
Bu kades terus mendekap ku dan menenangkan ku yang masih terus terisak
"Masuk saja yuk buk" ucap polisi yang sejak tadi menungguku sambil berjongkok
Aku menggeleng
"Ini sudah tengah malam buk, di luar juga dingin, di dalam saja"
Bu kades membenarkan ucapan polisi tersebut, kembali beliau menasehati ku dan akhirnya aku menurut, berdiri dengan masuk kedalam kantor polisi lagi dengan dibimbing oleh beliau
Sedangkan polisi yang menjagaku tadi turut masuk kedalam dan keluar dengan membawakan aku sebotol air mineral
"Minumlah dulu buk biar lebih tenang"
Aku meraih botol tersebut lalu membuka tutupnya, hp ku berdering dan aku segera mengambil hp ku yang ada di dalam tas
"Mario?" gumamku dengan mengusap kasar wajahku
Aku menoleh kearah bu kades sebentar lalu aku menerima panggilan masuk dari Mario
"Kamu dimana Ntan?"
Aku menelan ludahku mendengar pertanyaannya
"Di..... di rumah" jawabku gugup
"Suara kamu kenapa begitu?"
Lalu panggilan berubah menjadi panggilan video, dan kembali aku harus menoleh kearah bu kades
"Jujur saja bu, siapa tahu itu keluarga ibu, ibu katakan sejujurnya pada mereka"
Dengan menarik nafas panjang, aku menarik ikon warna biru keatas
"Kamu dimana?"
Aku kembali menarik nafas panjang
"Di rumah"
"Bohong, jawab aku kamu dimana Intan Permata Sari?!"
Lalu aku memutar hp
"Kantor polisi?"
Aku mengangguk
"Aku tahu yang menimpa mas Arif" ucap Mario cepat yang membuat air mataku kembali mengalir
"Kok kamu bisa tahu?" tanyaku disela isak tangisku
"Ada yang live di sosial media ketika sidang tadi, dan aku jelas lihat kamu di sana"
Sekarang tangisku berubah tangisan cukup kencang
"Kamu tetap di sana, aku sudah dijalan, aku akan jemput kamu"
"Tapi Mario?"
Panggilan terputus dan aku kembali menangis terisak
__ADS_1
Menunggu selesainya polisi menginterogasi mas Arif dan selingkuhannya membuatku bosan dan berkali-kali berpindah tempat duduk
Sementara bu kades terus di tempat duduknya sampai akhirnya satu jam berikutnya beliau mengajakku pulang karena interogasi telah selesai
Aku menggelengkan kepalaku ketika beliau mengajakku pulang
"Saudaraku memintaku menunggu disini bu, dia sudah di jalan"
"Biar nanti saudaranya ke rumah saya saja bu, malam ini ibu bermalam dulu di tempat kami" kembali bu kades menawarkan bantuannya padaku
Kembali aku menolaknya dengan halus.
"Tolong selamatkan koper saya ya bu" ucapku pada beliau setelah beliau naik kemotor
"Sudah kami bawa ke rumah pak kades buk, jangan khawatir" jawab salah satu dari empat pria yang bersama ku menggerebek mas Arif
Aku mengucapkan terima kasih pada mereka yang telah baik dan mau membantuku
Setelah mereka pulang, aku kembali masuk kedalam kantor. Dimana beberapa polisi masih tampak berjaga
"Numpang istirahat ya pak" ucapku
Mereka mengangguk
"Ada keluarga yang mau kesini buk?"
"Iya, sudah di jalan, mungkin sebentar lagi sampai" jawabku
"Istirahat di dalam ruangan kepala saja bu, di sana ada sofa. Ibu bisa tidur di sana, ibu tenang saja, kami yang akan menjaga ibu, jadi ketika saudara ibu sampai, kami akan membangunkan ibu" ucap salah satu dari mereka
Aku diam, berfikir kira-kira mana yang terbaik untukku. Setelah aku menimbang saran dari mereka, aku menganggukkan kepalaku
Kembali polisi yang tadi menjagaku mengantarku masuk kedalam ruangan kepala, setelah aku masuk, lalu polisi tersebut menutup pintu dan meninggalkanku
Kulihat jam yang menempel di tembok, hampir jam dua dini hari. Aku menarik nafas panjang, lalu meluruskan kakiku dan mencoba memicingkan mataku
...----------------...
