Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Aku Ikuti Cara Kamu


__ADS_3

Mataku mengecil menahan marah ketika kulihat mas Arif berjalan ke arahku dengan diantar petugas lapas


Ketika dia duduk, tak sepatah katapun keluar dari mulutku untuk menyapanya


Aku hanya memandang tajam kearahnya tanpa bersuara sedikitpun, sampai akhirnya mas Arif duduk aku tetap memandang tajam kearahnya


"Ma...?" sapa mas Arif yang tidak sama sekali aku jawab, aku masih memandang tajam padanya dengan wajah yang ku tekuk


Mas Arif duduk di depanku, berusaha tersenyum tapi senyumnya masih tidak berhasil membuat wajahku berubah ramah


"Aku kesini nggak lama, dan aku yakin mas sudah tahu apa tujuanku kesini"


Masih mas Arif memasang senyum di wajahnya mendengar ucapan sinis ku


"Apa maksud mas ingin menjual rumah kita, hem?"


Senyum di wajah mas Arif sontak menghilang berganti dengan raut kaget bercampur tegang


"Munafik kamu ya mas, jangan mentang-mentang kemarin aku diam dan menerima tidak kamu bagi uang penjualan mobil, lantas sekarang kamu mau jual rumah kita"


"Otak kamu masih jalan nggak sih mas?, apa otak kamu sudah berkurang akibat lama di penjara?"


Kulihat mas Arif hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan sinis ku


"Mas langkahi dulu mayatku jika mau menjual rumah itu, sampai kapanpun aku akan mempertahankan rumah itu" geram ku menahan marah dan mas Arif masih diam


"Masih mau ngomong jika membuat rumah itu semuanya uang mas?, huhhh, tak kusangka picik sekali jalan pikiran kamu mas, ingat mas itu harta bersama, termasuk mobil kemarin, tapi aku mencoba positif thinking karena aku pikir mas memang jauh lebih membutuhkan uang itu dibanding aku, walau sebenarnya mas juga tahu, bahwa kedua anak mas membutuhkan biaya hidup juga"


"Tapi aku sama sekali tidak menuntut sepeser pun, biarlah uangnya ambil semua oleh mas, dan sekarang tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba mama sama papa datang, dan bilang jika mas mau menjual rumah anak-anak"


"Jawab mas jangan cuma diam, aku tahu mas nggak tuli tapi menuli, dan semoga tuli mas ini dibuat-buat bukan tuli karena digebukin sama penghuni tahanan yang lain"


Mas Arif berusaha tersenyum mendengar kalimat terakhirku dan aku masih seperti semula, tetap berwajah marah


"Memang mas berencana menjual rumah itu, karena apa, mau tahu kamu alasannya?"


Aku memandang penuh tanda tanya pada mas Arif yang masih tampak santai menanggapi kemarahanku


"Karena kamu mau menikah dan mas tidak mau ada lelaki lain yang masuk kedalam rumah kita"

__ADS_1


Mulutku ternganga mendengar jawaban yang diluar prediksiku


"Oleh karena itulah mas berpikir lebih baik rumah itu kita jual, agar tidak ada orang lain yang tinggal di rumah itu kecuali kita"


Aku menggeleng tak percaya mendengar ucapan mas Arif, sekuat tenaga aku memaksa otakku untuk berpikir jernih menanggapi ucapannya yang sama sekali sulit untuk aku terima


"Gila kamu ya mas..." ucapku frustasi sambil menatap tak percaya padanya


"Aku nggak nyangka sepicik ini cara berfikir mas, tapi harusnya aku sadar kalau memang mas itu picik, akunya saja yang masih tidak yakin jika orang yang dulu pernah jadi bagian hidup aku bakal begini penilaiannya"


"Bukan begitu Ma maksud aku" ucap mas Arif berusaha menarik tanganku yang dengan cepat ku tepis


"Cukup mas, nggak usah banyak ngomong lagi, aku sudah ngerti, sangat mengerti" jawabku sambil segera berdiri


Dan mas Arif juga berdiri dengan cepat dan segera mengejar langkahku yang berjalan meninggalkannya


"Ma dengerin aku, ini semua demi kebaikan kita"


"Kita?, nggak ada kata kita lagi mas, kita bukan siapa-siapa lagi, kita sudah berakhir, dan oke aku akan jual rumah itu sesuai keinginan mas, dan asal mas tahu, uangnya tidak akan aku serahkan sama mas, jual beli harus melalui aku, bukan melalui mas apalagi orang tua mas, ngerti?"


