
Aku bengong begitu Mario menutup pintu kamar mandi. Segera aku mundur dari depan kamar mandi tersebut, berjalan hilir mudik seperti setrika. Sementara di dalam kamar mandi ku dengar suara air jatuh di lantai, dan terdengar Mario bersenandung kecil
“Ya ampun, apa dia tidak khawatir sama adiknya? Gumamku sambil menggelengkan kepalaku karena mendengarnya bersenandung
Segera aku kembali ke dekat ranjang, agak ragu aku mengambil hp Mario. Menimbang sebentar mau membuka hp tersebut atau tidak. Tapi akhirnya pilihanku jatuh ke tidak. Walaupun Mario sudah sah jadi suamiku, tapi tetap saja tidak sopan membuka hp nya tanpa seijin dari dia. Kalau dia tidak suka dan marah, aku juga yang rugi nanti
Aku memilih mengambil hp ku dan mendial nomor mama mertuaku. Tersambung tapi tak diangkat. Kulihat mama aktif sekitar sepuluh menit yang lalu. Itu artinya, setelah tadi memberitahu Mario, mama tidak aktif kembali
Tak putus asa, aku kembali mengulangi mendial nomor mama, tapi sepertinya memang tidak akan diangkat, terbukti panggilanku kembali tak dijawabnya
Ma, kata Mario Tasya kecelakaan. Benar ma?
Begitu pesan selesai aku ketik langsung aku kirim dan langsung centang dua. Tapi belum dibaca. Karena masih diliputi rasa khawatir aku mencari nomor papa, dan mendial nomor beliau. Tak perlu menunggu lama, Karena masih diliputi rasa khawatir aku mencari nomor papa, dan mendial nomor beliau. Tak perlu menunggu lama, panggilanku langsung beliau angkat
“Gimana keadaan Tasya, pa?”
Terdengar tarikan nafas panjang dari seberang. Dan itu membuatku yakin jika saat ini papa pasti sangat galau.
“Maaf pa. tadi Mario yang beritahu aku jika Tasya kecelakaan” sambung ku karena beliau masih diam
“Entah lah Ntan. Sekarang sudah habis dua kantong darah, tapi Tasya masih belum juga sadar. Sedangkan stok darah di rumah sakit ini juga kosong. Papa yang sedarah sama Tasya, tapi karena usia, papa tidak bisa mendonorkan darah papa. Ini papa dan suaminya Tasya juga menghubungi keluarga meminta sama mereka kira-kira ada tidak yang sedarah sama Tasya”
Aku menggigit bibirku mendengar suara sedih papa mertuaku. Kentara sekali kesedihan dan kekhawatiran dari nada suaranya
“Anak papa yang lain apa nggak ada yang sedarah sama Tasya pa?” tanyaku bertepatan dengan Mario yang keluar dari kamar mandi
Dengan mengelap handuk di kepalanya, Mario memberi kode dengan menaikkan alisnya ke arahku. Yang ku jawab dengan kode mulut menyebut kata papa
Mario menarik nafas panjang, kemudian duduk di sebelahku
“Papa mau ngomong sama Mario?”tanyaku yang membuat Mario memutar matanya dengan malas. Tapi tak urung suara papanya yang memang hp aku loudspeaker di dengar jelas oleh Mario
Aku memberi kode dengan mendelik kan sedikit mataku kearahnya agar dia mau mengambil hp di tanganku. Dan dengan malas-malas, akhirnya Mario mengambil hp yang aku ulurkan kearahnya
“Tolong papa Mario. Cuma kamu satu-satunya harapan papa sekarang”
Mario menarik nafas panjang, dia masih diam tidak menjawab ucapan papanya
“Papa cepat!!!!”
Sebuah teriakan membuat wajah ku terkesiap, itu suara mama, aku yakin itu suara mama. Segera aku mengambil hp di tangan Mario
“Kenapa pa? apa yang terjadi?” teriakku
Tak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara tangisan dan suara gradak gruduk seperti sesuatu yang ditarik. Mungkin saat ini papa sedang berlari mengejar brankar yang membawa Tasya
“Pa? halo? Pa?” kejar ku panik
Mario segera membuka lemari, mengambil baju kaos dan celana jeans, setelah itu dia segera menarik tengkuk ku dan mencium keningku
“Sayang, aku tinggal dulu ya. Aku ke rumah sakit sekarang”
Aku bengong mendengar ucapan Mario. Rumah sakit? Batinku
Aku kejar langkah Mario yang sudah membuka gerendel pintu
__ADS_1
“Kamu tahu tasya di rawat dimana?” tanyaku
Mario yang sudah keluar dari dalam kamar menganggukkan kepalanya.
