
Mario yang terus berada di dalam kamarnya, masih memilih tak keluar kamar ketika mamanya kembali mengetuk pintu, memintanya turun untuk makan malam
“Aku tadi sudah mampir di ruko Intan ma, dan kami makan bersama disana” bohongnya pada mamanya yang hanya bisa memilih menganggukkan kepala dan memilih turun kembali
“Masih nggak mau?” tanya papanya Mario menoleh kearah istrinya yang berjalan sendirian
Mamanya Mario mengangguk. Dan kembali Tasya dan Raisa hanya bisa menarik nafas panjang
“Kami harus apa ma?” tanya keduanya
“Sabar, Cuma itu yang harus kalian lakukan sekarang. Jangan paksa kakak kalian untuk mengerti dan memahami kalian. Kan papa sudah bilang,makanya mulut itu dijaga. Jangan asal asbun. Kalian kan sudah tahu bagaimana kakak kalian, kalian yang salah. Kalian terlalu egois”
Tasya dan Raisa kembali tertunduk mendengar omelan papanya. Sementara jam terus bergerak malam, tanda-tanda Mario untuk turun dan bergabung dengan merea juga sepertinya tidak ada. Sehingga mamanya akhirnya menyuruh kedua anak perempuannya kembali ke kamar mereka dulu bersama dengan anak mereka
“In shaa Alloh besok pagi kakak kalian sudah dingin hatinya” hibur sang mama ketika kedua anaknya akan masuk ke kamar mereka
Sementara di lain tempat
Aku yang sudah berbaring hanya bisa membolak balikkan badanku dengan gelisah. Pikiranku menerawang kemana-mana. Yang pastinya pikiranku melayang kepada kedua adik Mario. Entah rasanya aku over thinking dengan mereka berdua
Bukan tanpa alasan aku over thingking terhadap mereka berdua, Karen bukan sekali dua kali mereka berurusan denganku, tapi sudah sangat sering. Bahkan aku sudah tidak bisa menghitungnya. Mulai dari hinaan dan cacian, sampai berulah di restoranku keduanya juga sudah pernah
Aku sudah menggenggam hp di tanganku, berharap jika Mario akan menghubungiku. Tapi hingga larut Mario tidak juga menghubungiku, mungkin dia sudah tidur atau mungkin dia sedang berembuk dengan kedua adiknya. Bukankah tadi aku memang memintanya untuk bicara baik-baik pada kedua adiknya?
Aku menarik nadas panjang, kemudian kembali meletakkan hp di lantai dan mencoba untuk memejamkan mataku
Mario sudah bangun pagi-pagi sekali. Seisi rumah belum ada yang bangun, tapi dia sudah terjaga. Dengan cepat dia masuk kedalam kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin, setelah itu melaksanakan kewajibannya kemudian turun ke bawah
Saat di tangga, didengarnya pintu kamar mamanya dibuka. Mario yang setengah berlari ketika menuruni tangga menoleh sekilas. Kemudian melanjutkan langkahnya
“Mario?” suara sang mama menghentikan langkahnya
Mario menoleh, kemudian berhenti dan membalikkan badannya
“Mau kemana kamu sudah berpakaian dinas sepagi ini?” tanya mamanya heran.
“Pergi ke kantor ma” jawab Mario asal
Mamanya menarik nafas panjang, kemudian diraihnya tangan Mario dan di bawanya duduk di ruang tamu
“Tunggu mama disini, mama shalat dulu. Setelah ini kita bicara”
Mario diam tak menjawab, melainkan hanya menganggukkan kepalanya saja. Mamanya langsung berdiri dan berjalan kearah satu ruangan yang sering di pakai shalat di rumah besar ini. Mario merebahkan kepalanya disandaran sofa, kemudian mencoba memejamkan matanya kembali
Tak lama terdengar langkah kaki kedua orang tuanya yang ternyata telah selesai shalat. Keduanya langsung duduk berhadap-hadapan dengan Mario
__ADS_1
“Bilang sama papa” ucap papa Mario sambil menatap wajah Mario
Mario menarik nafas panjang, kemudian meluruskan kakinya. Barulah setelah itu dia membalas tatapan kedua orang tuanya
“Aku nggak mau bertemu Raisa dan Tasya,ma, pa”
Terdengar tarikan nafas panjang dari papa mamanya. Dan Mario hanya membuang wajahnya ketika mendengar nafas panjang dari kedua orang tuanya
“Mereka adik kamu Mario. Mereka datang kesini dengan niat baik”
Mario menggeleng mendengar ucapan mamanya
“Maaf ma, aku harus pergi. Maaf jika sikap aku kekanak-kanakan dan mengecewakan mama dan papa. Tapi ini harus aku lakukan. Aku tidak mau rencana pernikahan aku yang tinggal menghitung hari berantakan karena mereka berdua”
Setelah berkata seperti itu, Mario berdiri dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya
“Apa kantor sudah buka Yo?” tanya mamanya tak yakin
Mario tersenyum
“Ma, kantor polisi itu buka 24 jam” jawab Mario sambil tertawa kecil. Selesai itu, Mario segera keluar dari dalam rumah orang tuanya, langsung menuju garasi dan mengeluarkan motor besarnya
“Hati-hati nak….” Ucap sang mama ketika Mario sudah duduk di atas jok motor.
