Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Ke Rumah Mario


__ADS_3

Jam sembilan travel yang akan membawaku menuju tempat Mario sampai di depan rumah


"Tumben mbak, biasanya paketnya dititipin ke saya, kok kali ini mbak sendiri yang antar?" tanya supir travel yang memang menjadi langgananku menitip barang jika ada pesanan dari daerah sekitaran tempat tinggal Mario


"Sekalian mbak mau ada yang dicari di sana, ya itung-itung refreshing lah" jawabku sambil tersenyum


Supir travel yang berusia tak jauh di bawahku itu hanya menganggukkan kepalanya dengan ikut tersenyum, lalu dia segera melajukan mobil menuju penumpang lain yang juga satu arah denganku


Sepanjang jalan menuju daerah tempat Mario aku menoleh keluar jendela yang sengaja aku buka jendelanya


Pemandangan cantik dengan hamparan kebun menghijau dan juga ada beberapa villa di kejauhan karena daerah disini adalah daerah dataran tinggi dengan udara yang dingin dan sangat cocok digunakan untuk bercocok tanam dan dijadikan membangun villa, tak jauh berbeda dengan daerah tempat dinas baru Mas Arif


"Kalo dingin ditutup aja mbak kacanya" ucap supir travel ketika dilihatnya aku melipat kedua tanganku di dada


Aku menggeleng


"Pemandangannya sangat cantik, tidak ada di daerah kita" jawabku sambil terkekeh


Satu persatu isi mobil berkurang hingga tinggal kami berlima isinya


"Kamu tahukan mas daerahnya?" tanyaku pada supir ketika belum juga sampai di tempat Mario


"Sebentar lagi mbak, belokan di depan sana"


Aku mengangguk, dan benar mobil langsung berhenti di kawasan perumahan


"Nomor berapa mbak?"


"19" jawabku yang melihat ke kanan dan ke kiri, melihat nomor rumah agar tidak nyasar karena bentuk rumah disini sama semua"


"Ini mbak" ucap supir menghentikan mobilnya


Dan aku melongok keluar melihat nomor rumah yang tertera menunjukkan angka 19


Jantungku tiba-tiba berdegup kencang ketika aku akan turun dari mobil


Dan aku segera meraih kantong kresek yang aku bawa dari rumah yang berisi skincare dari Mario


"Pulangnya gimana mbak?"


Aku diam mencoba berfikir


"Nanti mbak hubungi, dan kamu jangan lupa telpon mbak jika kamu di arah jalan pulang"


"Sip mbak"


Aku tersenyum lalu sedikit menganggukkan kepalaku pada supir yang juga menganggukkan kepalanya ke arahku


Dengan jantung yang masih berdegup kencang aku berjalan kearah pagar rumah nomor 19


Aku segera mendorong pagarnya dan berjalan masuk dengan pelan. Ketika sampai di depan pintu yang tertutup rapat aku menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya aku mengetuk pintu


Sudah berkali-kali aku mengetuk pintu tetapi tak ada juga sahutan dari dalam

__ADS_1


"Ya Tuhan istri Mario kemana sih?" gumamku


Dengan kembali menarik nafas panjang aku mengulangi mengetuk pintu dan kali ini diiringi salam


"Cari siapa kak?"


Aku langsung menoleh kearah rumah yang ada di depan rumah Mario


Jarak rumah mereka hanya dipisahkan oleh jalan setapak yang tidak terlalu lebar, kira-kira selebar enam meter yang bisa dilalui oleh mobil dan satu motor


Aku menjauh dari depan pintu, lalu berjalan ke jalan setapak


"Orang di rumah ini kemana ya mbak?" tanyaku menunjuk kearah rumah Mario


"Oh, pak Mario?, jam segini dia masih dinas kak, rumahnya kosong, nanti sore atau malam baru pak Mario nya pulang"


Aku bengong mendengar jawaban wanita muda itu


"Tapi istrinya ada kan di rumah?" tanyaku kembali


Wanita muda yang berjalan ke arahku itu terkekeh


"Istri?, pak Mario masih lajang kak, lebih tepatnya duda, duda keren" jawab wanita muda itu sambil terus terkekeh


Kembali aku terbengong hingga mulutku ternganga mendengar jawaban wanita muda itu


"Duda?" tanyaku kaget


"He eh, istrinya meningal sekitar enam tahun yang lalu, padahal mereka masih pengantin baru saat itu"


"Loh kakak dari mana?"