“Dia pasti dirawat di rumah sakit tempat Raisa dinas. Itu adalah satu-satunya rumah sakit terbesar di kota ini” jawab Mario semakin mempercepat langkahnya sehingga aku berhenti dan membiarkannya pergi
“Hati-hati Yo….” Teriakku
Mario hanya mengangkat tangannya, kemudian dengan setengah berlari dia menuruni anak tangga. Dan aku segera berlari masuk kedalam kamar, melihat ke bawah melalui jendela yang terbuka
Aku melihat mobil Mario keluar dari area hotel dengan terburu. Dan aku menarik nafas lega mengetahui jika Mario akhirnya pergi juga ke rumah sakit
“Papa mana buk?”
Aku menoleh kearah pintu yang terbuka. Dimana muncul Meka dan Bobby
“Pergi sebentar, tante Tasya masuk rumah sakit”
“Tante Tasya? Emang rumahnya di kota ini?” tanya Meka yang ku jawab dengan anggukan kepala
“Kenapa kita nggak kesana sekalian buk? Kami kan mau main sama anaknya tante Tasya” jawab Bobby yang membuatku tersenyum kecut
“Ini urgent sayang. Nanti kalau papa pulang, baru kita ajak papa kesana” jawabku sekenanya
Meka dan Bobby mengangguk, kemudian keduanya ikut melongok kan kepala mereka kearah bawah, tapi kemudian keduanya dengan cepat mundur dan bergidik ngeri yang membuatku terkekeh
“Istirahat dulu atau makan siang?” tanyaku mengalihkan perhatian kedua anakku dari rasa ngeri mereka
“Makan” jawab mereka kompak
**
Mario melajukan mobilnya dengan ngebut menuju rumah sakit tempat adik bungsunya berdinas. Mendengar suara teriakan mamanya tadi, akal sehatnya langsung hilang, logikanya langsung tidak jalan normal. Di benaknya telah terbayang bagaimana mamanya menangis dan sangat khawatir. Saat mamanya menelpon tadi, Mario masih berusaha keras hati, tapi ketika mendengar teriakan mamanya, seketika amarahnya pada Tasya langsung lenyap.
Yang ada di kepalanya adalah mamanya. Mama butuh aku, itu yang dipikirannya. Makanya tadi begitu papanya tidak lagi menjawab panggilan istrinya, dia semakin yakin jika hal buruk sudah terjadi pada Tasya
Mario menggigit ujung jarinya yang terkepal ketika berhenti di lampu merah. Berkali-kali dia menoleh kearah hp nya yang diletakkannya di sampingnya duduk, berharap jika mama atau papanya akan menghubunginya. Hingga lampu berubah hijau, dengan cepat Mario menginjak gas dan langsung melesat kembali menuju rumah sakit
Sampai di rumah sakit, Mario langsung masuk dan langsung bertanya pada bagian depan dimana adiknya di rawat
“Ibu Tasya, sekarang di ruang operasi pak”
Mario menganggukkan kepalanya dan bertanya dimana ruangan operasi tersebut, setelah mendapatkan petunjuk dari perawat yang menunjukkan dimana ruangan operasi berada, Mario kembali bergegas melangkah
Dengan mengikuti arahan ucapan perawat tadi, dan juga mengikuti petunjuk di rumah sakit ini, Mario dengan cepat sampai di dekat ruang operasi
“Ma….?” Ucap Mario yang segera setengah berlari ketika dilihatnya mamanya sedang terisak menangis
Mama Mario mengangkat kepalanya, dan langsung menghambur kedalam pelukan Mario begitu Mario duduk di sebelahnya dengan langsung mendekap tubuhnya
Papanya Mario yang duduk di sebelah istrinya bangkit dan mengusap-usap kepala istrinya yang kembali menangis kencang ketika Mario tiba
“Syukurlah kamu datang Yo. Tasya kritis”
Mario bergeming mendengar ucapan papanya, tapi Mario tak melepaskan dekapannya pada sang mama. Dia terus memberikan dukungan untuk sang mama yang tampaknya sangat terpukul.
