
Ketika aku mendorong pintu ruang tempat aku duduk dengan kakak iparku tadi, suara amarah Tasya masih mendominasi ruangan ini
"Mbak jangan takut, duduk sini dekat ibuk" ucapku sambil membawa karyawanku untuk duduk di dekatku
"Nah ini nih Pa, perempuan sialan ini yang kurang ajar. Kalau papa mau nampar, harusnya papa itu nampar dia, bukan aku!"
Karyawanku yang sejak tadi menunduk kian tak berkutik
"Nanti dulu kamu berteriak Sya, aku ingin tahu kronologi sebenarnya kenapa kamu sampai menyiram mbak ini dengan kuah pedas tadi?"
Tasya dengan cepat langsung menatap tajam ke arahku
"Apa perduli kamu?, kamu siapa hah sok-sok an sejak tadi?"
Aku kembali menarik nafas dalam mendengar Tasya yang membentak ku
"Kendalikan nada bicara kamu Tasya!!" kembali papanya Mario membentak
"Papa, papa selalu membela wanita nggak jelas ini. Cukup deh pa, oke dulu papa sama mama pernah memarahi kami berdua karena membela wanita ini, tapi tidak kali ini pa!"
Papanya Mario terlihat mengepalkan tangan, dan kulihat juga mamanya Mario mengusap punggung suaminya
"Tasya, aku hanya tanya sama kamu, alasan apa sampai kamu menyiram mbak ini?!" ulang ku
"Heh Intan, kamu nggak sok sok an bela dia ya, sejak di saung tadi aku lihat kamu sok bos ya, sok sok an nyuruh para pelayan untuk jagain kami biar kami nggak kabur, dan sekarang kamu makin ngelunjak karena ada papa sama mama"
"Jangan kamu pikir mentang-mentang mama sama papa pernah belain kamu, jadi sekarang kamu mau mengkambing hitamkan aku, ingat Intan, kamu itu siapa, kami ini siapa"
"Kamu itu orang lain, dan kami berdua ini anak kandung mama dan papa, jadi akan tetap menang kami di hati mereka dibanding kamu!"
Aku langsung terdiam mendengar ucapan Tasya. Apa yang dikatakannya tidak lah salah, mereka berdua memanglah anaknya papa mamanya Mario, tentulah sesalah-salahnya mereka bakal di bela sama orang tua mereka
Sedangkan aku siapa? orang lain yang kebetulan kenal dekat. Kulihat Tasya dan Raisa tersenyum menyeringai melihatku diam
"Tasya, papa tidak akan membela kamu hanya karena kamu anak papa jika kamu salah. Papa membela yang benar"
"Sudah-sudah, nggak ada kejelasannya juga kan. Mending kita pulang" ucap Raisa yang langsung berdiri diikuti Tasya
"Tunggu dulu!" cegah ku yang juga berdiri
"Kalian berdua duduk!!!" geram papanya Mario
Dengan wajah masam Raisa dan Tasya kembali duduk
"Mbak bisa ceritain kenapa dua wanita ini melakukan penyiraman sama mbak?" tanyaku
__ADS_1
Karyawan ku dengan takut-takut mengangkat wajahnya
"Aku tidak sengaja menyenggol gelas minumannya ketika tadi aku meletakkan sea food nya buk"
Aku langsung menoleh keatas Tasya
"Benar Sya?"
Tasya memutar matanya dengan malas mendengar pertanyaanku.
"Ya Alloh nak, apa tidak bisa kamu bicara baik-baik?"
Tasya melirik kearah mamanya
"Jeans aku basah ma, makanya aku marah"
"Tapi aku tidak sengaja buk"
"Halah, whatever you say, emang gue pikirin, kamu memang nggak tahu berapa harga jeans saya"
Aku menggeleng mendengar ucapan Tasya
"Pa, aku sengaja mengajak mama sama papa kesini untuk bawa Tasya dan Raisa pulang. Aku nggak mau mereka disini makin berulah yang ujung-ujungnya membuat aku marah"
Tasya berdiri dan langsung menunjuk ke arahku
"Aku minta maaf sama orang kaya gini?, tak sudi aku!!"
