Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Ini Berat, Tapi Harus


__ADS_3

"Bukankah mama dan papa aku sudah bilang, jika Tasya dan Raisa biarlah menjadi urusan mereka, dan kamu tahu sendiri Intan bagaimana sayangnya mama dan papa aku sama kamu"


Aku tersenyum getir mendengar ucapan Mario


"Jika kamu benar-benar mencintai aku, tolong kembali lepaskan aku Mario..." ucapku dengan suara bergetar


Mario kembali menoleh ke arahku, menarik ku dalam dekapannya


"Tidak Intan, aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, tidak akan"


Aku kian menangis tertahan mendengar ucapannya.


"Tolong Mario, kita sama-sama belajar kembali melupakan kisah kita, aku tahu ini sakit untuk kita, tapi ini harus kita lakukan, aku tidak ingin gara-gara aku hubungan persaudaraan kamu dengan kedua adikmu jadi hancur"


"Ingat Mario, mereka adalah saudara kandung mu, sedangkan aku orang lain, mereka jauh lebih mencintaimu dibanding aku"


Kembali aku berkata, walau kenyataannya itu bertolak belakang dengan isi hatiku


Tentu aku sangat mencintai Mario, sangat mencintainya, melebihi aku mencintai diriku sendiri


"Aku akan menemui Tasya dan Raisa!" ucap Mario langsung melepas dekapannya padaku, kemudian segera berdiri


"Mario jangan!!!" cegah ku cepat dengan segera menarik tangannya


"Gara-gara mereka kamu minta putus dariku, jika bukan gara-gara mereka tidak mungkin ini terjadi"


Aku menggeleng


"Mungkin garis Tuhan memang tidak menjodohkan kita Mario, sekuat apapun kita berusaha jika memang takdir Tuhan tidak mengizinkan kita bersatu, kita tidak akan bersatu"


Kembali Mario menggeleng, dan kulihat dengan jelas jika wajahnya sangat frustasi


"Tolong jangan tinggalkan aku lagi Intan, aku sangat mencintaimu" lirih Mario sambil kembali mendekap ku, aku tahu Mario menahan tangisnya, dan aku yang kembali melow telah terisak


"Aku bahagia Mario jika kamu bahagia, tapi aku tahu kebahagiaanmu bukan ada padaku, carilah perempuan lain"


Setelah mengatakan itu aku segera melepas dekapanku pada Mario dan berlari meninggalkannya yang menatap kosong padaku


Dengan cepat aku menaiki tangga, air mataku telah berhamburan jatuh. Ketika sampai di kamar, segera aku menutup rapat pintu kamar lalu berlari kearah ranjang, berteriak kencang di dalam bantal


"Intan... aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kamu harus tahu itu!!!"


Aku kian berteriak kuat ketika mendengar teriakan Mario di depan kamarku


"Aku mencintaimu Intan...."


Kudengar suara Mario bergetar lalu terdengar olehku bagaimana dia menangis


"Buka Intan, Intan...."

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis pilu mendengar suara sedih Mario, tapi aku harus kuat, aku tidak mau kembali lemah ketika berhadapan dengan Mario, terlebih ketika harus melihat air matanya


"Intan.....!!!"


Aku makin terisak dan membekap mulutku agar Mario tidak mendengar suara tangisku


"Intan buka, tolong dengarkan aku. Kita hadapi ini sama-sama, kamu jangan menyerah"


Aku menggeleng dan kian tergugu membayangkan bagaimana kacaunya Mario di luar sana


"Kamu pulanglah Mario, beri aku waktu untuk tenang, aku butuh waktu, ini sulit buatku" ucapku lantang


Mario yang terduduk di depan pintu kamar Intan menggeleng dan masih menatap kosong pada pintu yang tertutup rapat tersebut


"Tidak Intan, aku akan menunggu disini, sampai kamu keluar dan mengatakan jika kamu mau menikah denganku!!!"


Aku mengusap kasar wajahku yang basah oleh air mata, berjalan kearah pintu dan membuka kuncinya


Dan Mario segera berdiri ketika didengarnya Intan membuka kunci pintu


Dengan cepat Mario mendekap ku ketika pintu terbuka, dan aku pun membalas dekapannya, lama, lama sekali kami berpelukan dengan masing-masing terisak


"Pulanglah, besok aku janji akan ke rumah kamu" ucapku dengan suara tersedan sambil mengusap wajahnya


Mario mengambil tanganku yang ada di wajahnya, menciumnya dengan dalam dan aku hanya bisa memperhatikannya dengan suara cegukan khas habis menangis


"Tolong berpikirlah dengan jernih, ya?"


Aku memejamkan mataku saat Mario mencium lembut bibirku, aku yakin ini adalah ciuman terakhirnya, karena aku telah mengambil keputusan jika aku benar-benar akan putus darinya


...----------------...


