Dear Sang Mantan

Dear Sang Mantan
Damai


__ADS_3

Mario membuang mukanya ketika dia menoleh dan melihat Raisa berdiri tak jauh dari mereka. Dan Raisa dengan terburu menghapus air matanya, menarik nafas panjang kemudian berjalan mendekat kearah kedua orang tuanya dan Mario. Dengan senyum kaku, Raisa duduk di sebelah papanya


“Kak Tasya akan selamat pa. Yakinlah sama ucapan Ica”


Papanya tersenyum getir, menganggukkan kepala kemudian kembali menyandarkan kepalanya ke tembok


“Aku pulang ma, pa. Kasihan istri dan kedua anakku” ucap Mario sambil berdiri setelah cukup lama mereka duduk di depan ruang operasi


“Apa tidak bisa kamu lebih lama lagi disini Yo?” tanya sang mama dengan wajah sedih


Mario mencoba tersenyum mendengar pertanyaan mamanya


“Istri dan kedua anakku pasti saat ini menungguku ma. Padahal aku sudah janji dengan mereka bertiga jika selama seminggu ini akan full mengajak mereka liburan”


Raisa tersenyum kecut mendengar ucapan kakaknya. Dia sama sekali tidak mengetahui jika kakaknya saat ini sedang berlibur dengan keluarga barunya


Kemudian Mario setengah menunduk, mencium punggung tangan mamanya, kemudian beralih pada papanya. Dan Raisa segera mengulurkan tangannya kearah Mario ketika dilihatnya sang kakak mencium punggung tangan papa mereka


Walau wajahnya masih bersikap datar, Mario menyambut juga uluran tangan sang adik, kemudian dengan takzimnya Raisa mencium punggung tangan sang kakak. Ketika Mario akan menarik tangannya, Raisa masih menggenggam erat tangannya. Dan Mario menatap mata Raisa yang sudah berkaca-kaca. Raisa berdiri, dan dengan berani di dekap nya tubuh Mario dan langsung terisak


Mario menarik nafas panjang ketika Raisa memeluknya. Kedua orang tua mereka yang melihat Raisa memeluk Mario sambil menangis tak urung membuat sang mama ikut terisak. Mario menarik nafas panjang kembali ketika mendengar suara isak tangis mamanya, kemudian tangannya bergerak ke kepala Raisa, diusapnya dengan sayang kepala adiknya


“Jaga Tasya. Kamu kan dokter. Segera kasih tahu kakak jika butuh darah lagi”


Raisa hanya bisa mengangguk sambil mengusap kasar wajahnya ketika Mario mengucapkan kalimat demikian. Lalu Mario memutar badannya tegapnya, kemudian dia berjalan meninggalkan ketiga orang yang disayanginya yang saat ini terus menatap kepergiannya dengan sendu


“Semoga dengan kejadian ini kak Mario mau memaafkan kami berdua ya ma…..” lirih Raisa yang dijawab mamanya dengan elusan sayang pada lengannya


Satu jam berikutnya lampu di atas pintu ruang operasi padam yang menandakan jika operasi telah selesai. Suami Tasya keluar pertama kali dengan wajah sembab. Sebenarnya pihak rumah sakit sudah melarang suami Tasya masuk, tapi berkat bantuan Raisa akhirnya dia bisa masuk


“Bagaimana?” tanya mama Mario ketika melihat suami Tasya keluar


Kembali air mata mengalir di wajah suami Tasya yang membuat jantung kedua orang tua Tasya dan Raisa berdegup kencang


“Semuanya berjalan lancar ma…” jawab suami Tasya yang langsung di dekap oleh mamanya Tasya sambil ikut menangis haru


Raisa langsung memeluk papa nya begitu mendengar jawaban kakak iparnya. Tak lama keluar dua orang dokter yang tadi menangani Tasya. Kedatangan mereka langsung disambut jabat tangan hangat dan ucapan terima kasih dari Tasya


“Lukanya sudah selesai kami operasi. Dan sekarang tinggal menunggu pasien sadar. Dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama”


Raisa mengangguk. Kemudian menoleh sambil tersenyum haru kearah mamanya yang juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dua dokter yang telah berhasil menyelamatkan nyawa anaknya


“Bagaimana bisa Tasya kecelakaan?” tanya sang papa begitu dokter pergi dan mereka kembali duduk di tempat semula


Suami Tasya menelan ludahnya mendengar pertanyaan papa mertuanya


“Tasya mengejar saya pa”


“Mengejar kamu?. Maksudnya?”


