Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Harta Gono Gini


__ADS_3

Hufffff


Aku menarik nafas panjang ketika aku sudah duduk di dalam mobil Mario. Dan Mario yang duduk di belakang stir menoleh dan memandangku dengan dalam


Aku menoleh dan memasang senyum manis kearahnya. Tapi Mario masih bergeming dan terus menatapku


"Kenapa?" tanyaku


Mario mendekat dan langsung menarik wajahku


Cuppp....!!!


Mario mencium pipiku dengan dalam lalu matanya kembali memandang padaku


Aku hanya bisa menelan ludah sambil mengedipkan mataku ketika wajah Mario hanya berjarak beberapa centi dari wajahku


Aku menahan dadanya dengan tanganku ketika tubuhnya kian maju ke arahku


Aku menggeleng lalu Mario menarik nafas panjang dan membetulkan posisi duduknya


"Pasang seat bealt nya Ntan" ucap Mario ketika dia hendak memundurkan mobil


Aku mengangguk dengan langsung memasang seat bealt ke tubuhku, lalu aku membetulkan rambutku ke belakang dan menghembus nafas kasar


"Kita kemana Yo?"


"Ke rumahku"


"Gila kamu" protesku ketika Mario telah tancap gas


Berkali-kali aku berpegangan pada jok kursi tempat aku duduk ketika Mario melajukan mobil dengan kecepatan tinggi


"Mario aku nggak mau mati!!" teriakku panik


Mario menoleh lalu mengulurkan tangannya, mengambil jariku dan menggenggamnya dengan erat


Satu jam lebih sedikit mobil Mario berhenti di depan rumahnya, segera Mario turun dan membuka pagar, lalu kembali masuk kedalm mobil lalu memasukkan mobil ke teras


Begitu mobil berhenti, aku segera turun begitu juga dengan Mario. Dengan segera Mario membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk


Aku duduk di sofa dengan kembali mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan sementara Mario hilang masuk kedalam


"Intan Permata Sari?!" panggil Mario dari belakang


Aku menoleh kearah asal suara


"Ya Yo?"


"Sini bantuin"


Aku langsung berdiri dan masuk ke belakang. Kulihat Mario sedang menghidupkan kompor


Di atas meja makannya ada banyak sayuran dan daging segar


"Bantuin aku masak" ucapnya sambil tersenyum


Aku ikut tersenyum dengan langsung memilih sayuran apa yang hendak aku masak


"Aww...." aku kembali terpekik kaget ketika Mario membalik badanku


Refleks aku langsung melingkarkan kedua tanganku kelehernya ketika Mario membawaku duduk di atas pangkuannya


Dan kembali kami melakukan ciuman yang akhir-akhir ini sering kami lakukan apabila kami bertemu


Suara desing air yang mendidih dari teko di atas kompor tidak kami perdulikan, kami terus saja saling sesap. Hingga akhirnya Mario berdiri dengan aku yang ada di dalam gendongannya


Tangan Mario mematikan kompor tapi ciuman kami tetap berlanjut. Aku yang masih berada di dalam gendongan Mario kembali dibawanya duduk di pangkuannya

__ADS_1


Aku merasakan ada yang bergerak di bawah tempatku duduk lalu aku menarik bibirku yang masih di sesap Mario dan menatapnya dengan nafas tersengal


Kulihat Mario meletakkan kepalanya ke sandaran kursi makan lalu mendongak dan menutup rapat kepalanya


"Yo....?" panggilku dengan melepaskan kedua tanganku yang masih melingkar di lehernya


Mario membuka matanya lalu aku turun ketika Mario menurunkan kakiku. Kulihat Mario masuk kedalam kamar mandi dan aku yang termangu hanya bisa sesekali menoleh kearah kamar mandi dengan gelisah


Cukup lama Mario di dalam kamar mandi, sampai aku selesai membuat teh hangat untuk kami Mario belum juga keluar


Aku yang gelisah kembali menoleh kearah kamar mandi yang akhirnya Mario keluar dengan wajah basah


Mario nyengir ke arahku yang memandang khawatir padanya. Lalu Mario mendekat padaku, membenarkan rambut kebelakang telingaku dan memandang dalam pada mataku


"Kita nikah yuk Ntan?"


