Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Maafkan Kami Kak


__ADS_3

Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ucapan Mario. Karena aku tidak memiliki jawaban lagi untuk menguatkan argumenku untuk memintanya memaafkan kedua adiknya. Aku tidak mau memaksa Mario memaafkan kedua adiknya, aku yakin Mario mempunyai alasan kuat mengapa dia melakukan ini pada kedua adiknya


“Sedikit saja mereka tidak meminta maaf sama kamu” ucap Mario yang kembali menatap langit-langit ruko


Aku berusaha untuk tertawa mendengar ucapannya. Aku ingin Mario tahu jika aku baik-baik saja walau mereka tidak meminta maaf sedikitpun padaku


“Aku nggak punya masalah sama mereka Mario. Aku nyantai saja. Jika mereka welcome sama aku, aku juga bisa welcome sama mereka. Jika mereka cuek aku bisa cuek juga. Intinya kalau merek baik aku juga baik, aku sih tergantung bagaimana sikap mereka sama aku. Tapi aku nggak ingin mereka kembali menyudutkan aku, terlebih karena sikap kamu yang masih marah sama mereka” ucapku pelan


“Aku mengenal mereka Intan. Aku faham bagaimana sifat mereka”


Aku kembali berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban Mario


“Ya sudahlah, intinya aku pengen kamu maafin mereka. Kasihan mama sama papa, jangan sampai kelakukan kamu ini menjadi beban untuk mereka”


Mario menarik nafas panjang, kemudian kembali menarik tanganku dan memeluknya


Wajah Tasya dan Raisa tampak mendung ketika mereka kembali ke rumah. Kedatangan mereka langsung disambut dengan banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya


“Mbak Intan nggak bisa bantu ma” lirih Tasya dengan lesu sambil menghenyak kan tubuhnya di sofa


Raisa melakukan hal yang sama, dia ikut duduk, dan merebahkan kepalanya di bahu sang mama


“Kak Mario kok tega sih ma sama kami” protesnya dengan nada merajuk


Papanya menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Raisa


“Kalian nemuin Mario?” tanya mamanya


Keduanya mengangguk


“Terus?”


“Kak Mario bilang sama anak buahnya kalau dia sibuk. Dan ini kantor katanya, bukan tempat untuk membicarakan masalah pribadi, jadi kak Mario meminta pada anak buahnya untuk meminta kami pulang”


Papanya tertawa yang membuat kedua anak perempuannya tertawa


“Papa kok gitu sih, kita lagi bingung bukannya dibantuin malah diketawain” sungut keduanya


“Lagian kalian ngeyel, kalian kan tahu kalau kakak kalian itu professional. Sekalipun seumur hidup papa selama Mario jadi polisi, tidak pernah dia membicarakan masalah pekerjaan di rumah. Lah kok kalian malah nekad kesana” sambung papanya setelah berhenti tertawa


“Ya habisnya, kami mau kemana lagi pa. Di rumah kak Mario bahkan tidak menyapa kami sama sekali. Jangankan menyapa, menoleh sama kami saja tidak. Giliran kami minta bantuan mbak Intan, malah dia nggak bisa dan nyuruh kami ke kantor kak Mario, nyuruh kami menyelesaikan masalah kami sendiri. Eeeh, giliran sampai kantor kak Mario, jangankan mau bicara, ketemu saja nggak” jawab Tasya dengan wajah masam


“Biar malam nanti papa yang akan bicara sama Mario. Kalian berdua serahkan sama papa”


Mata Raisa dan Tasya yang langsung berbinar, harapan mereka kembali lagi setelah mendengar ucapan papanya

__ADS_1


Dan sekarang, jam di layar computer kasir sudah menunjukkan angka delapan malam lewat. Dan pembeli sudah mulai berkurang. Aku yang sudah merasa capek karena seharian bekerja, hanya melongok kan kepalaku kearah karyawanku yang masih tampak bekerja


“Kalian berdua saja yang berjaga, ya? Kakak mau periksa stok barang. Barang apa saja yang mau habis” ucapku pada kedua kasirku.