Kembali aku lihat mas Arif menelan ludahnya dan memandangku dengan wajah tegang


"Sekarang kamu lihat bagaimana aku beraksi mas" tambahku sambil mendorong dadanya agar menjauh dariku


Setelah itu aku berbalik dan melanjutkan jalanku, meninggalkan mas Arif yang memandang nelangsa padaku


...----------------...


Begitu sampai di rumah, aku segera naik ke kamarku, mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya


Jujur saja aku tak rela jika rumah ini dijual, begitu banyak kenangan pahit manis di rumah ini, aku hamil kedua anakku juga di rumah ini, tapi sekarang kok malah mas Arif tega ingin menjualnya hanya karena alasan aku akan menikah, dan dia tak ingin ada orang asing yang masuk ke rumah kami.


Air mataku kian deras mengalir dan ada rasa sakit di dalam dadaku mendapati jika akhirnya rumah yang selama ini aku dan anak-anakku tinggali harus aku relakan untuk dijual


Aku menghapus air mataku setelah sekian lama menangis, mengambil hp dan menghubungi Mario


"Yo kamu dan anak-anak dimana?"


"Di rumah mama sayang, ada apa?"

__ADS_1


"Aku sudah pulang dari lapasnya, kamu kesini sebentar ya, tapi jangan bawa anak-anak"


"Oke, sekarang juga aku kesana"


Aku menarik nafas panjang, berjalan gontai keluar kamar dan segera berjalan kearah depan ketika aku mendengar suara motor Mario


Mario segera mendekap ku ketika aku membukakan pintu. Dan aku tidak menolak saat Mario mendekap dan menciumi puncak kepalaku


"Sini, bilang semuanya sama aku" ucap Mario sambil membawaku ke sofa


Sambil terisak aku menceritakan semua apa yang terjadi di lapas tadi, dan kembali di akhir ceritaku Mario mendekap dan mengusap-usap punggungku


"Jika kamu memang keberatan rumah ini dijual, aku yang akan beli rumah ini untuk kita tempati" jawab Mario ketika aku masih saja terisak di dekapannya.


Tangisku kian pecah dan aku makin mengeratkan dekapanku padanya mendengar apa yang barusan dikatakan olehnya.


"Tidak Yo, aku tidak mau kamu membeli rumah ini hanya karena kamu kasihan sama aku"


Mario menarik tubuhku dari dekapannya, memandangku dengan serius


"Bukan kasihan, tapi cinta. Aku terlalu mencintaimu Intan, makanya aku tidak ingin kamu bersedih"


Aku menggeleng.


"Kali ini aku akan mengikuti alur permainan mas Arif, dia ingin rumah ini dijual, oke aku akan jual, tapi aku yakinkan jika aku akan mendapatkan bagian yang sama dengannya tidak seperti dia menjual mobil kemarin"


Kutangkap ada guratan heran di mata Mario mendengar ucapanku, lalu aku menceritakan bagaimana proses penjualan mobil kemarin yang aku sama sekali tidak mendapatkan bagian hanya karena aku tidak membayar sepeser pun pembiayaan mobil tersebut


Mario tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya mendengar ceritaku


"Sudahlah sayang, harta bisa dicari, nanti ketika kita menikah, seluruh rumah, mobil, dan harta aku yang lain adalah harta kita, dan In Syaa Alloh aku tidak akan berlaku seperti yang mas Arif lakukan sama kamu"


Air mataku kembali mengalir dan kembali Mario mendekap ku


Hingga akhirnya seminggu kemudian setelah memantapkan hati dan mendengar nasihat dari orang tua dan saudaraku, aku mulai membuat iklan penawaran rumah kami di akun media sosialku


Sudah ada yang bertanya tentang harga walau belum ada yang deal hingga akhirnya postingan aku banyak dibagikan oleh teman-temanku yang lain agar memudahkan lakunya rumah kami


Dan aku tidak menyangka jika postinganku itu ternyata terbaca oleh Tasya dan Raisa hingga akhirnya mereka menghubungiku setelah agak lama mereka tidak menelepon dan mengirimiku pesan lagi

__ADS_1


__ADS_2