
"Ibrahim!!!" bentak Mas Arif.
Aku langsung menoleh ke arah Mas Arif yang membentak Ibrahim, dan dengan cepat aku berdiri di depannya.
"Bawa Mama kamu pergi dari sini Mas, jangan sampai aku juga melakukan hal kalap seperti yang dilakukan Ibrahim sama mama kamu" ucapku penuh penekanan .
Mas Arif mengusap kasar wajahnya dan terlihat bingung sedangkan Papanya Mas Arif terlihat menarik paksa istrinya dan memasukkannya dengan kasar ke dalam mobil.
"Jangan pernah temui kakak saya lagi dan jangan pernah kamu menemui kedua keponakan saya lagi!!" ancam Ibrahim sambil menunjuk kearah wajah mas Arif.
Aku segera menarik tangan Ibrahim dan membawanya masuk ke dalam toko dan dengan cepat Rian dan Dani menutup rolling.
Sementara Meka dan Bobby hanya menatap ke arah kami dengan bingung dan wajah sedih.
Dan di luar rolling kudengar suara deru mobil menjauh dan aku yakin sekarang mobil Papanya Mas Arif telah pergi dari depan toko kami
Ibrahim masih tampak kesal dan nafasnya ngos-ngosan terlihat dari dadanya yang turun naik. Rian dan Dani menepuk pundaknya berkali-kali untuk menyabarkannya
"Kan aku sudah bilang sama kakak putuskan segala akses komunikasi sama lelaki b******n itu!!!" bentak Ibrahim
Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan mencoba memahami bagaimana sayang dan perduli nya Ibrahim padaku.
"Iya dek Iya, kakak juga tidak tahu jika dia akan datang kan kamu lihat sendiri dia tadi datang, bertepatan dengan kakak yang mau pergi ke toko" jawabku pelan.
Ibrahim mendengus kesal mendengar jawabanku
"Pokoknya awas aja sampai keluarga laknat itu datang lagi ke toko ini" ucap Ibrahim kembali
"Sudahlah Dek kamu nggak usah buang energi kamu dengan marah-marah seperti itu sama Mamanya Mas Arif. Kan kita juga sekarang tahu bagaimana sifat asli mamanya Arif, ya....walaupun selama ini dia baik sama Kakak tapi akhirnya semuanya terlihat nyata setelah kakak bercerai dari anaknya. Harusnya sih dia sadar seperti apa anak tingkah anaknya, tapi kan yang namanya orang tua itu biasanya tidak menerima anaknya disalahkan".
Ibrahim berusaha tenang setelah mendengar jawaban dariku dan karena menghitung uang telah selesai akhirnya kami berenam pergi meninggalkan toko dan pulang.
Dan esoknya kembali semuanya berjalan dengan lancar, dan hari ini ternyata ekspedisi yang dikirim oleh Pak Uki sampai ke toko kami.
Aku meminta kepada 5 karyawanku untuk membantu ekspedisi memasukkan barang keruang atas lewat pintu belakang agar tidak mengganggu pengunjung toko yang sedang memilih-milih barang.
Dan karena barang pajangan toko mulai menipis jam 01.00 siang toko Aku tutup dan aku meminta kepada 15 karyawanku yang saat ini masih berada di rumah mereka untuk datang, dan membantu kami mengecek seluruh barang yang tadi dikirim oleh ekspedisi.
Di luar toko telah aku pasang tulisan yang menyatakan bahwa toko akan dibuka kembali nanti malam jam 07.00.
Dan secara langsung aku menayangkan live di sosial mediaku Bagaimana kami saat ini memilah dan menyusun seluruh barang yang masuk.
Kembali antusiasme para teman di sosial maya ku saat melihat tayangan live ku.
"Banyak barang baru yang masuk ya Sis, silahkan datang ke Toko" ucapku ketika aku melakukan live.
__ADS_1
Dan lagi-lagi aku harus terkesiap ketika melihat bahwa di antara orang-orang yang sedang melihat live ku itu ada media sosialnya Mario.
"Welcome Mario....." Ucapku sambil melambaikan tanganku ke arah kamera HP.
Ada rasa yang tidak dapat aku jelaskan ketika aku mau mengucapkan nama Mario.
Ada segunung rindu di dalam dadaku saat aku menyebut namanya.
Tapi aku kembali berusaha untuk fokus dengan tujuan awal ku bahwa aku ingin menunjukkan kesuksesanku agar Tasya dan Raisa tahu bahwa aku jauh lebih sukses dibanding mereka yang mempunyai penghasilan tetap.
Tapi kali ini selain barang dagangan yang aku tampilkan, aku juga minta kepada seluruh karyawanku untuk memperkenalkan diri mereka. Jadi mereka bertiga puluh masuk semua ke dalam live ku dan mereka semua bertingkah alai, gaya Anak Zaman now kalau mereka bilang.
Hingga akhirnya jam 05.00 sore semuanya telah tertata rapi lagi di pajangan toko dan aku meminta kepada seluruh karyawan untuk beristirahat karena jam 07.00 nanti toko akan kembali dibuka.
...----------------...
Intan tidak pernah mengetahui jika selama ini sejak dia memutuskan pertunangannya dengan Mario hidup Mario kembali kacau seperti 10 tahun yang lalu ketika ditinggalkannya menikah.
