
Aku segera menatap HP dengan sedih ketika percakapanku dengan Mario berakhir .
Segera aku turun, kembali ke rutinitas ku yang semula terhenti.
Sedikitpun aku tidak memikirkan lagi bagaimana tadi Mario marah. Dan juga bagaimana tadi Mario mengatakan jika perempuan yang ada di sampingnya kemarin itu bukanlah pacarnya, karena itu bukan urusan aku lagi. Terserah.
Dan dilain tempat, Mario yang selesai berbicara dengan Intan segera menghubungi perempuan yang membuat hubungannya dengan Intan menjadi renggang.
"Kamu di mana?, nanti malam kita bisa bertemu kan?".
Terdengar jawaban sumringah dari seberang yang membuat rahang Mario kembali mengeras.
Setelah itu Mario kembali berusaha fokus bekerja, tidak ingin makin terbawa emosi karena tadi sempat marah dengan Intan
Sebagai penjual aku harus mempunyai wajah ramah kepada pembeli di toko ku. Dan karena suasana hatiku masih bad mood aku kembali memanggil kasir cadangan untuk menggantikan ku lagi
Segera aku keluar dari toko, membawa lari motor dengan kecepatan sedang menuju tempat makan yang baru berjalan beberapa bulan ini.
Semua karyawan yang melihat aku datang tampak menegur dan bersikap ramah. Aku hanya membalas senyum mereka bahkan terkadang aku melambaikan tanganku
Aku langsung menuju tempat kakak iparku yang langsung memelukku hangat
"Tumben kesini, ada apa?"
Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan kakak iparku. Segera aku menarik kursi lalu duduk agak menjauh darinya. Melihat suasana tempat restoran lesehan ku yang cukup ramai siang ini
"Lagi ada masalah?"
Aku hanya menarik nafas panjang mendengar pertanyaannya
"Sama pekerjaan, apa sama mantan suami kamu?"
Aku mendecak mendengar pertanyaan selanjutnya dari kakak iparku itu
Dan kakak iparku yang mendengar ku mendecak hanya terkekeh
"Aku nggak ngurusi hidup mas Arif lagi mbak, mau jungkir balik hidup dia bukan urusan aku"
Kembali kakak iparku itu terkekeh
"Sudah lama ya Arif nggak muncul nengok anak kalian"
Aku menarik nafas panjang lalu meluruskan kakiku
"Terakhir dia datang itu mbak malah ribut sama Ibrahim, sudah itu sampai hari ini mas Arif nggak nongol lagi. Tapi baguslah dia nggak nongol lagi, dari pada dia nongol malah buat masalah"
Kakak iparku menarik kursi lalu duduk di depanku dan kembali dia tertawa mendengar jawabanku
"Lah terus kamu ada masalah apa?"
Aku kembali diam dan menarik nafas panjang
"Mario?"
Dengan cepat aku melirik kearah kakak iparku kemudian mengangguk. Wajah kakak iparku langsung berubah serius
"Kenapa?, apa masalah perempuan kemarin yang ketemu kita di bandara?"
Aku menggeleng
"Terus?"
__ADS_1
"Tau ah mbak, tiba-tiba tadi Mario nelepon, marah-marah sama aku"
"Pasti ada masalahnya kan?, nggak mungkin ujug-ujug Mario marah kalau nggak ada masalah?"
Lalu aku menceritakan apa yang tadi Mario katakan sama aku
"Padahal kan aku tidak pernah menganggap bahwa aku jauh lebih sukses dan beruang dari dia mbak, tapi Mario malah berfikir jika aku berubah karena aku memang jauh lebih kaya di banding dia, jauh lebih berpenghasilan dari pada dia. Kan nggak kaya gitu mbak konsepnya"
"Ya namanya aja orang cemburu, semua bisa dikatakan Ntan. Kamu yang sabar ya. Mbak tahu bagaimana perjuangan kamu selama ini, bagaimana ketegaran kamu diremehkan oleh kedua adiknya. Jadi jangan karena perkataan Mario kamu jadi down, harusnya kamu makin optimis, jika memang Mario masih mencintai kamu, sesulit apapun pasti bakal kembali sama kamu"
Aku menggeleng
"Perempuan bersama Mario itu pramugari mbak, sedang aku apa, hanya seorang pedagang kecil" jawabku sambil berusaha tertawa
Saat kami sibuk ngobrol dari hati kehati, terdengar suara ribut-ribut
Dengan cepat aku dan kakak iparku keluar dari dalam ruangan kami
"Ada apa?" tanyaku pada seorang karyawan yang berlari dan langsung berhenti ketika sampai di depanku
"Ada pengunjung yang ngamuk buk"
Aku mengernyitkan dahiku mendengar jawabannya, tapi itu tak lama. Karena detik berikutnya aku dan kakak iparku langsung datang ke sebuah saung yang memang tampak cukup ramai
"Maaf permisi....." ucapku
Sehingga membuat pengunjung yang berdiri memberi jalan padaku
Aku langsung menelan ludahku ketika aku melihat karyawanku berdiri dengan menundukkan wajahnya
Sementara kulihat di atas kepala karyawati ku tersebut kuah makanan dan sisa makanan bercucuran jatuh ke bajunya
"Astaghfirullah" pekikku tertahan
"Siapa yang berani melakukan ini sama kamu mbak?" tanyaku
Gadis itu tidak menjawab melainkan terus terisak
Kakak iparku segera mengambil tissue yang dibawa karyawati ku yang lain
Segera beliau membersihkan kepala karyawati ku tersebut dibantu dengan karyawati yang lain
Seketika emosiku memuncak ketika kulihat Tasya berdiri dan maju ke depanku
"Aku, aku yang melakukannya, kenapa?"