Aku masih berusaha untuk tenang menghadapi kecongkakannya, berkali-kali aku menghembus nafas panjang karena aku mulai tersulut emosi
Dan papanya Mario langsung menarik paksa Tasya untuk duduk yang ditepis Tasya dengan kasar
"Oke, nggak masalah jika kamu tidak mau meminta maaf sama mbak ini, tapi aku yakinkan jika kamu tidak akan pernah bisa masuk kesini lagi"
"Emang kamu siapa melarang-larang aku kesini, hah??!"
"Aku owner rumah lesehan ini!!!!"
Tasya dan Raisa langsung menelan ludahnya ketika mendengar aku menjawab lantang
Dan papa mamanya Mario tampak menundukkan kepala mereka
"Papa, mama. Maafkan aku. Kali ini aku tidak bisa menahan amarah aku. Tasya sudah kelewatan pa"
"Dan ini!!!!" ucapku lagi sambil menarik kasar tangan Tasya dan meletakkan lembaran uang merah yang cukup banyak ke tangannya
__ADS_1
"Harga diri karyawan aku jauh lebih berharga dari pada jeans kamu itu!!"
Selesai berkata seperti itu, aku segera menarik karyawanku berdiri dan membawanya keluar dari ruangan tersebut
Kakak iparku ikut berdiri ketika melihat aku pergi
"Mbak disini saja, aku akan pulang ke toko" jawabku yang membuat kakak iparku menganggukkan kepalanya
Setelah itu aku langsung keluar dari restoran lesehan ku bersama karyawanku tadi karena aku berniat mengantarnya pulang
Wajah papanya Mario tampak merah ketika mereka sampai di rumah. Sedangkan mamanya Mario terus menepuk punggungnya, meminta suaminya untuk bersabar
Sedangkan Tasya dan Raisa tampak duduk dengan gelisah
"Harus berapa kali kami malu dengan Intan karena ulah kalian berdua?" lirih lelaki paruh baya tersebut
"Apa tidak malu kamu Tasya dengan perkataan Intan tadi?, Intan itu bukanlah lulusan sarjana seperti kamu, dia hanya tamat SMA tapi adabnya jauh lebih tinggi dari pada kamu yang berilmu"
"Jika kalian bangga dengan karir kalian, maka kalian berdua salah. Gaji kalian berdua satu bulan itu bisa didapat Intan dalam satu hari"
"Jika Intan mau, harga diri kalian bisa di belinya"
Kembali Tasya dan Raisa hanya bisa menelan ludah mereka mendengar kenyataan seperti apa Intan sekarang
"Kalian pulang nanti, kalian lihat, ruko besar di simpang empat itu milik Intan, jika kalian punya mental, silahkan kalian masuk. Kalian lihat bagaimana ramainya pembeli di toko itu"
"Dan satu lagi, warteg dekat pasar itu yang cat nya warna kuning juga milik Intan"
"Jika nanti kalian melihat ruko bertuliskan pengiriman paket, itu juga milik Intan. Dia tidak lagi menjadi kurir seperti dulu yang setiap hari berpanas-panasan mencari uang dengan mengantarkan langsung barang kepada customernya. Tapi sekarang dia owner pengiriman paket"
"Bukan cuma itu saja, satu lagi. Ruko dua lantai tour and travel umroh dan Haji itu juga miliknya. Itulah sebabnya makanya kemarin papa sama mama berangkat umroh. Kalian pikir itu semua uang kami?, bukan. Itu semua free dari Intan"
"Apa ada kami bilang sama kalian bertiga, anak kami, bagaimana selama ini Intan baik dan pedulinya pada kami?, tidak kan?"
"Kalian berdua pulang kesini, bukannya langsung ke rumah malah langsung mampir makan di luar, dan akhirnya kamu malu sendiri kan Tasya karena rumah makan tempat kamu makan ternyata milik orang yang selama ini kamu hina"
"Mario saja tidak kami beritahu jika yang membiayai kami umroh itu Intan, karena kami tidak ingin Mario menjadi minder karena Intan jauh lebih kaya dan jauh lebih berpenghasilan besar dari dia. Apalagi kalian berdua, berapa juta sih gaji kalian?, sampai begitu angkuhnya kalian?"
Tasya dan Raisa sama sekali tidak bisa menjawab semua perkataan papanya selain menundukkan kepalanya
Tasya langsung bergerak ketika hp yang diletakkannya dalam kantong celana jeans nya berdering
"Ulah apalagi yang kamu lakukan Tasya???!" geram Ferdian, suami Tasya diseberang
__ADS_1