
Mario tersenyum getir mendengar pertanyaanku, sementara aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tak percaya
“Ya Tuhan Mario, padahal aku memutuskan pertunangan kita dulu itu karena aku tak ingin hubungan kamu dengan adik-adik kamu itu renggang, itu saja. Jika aku tahu keputusan aku ini berdampak pada hubungan persaudaraan kalian. Aku pasti tidak akan memutuskan pertunangan kita dulu”
Kemudian antara kami sama-sama diam, tidak ada yang berbicara untuk sekian detik
“Lika liku kita untuk halal kok banyak ya Yo” ucapku kemudian sambil tersenyum getir
Mario ikut tersenyum getir, kemudian dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, tampak dia menguap, dan aku yakin dia pasti sangat mengantuk
“Tidurlah, kaya nya Ibrahim dan yang lain juga sudah nyenyak”
Mario mengusap wajahnya, kemudian menoleh kearah ruangan kerja Ibrahim yang memang lampu di sana sudah gelap
“Kamu pasti ngantuk juga kan?” tebak Mario yang kujawab dengan anggukan kepala. Kemudian Mario mengulurkan tangannya ke arahku, sehingga aku masuk kedalam pelukannya. Dan membiarkan Mario menciumi pelipisku
Barulah setelah itu, Mario melepas dekapannya dan aku mengangkat kepalaku. Kemudian kami sama-sama bangkit dan berpisah diujung tangga
Besoknya aku bangun kesiangan, jika tidak Meka dan Bobby masuk ke kamarku tentulah mereka akan terlambat untuk ke sekolah
Dan setelah kedua anakku berangkat sekolah, aku masuk keruangan kerja paket. Di sana aku lihat empat lelaki yang tidur di lantai masih tampak pulas. Tidak ada tanda-tanda jika keempatnya akan bangun. Aku hanya tersenyum melihat ekpresi tidur Mario yang sangat lucu
Karena Mario masih belum bangun, akhirnya aku mengirimkan pesan di grup toko, bahwa aku hari ini akan datang siang ke toko, jadi mereka handle dulu urusan toko. Barulah jam delapan lewat keempatnya bangun, dan Mario yang matanya masih tampak merah memilih naik ke kamarku dan melanjutkan tidurnya disana
“Nggak dinas?” tanyaku padanya dengan heran
Mario hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan membiarkannya melanjutkan tidurnya.
Pernikahan kami tinggal hitungan hari lagi, jika tidak ada halangan maka pernikahan kami akan dilaksanakan lusa. Dan sejak hari ini, di rumah kedua orang tuaku sudah ramai para tetangga bergotong royong. Bahkan telah ada tenda besar juga. Toko sudah aku liburkan, tapi restoran dan warteg belum, dua usahaku itu masih beroperasi, aku meminta pada mereka untuk libur H-1 sebelum hari H pernikahanku
Karyawan toko ikut rewang juga di rumah. Dan aku sudah hampir seminggu ini tidak bertemu dengan Mario. Kami sudah berjanji jika kami akan bertemu di hari H pernikahan kami, jadi komunikasi kami hanya melalui what’s app, no video call. Rindu sudah pasti, tapi kami berusaha menahannya. Toh hanya tinggal tiga hari lagi untuk kami bertemu
Dan akhirnya hari yang sekian lama kami tunggu itu tiba. Hari ini adalah hari pernikahan aku dan Mario. Pagi buta aku sudah bangun karena pihak mua yang akan mendandani ku sudah datang.
__ADS_1
“Ngaak usah menor lah, toh ini pernikahan aku yang kedua” ucapku pada mua ketika dia akan memoleskan bedak ke wajahku
Dan di lain tempat, pihak keluarga Mario juga tampak sibuk. Mama dan papa Mario satu minggu sebelum hari H kembali menanyakan tentang keputusan Mario yang masih bersikukuh tidak ingin kedua adiknya datang
“Nanti lah pa mereka hadir, jika aku sudah sah menikah dengan Intan. Aku nggak mau mereka mengacaukan acara saral kami” ucap Mario ketika papanya tampak kecewa dengan keputusan anak sulungnya
Karena sampai detik ini Mario masih tak tergoyahkan hatinya, kedua orang tuanya hanya bisa menarik nafas panjang dan menuruti maunya Mario
Sehingga ketika rombongan sudah siap, mereka segera berangkat menuju ke rumah orang tua Intan. Dan aku yang masih berada di dalam kamar, makin deg-degan ketika diberitahu jika rombongan Mario sudah tiba
Saat penghulu sudah hadir, dan acara ijab Kabul akan segera dilakukan, barulah aku dipanggil untuk keluar dan duduk di sebelah Mario. Dengan jantung yang berdegup kencang aku keluar dari dalam kamarku dengan digandeng oleh kedua anakku
Tentu saja, begitu banyak kamera hp selain memang ada kamera khusus yang mengabadikan momen ketika aku keluar dengan digandeng kedua anakku. Aku yang merasa canggung walaupun ini adalah pernikahanku yang kedua kalinya tetaplah menarik nafas panjang berkali-kali
“Intan berhenti….!!!! Teriak sebuah suara
Suara lantang orang yang berteriak itu mengalahkan takzimnya suasana di dalam tenda tempat dimana kami akan melangsung prosesi ijab Kabul
Aku menoleh cepat kearah sumber suara, tepatnya dibagian luar tenda. Dimana aku lihat mas Arif masuk dengan dada turun naik. Aku semakin gugup ketika melihat mas Arif berjalan tergesa masuk kedalam tenda, dan semakin merasa khawatir ketika dibelakangku berlari Ibrahim
Tak terelakkan lagi, mas Arif langsung terhuyung, dan aku yang dipegangi oleh kedua anakku, kini berpindah aku yang memegangi mereka. Tamu undangan yang ada di dalam tenda segera berdiri dan menarik Ibrahim yang tampak membabi buta melayangkan serangan ke arah mas Arif. Mas Arif juga tampak dipegangi oleh orang-orang ketika dia akan membalas serangan Ibrahim
“Jangan kacaukan pernikahan kakakku kalau kamu masih mau hidup!!!!” bentak Ibrahim emosi
Mas Arif yang tangan dan bahunya dipegangi orang berusaha menyentakkan bahunya
“Tidak akan aku biarkan Intan menikah dengan orang lain!!!”
