyum kecut ke arahku
"Ngapain kamu masih mau nanya sama Arif, Arif itu sudah mengutus kami kesini, itu artinya memang semua benar, kamu pikir, kami mengada-ngada, gitu?"
Aku menarik nafas panjang mendengar ucapan ketus mamanya mas Arif
"Bukannya aku nggak percaya ma, di rumah ini mama sama papa pernah mengatakan jika rumah ini adalah rumahnya kedua anakku, bukan rumahku maupun rumahnya mas Arif, kenapa lantas sekarang tiba-tiba mas Arif ingin rumah ini dijual?"
"Terserah Arif dong, kan ini rumah dia"
"Maaf ma, memang masalah mobil kemarin aku ngalah, aku nerima nggak dapat bagian sepeserpun, tapi tidak dengan rumah ini, aku akan mempertahankannya, karena ini rumah kedua anak kami"
Wajah mamanya mas Arif makin menatapku tak suka
"Masih mama mau ngomong ini semua uang mas Arif?, nggak bisa ma, rumah ini didapat setelah kami menikah, begitu juga dengan mobil kemarin, tapi biarlah aku mengalah untuk mobil kemarin, ambillah semua uangnya oleh mas Arif karena aku tahu mas Arif nggak ada uang karena dia di penjara, lagian istrinya hamil juga, jadi aku terima"
"Tapi jika rumah ini mau dijual juga, maaf ma, kali ini aku benar-benar akan membawanya ke pengadilan, terserah jika mama mau bilang aku nggak tahu diri atau nggak sadar diri, aku tidak perduli, karena perjanjiannya tidak seperti ini"
Semuanya diam mendengar ucapanku, dan gantian aku yang memasang wajah masam
"Kita pulang pa, nggak ada gunanya juga kita disini, membuat mama sesak nafas saja"
Sedikitpun aku tidak memperdulikan omongan mamanya mas Arif aku tetap saja memasang wajah masam
"Intan kamu jangan tersinggung ya, kami kesini cuma menyampaikan apa yang dikatakan Arif, kami juga sudah bilang dengan Arif jika rumah ini adalah rumahnya anak kalian, mbak berharap jika nanti kamu ke penjara nemuin Arif, bicara yang baik, jangan pakai emosi"
"Tergantung mbak, jika mas Arif baik aku bisa jauh lebih baik, tapi kalau begini caranya mas Arif, ini sama saja halnya mas Arif membangunkan setan dalam hati aku"
Papanya mas Arif menarik nafas panjang dan kembali suasana berubah hening, tidak ada yang bersuara
"Pulang pa!"
__ADS_1
Aku hanya melirik tajam mendengar mamanya mas Arif membentak suaminya
Akhirnya karena tidak enak hati, papanya mas Arif berpamitan padaku diikuti oleh mbak Sari dan suaminya, sedangkan mamanya mas Arif sudah keluar setelah tadi dia membentak
Walau hatiku dongkol, tapi tak urung aku ikut mengantarkan mereka sampai ke depan
Aku hanya tersenyum getir ketika mbak Sari melambaikan tangan ke arahku
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan papanya mas Arif mundur dan aku segera masuk kedalam rumah, menyambar hp dan segera menghubungi Mario
Aku menghentakkan kakiku karena panggilanku tidak juga diangkat oleh Mario
Dan hanya bisa menghembus nafas panjang sambil meletakkan hp dengan kasar di sebelahku
Sesekali aku melirik kearah hp di sebelahku, berharap jika Mario akan menghubungiku, tapi sampai beberapa menit tak juga tampak Mario akan menghubungiku
Dengan menelan sedikit kecewa aku masuk ke kamar Meka, kembali membuka paket yang tadi belum sempat aku selesaikan.
Mood ku berubah buruk tak seperti ketika diawal aku membuka paket tadi.
Hingga akhirnya aku selesai membuka semua paket tepat ketika Bobbi pulang
Dengan segera aku keluar dari rumah, dan segera membawa Bobbi masuk, dan kembali rutinitas ku berjalan seperti biasanya
"Maaf sayang tadi aku lagi di jalan, hp nya aku silent, ada apa?"