Di hari saat Intan mengembalikan cincin pertunangan mereka, detik itu juga dia langsung melajukan motornya dengan cepat meninggalkan rumah orang tuanya dan langsung pergi ke provinsi sebelah yang berjarak 4 jam perjalanan menuju rumah Tasya dan Raisa.
Papa dan mamanya yang saat itu ingin menghentikan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka tahu bagaimana hancurnya hati Mario saat itu.
Mamanya Mario hanya bisa menangis saat dilihatnya Mario keluar dari rumah mereka dengan berlinangan air mata.
"Biarkan Mario pergi mah" kata Papanya Mario.
Papanya Mario menggeleng
"Besok kita berdua pergi ke rumah Tasya dan Raisa. Papa ingin berbicara empat mata kepada dua anak perempuan itu. Mereka akan menerima murka dari papa" ucapannya dengan mata berkilat marah.
Sedangkan Mario yang saat itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tidak memikirkan bahaya apa yang akan menimpanya jika sedikit saja dia oleng mengendarai motor.
Perjalanan yang seharusnya ditempuhnya selama 4 jam perjalanan hanya ditempuhnya dengan jarak 3 jam saja.
Tujuan pertama yang ditujunya adalah rumah Tasya, karena dia tahu adiknya satu itu sedang libur, tidak berada di kantornya.
Dengan wajah angker Mario langsung memasang standar motornya dan langsung menekan bel rumah Tasya berkali-kali sehingga pembantu yang mendengarnya langsung berlari tergopoh-gopoh ke depan.
Ketika pintu sudah terbuka dengan cepat Mario mendorong pintu tersebut hingga akhirnya pintu tersebut terbuka lebar dan pembantu yang melihat jika yang datang adalah kakak majikannya hanya bisa menelan ludahnya karena dilihatnya saat itu wajah Mario seperti orang yang sangat marah.
"Tasya......!!!!!" teriak Mario lantang di tengah rumah.
Tasya yang saat itu berada di lantai atas tepatnya berada di kamarnya dan sedang beristirahat bersama ketiga anaknya langsung terlonjak kaget.
Suaminya, yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaannya di laptop, segera menoleh ke arah Tasya.
__ADS_1
"Kak Mario??" tanya suaminya dengan nada heran.
Tasya tidak menjawab, hanya bisa menelan ludahnya dan wajahnya terlihat tegang penuh dengan ketakutan.
"Tasya Keluar kamu, cepat!!!" teriak Mario lagi.
Ferdian suaminya Raisa langsung berdiri dan meletakkan laptopnya dan dengan terburu dia langsung menuruni tangga sedangkan Tasya yang masih berada di dalam kamar sedikitpun bergeming. Kakinya langsung gemetar dengan ketakutan mendengar teriakan kakaknya.
Mario yang telah dikuasai emosinya terus teriak lantang di tengah rumah itu dan dia menatap tajam ke arah Ferdian yang berjalan terburu menuruni tangga.
"Mana istri kamu?" tanya Mario langsung ketika Ferdian berniat mengulurkan tangannya ke arah Mario.
"Ada kak di atas" jawab dari Ferdian
Tak menunggu lama, Mario langsung berlari menaiki tangga.
Dan Mario langsung masuk ke dalam kamar Tasya di mana dilihatnya sang adik duduk dengan kaki gemetar di atas ranjang.
"Keluar kamu!!, kita bicara di bawah, jangan di sini!!" geram Mario yang langsung mencengkram kuat tangan Tasya dan langsung membawanya cepat menuruni tangga.
Ferdian hanya memperhatikan bagaimana wajah istrinya yang tegang ketika ditarik paksa oleh Mario.
Dengan kasar Mario menyentak tangan Raisa yang mengakibatkan Tasya sedikit terhuyung.
Berkali-kali Tasya menelan ludahnya dan berusaha menatap mata Mario yang berkilat marah sedangkan Ferdian semakin kebingungan melihat wajah istrinya dan juga melihat wajah kakak iparnya.
Ayo bilang!!, bilang semuanya!!. Apa yang telah kamu lakukan sama Intan?" geram Mario.
Tasya bergeming dan berusaha melirik ke arah suaminya seakan-akan dia minta pertolongan.
"Kamu punya mulut Tasya!!, Jangan sampai mulut kamu itu aku robek!!!" geram Mario lagi dengan tangan terkepal.
"Sebenarnya ini apa yang terjadi Mah?, kenapa Kakak Mario datang ke rumah kita dalam keadaan begini kacau nya dan marah-marah sama kamu?" tanya Ferdian pada Tasya.
Tasya hanya menggeleng dengan wajah basah.
Mario menarik rambutnya dengan frustasi berusaha menahan dirinya agar tidak memukul adiknya.
""Bilang sama aku Tasya, jika tidak mulut kamu akan aku hancurkan!!!" geram Mario.
Tasya tidak menjawab apa-apa melainkan terus menangis terisak.
Melihat Tasya yang tubuhnya menggigil ketakutan dan menangis terisak-isak membuat Mario yang semula kalap menjadi lemah.
Tubuhnya langsung lemas terduduk di lantai dan dengan lutut yang ditekuk dia menunduk dalam.
__ADS_1
Tak lama dapat didengar oleh Ferdian dan Tasya jika Mario menangis terisak.