Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Laporan


__ADS_3

Aku membuka mataku ketika aku merasa kegerahan


"Ya ampunn....." ucapku kaget dan langsung terduduk


Dari pantulan kaca yang tertutup gorden aku melihat dengan jelas jika diluar sudah sangat panas dan terang


Dengan cepat aku berdiri dan langsung berjalan kearah pintu, lalu membuka pintu


"Sudah bangun sayang?"


Aku langsung mendecak mendengar Mario masih memanggilku dengan sebutan sayang di depan pak Heri


"Mario!!!" sergah ku cepat dengan kesal bercampur kikuk


Mario terkekeh lalu menepuk kursi di sebelahnya memintaku duduk di dekatnya


"Kok nggak banguni aku?" ucapku dengan wajah cemberut


"Kamu butuh tenaga ekstra menghadapi hari ini" goda Mario


Aku makin menekuk wajahku dan menatapnya dengan wajah yang kian masam


"Ini serius sudah jam sepuluh?" tanyaku kaget ketika mengambil hp dalam tas yang kuletakkan semalaman di atas meja


Pak Heri tersenyum melihatku kaget


"Sarapan dulu mbak" ucap pak Heri sambil bangkit dan memberikan piring padaku


Aku menerima piring tersebut dengan melirik kearah Mario


"Kami sudah sarapan, kamu sendiri yang belum"


Aku tersenyum malu sambil membuka bungkusan yang ternyata berisi lontong sayur


"Nggak ada pilihan lain" ucap Mario yang faham jika aku tidak terlalu suka lontong


"Bantuin...." ucapku refleks dengan nada manja ketika aku melihat isinya yang sangat banyak


Mario tersenyum lalu bersamaku dia duduk di lantai


"Saya tinggal ke depan ya pak Mario"


Aku langsung mengangkat kepalaku dan sadar jika yang aku dan Mario lakukan ini salah


"It's okay Mbak aku sudah tahu semuanya, dan aku sangat tahu bagaimana cintanya pak Mario sama mbak"


Aku langsung membulatkan mataku dengan mulut ternganga mendengar ucapan pak Heri yang nyelonong keluar


Cupp!!!


Aku refleks menoleh kearah Mario yang mencium pipiku


"Ihhh nggak sopan kamu ya....." geramku sambil memukul bahu dan lengannya


Mario terkekeh sambil mengelak pukulanku


"Stop Ntan kalau tidak aku akan mencium kamu lagi"


Aku menghentikan pukulanku dan kembali memasang wajah cemberut


"Harus berapa kali sih Intan Permata Sari aku bilang sama kamu jika aku masih mencintaimu?"


Aku melirik tajam kearah Mario dengan wajah yang masih masam


"Kok kamu marah?, biasanya kalau aku bilang aku masih cinta sama kamu, kamu akan terdiam dengan mata berbinar"


"Ih.... berbinar apanyaa....?" kembali aku memukul Mario


Mario kembali terkekeh dan kali ini menangkap tanganku dengan cepat

__ADS_1


"Aku serius Intan, aku masih sangat mencintai kamu, apa kamu nggak yakin?"


Aku diam mendengar ucapan Mario, aku hanya menatap dalam matanya, meneliti setiap inci wajah tampan pacar pertamaku ini.


Tatapan matanya yang tajam memandangku seolah meyakinkan ku jika perkataanya tidak bohong


"Sudah ah, ayo sarapan, setelah itu mandi terus kita pulang" ucap Mario sambil melepas genggamannya pada tanganku


Aku langsung menarik wajahnya dengan kedua tanganku. Lalu menubruk dadanya dan mengalungkan kedua tanganku kelehernya


"Aku rapuh Mario. Pengkhianatan mas Arif sangat jelas di depan mataku"


Kurasakan Mario mengangkat pahaku dan membawaku duduk di pangkuannya, jadilah aku seperti anak kecil memeluknya di atas pangkuannya


"Tidak akan aku biarkan lagi mas Arif menyakitimu, Ntan. Tidak akan"


Aku melepas dekapanku lalu mengusap kasar wajahku karena sempat ada air mata yang mengalir


"Aku mencintai dan menyayangimu" ucap Mario sambil membelai wajahku


Aku tersenyum malu, lalu menundukkan wajahku. Tapi Mario malah mengangkat wajahku dan langsung melahap bibirku


Kembali aku mengalungkan kedua tanganku di leher Mario dan membalas lembut pagutannya pada bibirku


Cukup lama kami saling menyesap sampai akhirnya kami sama-sama menyudahi dengan wajahku yang terasa panas


Mario mengusap bibirku, menghapus jejak bibirnya di sana. Dan aku segera turun dari pangkuannya, duduk kembali di sebelahnya dengan kikuk


"Ayo sarapan, apa sudah kenyang karena sarapan bibirku?"


Aku kembali refleks memukul lengannya, tapi kali ini bukan dengan wajah cemberut melainkan dengan wajah bersemu merah


...----------------...


Mario membawaku kembali ke kantor polisi dimana pak Heri ada di dalam


Melihat kami masuk, beberapa anggota berseragam coklat itu berdiri dan tersenyum kearah kami


Aku menggeleng


"Apa aku harus buat laporan untuk kasus ini?" tanyaku


Mario menoleh dan menatap dengan pandangan tak yakin padaku


"Kamu serius ingin memenjarakan suami kamu Ntan?"