“Kami bertengkar pa”


Kedua orang tua Tasya dan Raisa menarik nafas panjang mendengar jawaban suami Tasya


“Kok bisa kak?” tanya Raisa


“Ini semua salah saya. Andai saya tidak meninggalkan Tasya dalam keadaan marah saya yakin dia tidak akan kecelakaan”


Kembali mamanya Tasya menarik nafas panjang


“Apa yang kalian ributkan?. Hidup sudah mapan apalagi yang kurang sampai kalian masih saja bertengkar?” tanya sang mama dengan nada tak suka


“Ma…..?” ucap sang suami pelan. Meminta pada istrinya untuk tidak memperkeruh suasana


Mama Mario melengos mendengar suaminya memanggil namanya dengan maksud untuk tidak meneruskan omelannya


“Tasya menuduh saya yang tidak-tidak ma. Makanya saya marah dan terjadilah keributan di antara kami. Karena saya tak ingin anak-anak mengetahui jika kami bertengkar, karena itulah saya memilih keluar dari rumah. Saya tidak menyangka jika Tasya menyusul dengan membawa mobil sangat ngebut hingga tabrakan tak bisa terelakkan”


“Korban mobil satu nya bagaimana?” tanya papa mertuanya


Suami Tasya menggeleng

__ADS_1


“Di rawat di rumah sakit ini juga pa. Tapi dia tidak terlalu parah seperti kakak. Kakak terluka parah karena kakak tidak memakai safety belt hingga membuat kakak terpental keluar dari dalam mobil”


Mama Mario menutup matanya membayangkan jika tubuh anaknya terpental jauh, hingga terluka parah dan tulangnya ada yang patah. Sehingga harus dilakukan tindakan operasi


“Maafkan saya ma. Saya benar-benar menyesal” lirih suami Tasya sambil menundukkan kepalanya


**


Mario melajukan mobilnya agak pelan ketika kembali ke hotel. Dan ketika sampai di hotel sudah hampir malam, karena saat itu memang dia kembali ke hotel sudah sore


“Bagaimana keadaan Tasya?” tanyaku ketika Mario sampai di kamar dan duduk di atas ranjang


Mario memasang senyum kaku dan aku yang melihat ada kain kasa yang menutupi bagian tangannya, segera menarik tangannya


“Aku tadi mendonorkan darahku untuk Tasya” jawab Mario ketika aku menatap tangannya


Aku tersenyum dan segera mendekapnya


“Alhamdulillah. Memang itu yang harusnya kamu lakukan”


“Dia adikku Ntan. Kamu benar, semarah apapun aku sama Tasya, tapi ketika mendengar jika dia sekarat dan mama berteriak panik. Akal dan logika ku sudah nggak jalan. Yang ada di benakku adalah aku harus ke rumah sakit dan melihat adikku. Walau pada kenyataannya aku tidak bisa melihatnya karena dia di ruang operasi”


“Loh, kenapa kamu pulang kalau begitu. Kan kamu bisa di rumah sakit dulu melihat sampai Tasya benar-benar sadar”


Mario yang telah melepaskan dekapannya padaku tersenyum


“Aku merasa bersalah karena momen honey moon kita berantakan karena accident ini”


Aku menggeleng, aku menggenggam kuat tangan Mario. Menatapnya dengan sayang


“Aku malah akan sangat marah jika kamu tetap stay di hotel ini hanya karena lebih memikirkan honey moon kita”


Mario tersenyum, kemudian menarik kepalaku dan mendekap ku dengan hangat


“Tapi aku janji, malam ini kita jalan-jalan lagi” ucapnya yang ku jawab dengan anggukan kepala


Dan benar, ketika malam setelah aku benar-benar yakin jika kondisi Mario baik-baik saja pasca dia mendonorkan darahnya, barulah kami keluar, jalan-jalan dan makan malam


“Pa, ibuk bilang rumah tante Tasya dan tante Raisa di kota ini juga. Kapan pa papa ajak kami ke rumah kedua tante itu. Kami ingin main sama sepupu kami” tanya Bobby yang mampu membuat Mario menoleh ke arahku