Esok harinya, dan aku telah berjanji pada semua pelangganku jika aku akan mengantar pesanan mereka pagi menjelang siang hari ini


Jam sepuluh pagi aku telah bersiap dengan dua kantong kresek besar yang aku tumpuk di depan dan juga dengan beberapa kardus yang aku susun di belakang, lalu aku ikat


Pada kedua anakku aku mengatakan agar mereka stay di rumah dan jangan kemana-mana, tapi jika Oom mereka, yaitu adikku menjemput mereka, mereka boleh ikut, tapi jika tidak dijemput, mereka harus stay di rumah


Perjalananku kali ini lumayan jauh, karena ada beberapa pesanan yang jaraknya sekitar satu jam dari rumahku, tapi itu tidak menyurutkan langkahku demi mencari uang untukku dan kedua anakku


Hingga akhirnya jam satu siang semua pesanan telah selesai aku antarkan ke pelangganku, dan sekarang aku sedang diperjalanan menuju rumah


Uang hasil antaran barang hari ini lumayan banyak, dan karena aku tidak berani membawa uang cash, takut ada apa-apa di jalan, jadilah aku mampir kesebuah warung yang membuka layanan transfer uang, dan alhamdulillahnya setelah yang punya gerai bertanya apa pekerjaanku, beliau meminta nomor hp ku, katanya dia tertarik ingin mengajakku join kerja sama


Tentulah kesempatan ini tidak aku lewatkan, aku menyarankan padanya untuk melihat postinganku di akun media sosialku saja, dan di depanku beliau langsung mencari akun ku dan langsung menambahkan pertemanan dan mengikuti akun ku


"Semoga ini awal yang baik ya mbak Intan...." ucap beliau yang ku amin kan


Selesai proses transfer aku kembali melanjutkan perjalananku, dan tiba di rumah telah lewat jam dua siang, dan kedua anakku tidak ada di rumah. Diatas meja aku menemukan secarik kertas dengan tulisan mama kami ke rumah nenek

__ADS_1


Aku tersenyum membaca tulisan tersebut, dan segera aku ke dapur untuk makan siang, selesai dari sana, aku naik ke kamar pribadiku untuk mandi


Kurang dari jam tiga aku kembali keluar rumah, tujuanku adalah ke rumah mamanya Mario


Malam tadi aku telah berjanji pada Mario jika aku akan ke rumahnya, dan aku yakin jika Mario menungguku, terbukti dengan banyaknya pesan yang dikirimkannya yang menanyakan aku dimana, kenapa belum datang dan masih banyak lagi pesan khawatir lainnya dari Mario


Aku segera menurunkan standar motor ketika sampai di halaman rumah Mario, membenarkan sedikit bajuku lalu berjalan kearah teras


Tak butuh waktu lama untuk aku masuk kedalam rumah besar itu, karena begitu aku mengetuk pintu, pintu tersebut langsung terbuka


"Anak Mama....." sambut mama Mario sambil memelukku


Aku tersenyum kaku kearah beliau, kulihat dengan jelas jika mata beliau sembab, aku yakin jika beliau habis menangis


"Sayang....." Mario juga menyambut ku dan langsung mengecup keningku


Kembali aku hanya bisa tersenyum kaku kearahnya


Segera aku dibawa mamanya Mario masuk, dimana di ruang tamu aku dapati papanya Mario menatap ke arahku


Suasana berubah sangat canggung ketika selesai berbasa basinya, dimana kedua orang tua Mario menatap penuh selidik ke arahku


"Benar Ntan yang Mario katakan, jika kamu ingin membatalkan pernikahan kalian?"


Aku segera menundukkan kepalaku mendengar pertanyaan dari papanya Mario dengan suara beratnya


Mamanya Mario langsung menggenggam tanganku dan terdengar suara isak tangisnya yang membuatku semakin menundukkan kepalaku


"Maafkan aku pa, ma, aku tidak ada pilihan lain...." lirihku dengan tercekat


Kudengar tarikan nafas panjang dari Mario yang duduk di sebelahku


"Bukankah sudah papa bilang, urusan Tasya dan Raisa itu biar menjadi urusan papa dan mama, jangan kamu risaukan, tahu kamu, kamu menikah dengan Mario"


Aku kian menunduk dalam mendengar papa Mario berbicara panjang lebar


Tapi niatku sudah bulat, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, maka setelah papanya Mario selesai bicara, dengan agak takut aku mengangkat kepalaku


"Maafkan aku ma, pa, karena aku mengecewakan kalian, sekali lagi maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan, aku yakin Mario akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari aku"


Mario menggeleng kuat dan dengan cepat ditariknya kepalaku dan ditekannya kuat ke dadanya


"Maafkan aku Mario, maafkan aku" isak ku


"Cinta yang tulus itu rela jika akhirnya ditakdirkan tidak bersama. Yang diinginkannya hanyalah kebaikan untuk orang yang disayangi. Jangan memaksakan kehendak sendiri, mungkin saja bersama orang lain kamu lebih bahagia"


Selesai mengatakan kalimat itu aku menarik kuat kepalaku yang didekap Mario lalu memeluk mamanya yang sejak tadi terisak


"Maafkan Intan, ma... maafkan Intan"

__ADS_1


Setelah itu aku cepat berlari meninggalkan ruangan besar itu, tidak memperdulikan bagaimana Mario berlari mengejar ku


__ADS_2