
Tasya dan Raisa hanya bisa duduk terhenyak dan masih terus terisak. Suami mereka terus membujuk kedua wanita cantik itu untuk segera menghentikan tangisan mereka.
Tapi bukannya berhenti menangis keduanya masih terus saja terisak. Lalu dengan pelan Ferdian menasehati istri dan adik iparnya
"Benar yang Papa bilang bahwa kalian berdua ini memang orang berpendidikan, jujur saya secara pribadi itu tidak menyangka jika kalian berdua bisa melakukan perbuatan rendah seperti bukan orang berpendidikan. Tapi semuanya sudah terjadi dan sebagai manusia kita memang tidak pernah luput dari kesalahan.
"Dan sudah seharusnya kita belajar dari kesalahan kita untuk memperbaikinya dan saya harapkan sama kamu istriku tersayang kalau saat ini kamu harus lebih bijak lagi dalam menyikapi semua permasalahan. Tidak semua yang kamu inginkan itu baik untuk orang lain".
Wajah Tasya langsung berubah cemberut mendengar ucapan suaminya.
"Papa tidak mengetahui sebenarnya siapa Intan oleh karena itulah makanya kami tidak setuju kak Mario itu menikahi perempuan itu" jawab Tasya.
Ferdian dan Virgo menarik nafas dalam dan keduanya sama-sama menggeleng melihat kelakuan istri mereka.
"Boleh ke sini saya bicara jujur" ucap Virgo yang sejak tadi diam.
Semuanya langsung menoleh ke arah Virgo. Lalu Virgo menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia berkata.
"Sebenarnya, dulu papa dan mama saya itu tidak menyetujui saat saya mau menikahi Raisa" ucapkan Virgo yang mampu membuat mata Raisa melotot kaget.
"Kamu nggak usah mengadang-ngada deh Pa" sanggah Raisa.
"Saya tidak mengada-ngada Ma, saya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Itulah kenyataannya. Selama ini saya menutupinya dari mama karena saya tidak ingin membuat hati Mama terluka."
Sekarang bergantian wajah Raisa yang cemberut.
"Tapi saya terus meyakinkan kedua orang tua saya bahwa kamu adalah wanita yang tepat dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya" lanjut Virgo kembali.
"Tentu saja saya wanita yang tepat kan saya dokter" jawab Raisa sombong.
Virgo tersenyum masam mendengar jawaban tajam istrinya.
"Di sini itu bukan masalah status sosialnya Ma. Kedua orang tua saya itu awalnya tidak setuju karena attitude kamu Ma.Kamu ingat tidak pertama kali saya mengajak mama Makan malam dengan kedua orang tua saya"
"Saat itu Mama berlaku kasar kepada seorang pelayan yang tidak sengaja menumpahkan sedikit makanannya kemeja, dan mengenai baju mama, mama ingat kan?"
"Tapi saya terus meyakinkan kedua orang tua saya, hingga akhirnya mereka menyerahkan semuanya pada saya. Dan disini saya hanya meminta kerendahan hati mama, jangan mengecewakan kepercayaan saya"
Wajah Raisa kian ditekuk dan tangis sedihnya berubah jadi rasa kesal. Begitu juga dengan Tasya, dia juga menekuk wajahnya
Hingga akhirnya, keduanya bukannya berhenti membenci Intan, malah semakin marah dan semakin tidak menyukai wanita itu
Dan di lain tempat, Mario yang sejak Intan memutuskan pertunangan mereka berusaha menata kembali hidupnya
Setiap hari dia berusaha untuk bersikap seperti tak terjadi apa-apa dalam hidupnya
Komunikasinya dengan Intan pun tidak lancar. Mario bukannya tidak berani menghubungi wanita pujaannya, tetapi dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa jika jodoh tak akan kemana, dan dia juga yakin bahwa Intan akan benar-benar mewujudkan impiannya untuk menjadi wanita sukses
Mario sangat mengenal Intan, seorang wanita yang ambisius dan tidak bergantung pada siapapun, benar-benar wanita mandiri
Untuk mengobati rindunya pada Intan, Mario hanya bisa memantau Intan dari sosial medianya
__ADS_1
Itulah mengapa setiap kali Intan live selalu ada Mario yang melihat tayangannya
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Mario menahan hatinya untuk tidak menemui Intan sampai akhirnya dia memilih untuk menjauh dari Intan dengan mengajukan surat pindah
Ketika surat pindahnya disetujui, Mario hanya berpamitan dengan Intan melalui pesan singkat
Padahal jika menuruti keinginan hatinya, ingin sekali Mario bertemu dan berpamitan langsung dengan Intan
Tapi Mario tidak mempunyai keberanian, dia takut sendiri dengan perasaannya, bisa jadi ketika melihat wajah Intan dia malah berubah pikiran
...----------------...
