
Aku yang sedang membaca laporan tour and travel yang tadi aku ambil di kantor kakakku, sesekali menoleh ke arah kedua anakku dan Mario yang masih tampak bercanda.
Memang ini adalah malam minggu, dan jam pun baru menunjukkan pukul 08.00 malam. Itulah sebabnya mengapa kedua Anakku belum ngantuk. Terlebih Bobby yang maghrib inilah baru bangun.
Aku kembali berusaha fokus membaca laporan, ketika suara tawa Meka sangat kencang.
Entah apa yang dilakukan oleh Mario, sehingga anak gadisku tersebut tertawa terbahak-bahak.
Bukannya aku tidak menyadari jika Mario juga sering mencuri-curi pandang ke arahku. Tapi aku berusaha untuk tidak memperdulikannya, karena aku takut kejadian sore tadi akan terulang kembali.
"Buk, Papa ngajak kita makan di luar" ucap Meka dengan suara lantang yang membuatku harus kembali terpecah konsentrasi karena menoleh ke arahnya.
Aku menarik nafas panjang, lalu menatap sendu ke arah Mario dengan wajah cemberut.
"Mumpung malam minggu Intan. Kan kita sudah lama nggak ngedate" ucap Mario cepat karena dia tahu bahwa aku marah.
"Kalau kamu mau makan di luar, silakan kamu makan saja sendiri. Tapi aku dan anak-anak nggak. Karena laporanku belum selesai aku baca" jawabku sambil mengangkat laporan yang tadi aku letakkan di atas meja.
Mario berusaha tersenyum mendengar jawabanku. Sedangkan kedua anakku langsung memasang wajah masam.
"Ayolah buk sekali-sekali. Kan kita sudah lama nggak makan di luar"
"Nggak bisa sayang, Ibu Masih banyak kerjaan. Laporan dari Pakde mu saja belum selesai ibu baca"
"Kalau kami saja yang pergi tanpa Ibuk, boleh?" kali ini Bobby yang bertanya
Akhirnya laporan yang ada di depanku, Aku tutup. Kemudian aku berjalan ke arah mereka bertiga
"Emangnya mau makan di mana?. Ini sudah malam, mending ibuk aja yang masakin untuk kalian, nanti kita makannya di rumah saja"
Meka dan Bobby lalu menoleh ke arah Mario, menatap wajah Mario meminta pertimbangan
"Papa sih oke-oke aja, yang penting makannya sama ibuk" jawab Mario tersenyum ke arah kedua anakku
Dan aku ikut memasang senyum mendengar perkataan Mario
Hingga akhirnya aku turun ke bawah. Lalu memeriksa rice cooker dan juga mengambil beberapa bahan makanan untuk aku olah di dalam kulkas
"Butuh bantuan tidak ? tanya Mario ke arahku yang sedang memotong bawang
Aku hanya menoleh sekilas kearah Mario, kemudian melanjutkan pekerjaanku tanpa menjawab pertanyaannya
Dan aku sempat terkaget ketika tahu-tahu Mario melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku
Dengan cepat, aku langsung berusaha melepaskan kedua tangan Mario karena aku takut jika dilihat oleh kedua anakku
"Tolong jangan dilepas, sebentar saja..." lirih Mario tepat di belakang telingaku
Aku bergeming menggigit sudut bibirku karena tiba-tiba degup jantungku berdetak tak karuan
"Sudah Mario, nanti anak-anak lihat" kembali aku berkata berusaha meminta Mario untuk melepaskan dekapannya
__ADS_1
"Aku Merindukan kamu Intan..." kembali Mario berkata lirih
Aku menarik nafas panjang mendengar ucapannya. Sehingga aku memutar badanku, dan sekarang kami berhadap hadapan begitu dekatnya
"Jangan pancing aku dengan kalimat itu. Aku takut aku hilang kesadaranku kembali mendengar perkataan rindumu itu".
Mario tersenyum mendengar perkataanku dan itu membuat aku segera membalikkan badan ku membelakanginya lagi
Di saat Mario akan memeluk ku kembali, terdengar suara Meka dan Bobby berlari ke arah belakang
Dan keduanya langsung duduk di meja makan dengan piring di hadapan mereka
Aku yang telah menyelesaikan masakanku segera memasukkan nasi goreng serta telur ceplok ke dalam piring kedua anakku dan mereka berdua langsung menyendok nasi goreng tersebut tanpa menawari Mario lagi
Dan itu membuat aku dan Mario saling toleh, kemudian kami sama-sama tersenyum
"Papa tidak ditawari? tanya Mario yang membuat kedua anakku tersadar dan langsung nyengir
Segera aku mengambilkan nasi goreng juga untuk Mario lalu memberikan kepadanya yang langsung duduk di sebelah anak-anakku. Dan aku pun ikut duduk juga di sebelah mereka lalu kami berempat makan bersama
Satu jam kemudian, selesai makan malam kami duduk di luar ruko, melihat jalan raya yang masih ramai. Dan kedua anakku sepertinya sudah mulai mengantuk, terlihat dari mereka yang mulai menguap
"Biar aku saja yang bawa mereka" ucap Mario ketika aku berniat untuk mengangkat Bobby
Belum sempat aku menjawab, Mario sudah mengangkat Bobby dari gendonganku dan langsung membawanya naik ke lantai atas
Tak lama Mario sudah turun kembali dan mengangkat Meka yang juga sudah tertidur di kursi luar
Aku melihat ke arah Ibrahim dan dua temannya yang masih berada di ruang kerja
"Kami nginep sini ya Kak?" ucap Ibrahim yang ku jawab dengan anggukan kepala
Kemudian aku dan Mario kembali berjalan ke arah luar dan kembali duduk di tempat kami semula
Mulai rasa canggung menyelimuti antara kami ketika kami sudah duduk
Hanya tarikan nafas dari masing-masing kami saja yang terdengar
"Mario aku....."