Aku hanya menelan ludahku mendengar permintaannya, menatapnya dengan mendongakkan kepalaku


"Aku takut khilaf Ntan" lirihnya sambil terus menjalankan jarinya di wajahku


"Makanya jangan main nyosor aja" jawabku sambil memukul dadanya


Mario menarik nafas panjang lalu mendekapku


"Aku mencintainmu Ntan"


Aku mendongakkan kepalaku sambil mengangguk


"Aku juga mencintaimu Mario...." akhirnya kata cinta itu meluncur juga dari mulutku


Mario melepas dekapannya padaku lalu menarik kursi dan mendudukkanku, lalu sambil berjongkok Mario menggenggam erat jariku


"Kamu mau kan menikah denganku?"


Aku mengangguk sambil tersenyum lalu aku mendekap Mario, mengusap-usap kepalanya yang saat ini menempel di perutku


Ku tarik kepala Mario, menangkup wajahnya dengan kedua tanganku


"Aku baru hari ini ketok palu, dan untuk menikah setidaknya menunggu paling cepat tiga bulan, bukannya mentang-mentang aku janda langsung bisa nikah besok Mario"


Mario mendecak kesal lalu berdiri dan menarik kursi, duduk di sebelahku


"Harus berapa lama lagi Intan aku menunggu, lebih sepuluh tahun aku menunggu janda kamu, kalau kamu mau tahu"


Aku terkekeh melihat wajahnya yang masam


"Sepuluh tahun aja kuat, masa nunggu waktu tiga bulan aja nggak sanggup?" godaku


Kembali Mario menarik nafas panjang dan aku kian terkekeh melihatnya


"Setelah tiga bulan pokoknya kita nikah"


Aku tidak menjawab melainkan terus tergelak


...----------------...


Aku masuk ke dalam rumah tanpa Mario karena dia harus menemui mamanya sebentar setelah itu dia harus kembali lagi ke daerah tempatnya berdinas


Hari ini adalah hari yang berat buatku dan juga Mario. Jika aku berat menghadapi hasil putusan sidang dan juga melawan hasrat yang berontak di dalam jiwaku, maka Mario harus bolak balik mengantar jemputku dan juga melawan hasratnya yang sudah di ubun-ubun


Untunglah aku dan Mario sama-sama bisa menahan diri kami, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada kami berdua, bisa saja kami akan terjerumus dalam permainan gila


Karena telah sampai rumah aku meminta adikku untuk mengantarkan Meka, yang tak lama Meka diantar oleh ayah ibuku


Aku menarik nafas panjang ketika meliha ayah dan ibuku masuk


"Bagaimana?"

__ADS_1


Aku tersenyum kaku seraya menganggukkan kepalaku kearah mereka


"Harta gono gini nya?"


"Nanti akan dibahas secara kekeluargaan buk, tapi tidak sekarang, entah kapan. Kita tunggu aja, terserah mereka mau membagi adil atau tidak"


Kedua orang tuaku mengangguk. Dan mereka menasehatiku agar aku bersabar dalam menerima cobaan ini. Dan aku diminta untuk fokus mengurusi kedua anakku


Setelah itu aku menjalani hari-hariku kembali seperti semula, kembali berjualan online, kembali mengantar orderan pelangganku, kembali menjadi emak-emak berdaster


Bedanya aku sekarang telah resmi menjadi pacar Mario. Setiap hari bahkan nyaris setiap jam Mario akan meneleponku, menanyakan kabarku dan semakin sering menggombaliku


