Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Kukatakan Semua


__ADS_3

Aku refleks melepaskan tanganku yang memeluk leher Mario, lalu menarik bibirku yang masih dihisapnya


Secepatnya aku berdiri, berlari kecil meninggalkan Mario yang meneriakkan nama lengkap ku


Dan aku kian berlari cepat ketika Mario hampir sampai di dekatku, lalu secepat kilat ditariknya tanganku sehingga aku terhenti


"Aku minta maaf" ucap Mario


Aku hanya bisa menelan ludahku menatap matanya


"Maafkan aku Ntan, aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan sama kamu, tapi sungguh aku minta maaf, maafkan aku karena tidak bisa menguasai perasaanku" lanjut Mario dengan nada menyesal


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Mario, karena aku disini juga salah" jawabku


"Tapi yang kukatakan tadi jujur Ntan"


Aku menggeleng sambil menarik tanganku, lalu kembali berjalan terburu kearah motor lalu segera menaiki motor, menghidupkan mesin motor lalu segera mengegas motor lalu meninggalkan Mario yang berdiri menatap kepergianku


Lalu aku tak menoleh-menoleh kebelakang lagi, jantungku sudah berdegup sangat kencang saking gugupnya aku


Sepanjang jalan pikiranku kacau dan merutuki kecerobohanku, berkali-kali aku mengumpat dalam hati menyesali mengapa aku sampai melakukan perbuatan tadi, mengapa aku tidak bisa menolak, mengapa mengapa mengapa hanya itu yang muncul di benakku


Dan aku makin melajukan motorku dengan cepat khawatir jika Mario masih mengejar di belakangku


Tapi aku sedikit lega ketika mobil Mario tidak kelihatan dari spion ku, itu artinya dia tidak mengikuti ku


Padahal Intan yang tidak mengetahui, jika sejak tadi Mario mengiring di belakangnya hanya saja dia melajukan mobilnya dengan lambat


Dan aku yang telah sampai di jalan lorong rumahku makin melajukan motor dengan ngebut ketika aku melihat ada rombongan emak-emak duduk-duduk, aku tak ingin jika aku dan keluargaku menjadi topik pembicaraan mereka lagi


Sampai di halaman, aku segera memarkir motor dan berjalan di teras. Baru saja aku duduk di kursi yang ada di teras, pintu terbuka


Aku menoleh sekilas dengan malas ketika kulihat suamiku keluar dari dalam rumah


"Sudah pulang ma?"


Aku tak menjawab melainkan memiringkan tubuhku berusaha membelakangi suamiku agar dia tidak banyak tanya lagi


Dan sepertinya suamiku masih berusaha meluluhkan hatiku, dia masuk lagi kedalam dan tak lama telah keluar dengan membawa tumbler minuman dingin


"Pasti capek kan ma?"


Aku hanya melirik sekilas kearah tumbler yang diletakkannya di depanku


"Memang nganter pesanan kemana aja ma?"


"Jauh...." hanya itu jawaban singkat ku dan aku tetap cuek

__ADS_1


"Mama masih marah?"


Aku diam, kembali video yang tadi ditunjukkan Mario melintas di kepalaku jika suamiku bukan hanya kemarin saja dia ngamar, tapi sering


Sambil menarik nafas panjang aku menatap wajahnya


"Jika hal serupa, apa yang papa lakukan, aku lakukan juga, perasaan papa bagaimana?"


Mas Arif diam, dan sekian menit aku menunggu jawaban yang tak kunjung dijawabnya sampai akhirnya aku bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah


Aku masuk ke kamar Bobbi, merebahkan tubuhku di sana, menatap langit-langit kamar dengan mata menerawang, tanpa sadar aku menyentuh bibirku


Lalu aku tersenyum malu dan segera menutup wajahku


"Ya Tuhan mengapa ini harus terjadi?" batinku malu dan menyesal


Tapi kemudian setan di dalam diriku berbisik "Jangan malu Intan, suamimu malah lebih jauh lagi melakukan ini padamu"


Aku bangkit, mengusap wajahku lalu keluar dari dalam kamar karena terdengar klakson suara mobil antar jemput Bobbi


Begitu aku sampai di depan pintu, kulihat Bobbi sedang duduk dipangkuan papanya, lalu aku melengos dengan malas dan kembali memutar badanku masuk


Baru saja aku akan melangkah Bobbi berteriak dan berlari ke arahku. Dengan manja dia melingkarkan tangannya pada tanganku, lalu aku membawanya masuk kedalam kamar, mengganti pakaiannya


...----------------...