Aku mengangguk


"Cukup rasanya Yo selalu diselingkuhi, dan aku ingin membuat mas Arif merasakan akibat perbuatan buruknya"


"Jika begitu, mari mbak saya antar kedalam"


Aku mengangguk dan menuruti perkataan seorang polisi yang duduk di dekat pak Heri


"Aku ikut" ucap Mario yang langsung menggandeng erat tanganku


Kulirik pak Heri tersenyum melihat perbuatan Mario


"Sabar pak Mario" sindirnya yang mampu membuat wajahku kembali bersemu merah


Mario hanya menoleh sambil tersenyum lalu masih membawaku melangkah dengan menggenggam erat tanganku


"Mario, malu!!" tolakku berusaha menarik tanganku dari genggamannya


"Apa kita harus lewat depan sel nya Mas Arif biar dia lihat kemesraan kita?"


Aku mendelikkan mataku mendengar ide konyolnya


"Biar dia tahu, bahwa kamu membuang emas malah dapat berlian"

__ADS_1


Aku terkekeh mendengar jawaban pede Mario


Genggaman tangan Mario baru dilepasnya ketika dia mendorong pintu dan menyilahkan aku masuk


Saat mau dudukpun Mario masih bersikap manis dengan menarikkan kursi untukku


Yang kubalas dengan ucapan terima kasih dan tersenyum manis padanya. Sumpah perlakuan kecilnya padaku mampu membuat degup jantungku berdebar kencang


"Siap bu?" tanya petugas yang akan menerima laporanku


Aku mengangguk lalu kembali Mario menarik tanganku dan menggenggam erat tanganku, menepuk pelan punggung tanganku dan menganggukkan kepalanya


Dengan lancar aku menceritakan semua kronologi yang terjadi, dari awal sampai akhir. Dan untuk saksi, karena bukan hanya aku yang menjadi saksi, melainkan empat pria yang sebelumnya juga sudah bersaksi, jadi untuk para saksi tidak diperlukan lagi, pihak kepolisian mengambil keterangan empat saksi semalam


Sebenarnya aku malu menceritakan apa yang kulihat di depan Mario dan polisi yang mencatat keteranganku, tapi mau apalagi, aku tidak punya cara lain selain menjelaskan semuanya, walau dengan berkali-kali menarik nafas panjang dan menahan malu


Setiap aku menarik nafas panjang, genggaman tangan Mario dieratkannya padaku, seolah itulah caranya memberiku kekuatan


Setelah selesai semua keterangan yang ku berikan dicatat, aku menarik nafas lega dan menoleh pada Mario dengan mata berkaca-kaca


"Ini awal yang baik untuk kamu Ntan, kamu telah berani speak up dan mengungkapkan semua apa yang sebenarnya terjadi" ucap Mario


Aku tersenyum getir dan menganggukkan kepalaku. Karena aku sudah selesai memberi keterangan, kami keluar dan kembali ke depan


"Terima kasih semuanya" ucap Mario sambil menjabat tangan semua anggota yang ada di dalam kantor ini


Ketika dia menjabat tangan pak Heri, polisi tersebut merangkul dan menepuk punggungnya


"Saya tunggu undangannya, dan sudahilah masa dudamu"


Mario terkekeh sambil membalas menepuk punggung pak Heri, sedangkan aku melengos mendengar ucapan beliau


"Tidak ingin melihat mas Arif?" Mario menoleh ke arahku


Aku menggeleng


"Yakin?"


Aku mendecak kesal dan mendahuluinya berjalan meninggalkan kantor, Mario tersenyum saat dilihatnya aku merajuk, lalu dia tergopoh mengejar langkahku


"Motor kamu mana?" tanyaku


"Aku naik mobil, nggak mungkinkan aku malam-malam kesini jemput kamu dengan motor?, bisa kedinginan kamu di jalan"


Aku menghentikan langkahku lalu menatap kearah Mario


"Stop buat aku baper" ucapku ketus


"Terserah" jawab Mario cuek dengan langsung menarik dan menggenggam tanganku lalu membawaku masuk kedalam mobil berwarna putih


"Mau nggak anter aku ambil koper aku di rumah pak kades?"


Mario mengangguk lalu segera memundurkan mobil, mengklakson sekali sambil mengangkat tangannya kearah pelipis layaknya dia memberi hormat pada anggota polisi yang mengantar kami sampai di depan halaman


Satu jam berikutnya aku dan Mario sudah berada di rumah pak kades, bu kades langsung mendekapku begitu aku masuk


Mario menyampaikan maksud dan tujuannya ke rumah pak kades, serta mengucapkan terima kasih atas kebaikan pak kades, bu kades dan seluruh warga


Tak lupa Mario meninggalkan nomor hpnya agar jika sewaktu-waktu pak kades butuh sesuatu, bisa menghubunginya


Ketika koperku sudah dibawa keluar oleh bu kades, aku dan Mario berpamitan, dan kembali bu kades mendekapku


"Yang sabar ya bu....." kembali beliau berkata seperti itu ketika mendekapku, yang hanya kujawab dengan anggukan kepala dan senyum getir


Lalu pak kades dan bu kades mengantar kami sampai teras, tepat disaat beberapa motor sampai


"Ibu istrinya pak Arif kan?" tanya seorang pria paruh baya yang aku masih ingat jelas jika beliau adalah ayahnya Mirna


Aku mengangguk lalu menoleh kearah pak kades

__ADS_1


"Jangan pulang dulu bu, kami mau ada yang dibicarakan"


Aku lalu menoleh kearah Mario yang menganggukkan kepala ke arahku


__ADS_2