Suara ketukan pintu tak kudengar karena aku telah nyenyak. Aku terjaga ketika kurasakan ada belaian halus di kepalaku
"Mario?!" ucapku kaget dan langsung memeluk lehernya yang berjongkok di dekatku
Kembali aku tersedu ketika aku mendekap Mario. Dan kurasakan Mario mengelus punggungku dengan sayang
"Kamu yang tenang ya, sudah ada aku di sini"
Aku masih terisak dan masih memeluk Mario
"Kita keluar, yuk?"ucap Mario ketika aku melepas dekapanku
Aku mengangguk sambil mengusap kasar wajahku. Dan Mario langsung menggenggam erat tanganku dan membawaku keluar dari dalam ruangan ini
"Terima kasih bapak-bapak semua" ucap Mario pada tiga polisi yang tersenyum ketika kami tiba di depan mereka
"Kami tidak tahu pak Mario jika dia saudara bapak" ucap polisi yang tadi menjagaku
"Kalian saling kenal?" tanyaku menatap pada Mario
Mario mengangguk
"Dulu kita empat tahun satu tempat dinas, awal-awal kita pertama selesai pendidikan" jawab polisi tersebut yang kembali membuat Mario tersenyum
__ADS_1
"Terima kasih ya bapak-bapak karena telah menjaga dia" ucap Mario sambil mengusap sayang kepalaku
Aku yang malu dengan aksi spontan Mario berusaha menghindari tangan Mario yang terus mengusap sayang kepalaku
Ketiga polisi itu saling lirik ketika Mario mengusap sayang kepalaku
"Dia Intan Permata Sari" ucap Mario pada polisi yang mengenalnya
"Serius??"
Tampak jelas jika polisi itu kaget dan langsung menepuk-nepuk bahu Mario
Aku menatap penuh selidik pada Mario yang tampak tersenyum penuh arti pada temannya
"Istirahatlah dulu pak Mario, anda sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh"
"Jarak tidak berarti buat saya, jika itu menyangkut Intan"
Aku langsung memandang haru pada Mario yang bicara sambil menatapku
"Rumah dinas saya di belakang ini, ayo pak Mario dan mbak Intan saya bawa ke rumah dinas saya, anda berdua istirahat dulu di sana"
Aku menoleh kearah Mario dan Mario kembali menggenggam erat tanganku, membawaku berjalan keluar dari dalam kantor polisi setelah sebelumnya berpamitan dengan dua polisi yang lain
Teman Mario yang bernama Heri berjalan berbarengan dengan kami, berjalan kearah belakang kantor polisi, menuju sebuah rumah dinas
"Anak istri kamu ada di dalam pak Heri?"
"Tidak pak Mario, mereka di rumah, saya seminggu sekali pulang"
Mario tampak menganggukkan kepalanya
Setelah pintu terbuka, kami masuk. Aku duduk di dalam ruangan sederhana yang hanya ada kursi tamu dan satu buah lemari kayu
Pak Heri masuk kedalam, keluar dengan membawa air dan gelas lalu meletakkannya di atas meja, menawari kami minum lalu masuk ke dalam kamar
"Mbak Intan tidur di kamar saya saja, kamarnya sudah saya rapihkan"
Aku mengangguk dan tersenyum kaku karena sungkan
"Sayang kamu tidur ya, ini sudah dini hari, hampir subuh" kembali Mario berkata sangat berani di depan pak Heri sambil kembali mengusap kepalaku
Kembali aku tersenyum kaku dan merasa tak enak hati
"Aku akan tidur di sofa, ya?"
Aku mengangguk dan berdiri, baru saja aku mau melangkah, tanganku segera ditarik Mario, Mario berdiri lalu menatap dalam mataku
"Tidur, bukan menangis, berhenti menangisi mas Arif!"
Aku mengangguk sambil memaksakan senyum, lalu Mario kembali dengan berani merengkuhku kedalam pelukannya
Mataku terbelalak kaget dengan aksi berani Mario, dengan cepat aku mendorong dadanya dan terburu masuk kedalam kamar
Aku sangat mencintainya pak Heri, anda tahu bagaimana dulu aku sering menceritakan tentangnya
Aku tertegun ketika mendengar suara Mario berkata seperti itu. Aku menutup wajahku dengan malu dan dadaku langsung berdebar kencang
*Jalan bapak untuk mendapatkannya aku rasa terbuka luas sekarang, apalagi ini bukanlah pengkhianatan pertama suaminya
Anda benar pak Heri, berkali-kali saya harus berurusan dengan polisi ketika dia terjaring razia. Saya selalu menyembunyikannya dari Intan, tapi sekarang tidak lagi, saya rasa cukup untukku membantu suami bejatnya, apalagi sekarang Intan sendiri yang memergokinya*
__ADS_1
Aku menutup mulutku dengan kaget jadi selama ini.....??? batinku