Sejak kejadian waktu itu, Mario masih terus saja mengirimiku pesan. Masih tak berubah dan dia sekalipun tak pernah membahas masalah ciuman kami kemarin, dan aku juga sekarang semakin deg-degan tiap mendapatkan pesan darinya, terlebih pesannya selalu pesan perhatian kecil yang tidak pernah aku dapatkan dari mas Arif


Jangan capek-capek ya Ntan


Jadilah wanita bahagia, jangan sedih


Semoga sukses ya Ntan, aku senang lihat kamu semangat cari uang*


Dan masih banyak yang lainnya, bahkan terkadang pesannya berisi rasa sayangnya padaku


Dan tiap kali selesai membaca pesan dari Mario, aku langsung menghapusnya


Dan sore ini lagi-lagi ada pihak kantor yang datang ke rumah, membawa sebuah surat untuk mas Arif


Aku yang setelah meletakkan teh hangat dan cemilan, lebih memilih masuk karena aku tak mau duduk berdekatan dengan suamiku lagi


Aku duduk di ruang tengah, dengan membuka hp dan melihat beberapa pesan singkat yang masuk di What's app dan Messenger


Sekian banyak pesan yang masuk tentu ada dari Mario, aku menggelengkan kepalaku membaca pesannya


"Ya Tuhan, pria ini memang benar-benar ya, apa nggak mikir perasaan istrinya dia ini" geram ku dalam hati

__ADS_1


Lebih tepatnya aku memposisikan istri Mario itu aku, bagaimana aku kemarin menangis histeris dan terluka ketika mengetahui jika suamiku berselingkuh


Dan sekarang apa ini?, apa ini juga bisa disebut selingkuh?


Ah Mario, tolonglah jangan kamu memporak porandakan hatiku, batinku


Aku segera menoleh ketika mendengar suamiku memanggilku, lalu aku ke depan karena tadi bosnya dan beberapa lelaki yang cukup jauh usianya di atas kami ingin berpamitan


"Loh, ini kan perempuan yang....?" salah satu lelaki menggantung kalimatnya sambil menatap kearah Mas Arif


Dengan tersenyum aku mengangguk


"Iya pak, aku perempuan yang disebut mas Arif pembantu kemarin" jawabku sambil tersenyum


Wajah mas Arif langsung berubah begitupun dengan empat lelaki yang berdiri di depan kami saat ini


"Bukan itu mbak maksud saya..."


Kembali aku tersenyum


"Nggak apa-apa kok pak, jadikan aku tahu bagaimana penilaian suamiku selama ini sama aku" jawabku menohok


Empat bapak-bapak itu tersenyum tak enak ke arahku lalu melirik kearah mas Arif


Setelah rombongan yang dari kantor pulang, aku segera masuk dan menuju ke teras belakang, dan mas Arif mengejar langkahku


"Ma tunggu ma, ma aku bisa jelasin semuanya"


Aku yang telah duduk di teras belakang memasang wajah datar dan tak menoleh kearah mas Arif yang wajahnya dibuatnya memelas


"Ma aku minta maaf, mama pasti sakit hati dengan omonganku, tapi sumpah ma, aku tidak bermaksud merendahkan mama"


Aku hanya tersenyum sinis mendengar jawaban mas Arif


"Pantes ya mas kamu sering ngamar sama perempuan nggak benar, karena aku mirip pembantu" jawabku masih sambil tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalaku


"Tidak ma, tidak. Sumpah ma, papa tidak pernah ngamar dengan perempuan manapun"


"Oh ya?"


Kulihat wajah mas Arif menegang


"Aku bukan nggak bisa cantik seperti mereka mas, aku bisa jauh lebih cantik dari mereka jika aku mau, tapi aku berdandan biasa-biasa saja karena aku tahu berapa sih uang yang kamu kasih ke aku tiap bulan, jadi aku harus berhemat, jika aku mau bisa saja aku tiap hari ke salon, rambut aku juga bisa aku warnai, aku juga bisa berpakaian minim, tapi untuk apa?, aku jual barang bukan jual tubuh seperti mereka"


Wajah Mas Arif kembali menegang dan aku yakin kali ini dia merasa tersindir dengan jawabanku


"Mas lebih memilih membiayai mereka cantik, ketimbang membuat aku yang cantik" lanjut ku masih dengan tertawa sinis

__ADS_1


"Ingat mas, akan ada suatu hari dimana batas kesabaran aku habis. Dan bisa aku yakinkan jika hari itu tiba, mas tak akan bisa lagi membuatku memaafkan mas"


Mas Arif masih diam mendengar perkataanku, dan aku segera bangkit meninggalkannya sendiri yang duduk tercenung


__ADS_2