Dan hari ini, aktifitas ku berjalan seperti biasanya. Kembali aku berada di toko
Siang jam sebelasan saat toko sedang ramai-ramainya, aku melihat sepasang suami istri yang masuk kedalam tokoku. Dan dengan segera karyawanku langsung mendekati wanita paruh baya tersebut dan tampak bercakap-cakap
Aku segera melambaikan tanganku kearah karyawan yang biasa menggantikan ku menjadi kasir jika aku sedang sibuk
Ketika karyawanku tersebut telah berdiri di bagian kasir, aku segera berjalan kearah sepasang suami istri tadi yang tampak sedang memilih-milih barang
"Selamat siang ibu....." sapaku
Wanita paruh baya tersebut langsung memutar badannya begitu aku menyapanya
"Intan......" jawabnya yang langsung merentangkan kedua tangan nya dan aku langsung mendekapnya hangat
"Apa yang bisa Intan bantu buk?" tanyaku lagi setelah kami saling melepaskan dekapan kami
Wanita paruh baya tersebut menatap tak percaya padaku
Aku tersenyum getir mendengar jawaban wanita itu yang tak lain adalah mamanya Mario
"Apa mama masih mau aku panggil dengan sebutan mama?" tanyaku pelan
Mamanya Mario kembali mendekap ku dan kembali aku tersenyum getir
"Jika mama sama papa tidak keberatan?, kita naik saja ke atas, kita mengobrol di atas saja. Nanti jika mama mau belanja biar Intan yang temani mama keliling" sambung ku
Mama dan papa nya Mario mengangguk setuju, lalu aku membimbing mama Mario berjalan ke arah tangga
Sampai di atas, sesuai dengan pesan yang ku kirim dengan salah seorang karyawanku, tak lama setelah itu datanglah makanan yang langsung ku hidangkan untuk menemani kami ngobrol
"Mama kangen sama kamu Ntan...." lirih mamanya Mario yang mampu menggetarkan hatiku
Aku memandang wajah beliau dengan mata berkaca-kaca
"Intan juga kangen sama mama"
Lalu kami kembali saling rangkul dan kulihat wajah papa Mario tampak sendu menatap kami berdua
"Mamaaaa......" teriak suara gradak gruduk di tangga yang membuat ku melepas dekapan ku pada mamanya Mario
__ADS_1
Muncul Meka dan Bobbi yang begitu melihat ada mama papa Mario langsung mempercepat langkah mereka dengan kembali berteriak kencang
"Oma... opa....." secara berebutan keduanya menubruk badan mama papanya Mario
Aku yang melihat jadi tersenyum sendiri dan ikut terharu
"Kami kangen banget sama oma dan opa" ucap Meka yang langsung duduk manja di pangkuan mamanya Mario
Bobbi juga tak mau kalah, dia juga menggelendot manja di pangkuan papanya Mario
"Nak jangan seperti itu, kasihan opa sama oma"
Bukannya melarang mama papanya Mario malah senang karena kedua anakku menggelendot manja pada mereka
"Opa sama oma juga kangen sama kalian berdua"
Aku kembali tersenyum haru mendengar jawaban papanya Mario
"Oma, papa Mario kok nggak pernah datang ke tempat kami lagi ya?, Opa tahu nggak papa Mario kemana?" tanya Bobbi polos yang mampu membuat degup jantungku berpacu cepat
Mamanya Mario melirik ke arahku dan aku langsung menundukkan kepala ku, karena memang aku tidak memberi tahu kedua anakku seperti apa hubungan aku dan Mario sekarang
"Kalian kangen sama papa?" tanya mamanya Mario
Dengan cepat Meka dan Bobbi mengangguk. Dan aku kian menunduk dalam melihat jawaban kedua anakku
"Kita video call sama papa kalau begitu" ucap papanya Mario yang telah mengeluarkan hp nya
Degup jantungku kian berdebar kencang ketika mendengar suara Mario
"Ya Tuhan, Mario....." bisik hatiku
"Papa sama mama ada di tokonya Intan" ucap papanya Mario yang membuat wajah Mario langsung berseri
"Papaaaaa......" teriak kedua anakku yang membuat papanya Mario langsung memberikan hp pada Meka
Dengan cepat Meka meletakkan hp papanya Mario di lantai bersandar pada tas ransel sekolahnya
Aku mencuri-curi pandang melihat kearah Mario yang sedang mengobrol dengan kedua anakku
Terdengar jelas bagaimana mereka bertiga mengucapkan kalimat rindu mereka yang kembali membuat jantungku berdebar tak karuan
"Mama mana nak....?" tanya Mario akhirnya
Kalimat yang sejak tadi aku tunggu, kalimat yang aku harapkan sekaligus yang aku takutkan
"Mama sini..... papa Mario nanyain mama loh....." ucap Meka yang membuatku tersenyum kaku
Dengan ragu aku mengambil hp yang diulurkan Meka padaku
Dan degup jantungku kian berdegup kencang ketika akhirnya aku kembali melihat wajah Mario
__ADS_1
"Intan Permata Sari....." sapa Mario
Aku menelan ludahku dan berusaha untuk tersenyum ke arahnya