__ADS_1
Seorang perawat lewat di dekat mereka yang langkahnya langsung dihentikan Mario
“Kamu mau masuk kedalam? Apa saya boleh ikut?”
Perawat tersebut menggeleng
“Saya membawa sekantong darah untuk pasien pak. Dan ini masih kurang. Pasien butuh banyak darah”
“Kalau begitu kamu segera antar darah itu kedalam. Setelah itu kamu ambil darah saya”
Perawat tersebut mengangguk, kemudian dia langsung berjalan meninggalkan Mario dan kedua orang tuanya. Kemudian tak lama dia sudah muncul dengan Raisa yang berwajah sembab
Melihat Raisa keluar, mamanya langsung berdiri dan memberondong Raisa dengan pertanyaan
“Para dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Kak Tasya ma…..” isak Raisa
“Ayo suster, ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan” ucap Mario tak mengacuhkan Raisa yang saat ini sedang memeluk mama mereka
Perawat tadi segera berjalan bersama Mario, dan papa Mario kemudian mengajak istrinya duduk, sementara Raisa segera menyusul perawat dan Mario yang sudah lebih dulu berjalan
**
“Hati-hati sus, dia kakak saya” lirih Raisa ketika seorang suster akan menusukkan jarum ke urat pergelangan tangan Mario. Perawat yang ditegur oleh Raisa hanya mampu menganggukkan kepalanya, tapi Mario masih bersikap dingin seperti tadi
“Kurang berapa kantong?” tanya Mario ketika di selang yang menghubungkan pergelangan tangannya dan kantong darah sudah berwarna merah
“Dua. Bisa jadi lebih” jawab Raisa
“Kalau begitu ambil darah saya semua sus. Bisa kan?”
Perawat yang masih berdiri di dekat Mario tersenyum
“Satu kantong bisa nya pak. Kalau mau donor lagi besok atau lusa. Tidak bisa dalam waktu yang bersamaan”
Mario diam, dan kembali membuang mukanya karena sejak tadi Raisa terus saja mencuri-curi pandang padanya
Setelah kantong darah penuh, Mario segera bangun dan menggerakkan sedikit kepalanya. Suster yang tadi mengambil dan menyimpan darah Mario untuk di saring sekarang pergi agak menjauh karena dia mau menyimpan darah tersebut
“Diminum kak….” Lirih Raisa sambil memberikan segelas susu hangat kearah Mario
Mario tanpa komentar mengambil gelas susu yang diberikan adiknya tersebut dan segera menenggaknya. Kemudian dia juga mengambil roti yang juga diulurkan oleh Raisa
Keduanya masih diam tak saling bersuara, sampai perawat kembali ke dekat mereka barulah Mario bersuara
“Jika sudah selesai, saya boleh keluar sus?”
Suter tersebut mengangguk setelah memastikan jika Mario benar-benar bisa berjalan normal setelah darahnya diambil
“Santai saja. Saya sudah beberapa kali mendonorkan darah saya. Jadi suster jangan khawatir” ucap Mario. Sebenarnya kalimat itu lebih tepat ditujukannya pada Raisa karena sejak tadi wajah Raisa masih menampakkan kekhawatiran terlebih ketika melihat Mario berdiri
Mario yang telah keluar dari ruang PMI segera kembali ke tempat orang tuanya, menggenggam erat tangannya mamanya, berusaha menenangkan sang mama
“Tasya akan sehat ma. Mama kan tahu bagaimana Tasya, Tasya wanita kuat persis lelaki. Mama pasti ingat ketika kecil dulu dia itu mainnya sama teman aku semua” ucap Mario mencoba membuat mamanya tersenyum
“Aku juga sudah mendonorkan darah aku untuk Tasya. Dan aku yakin dia akan cepat sadar. Mama tahukan, betapa aku sangat menyayangi kedua adikku. Dan aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada mereka berdua”
__ADS_1
Raisa yang berdiri agak jauh dari mereka menyeka matanya yang tiba-tiba telah menganak sungai mendengar ucapan tulus Mario