Mario yang telah selesai memakai helm member hormat menjawab ucapan mamanya, kemudian dia melambaikan tangannya kemudian langsung melajukan motor, menembus jalan yang masih gelap
Aku harus berjalan kearah meja ketika hp ku berdering. Dan mengernyitkan dahiku ketika tampil nama Mario di layar
“Ya Mario?” jawabku
“Buka pintunya sayang, aku di depan”
Aku melongo mendengar jawaban Mario. Tapi tak urung itu membuatku berjalan kearah depan dan membuka rolling
Ketika rolling terbuka sedikit, aku melihat wajah Mario yang tersenyum manis ke arahku. Mario masuk ketika rolling terbuka pas untuk untuk tubuhnya. Dengan segera dia mendekapku begitu aku selesai menutup rolling kembali.
Aku hanya mengelus pundaknya dan menghirup aroma maskulin dari tubuhnya. Kemudian aku menatap heran pada Mario yang terus menatap ke arahku
“Kamu nggak semalaman diluar kan?”
Mario tersenyum, kemudian dia mengacak rambutku dan membawaku berjalan masuk
“Ya nggak lah. Ngapain aku diluar, mending aku masuk kalau aku berada di luar”
Aku ikut duduk di sebelah Mario dan terus menatap kearahnya
__ADS_1
“Aku males saja di rumah sayang, makanya pagi-pagi buta aku sudah pergi”
Aku ber O panjang mendengar kelanjutan ucapannya. Kemudian aku berdiri dan berjalan kearah dapur. Tapi ternyata Mario malah mengiring di belakangku
“Kopi apa teh?” tanyaku
“Cappuccino ada sayang?” jawabnya
Aku mengangguk, kemudian membuka kulkas dan mengambil satu saset cappuccino instan, menyeduhnya dan meletakkan di depannya
“Aku masih belum mau bicara sama kedua adikku” ucap Mario ketika meletakkan cangkir yang tadi disesap isinya
Aku yang sedang fokus dengan pekerjaanku menghentikan gerakan pisau yang ada di tanganku, kemudian mengangkat kepalaku dan menatap diam kearah Mario
“Bisa kacau ini” batinku
“Aku ingin memberi mereka pelajaran terlebih dahulu. Biar mereka tahu jika aku masih marah dan belum memaafkan mereka berdua” tambah Mario
Aku menarik nafas panjang kemudian melanjutkan pekerjaanku.
“Jika kamu masih ngantuk, kamu bisa naik ke kamarku. Tidurlah lagi disana. Nanti ketika saatnya kamu bangun, aku akan bangunkan” ucapku tanpa menoleh kearah Mario yang masih tampak asyik dengan cangkir kopinya
“Ibrahim masih di depan?” tanya Mario lagi
“Iya, masih tidur dia. Entah anak itu, susah sekali dibangunkan untuk shalat. Padahal sudah umroh” jawabku asal tanpa menoleh kearah Mario
“Aku berbaring di sofa saja sayang, nggak enak jika harus tidur di kamar kamu. Nanti ketika kita sudah sah saja” jawab Mario sambil berdiri dan mencium pipiku sekilas
Aku menoleh kearah Mario ketika dia mencium pipiku tadi, kemudian aku mengelus wajahnya.
“Mana baiknya sajalah, tapi jika nanti Meka atau Bobby berisik ketika mereka tahu ada kamu tidur di sofa, jangan marah ya?”
Mario tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia berlalu dari hadapanku dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Dan aku melanjutkan pekerjaanku
Suasana toko masih seperti biasanya, akan ramai ketika menjelang siang. Dan aku tetap fokus di depan meja kasir. Sesekali aku harus berbagi fokus ketika kakakku atau bagian restoran dan warteg menelepon
Sayang, undangan pernikahan kita sudah jadi, dan aku tadi sudah meminta Ibrahim dan kedua temannya untuk menyebarkannya. Sisanya biar anak buah ku di kantor
Aku tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh Mario padaku.
Tolong fotokan sayang, mau aku kirim sama pak Uki balasku
Pak Uki pacar pura-pura kamu itu?
Aku terpaksa terkekeh membaca balasan dari Mario, kedua kasir yang ada di sebelahku saling lirik kemudian sama-sama tersenyum
__ADS_1
“Permisi mbak…..” ucap sebuah suara yang membuatku langsung mengangkat kepalaku dan langsung menelan ludahku ketika di depanku berdiri Tasya dan Raisa
“Mau apa lagi mereka sekarang?” batinku sambil terus menatap keduanya tanpa berkedip