Aku menganggukkan kepalaku kearahnya, memberinya keberanian untuk menjawab pertanyaan Bobby


“Kata ibuk tante Tasya kecelakaan pa. benar?” kali ini yang bertanya adalah Meka


Dan lagi-lagi Mario menoleh ke arahku


“Terus kita kapan besuk tante Tasya nya pa? mumpung kita disini kan pa?” sambung Meka lagi


“Besok nak. Besok kita ajak papa ke rumah sakit. Kita besuk tante, ibuk yakin tante senang kalau lihat papa datang” ucapku sambil menatap penuh arti pada Mario


Mario sejak tadi hanya diam saja. Sedikitpun tidak menanggapi ucapan kedua anakku. Mungkin dia masih bingung mau menjawab apa. Kalau marah pada Tasya aku yakin sudah tidak lagi. Karena tadi aku dengar sendiri bagaimana Mario sangat sayang dengan adiknya tersebut


Besoknya sesuai dengan kesepakatan ku dengan Mario semalam sebelum kami tidur, jam sepuluh pagi kami sudah di dalam mobil menuju rumah sakit tempat Tasya di rawat. Begitu sampai rumah sakit, Mario langsung menempelkan hp nya ke telinga dan terlihat seperti berbicara dengan mamanya


“Ruang vvip sayang. Di lantai atas”ucap Mario sambil memasukkan hp nya kedalam kantong jaket yang dikenakannya


Aku segera menggandeng tangan kedua anakku dan mengikuti Mario masuk ke dalam sebuah lift. Tak lama pintu lift terbuka dan kami keluar. Dan kembali kami berjalan di belakang Mario menuju sebuah ruangan yang telah diketahuinya dari mamanya tadi


Setelah mengetuk pintu, Mario segera mendorong pintu tersebut. Begitu kami masuk, semuanya langsung diam dan memandang kearah kami. Kulihat Tasya terbaring dengan begitu banyak perban di kaki dan juga wajahnya. Lingkar matanya lebam, biru keunguan.


Dengan langkah pelan aku ikut masuk juga. Dan Mario segera meraih tanganku ketika semua keluarganya diam begitu melihat kami masuk


“Kak…….” Lirih sebuah suara serak


Tangan Tasya yang berbungkus perban tebal terulur dengan susah payah. Wajah Tasya telah basah ketika dia memanggil Mario. Mario menoleh ke arahku, kemudian aku menganggukkan kepalaku dan melepaskan tanganku dari genggamannya


Mario mendekat ke ranjang dimana Tasya terbaring. Tangis Tasya langsung pecah ketika Mario berdiri di sampingnya


“Kak……” kembali Tasya berusaha menggerakkan tangannya ketika Mario sudah berdiri di sebelahnya


Aku yang berdiri di dekat mama mertuaku yang sekarang tengah terisak hanya mampu tersenyum getir melihat bagaimana Tasya menangis sesenggukan. Tatapan matanya seperti begitu ingin Mario menyambut tangannya

__ADS_1


“Yo…..?” ucapku memberi dukungan pada Mario untuk meraih tangan Tasya


Mario menarik nafas panjang sebentar, mendongakkan kepalanya. Kemudian dia membungkuk dan langsung mendekap Tasya yang membuat tangis Tasya kian kencang. Aku ikut terharu melihat momen langka di depan mataku. Yang paling emosional setelah Tasya tentu saja mama mertuaku. Beliau sampai harus di dekap papa mertua ku karena beliau menangis sesenggukan.


Raisa tak mau kalah, segera dia mendekat dan ikut mendekap tubuh Mario sambil menangis terisak juga


“Maafkan aku kak….. maafkan aku……” ucap Tasya di sela-sela isak tangisnya


Mario hanya mengangguk dan mengusap kepala adiknya dengan sayang


“Aku menyesal kak. Mungkin ini adalah karma aku karena membuat kakak sakit hati”


Mario tak menjawab, dia terus mengusap kepala adiknya dengan sayang


“Aku juga minta maaf kak…..” ucap Raisa


Mario melepas dekapannya pada Tasya, tapi tangannya tak mau dilepas oleh Tasya. Tatapan mata Tasya tak berpaling dari kakaknya yang sekarang sedang di dekap oleh Raisa