"Intan aku ....."
Karena kami sama-sama mengucapkan kalimat secara berbarengan, aku dan Mario sama-sama tersenyum kaku lalu membuang wajah kami ke samping
"Kamu saja yang duluan" ucap Mario padaku setelah sekian detik demi diam. Aku menggeleng
"Kamu saja yang duluan, kamu mau ngomong apa"
Kembali ku dengar tarikan nafas panjang dari Mario. Kemudian dia menoleh ke arahku, dan mengangkat kursi yang didudukinya lalu diletakkannya tepat di depanku
"Intan, tujuan aku ke sini dari siang tadi menemui kamu hingga detik ini aku belum pulang, karena aku ingin melamar kamu lagi"
__ADS_1
Mulutku langsung ternganga begitu mendengar ucapan Mario
Kemudian aku menggeleng sambil tersenyum tak percaya mendengar ucapannya
"Jangan bercanda kamu Mario"
"Aku serius Intan. Aku tidak bercanda. Aku ke sini karena aku ingin melamar kamu kembali, Dan aku harap lamaranku ini tidak kamu tolak"
Kembali aku tertawa basi mendengar ucapan ngelantur dari Mario
Tanpa aku sadari, Mario langsung berjongkok di depanku dan segera meraih tanganku dengan erat sambil menatap mataku dengan dalam
Aku serius Intan. Aku tidak pernah "bercanda dengan ucapanku. Pernahkah kamu melihat aku bercanda dengan ucapanku? tidak pernah kan?"
Berkali-kali aku menelan ludahku karena tiba-tiba kerongkonganku terasa kering ketika melihat Mario menatap dalam ke arahku dengan ucapan sungguh-sungguh nya itu
"Tolong Mario, aku sadari memang aku merindukan kamu. Tapi bukan berarti aku masih mencintaimu" jawab ku lirih
Tanganku yang digenggam oleh Mario, berniat hendak aku tarik tapi ternyata genggaman Mario masih erat pada tanganku
Mario hanya tersenyum ketika aku berkata demikian
"Kamu masih menjadi pembohong yang jelek Intan. Kamu tidak bisa berbohong. Bohongmu itu buruk sekali. Aku pikir setelah hampir dua tahun kita berpisah, kamu jadi lihai untuk berbohong. Tapi ternyata, kamu masih Intan ku yang dulu. Intan ku yang jujur, yang setiap kata yang diucapkannya apa adanya, bersih, murni dari hati"
Aku hanya bisa terdiam mendengar penilaian Mario terhadap ku. Padahal aku tadi sudah berkata sungguh-sungguh dengan mimik muka yang serius. Tapi ternyata, Mario masih bisa membaca bahwa aku berbohong
Entah dengan cara apa lagi aku meyakinkan Mario untuk dia tidak mencintaiku lagi dan berhenti mengharapkan ku. Karena aku tahu, sepertinya kami memang tidak bisa bersatu karena jurang pemisah kami begitu dalam dan sangat terjal
"Serius Mario, aku tidak berbohong. Aku memang tidak mencintaimu lagi"
Sekali lagi aku lihat senyum menyeringai tersungging dari bibir Mario
"Menyakitkan memang, saat engkau harus berpura-pura menjauh, padahal engkau hampir hancur karena menahan rindu"
"Jangan pernah membohongi dirimu sendiri Intan. Mungkin orang lain bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan aku"
"Jika kamu memang berkata kamu tidak mencintai aku lagi dan tidak menginginkan aku lagi, katakan dengan menatap mataku, bukan dengan menunduk"
Sekuat tenaga Aku memberanikan diri menatap mata Mario. Walau sebenarnya dadaku berdebar kencang
Aku tidak mencintai kamu lagi Mario" ucapku dengan suara bergetar
Mario langsung melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Kemudian kulihat Mario menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
Tak lama, setelah itu Mario membuka kedua tangannya yang tadi menutupi wajahnya, kemudian dengan cepat dia langsung menarik tengkukku dan langsung melahap bibirku
Aku terus berusaha untuk mendorong dada Mario, agar dia melepaskan ciumannya dari bibirku. Tapi ternyata tidak bisa, Mario terlalu kuat menarik tengkuk dan menekan kepalaku
Dengan memejamkan mata, aku membiarkan Mario yang terus melahap rakus bibirku
Sampai akhirnya, Mario melepaskan ciuman ganasnya ketika dia mendengar bahwa aku terisak
__ADS_1