Setelah itu aku langsung berjalan pergi meninggalkan bagian kasir, berjalan kea rah rak-rak yang memajang barang, melihat dan menghitung jumlah barang yang terpajang. Cukup lama aku berkeliling, nyaris lebih satu jam. Baru setelah selesai memeriksa stok barang yang dipajang, aku naik ke lantai dua. Memeriksa stok barang di sana


“Sayang…..”


Aku terpekik tertahan ketika suara Mario mengagetkanku yang sedang fokus menghitung barang. Aku langsung memukul lengan Mario setelah buku yang kupakai untuk mencatat stok barang aku pungut, karena buku tersebut jatuh karena aku kaget tadi


“Pulang yuk?” ajak Mario sambil tertawa kecil karena melihat aku kaget tadi


Aku menggeleng, dan kembali menghitung stok jumlah barang


“Nggak capek apa?” tanya Mario yang melongok ke buku yang kupegang


“Dari pada kamu ganggu konsentrasi aku, mending kamu bantu aku ngitung” ucapku menarik tangan Mario kearah stok barang lain


Hingga jam sepuluh barulah aku selesai menghitung semua stok barang yang ada di gudang, kemudian aku dan Mario turun, disaat karyawanku mulai membereskan toko dan mulai menutup rolling


Semuanya langsung berpamitan padaku dan Mario ketika kami juga mau pulang. Lalu seperti biasa, aku naik ke motor dengan Mario yang mengekor di belakang dengan motor besarnya


Aku langsung naik ke lantai atas begitu sampai ruko, sedangkan Mario bergabung dengan Ibrahim dan dua temannya. Tak lam Reno dan Dani pulang, dan yang tersisa hanya Ibrahim. Karena Ibrahim memang setiap malam tidur di ruko ini, menemani ku dan kedua keponakannya


Aku ikut bergabung sebentar dengan mereka berdua, sampai akhirnya Ibrahim memilih untuk tidur, karena dia sudah mengantuk. Jam di tembok menunjukkan hampir angka sebelas, tapi tanda-tanda Mario akan pulang belum juga terlihat. Dan aku yang duduk di sebelahnya, menatap wajahnya dengan serius


Mario menarik nafas panjang


“Jangan lari dari masalah” lirihku lagi meyakinkannya


Mario meletakkan kepalanya di sandaran sofa, tidak menjawab ucapanku sedikitpun


“Kamu sayang sama aku kan Yo?” tanyaku lagi


Mario mengangkat kepalanya, kemudian menatap ke arahku dengan dingin


“Kalau sayang sama aku, pulang. Selesaikan masalah kamu. Bilang semuanya sama kedua adikmu. Katakana apa yang tidak kamu suka dari mereka, biar mereka tahu. Jika kamu bersikap begini, aku khawatirnya mereka kembali menuduhku yang tidak-tidak. Memang kamu mengenal kedua adikmu dengan baik Yo, tapi untuk kebencian mereka sama aku, hanya aku yang tahu” sambung ku lagi


“Tidak aku bilang pun, harusnya mereka tahu jika aku marah sama mereka Ntan”


Aku mengangguk dan berusaha tersenyum mendengar jawabannya


“Pulanglah, besok pagi sebelum berangkat, bicara dulu baik-baik pada Tasya dan Raisa. Bilang yang sebenarnya apa yang kamu rasakan selama ini. Bilang sama mereka kalau kamu sangat menyayangi mereka dan sudah memaafkan mereka, ya?”


Kembali aku dengar Mario menarik nafas panjang, kemudian dia menundukkan kepalanya. Aku segera pindah duduk di sebelahnya dan mengusap-usap punggungnya

__ADS_1


“Pernikahan kita sebentar lagi, dan aku yakin kali ini tidak akan batal lagi. Terlebih kita sudah mendaftarkan pernikahan kita di KUA. Dan satu lagi, semua undangan juga sudah tersebar. Aku yakin, kali ini Tasya maupun Raisa tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghalangi pernikahan kita”


Mario berbalik, kemudian mendekap ku. Aku hanya menarik nafas dalam dan kembali mengusap-usap punggungnya


“Pulanglah, kasihan mama sama papa. Aku yakin mama sama papa pasti kepikiran dengan masalah ini”


Mario mengangguk, kemudian dia mencium keningku sampai akhirnya dia meraih cepat kunci motornya yang tergeletak di atas meja. Aku mengantarkan Mario sampai di depan ruko, setelah Mario menjalankan motornya, barulah aku masuk