“Kakak mau kan maafin kami…..?” ucap Raisa sambil terus mendekap tubuh Mario


“Yang marah sama kalian itu siapa?. Kakak nggak marah sama kalian. Kakak itu sangat menyayangi kalian” jawab Mario pelan


Tasya yang masih terisak kembali menangis kencang mendengar jawaban Mario, sehingga membuat aku mendekat dan memegang lengannya yang juga di perban


“Tasya, kamu yang tenang ya….. jangan banyak pikiran lagi” ucapku yang membuat Tasya menoleh dan kembali berlinangan air mata


“Maafin aku juga mbak… aku banyak salah sama mbak” lirihnya


Aku mengangguk kemudian aku beralih mengusap kepalanya


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Karena mbak sudah memaafkan kamu sejak lama” jawabku sambil mengelap pelan wajahnya yang basah dengan tissue


“Mama sini ma……” ucap Mario mengulurkan tangannya pada sang mama yang masih tampak terisak


Mama Mario mendekat, berdiri di antara Mario dan Raisa, kemudian secara bersamaan Mario dan Raisa mendekap mama mereka dengan sayang.


“Aku mau juga……” ucap Tasya dengan nada iri melihat kedua saudaranya memeluk mama mereka


“Kamu di peluk papa saja” jawab papa mereka sambil membungkuk dan mendekap Tasya


Tasya tersenyum senang ketika papanya mendekapnya. Dan aku tersenyum bahagia melihat mereka semua saling peluk dengan sayang sekarang


“Ma……?” lirih suami Tasya ketika papa mertuanya melepas dekapannya pada istrinya


Tasya menggerakkan kepalanya, dan kembali wajahnya mendung ketika suaminya mendekat


“Papa minta maaf…..” lirih suaminya sambil menatap sedih wajah Tasya


Tasya menggeleng, kembali dia berusaha menggerakkan tangannya yang membuat suaminya menyambut tangannya


“Yang harusnya minta maaf itu mama, karena selama ini mama sudah menjadi istri yang tidak baik untuk papa” isak Tasya


Suami Tasya, Ferdian menggelengkan kepalanya. Kemudian dia juga membungkuk dan mendekap tubuh istrinya dengan sayang


**


Enam bulan setelah itu


Rumah kediaman kami hari ini ramai dengan keluarga besar kami yang berkumpul karena hari ini ada pengajian empat bulanan atas kehamilanku. Tasya dan Raisa adalah orang yang tersibuk hari ini. Rupanya mereka berdua tak sungkan ikut membantu keluarga besar kami menyiapkan makanan untuk acara sore nanti


Raisa sebagai dokter juga over protective padaku sejak aku hamil. Hampir setiap hari sejak dia tahu aku hamil, dia selalu menanyakan keadaanku dan menasehati ku untuk istirahat yang cukup. Dan Mario juga tak kalah over nya, toko akhirnya aku pasrahkan sama kakak iparku untuk handle, dan warung makan lesehan biar kakak ku yang handle. Aku benar-benar istirahat total. Aku tak ingin mengecewakan Mario. Karena ini adalah anak pertama baginya, tentulah dia sangat berharap yang terbaik untuk aku dan calon anaknya


Sekitar jam empat barulah acara pengajian di mulai. Aku duduk di apit oleh dua adik iparku. Tak pernah menyangka jika dua orang wanita yang dulu sangat membenciku sekarang begitu sayang dan peduli padaku. Rupanya waktu memang benar-benar bisa menyadarkan mereka. Kemarahan Mario pada mereka dahulu rupanya bisa menjadi shock terapi mujarab untuk keduanya


Aku tersenyum bahagia kearah kedua iparku yang juga tersenyum manis ke arahku


“Kami menyayangi mbak. Terima kasih karena telah membuat kak Mario tetap menjadi kakak yang terhebat untuk kami” ucap keduanya yang ku jawab dengan anggukan kepala


Kemudian aku menatap kearah Mario yang duduk di sebelah ustadz yang memimpin pengajian sore ini. Ternyata Mario juga menatap ke arahku. Dan dia langsung menyilangkan jari jempol dan telunjuknya ke arahku yang membuatku tersenyum simpul menahan malu


Terima kasih Tuhan karena telah mengembalikan kebahagiaan dalam hidupku dan juga dalam hidup suamiku, lirihku sambil kembali fokus mengikuti pengajian yang terus berlanjut

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2