
"Mario sudah berangkat ma?" ucapku sambil meletakkan nampan
"Belum, katanya nanti mau ajak kamu jalan-jalan, besok katanya dia langsung dinas dari rumah"
Aku ber O panjang sambil menganggukkan kepalaku lalu mengerling kearah Tasya yang kembali berwajah cerah
"Pintar sekali wanita ini bermuka dua" batinku
"Ini mama nganterin Tasya sama Raisa, katanya pengen main ke rumah kamu"
Aku melirik kearah mereka berdua yang memasang senyum manis ke arahku
"Ya gini lah keadaan rumah mbak, biasa aja nggak ada yang istimewa" ucapku masih memasang senyum pada mereka
Keduanya tampak mengedarkan pandangan mereka ke seluruh ruangan rumah kami
"Di belakang ada sawah, malah bagus pemandangannya" ucap mamanya Mario
Keduanya kembali saling lirik dan berdiri
"Kami boleh kesana kan mbak?"
Aku mengangguk sambil ikut berdiri pula, berjalan mendahului mereka, membuka pintu belakang dan bersama mereka aku berdiri di teras belakang melihat hamparan sawah yang menghijau
"Aku nggak yakin tujuan kalian berdua kesini bukan ingin melihat rumah mbak, pasti ada tujuan lain, iya kan?" ucapku tanpa melihat mereka melainkan terus memandang ke depan
Terdengar langkah kaki mendekat ke arahku dan aku melirik jika yang berjalan mendekat adalah Tasya
"Mbak ngomong apa sama kak Mario?, semalam sebelum tidur kak Mario bicara empat mata sama kami berdua"
Aku memutar badanku menghadap kearah mereka
"Kan aku semalam sudah bilang, aku tidak ngadu apa-apa sama Mario"
Keduanya tersenyum sinis dan tampak sekali meremehkan
"Sayaaaangggg....?" terdengar suara teriakan yang membuat kami bertiga langsung menoleh kearah dalam
Kulihat Mario berjalan terburu kearah belakang. Aku langsung memasang senyum kearahnya
Mario seperti tak melihat jika disana ada kedua adiknya, segera dia mendekapku dan mengusap-usap kepalaku
Aku mengerling kearah Tasya dan Raisa yang membuang muka mereka
"Kok nyusul sih?" tanyaku ketika Mario melepas dekapannya padaku
"Kangen aja sama kamu"
Kembali aku mengerlingkan mataku kearah Tasya dan Raisa yang memutar mata mereka dengan malas
"Lihat apa dek?, sejuk ya rumah mbak Intan?" ucap Mario kearah kedua adiknya yang memasang senyum kaku
Raisa dan Tasya tidak menjawab melainkan terus menatap lurus ke depan
"Sayang, untuk makan malam kita yang semalam pending karena kamu ada tamu, siang ini aku rencananya ngajak kamu makan siang, mau ya?"
__ADS_1
Kembali aku mengerling kearah Tasya dan Raisa
"Aku sudah masak, makan di rumah aku saja kenapa?"
Mario tersenyum dan mencubit kecil hidungku
"Istri idaman banget sih kamu, rajin banget masak, bisa sehat lambung aku kalau kita cepat-cepat nikah"
Aku tertawa kecil, tapi tidak dengan Tasya dan Raisa, keduanya masih berwajah datar
"Yo, tunggu disini sebentar ya, aku mau keatas, mau mandi" ucapku sambil nyengir kuda kearahnya
Kembali Mario mengacak rambutku
"Aku suka lihat kamu pakai daster, nanti pakek daster lagi ya?" godanya
Lalu aku menoleh kearah kedua adik Mario yang masih menatap lurus ke depan, kemudian aku berlalu dari hadapan mereka
Aku masuk, dan kulihat mamanya Mario tampak ikut menonton dengan Meka dan Bobbi, aku tersenyum melihat kearah mereka kemudian naik ke atas
Sementara di belakang, Mario menarik nafas panjang sambil menarik kursi, kemudian dia duduk dan menatap kearah kedua adiknya yang masih membelakanginya
"Kakak tahu apa yang kalian lakukan"
Tasya dan Raisa saling lirik, kemudian keduanya membalikkan badan mereka
"Semalam ini sudah kita bahas kak, dan kakak sendiri dengarkan apa jawaban kami" jawab Tasya
"Intan tidak bilang apa-apa sama kakak, tapi kakak tahu dari perubahan wajah dan gerak matanya, jika saat dia pulang terjadi sesuatu padanya"
"Kakak masih nggak percaya sama kami dan lebih percaya mbak Intan?" setelah berkata seperti itu Raisa menggelengkan kepalanya seperti tak percaya
"Sampai detik ini Intan tidak bilang apa-apa sama kakak, dan sekali lagi kakak tanya sama kalian berdua, apa yang telah kalian lakukan pada Intan?"
