
"Sayaaaangg....?" lirih Mario sambil menarik tanganku pelan
Aku menoleh
"Tasya dan Raisa biar menjadi urusan papa dan mama"
Aku beralih menoleh kearah papanya Mario yang memandang serius ke arahku
"Tidak ada yang perlu kamu risaukan, yang penting itu adalah kalian berdua, Tasya dan Raisa hanya terlalu menyayangi Mario, mereka tak ingin jika kakaknya kembali kecewa, dan kamu harus tunjukkan pada mereka berdua jika kamu tidak akan mengecewakan Mario, tunjukkan jika penilaian mereka tentang kamu itu salah"
Aku mengangguk sambil tersenyum kaku kearah papanya Mario
"Silahkan kalian lanjutkan obrolan kalian, mama dan papa mau istirahat siang, dan iya Ntan jika kamu belum makan siang, silahkan makan siang di belakang, ajak Mario, mama sudah masak"
"Sudah ma, malah tadi aku makan siangnya sama Mario"
"Loh, kok kesininya nggak bareng kalau habis makan siang bareng?" tanya mamanya Mario lagi dengan raut heran
"Mario tidur di rumah Intan ma" jawab Mario santai
Aku menggigit bibirku dengan gugup karena keceplosan ngomong
Mama dan papanya Mario langsung saling toleh dan menatap kami dengan curiga
"Mario jam lima tadi ma sampai di rumah Intan, langsung tertidur di sofa, please deh jangan mikir aneh-aneh" sambung Mario cepat demi dilihatnya perubahan raut wajah kedua orang tuanya
"Ah syukurlah, mama kira...."
"Mama, Mario bukan orang seperti itu"
Aku menahan tawa mendengar jawaban Mario
"Bisa kamu ya jawab seperti itu di depan orang tua kamu, padahal kamu selalu nyosor kalau dekat aku" batinku
"Ya sudahlah, lanjutkan obrolan kalian, mama dan papa mau istirahat" kembali papa Mario mengulang ucapan istrinya sambil berdiri
Aku hanya bisa tersenyum ketika mereka berdua berjalan kearah dalam
Dan sekarang tinggallah aku dan Mario. Dan seperti biasanya Mario akan berlaku sangat manis padaku, menggenggam tanganku bahkan mengusap-usap punggung tanganku
"Sekarang masih berfikir mau mundur dari pernikahan kita?"
Aku menggeleng
"Mana bisa aku mundur, aku sangat mencintaimu Mario...."
Mario tersenyum sambil menarikku kedalam dekapannya dan aku menenggelamkan wajahku di dadanya
"Blokir saja nomor Tasya dan Raisa, biar mereka tidak bisa lagi menghubungimu"
Aku menggeleng
"Kalau aku memblokir mereka, nanti mereka akan makin salah faham"
Mario tersenyum dan mengusap-usap kepalaku
__ADS_1
"Aku boleh pulang kan Yo?" tanyaku sambil mendongakkan wajahku melihat kearahnya yang menunduk menatap mataku
"Sebentar lagi Bobbi pulang" lanjutku karena kulihat tatapan matanya yang sepertinya berkata jika dia tak ingin aku pulang
"Minta mobil jemputan Bobbi mengantarnya ke rumah ini saja"
Aku menggeleng
"Bobbi banyak jadwalnya kalau siang"
Mario terkekeh sambil mengacak rambutku
"Striping apa anak lelakiku itu sampai begitu sibuknya dia?"
Aku ikut terkekeh sambil merapikan rambutku
"Aku pulang ya?"
Mario menggeleng, dan aku mendecak
"Ada mama sama papa, aku khawatir mereka melihat" ucapku meminta pengertian Mario
Dan Mario tak memperdulikan perkataanku, segera saja dia menarik tengkukku dan langsung melahap bibirku
Aku dengan cepat membalas sesapannya kemudian melepaskan ciumannya, menoleh kearah dalam dengan gugup
"Aku pulang sayang ya....." ucapku cepat sambil menarik tangannya dan mencium punggung tangannya setelah itu aku langsung berdiri dan Mario ikut berdiri pula
Direngkuhnya pundakku dan kami berjalan bersama sampai ke dekat motorku
"Iya istriku......" jawab Mario sambil mencubit kecil pipiku
Dan aku memonyongkan bibirku karena perlakuan kecilnya ini
Cup..!
Aku mendecak karena sekali lagi aku kecolongan
"Hati-hati sayang ya, nanti sekitar jam empat aku balik ke tempat aku berdinas, kamu baik-baik di rumah ya, kalau Tasya atau Raisa menghubungi jangan diangkat, kalau mereka kirim pesan, nggak usah dibaca, langsung dihapus saja, ya?"