Bahkan kami semakin sering mengulang kisah kami yang dulu, impian-impian kami, keinginan kami punya anak berapa bahkan akan seperti apa kami nanti


Aku terkadang hanya tertawa ketika mengetahui ternyata Mario masih mengingat semua itu dengan baik


Dua minggu berikutnya, ketika aku tengah beres-beres rumah, mantan mama mertuaku menelepon dan mengatakan jika mereka sudah di jalan untuk ke rumah kami


Dengan terburu aku membereskan rumah dan masak, hingga satu jam berikutnya saat masakan ku belum masak seluruhnya mereka sampai


"Mbak bisa bantu?" tanyaku pada mbak Sari


Mbak Sari tersenyum dan segera membantuku masak


"Terima kasih ya Ntan kamu masih menganggap kami seperti dulu" ucap mbak Sari ketika sedang memotong-motong sayuran


Aku tersenyum dan mengelus lengannya


"Yang putus itu hubungan suami istri antara aku sama mas Arif, sama yang lain tentu tidak, terlebih mama dan papa adalah kakek dan neneknya kedua anak kami" jawabku sambil melihat ke arah depan dimana terdengar suara gelak tawa Meka dan Bobbi yang sedang bermain dengan mantan papa mertuaku


"Kamu masih jualan Ntan?"


Aku menoleh kearah mama mertuaku yang masuk setelah beliau dari teras belakang


"Masih ma, kalau tidak kemana aku dapat biaya hidup"


Mantan mama mertuaku duduk di dekat kami yang memotong daging dan sayuran, lalu mengelus lenganku


"Maafkan Arif ya Ntan, karena tidak bisa lagi memberi nafkah pada kedua anak kalian, karena sekarang Arif telah resmi di pecat"


Gerakan tanganku saat mengupas bawang merah aku hentikan lalu menoleh kearah mantan mama mertuaku


"Mas Arif resmi dipecat ma?"


Beliau mengangguk dengan wajah sedih, lalu ganti aku yang mengelus punggungnya


"Rezeki yang lain pasti ada ma, yakin aja kalau rezeki mas Arif bukan hanya dari ASNnya, pasti dibalik ini Alloh telah menyiapkan jauh lebih baik dari ini"


Mamanya mas Arif mengangguk, begitu juga dengan mbak Sari


Selesai masak, kami semua lalu makan siang. Setelah kami semua bersantai barulah aku menelepon ayah dan ibuku, meminta mereka semua ke rumah kami karena akan diadakan rembukan keluarga yang menyangkut harta gono gini


Ayah dan ibuku bersikap biasa saja pada mantan besan mereka, mengobrol biasa dan seperti tidak ada kebencian di antara mereka, padahal aku tahu, ayahku masih sakit hati pada kelakuan buruk mas Arif yang telah menyakitiku


"Masalah rumah ini, sesuai permintaan Arif, akan diberikan kepada kedua anaknya, jadi rumah ini bukan milik Arif bukan pula milik Intan" buka papanya mas Arif


"Terus masalah mobil pribadi yang sampai saat ini masih ada di tempatnya berdinas dulu, lusa atau besok akan diambil oleh kakaknya dan rencananya Arif mobil itu akan dijual dan uangnya akan dibaginya rata dengan Intan"


Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan mantan papa mertuaku


"Bagaimana pak, apa bapak ada saran lain?" tanya beliau pada ayahku yang sejak tadi diam mendengarnya


Ayahku menoleh ke arahku


"Bagaimana Ntan?"


"Aku nurut mana baiknya aja yah, kalau kata ayah baik, aku nurut, kalau kata ayah harus begini ya silahkan utarakan, semuanya aku serahkan sama ayah"

__ADS_1


Akhirnya ayahku menyetujui semua yang dikatakan mantan papa mertuaku, dan ayahku bilang, jika suatu hari nanti Arif ingin menemui kedua anak kami, Arif bisa menemui mereka dan kami tidak akan menghalanginya


__ADS_2