Terdengar tarikan nafas panjang dari Tasya dan Raisa
"Kakak benar-benar sudah di brain wash sama perempuan itu sampai kakak tidak bisa berpikir jernih lagi"
Mario tersenyum kaku mendengar ucapan Raisa
"Kakak tidak butuh lie detector untuk membuat kalian berkata jujur, dari gerak mata dan tangan kalian saja kakak sudah tahu jika kalian berdua bohong"
Tasya dan Raisa menelan ludah mereka
"Kakak ini polisi, dan sudah lebih dari sepuluh tahun jadi polisi, sudah ratusan penjahat yang kakak hadapi, dari penjahat kelas teri sampai kelas kakap, jadi kalau untuk mengetahui kalian jujur atau tidak, itu hal yang mudah bagi kakak"
Kembali Tasya dan Raisa saling lirik dan tiba-tiba jantung mereka jadi berdegup kencang dan terlihat sekali mereka gugup
"Loh.....masih disini?" ucapku yang membuat ketiganya yang semula diam jadi menoleh
Mario mengulurkan tangannya ke arahku yang membuatku berjalan kearahnya
"Kok nggak dasteran?"
Aku terkekeh
__ADS_1
"Ya masa ada tamu istimewa aku pake daster, bisa ilfil nanti Raisa sama Tasya" jawabku sambil menatap kearah keduanya yang tersenyum kaku
Saat ini aku memakai dress selutut berbahan rajut yang ngepas di bodyku, dengan rambut yang sengaja aku urai, sehingga tak kalah modisnya dengan mereka berdua
"Kamu mau minum apa Yo?"
Mario tampak berpikir kemudian menggeleng
"Kami ke depan ya mbak" ucap Tasya yang kujawab dengan anggukan kepala
Aku hanya melihat keduanya yang berjalan ke depan, kemudian aku menarik tanganku yang sejak tadi digenggam Mario
"Kenapa sekarang ditarik?, tadi ada Raisa sama Tasya kamu nggak nolak?"
Aku memukul lengannya dan mengajaknya ikut ke depan, Mario menurut, berdiri dan menarik tanganku saat aku berniat berjalan mendahuluinya
Cup...!!!
Sebuah ciuman mendarat mulus di pipi kiriku yang membuatku yang kaget langsung refleks memukul lengannya
"Aku aduin mama nanti" ucapku geram
Mario terkekeh, bukannya menjauh malah dia melingkarkan tangannya di bahuku
Ketika sampai di ruang tamu, aku melihat Tasya dan Rasya sedang melihat-lihat foto yang tergantung di dinding
"Ini suami mbak?" tanya Raisa
Aku mengangguk, kulihat dia tampak menarik bibirnya kesamping sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"Kenapa cerai mbak?" lanjutnya sambil terus memperhatikan foto yang lain tanpa menoleh ke arahku
Aku mendongakkan kepalaku kearah Mario
"Jodohnya sudah habis" jawabku
"Biasanya kalau orang cerai hidup itu pasti karena bermasalah, benarkan mbak?"
Aku tersenyum kearah Tasya sambil menganggukkan kepalaku. Tasya membalikkan badannya menatap ke arahku
"Gimana rasanya mbak?, sakit kan dikhianati?"
Mataku membulat mendengar ucapannya, aku menelan ludahku merasa tak percaya jika kalimat itu meluncur dari mulutnya
"Tasya, maksud kamu apa?"
Aku memegang tangan Mario sambil menggeleng kearahnya
"Cuma sesama perempuan yang pernah merasakan bagaimana diselingkuhi saja yang tahu seperti apa rasanya" jawabku masih dengan nada pelan
Tasya tersenyum sinis dan melirik kearah Raisa yang juga tersenyum sinis
"Tapi kak Mario ngggak sadar ya bagaimana dulu dia mbak selingkuhi"
Aku kembali menelan ludahku dan kembali berusaha tersenyum kearah mereka
__ADS_1
"Kisah kami berbeda, aku dulu mundur dari Mario, bukan menyelingkuhinya"