Kedatangan Mario di rumah mala mini memang sudah dinantikan oleh kedua orang tuanya dan juga oleh kedua adiknya. Jadi begitu mendengar suara motor Mario berhenti di depan rumah, mata Raisa yang tadi mulai meredup langsung membesar kembali


Mario menghentikan langkahnya ketika mendengar papanya memanggil namanya ketika dia menutup pintu. Mario yang melihat jika masih ada kedua adiknya yang juga menatap kearahnya, berusaha tenang dan menarik nafas panjang


“Bisa kesini sebentar Yo?” tanya papanya lagi karena Mario masih bergeming


Mario kembali menghembus nafas panjang, kemudian mau tak mau dia akhirnya berjalan kearah ruang tamu dimana seluruh mata menatap lurus padanya


Mario duduk berseberangan dengan papanya, tampak sekali jika dia menghindari bertatapan lurus dengan kedua adiknya yang duduk di dekat sang mama


Mulailah sang papa menyampaikan niatnya mengapa mereka sengaja menunggu Mario sampai selarut ini


“Maafkan kami kak……” lirih Tasya menahan tangis


Mario masih bergeming, sedikitpun dia tidak menoleh kearah kedua adiknya yang terus menatap sedih kearahnya


“Kami sungguh menyesal kak. Kami janji kak, kami nggak akan mengulangi kesalahan kami lagi, kami sungguh-sungguh menyesal” lanjut keduanya


Mario masih diam, dan mama papanya terus menantikan jawaban darinya. Bahkan setelah kedua adiknya terisak, Mario tetap saja diam tak bereaksi


“Mario, kamu tidak begini sebelumnya nak. Mama sangat mengenal kamu”


Mario menarik nafas panjang mendengar ucapan mamanya, kemudian Mario menatap kearah mamanya yang juga menatap kearahnya dengan wajah sedih


“Oleh karena mama sangat mengenal aku lah, makanya aku begini ma. Jika menuruti kemarahanku, sudah lama Raisa dan Tasya itu aku hancurkan. Tapi aku tidak melakukan itu ma, aku lebih memilih pergi dari sini, aku lebih memilih menjauhi kalian semua. Karena apa?, karena aku sayang sama kalian semua. Aku tidak ingin, kemarahanku pada Tasya dan Raisa menghancurkan kenyamanan kita”


“Dan sekarang ketika mereka berdua datang meminta maaf, menyesali perbuatannya. Apa salah jika aku masih menghindari mereka karena aku masih memendam kecewa pada keduanya?. Aku punya hati ma, aku bukan batu. Aku sakit hati pada mereka berdua, aku sakit hati karena mereka berdua pernikahanku sempat gagal, karena mereka berdua bertahun-tahun aku harus menahan rasa rinduku pada Intan dan mama papa, karena mereka berdua, aku harus kembali berjuang meyakinkan Intan sampai akhirnya Intan mau menikah dengan ku”


“Jadi tolong ma, pa. Jangan paksa aku untuk hal ini. Aku tidak ingin mereka berdua kembali mengacaukan pernikahanku yang tinggal menghitung hari. Aku tidak ingin pernikahan yang selama ini aku harapkan harus hancur berantakan lagi dengan ulah mereka berdua”


“Dan mama sama papa bilang sama kedua anak kesayangan mama papa ini, untuk tidak hadir di pernikahan ku!!!”


Setelah berkata seperti itu, Mario langsung berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Tasya dengan cepat mengejar Mario dan menarik kuat tangan Mario


“Jangan lakukan ini sama kami kak, kami sangat menyayangi kakak….kami minta maaf kak…..” isaknya memeluk Mario dari belakang


Mario mendongakkan kepalanya dan membiarkan Tasya terus memeluknya sambil menangis sesenggukan. Raisa ikut berdiri dan ikut memeluk Mario dari samping

__ADS_1


“Kami menyesal kak. Kami minta maaf…..” isak Raisa dengan suara terputus-putus


Mario masih diam, dan terus mendongakkan kepalanya sambil mengerjap-ngerjap kan matanya. Sementara kedua adiknya terus memeluknya dan tak henti menangis


__ADS_2