Aku langsung membekap mulutku mendengar teriakan mas Arif, dengan cepat aku meminta pada orang untuk membawa kedua anakku masuk, aku tak ingin kedua anakku melihat keributan ini. Dan Mario yang sudah duduk di depan penghulu, yang sejak tadi sudah ingin berdiri ketika mendengar mas Arif berteriak makin tak bisa dicegah dengan penghulu dan saksi pernikahan
“Biar aku yang menyelesaikan ini!” ucap Mario sambil segera berdiri
Dia menggeleng kearah saksi yang menahan gerakan langkahnya, kemudian dia segera turun dari atas panggung dan ketika tiba di dekatku Mario memegang pundakku sebentar
__ADS_1
“Mas silahkan pergi dari sini, jangan mengacaukan pernikahan kami. Karena seperti yang mas lihat, kami akan melangsungkan pernikahan” ucap Mario menahan amarahnya
“Sudah aku bilang tadi, Intan tidak akan menikah dengan siapapun !!!!” mas Arif kembali berteriak
“Bapak lanjutkan ijab kabul bapak, biar pria ini menjadi urusan kami” ucap beberapa anak buah Mario yang hari ini berseragam batik
Mario menganggukkan kepalanya, kemudian terlihat biasa saja ketika dua anak buahnya mengunci mati tangan mas Arif
“Jika mas tidak keberatan, mas bisa lihat prosesi ijab kabul kami. Agar mas yakin, jika aku benar-benar akan menikahi Intan”
Aku menggeleng mendengar keputusan Mario, begitu juga dengan orang yang ada di dalam tenda ini. Terdengar riuh rendah suara orang di dalam tenda. Aku hanya bisa menunduk malu dan berusaha menahan air mata yang telah menganak sungai di mataku
“Tidak pak, dia akan kami bawa ke kantor. Kami tidak yakin jika dia akan berbuat damai disini. Kita lihat sendiri bagaimana dia begitu arogan” ucap salah satu anak buah Mario
“Benar mas, lelaki ini harus dipenjara untuk kedua kalinya” ucap Ibrahim
Mario akhirnya setuju dengan usul yang disampaikan kedua anak buahnya dan Ibrahim. Setelah mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Mario, kedua anak buah Mario tersebut langsung menyeret mas Arif keluar dari dalam tenda
“Aku tidak ikhlas dunia akhirat Intan jika kamu menikah lagi…….!!!” teriak mas Arif
Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar teriakannya. Dan berusaha tenang dengan menarik nafas panjang. Setelah mas Arif bisa dibawa paksa keluar dari dalam tenda, Mario membalikkan badannya dan berjalan ke arahku
“Mari……” ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arahku
Dua orang karyawanku yang sejak tadi berdiri di dekatku mundur ketika Mario mengulurkan tangannya. Dan akupun segera menyambut uluran tangan Mario
Dengan pelan kami naik ke atas panggung. Dan duduk bersebelahan. Ibuku dan keluargaku duduk di belakangku, dan Ibrahim yang duduk di sebelahku terus menggenggam erat tanganku
“Ada kami kak. Kakak tenang” lirih Ibrahim padaku
Kemudian setelah ada permintaan maaf karena ada insiden yang terduga tadi, akhirnya prosesi ijab kabul dilaksanakan
Dengan satu tarikan nafas Mario dengan lancar mengucapkan ijab kabul. Dan aku menarik nafas lega ketika kedua saksi mengucapkan kata “sah”. Kemudian tanpa sadar ada air mata yang mengalir ketika ijab kabul ini akhirnya berjalan dengan lancar
__ADS_1
Selesai semua prosesi ijab kabul dan penandatanganan surat, aku mencium punggung tangan Mario, dan Mario mengusap sayang kepalaku