
Mas Arif terus memandang dalam pada mataku. Dan aku yang sama sekali sudah tidak ada perasaan apapun padanya hanya membalas tatapannya dengan biasa saja
"Ini mas saya bawakan makanan kesukaan kamu" ucapku sambil membuka rantang dan memberikan pada mas Arif
Kulihat mas Arif kembali memandang dalam padaku
"Makanlah, aku yakin makanan disini tidak terlalu enak untuk lidah mas yang biasa makan enak"
Mas Arif tersenyum getir, lalu dia menarik rantang yang kusodorkan, menyendokkan nasi dan mulai makan
"Meka dan Bobbi mau?" tanyanya
Kedua anak kami menggeleng
Aku hanya memperhatikan bagaimana Mas Arif makan dengan lahap
Selama mas Arif makan kami tidak bicara sama sekali sampai mas Arif menyelesaikan makannya barulah kami kembali mengobrol
"Ma, ada yang ingin papa sampaikan"
Aku kembali tersenyum getir mendengarnya masih memanggilku dengan sebutan mama
"Panggil aku dengan nama saja mas, nggak enak didengar orang lain jika mas masih memanggilku dengan sebutan mama" protesku
Kembali kulihat mas Arif tersenyum getir
"Nggak bisa ma, sulit rasanya merubah panggilan itu"
Giliran aku yang tersenyum getir. Meka dan Bobbi turun dari bangku tempat mereka duduk lalu berlarian di sepanjang koridor ruang besuk
"Mau ngomong masalah apa mas?"
Mas Arif menarik nafas panjang dan kembali menatap dalam mataku
"Mirna hamil" lirihnya sambil menundukkan kepalanya
Aku menarik nafas panjang dan tiba-tiba wajahku berubah mendung
__ADS_1
"Selamat ya mas" lirihku berusaha tersenyum
Entah mengapa tiba-tiba ada rasa sedih di hatiku mendapati jika Mirna hamil anak mas Arif, mantan suamiku
Mas Arif mengangkat wajahnya lalu membalas senyumku dengan senyum getir pula
"Sudah berapa bulan?" tanyaku kembali
"Kata Mirna kemarin sudah masuk empat bulan"
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil kembali berusaha tersenyum
"Kalian sudah menikah?" tanyaku lagi
Mas Arif menggeleng yang harus membuatku kembali menarik nafas panjang
"Nikahilah Mirna secepatnya mas, agar anak kalian tidak dianggap anak haram oleh orang-orang, kasihan Mirna"
"Tapi aku tidak mencintainya ma....."
Aku sekali lagi menarik nafas panjang dan menatap dalam pada mas Arif
"Mas harus bertanggung jawab padanya, jika bukan karena mas, belum tentu Mirna akan hamil seperti sekarang, ingat mas, mas ada anak perempuan" lanjut ku sambil menatap kearah Meka yang sekarang sedang melompat-lompat di lantai ruang tunggu ini layaknya dia sedang bermain engkleng
Mas Arif mengusap kasar wajahnya, dan kulihat matanya telah basah
"Aku tidak menyangka ma jika keisenganku akan berakhir seperti ini" lirihnya lagi
Aku tersenyum menyeringai mendengar jawaban mas Arif
"Ya anggap saja mas sedang menang maen lotre" tambahku mencoba untuk mengajaknya tertawa
"Apa yang harus aku lakukan ma, aku benar-benar tidak mencintai gadis itu"
Aku mendecak yang akhirnya membuatku harus menggenggam tangannya
"Mas harus nikahi Mirna, ingat mas ada karma. Aku takut karma mas menimpa pada Meka" ucapku tegas mencoba menyadarkannya
__ADS_1
"Tapi ma?"
"Nggak ada tapi-tapian" jawabku menepis tangannya dengan kasar
"Makanya mas sebelum melakukan sesuatu itu ingat akibatnya, jangan ingat nikmatnya saja" sindirku
Mas Arif kembali mengusap wajahnya
"Apa mama nggak mencintai aku lagi?"
Aku yang tadi membuang wajahku, refleks menoleh kembali kearahnya dengan memandang tak percaya
"Tidak mas, aku tidak mencintai mas lagi, sejak mas kegerebek dan masuk berita di tivi, sejak itulah cinta aku hilang tak berbekas sama mas, mas tahu sendiri bagaimana sikapku berubah dingin setelah itu"
Mas Arif menundukkan kepalanya
"Sudah mas, aku mau pulang dan kuharap mas segera nikahi Mirna, kasihan gadis polos itu. Dia telah menyerahkan mahkota yang harusnya dia jaga pada lelaki seperti mas" jawabku kembali dengan nada dingin sambil membereskan rantang bekas mas Arif makan
"Meka,Bobbi....!" panggilku pada kedua anak kami yang segera berlari kearah kami
"Salim sama papa, kita pulang, sudah cukup lama kita disini" ucapku ketika keduanya kembali duduk di dekat mas Arif
Wajah kedua anak kami langsung mendung ketika mas Arif memeluk mereka
"Jangan nakal ya nak, dengarin semua omongan mama" ucap Mas Arif sambil mengusap kepala keduanya.
Setelah itu aku bangkit dan menerima uluran tangan dari mas Arif
Aku dan kedua anak kami segera keluar dari dalam lapas lalu berjalan kearah parkiran dan segera naik keatas motor pulang ke rumah kami
...----------------...
Seminggu setelah aku dan kedua anakku menjenguk mas Arif aku dikejutkan ketika melihat status what's app mbak Sari
Aku tersenyum kaku ketika melihat status yang dibagikan oleh mbak Sari siang ini
Di status tersebut tampak gambar mas Arif dan Mirna tengah duduk menghadap seorang penghulu
__ADS_1
Mas Arif dan Mirna saat itu sama-sama mengenakan baju putih layaknya baju pengantin
"Alhamdulillah akhirnya mas Arif mau menikahi Mirna" gumamku sambil terus menatap gambar mereka