"He em...." jawabku sambil mengangguk
"Pinter...." balas Mario sambil terkekeh
"Dan nanti aku nganter pesanan pelanggan aku ya Yo"
Mario mengangguk sambil tersenyum
"Yang penting kamu hati-hati di jalan, itu saja"
"Kamu juga hati-hati, nggak usah ngebut-ngebut, karena tujuan kamu itu pernikahan kita bukan kantor tempatmu berdinas" godaku sambil mengegas motor menghindari Mario yang melongo mendengar ucapanku
Aku terkekeh sambil keluar dari halaman luas rumah tersebut meninggalkan Mario yang hanya bisa nyengir melihatku yang kian menjauh
----------------
__ADS_1
Mario yang tiba di kantornya pada jam enam sore ini segera masuk ke dalam ruangannya, tak lama setelah dia duduk, ada dua orang temannya yang masuk
"Bagaimana?"
"Semua sudah siap Ndan, nanti malam kita langsung beraksi"
Mario mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar strategi yang dijelaskan rekannya untuk aksi mereka malam ini
"Informasinya akurat kan, saya tidak mau kita sampai di lokasi ternyata gagal"
"In Syaa Alloh tidak Ndan, semuanya telah kami kroscek"
Kembali Mario mengangguk dan langsung mengambil hpnya ketika kedua rekannya keluar dari ruangannya
Sayang aku sudah sampai kantor, doakan semoga malam ini aksi kami berjalan lancar ya
Aku yang sedang duduk bersama kedua anakku di depan ruang tivi segera mengambil hp ku yang berdenting
Aku tersenyum ketika membaca pesan yang dikirim Mario
Iya sayang, doa ku selalu menyertai kesuksesan dan kelancaran pekerjaan kamu
Dan Mario juga tersenyum membaca balasan pesan yang dikirim Intan
"Lamanya untuk sampai hari H" keluhnya sambil mengusap wallpaper hpnya yang menampilkan wajah Intan
Sementara di lain tempat, Tasya hanya bisa menekuk wajahnya ketika menerima telepon dari mamanya
"Apapun alasan kamu, kamu nggak bisa menghalangi hubungan kakak kamu dengan Intan, kamu nggak mikir apa, jika Mario itu benar-benar mencintai Intan?"
Tasya tidak menjawab melainkan hanya memasang wajah masam
"Awas jika sekali lagi mama dengar kamu sama Raisa mengatai atau mengancam Intan, kalian itu mama sekolahin tinggi-tinggi biar adab kalian itu makin baik, bukannya malah bobrok kaya gini, kalian berdua itu secara tak langsung telah mencoreng nama mama dan papa, secara tak langsung kalian telah menyiratkan jika mama sama papa gagal mendidik kalian berdua"
Tasya hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan sang mama yang berapi-api
"Dengan atau tanpa restu kalian, mama akan terus menjadikan Intan menantu mama, karena mama melihat bagaimana bahagianya Mario ketika bersama Intan, masa kalian sebagai saudaranya tidak bisa melihat itu"
"Dan kamu Tasya, coba kita balik posisi Intan itu kamu, bagaimana perasaan kamu, hah?"
"Tapi kan semua keluarga suami aku nerima aku semua ma, tidak ada yang protes"
"Nah, justru dari sana harusnya kamu belajar, bisa jadi kan dulunya orang tua atau saudaranya Ferdian ada juga yang tidak menyukai kamu, tapi mereka pintar menutupinya sehingga kamu tidak mengetahuinya?"
Tasya langsung menelan ludahnya
"Berhenti bilang jika Intan yang ngadu sama Mario atau sama mama, karena saat kamu menelepon Intan tadi siang, itu yang menjawab adalah Mario, jadi Mario mendengar sendiri bagaimana kamu mengatai calon istrinya"
Mata Tasya langsung membulat kaget, degup jantungnya langsung berdebar kencang
"Bahkan Intan sampai harus menyusul kakakmu ke rumah karena kakakmu marah-marah, jadi tolong ya Sya, kamu bilang itu sama Raisa juga, berhentilah mencampuri urusan pribadi Mario, jika sekali lagi mama dengar kalian merecokin hubungan Intan dan Mario, mama sama papa tak segan-segan akan mendatangi kalian berdua, dan mama yakin, kalian sudah tahu bagaimana papa kalian jika sudah marah"
Tasya kembali hanya bisa menelan ludahnya mendengar perkataan mamanya
Yang dibilang mamanya benar, papa mereka jarang berbicara, apalagi marah, tapi jika sekali marah harimau saja akan lari terbirit-birit saking angkernya beliau
__ADS_1