Dadaku langsung turun naik mendengar jawabannya. Sementara pengunjung yang lain, yang menonton tampak kasak kusuk
Aku menggeleng tak percaya sambil menatap wajah Tasya
"Kamu tunggu di sini, jangan pergi. Kita selesaikan semuanya" geram ku
"Oke, siapa takut?!" tantangnya
Segera aku panggil seluruh karyawanku.
"Kalian jaga tempat ini, jangan sampai dua wanita terhormat ini keluar dari tempat ini!" ucapku menahan amarah
"Heh, siapa juga yang mau pergi, kita nggak akan pergi. Lagian kamu siapa hah, sok sok an nyuruh mereka jagain kami"
Aku tidak menjawab teriakan Tasya, aku segera berjalan cepat menuju parkiran, dan langsung ngebut menuju rumah mamanya Mario
__ADS_1
Cukup jauh jarak yang harus ku tempuh untuk sampai ke rumah mamanya Mario, tapi itu tidak menyurutkan niatku untuk kesana secepat mungkin
Begitu sampai di rumah mamanya Mario, aku langsung mengetuk pintu dan langsung muncul Papanya Mario
"Ada apa nak?, kenapa wajah kamu tegang sekali?"
Sebisanya aku menahan kesal di dalam hatiku dan berusaha untuk tenang
"Mama mana pa?"
Dari dalam terdengar suara mamanya Mario dan begitu sampai di depanku, aku langsung mencium punggung tangan beliau
"Mama sama papa bisa ikut aku ke rumah makan lesehan aku nggak?"
Keduanya saling toleh
"Tasya dan Raisa ada di sana ma, dan mereka berulah. Aku nggak tahu apa masalahnya, yang pastinya satu karyawan aku yang cewek di siram kepalanya dengan makanan oleh Tasya, dan makanan itu pedas pa, aku nggak mau aku ribut sama Tasya, jadi aku panggil papa sama mama untuk bawa kedua anak papa pulang"
Dapat kulihat jelas perubahan wajah kedua orang tua Mario. Dan dengan cepat papanya Mario masuk kedalam rumah, dan telah muncul dengan membawa kunci mobil
Melihat kedua orang paruh baya itu keluar dari dalam rumahnya, dengan cepat aku naik keatas motor dan mendahului keduanya
Sepuluh menit kemudian karena aku ngebut, aku kembali telah sampai di restoran lesehan sea food ku.
Aku segera meraih tangan mamanya Mario, sedangkan papanya Mario berjalan di depan
Melihat kami berjalan, karyawanku yang tadi ku minta berjaga langsung memutus gandengan tangan mereka
"Tasya!!!!" bentak papanya Mario ketika masuk kedalam saung dimana Tasya dan Raisa dengan santainya dan tanpa dosa sedang makan menikmati sisa makanan yang belum habis
Kembali pengunjung lain kasak-kusuk, dan aku meminta pada mereka untuk kembali ke saung mereka masing-masing dan meminta maaf atas ketidak nyamanan yang terjadi
"Buat malu!!!" geram papanya Mario lagi
Dengan cepat di tariknya tangan Tasya yang membuat perempuan cantik itu langsung berdiri
PLAAAKKKKKK!!!!
Aku hanya mengedipkan mataku ketika melihat bagaimana tangan besar papanya Mario melayang ke wajah Tasya
Tasya segera mengusap wajahnya yang terasa panas akibat tamparan papanya
"Papa nampar aku padahal papa tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi??!" tanya Tasya tak percaya
"Kita ke bagian kantor saja pa, jangan disini" ucapku
Masih dengan kasar, papanya Mario menyeret Tasya keluar dari dalam saung tersebut, begitu juga dengan mamanya Mario
Beliau menarik paksa Raisa untuk ikut keluar juga mengekor di belakang papanya
Sementara aku memberi kode pada kakak iparku untuk membawa mereka ke kantor, sementara aku segera ke bagian tempat karyawan beristirahat
Melihat aku masuk, beberapa karyawan yang menemani karyawanku yang tadi disiram Tasya berdiri
"Sudah mandi mbak?" tanyaku
Gadis tersebut menggeleng
"Cuma bersihkan kepala saja buk, nggak bawa baju serep"
Aku kembali mendekapnya, dan kembali wajahnya mendung ketika ku dekap
__ADS_1
"Ikut ibuk ya, kita selesaikan semuanya"
Gadis itu mengangguk, lalu dengan menundukkan kepalanya dia berjalan bersamaku