"Oh, saya dari sinilah nggak jauh dari sini" jawabku berbohong


Tampak wanita itu mengangguk


"Saya jualan online, dan saya mengantar pesanan pak Mario" jawabku cepat agar wanita itu tidak curiga


"Antar ke kantornya saja kak, atau kalau tidak kakak telpon aja pak Mario nya"


Aku mengangguk, dan menyetujui ide dari wanita muda itu untuk menelepon Mario


Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke teras rumah Mario dan duduk di kursi yang ada di sana


Kulihat lantai terasnya bersih, tanaman di halamannya juga segar, untuk ukuran lelaki yang tinggal sendirian rumah ini bisa dikatakan bersih


Setelah menimbang-nimbang sebentar antara menghubungi Mario atau menemuinya di kantor akhirnya aku lebih memilih untuk menelepon Mario


"Aku sudah di depan rumah kamu" ucapku ketika panggilanku diangkat Mario


"Kamu serius?" tanya Mario tak yakin dan langsung mengganti mode panggilan ke mode video


"Masih nggak percaya?" ucapku mengedarkan hp ke seluruh teras rumah Mario

__ADS_1


Dan kulihat jika Mario tampak kaget


"Lima menit lagi aku sampai rumah" ucap Mario yang langsung mematikan panggilan


Dan aku kembali menarik nafas panjang dan menunggu Mario pulang


Untuk mengurangi rasa bosan akibat menunggu, aku berjalan kearah halaman, melihat-lihat tanaman, membuang rumput dan daun yang telah mengering pada tanaman bunga yang ada di dalam pot


Dan aku langsung berdiri ketika sebuah motor besar masuk ke halaman


"Ya Ampun Intan Permata Sari....." ucap Mario dengan nada kaget sambil melepas helm di kepalanya


Aku tersenyum kaku kearahnya yang turun dari motor


Aku mengulurkan tanganku lalu kami berjabat tangan


"Aku pikir kamu bohong bakalan kesini" ucapnya sambil melepas sepatu dinasnya dan segera berjalan kearah pintu membuka pintu yang terkunci


"Yuk masuk" ajak Mario ramah sambil membuka lebar pintu


Dengan sedikit canggung aku masuk sambil mengucap salam


Lalu aku duduk di kursi sedangkan Mario menghilang masuk kedalam. Dan kembali aku memutar mataku mengitari ruang tamunya


Sungguh, ruangan ini bersih dan rapi. Di dindingnya tergantung gambar Mario dengan seragam dinasnya, dan juga ada foto lainnya sepertinya itu foto ketika dia selesai pendidikan


Tapi aku tidak melihat adanya foto istri Mario, padahal aku sangat penasaran ingin melihat seperti apa wajah istrinya


"Kok bengong?"


Aku tergagap ketika Mario tahu-tahu sudah berdiri di dekat meja dengan membawa botol air minum dan gelas


"Maaf ya Ntan, aku buru-buru pulang sampai lupa membelikan kamu makanan"


Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku


"Aku nggak lama Yo, cuma nganterin ini" ucapku sambil menyerahkan kantong kresek padanya


Mario bergeming hingga akhirnya aku meletakkan kantong kresek tersebut di atas meja


Mario menatap ke arahku, dan aku yang ditatapnya begitu jadi gugup dan gelisah


Untuk menutupi gelisah ku, aku menuangkan air kedalam gelas lalu meminumnya dengan gugup


"Kenapa kamu kembalikan?"


Aku menelan ludahku mendengar suara dingin Mario


"Nggak pantes aja rasanya Yo" jawabku sambil menunduk


"Kenapa?"


Aku kembali menelan ludahku dan berusaha untuk tenang terlebih ketika Mario pindah duduk di sebelahku

__ADS_1


"Aku yakin kamu menolak pemberianku karena istriku kan?".


Aku diam tak menjawab ucapan Mario


__ADS_2