Wajahku langsung berubah masam ketika mendengar suara Mario
"Hei, kok diam, ada apa?, aku lihat ada tiga panggilan tak terjawab loh"
Aku mendecak kesal sambil masih menahan kesal
"Aku ke rumah kamu kalau begitu"
Baru juga aku mau menjawab panggilan sudah terputus, dan kembali aku harus menarik nafas panjang
Sembari menunggu Mario, aku mengeluarkan barang-barang yang akan aku antar
Sekitar lima menit kemudian pintu rumahku diketuk dan karena aku yakin itu Mario aku tidak beranjak dari tempatku melainkan meneriaki Meka agar membukakan pintu
Aku menjulurkan kepalaku ketika kudengar suara tawa kegirangan dari Meka dan Bobbi
Kulihat kedua anakku sudah didalam gendongan Mario, ada yang di depan, ada yang di belakang
Aku membiarkan mereka bertiga bermain dahulu, aku ingin membiarkan mereka bertiga meluapkan kerinduan dan mempererat keakraban mereka
__ADS_1
Dan Mario tampak mencuri-curi pandang padaku dan aku sesekali melirik kearahnya sampai pekerjaanku selesai, tapi Mario belum juga dibebaskan oleh kedua anakku
"Sayang, mama boleh ngobrol sebentar nggak sama om Mario?" ucapku sambil mendekat kearah mereka yang sedang berguling-guling sambil terbahak-bahak
Mario menggerakkan kepalanya dan menatap ke arahku, sedangkan Meka dan Bobbi tampak bangun, kemudian memeluk Mario bergantian, baru setelahnya keduanya berlari keluar, melanjutkan bermain mereka
Karena kedua anakku telah keluar, Mario langsung membawaku duduk di ruang tamu
"Ada apa?" tanyanya lembut sambil mengusap kepalaku
Kembali wajahku, ku tekuk dan memanyunkan bibirku
Cupp!!!
Sebuah kecupan mendarat sempurna di pipiku dari Mario karena aku masih saja berwajah masam
"Ayo senyum, kan sudah dicium" godanya yang membuatku refleks memukul lengannya
"Ada apa calon istriku?"
Aku menarik nafas panjang, menoleh kearah Mario lalu mulai bercerita dengan berlinangan air mata saking kesalnya aku, kekesalan yang sejak tadi aku pendam, aku tumpahkan semuanya pada Mario
Dan Mario kembali menjadi pendengar setiaku, dia fokus mendengarkan ceritaku sambil sesekali menyeka air mataku dan mendekap ku, seperti berusaha membuatku tenang
"Pokoknya aku mau nemuin Mas Arif, aku mau tanya apa maksud dia mau menjual rumah ini, dia sendiri yang bilang jika rumah ini rumahnya anak-anak, kok sekarang malah mau dijual"
Mario masih diam, dan masih saja mengusap kepalaku
"Kamu ada nomor orang sipir nggak?, aku mau nelpon Mas Arif, rasanya aku sudah nggak sabar nunggu besok"
Mario tersenyum dan masih sabar menghadapi kekesalanku
"Tidak etis Intan jika berbicara masalah serius lewat hp, dan juga aku tidak punya nomor sipir tempat mas Arif, dan aku juga minta maaf aku tidak bisa ikut campur dalam masalah ini"
"Selesaikan dulu dengan cara baik-baik, jika mas Arif masih bersikeras, kamu yang ngalah, jangan api dibalas api, ya?"
Aku menghapus air mata yang masih mengalir di wajahku mendengar nasihat Mario, lalu menganggukkan kepalaku
"Maaf ya Yo, aku menumpahkan kekesalanku padamu, dan harusnya aku bisa profesional, kan bukan kamu yang bersalah, tapi aku emosinya sama kamu"
Mario tersenyum dan kembali mengusap kepalaku
"Kan aku sudah pernah bilang, jika kamu mau marah, mau manja, mau kesal, silahkan tumpahkan sama aku, asal bisa membuat kamu lega karena aku tak ingin kamu larut dalam kesedihanmu"
Wajahku langsung berubah manja mendengar ucapan manisnya, dan segera saja aku mendekap tubuhnya dan meletakkan kepalaku di dada Mario
__ADS_1