
Sebelum kedua anakku berangkat sekolah, aku mendekap mereka dengan erat, karena sesungguhnya kekuatan terbesarku adalah mereka, senyum dan tatapan cinta mereka mampu mengalahkan pahitnya hidup yang sedang aku jalani
"Mama beneran mau putus sama papa?" tanya Meka ketika aku mendekapnya
Aku tak menjawab hanya berjongkok di depannya, mendekap erat tubuhnya sambil mengusap punggungnya berkali-kali
"Kalau mama putus sama papa, berarti kami nggak punya papa lagi ya ma?"
Aku melepas dekapan ku pada Meka lalu beralih memegang tangan Bobbi
"Tidak sayang, papa akan terus jadi papa kalian, sampai kapanpun"
Meka dan Bobbi diam, aku yakin mereka tidak faham apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan papa mereka
Suara deru mesin mobil jemputan mereka memaksaku untuk berdiri dan mengantarkan mereka sampai masuk kedalam mobil
Aku tersenyum seraya melambaikan tangan kearah kedua mobil yang mengklakson sekali sebelum akhirnya berlalu dari hadapanku
Dengan menarik nafas panjang aku masuk kedalam rumah, naik keatas dan segera mandi
Jam delapan pagi aku telah rapi dan bersiap berangkat ketika di depan kembali terdengar suara klakson mobil
"Ya Tuhan, apalagi ini....." keluhku karena suara klakson itu adalah suara klakson mobil mertuaku
Dengan malas aku turun dari atas, berjalan lamban ketika menuruni tangga
Suara ketukan pintu di depan hanya aku jawab dengan teriakan kecil, agar yang di luar sabar menungguku
Sambil membuka pintu aku menjawab salam yang diucapkan mama mertuaku
Sikap beliau masih tak berubah, masih mendekap hangat tubuhku walau sebentar lagi aku bukan lagi menantunya
"Sudah siap Ntan?"
Aku tersenyum kaku kearah mama mertuaku sambil mempersilahkan mereka semua masuk
"Mama sama papa kepersidangan juga?" tanyaku sambil duduk di dekat mama mertuaku yang terus memegangi tanganku
Mama mertuaku mengangguk dan kulihat ada guratan kesedihan di matanya
"Maafkan Intan, ma" lirihku
__ADS_1
Kudengar suara tarikan nafas panjang dari mertuaku dan mbak Sari
"Tidakkah niat itu kamu urungkan Ntan, cukuplah Arif dihukum penjara jangan kamu ceraikan"
Aku berusaha tersenyum mendengar ucapan mama mertuaku
"Antara kami berdua sudah tidak bisa bersama lagi ma, aku bukanlah tipenya mas Arif, aku tidak bisa membahagiakan lahir bathinnya, aku kolot, udik, culun, tidak cantik seperti yang di mau oleh mas Arif"
"Aku tidak boleh egois ma, mas Arif menginginkan istri sesuai keinginannya dan aku tidak bisa memenuhi itu, karena itulah aku melepaskan mas Arif"
"Sekarang mas Arif tidak perlu repot lagi melakukan hubungan terlarang karena antara kami akan segera berpisah, terus mas Arif tidak perlu dibayangi rasa bersalah karena mengkhianati aku, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, mas Arif bisa bebas"
Setelah berkata seperti itu aku menepuk punggung tangan mama mertuaku, berusaha menguatkannya dan meminta dia memahami kondisiku
"Sekali lagi aku minta maaf ya ma, pa. Karena aku mengecewakan kalian semua, tapi yakinlah aku tidak akan melupakan kebaikan kalian semua, terima kasih karena telah mau menerimaku menjadi menantu kalian selama ini, maaf karena aku banyak kekurangan"
Mama mertuaku langsung mendekapku dan langsung menangis terisak
Mau tak mau aku ikut terisak juga. Walau bagaimanapun aku merasa sedih melihat mama mertuaku menangis, mama mertua yang telah baik sama aku selama ini, yang telah mau menerima aku apa adanya
"Sidangnya satu jam lagi, kita berangkat sekarang saja, ayo!" ucap papa mertuaku yang membuat mama mertuaku melepas dekapannya padaku lalu mengusap kasar wajahnya
"Nggak usah mbak, aku naik motor saja"
"Apa keluarga kamu ikut?"
Aku menggeleng
"Ayah sama ibuku menyerahkan semuanya padaku, kakakku harus dinas dan adikku sekolah, jadi aku sendirian, tapi nggak apa-apa karena dengan begitu aku bisa membuat ayah sama ibuku tidak geram ketika mereka melihat mas Arif"
Kedua mertuaku menarik nafas panjang mendengar ucapanku, lalu kembali mama mertuaku menuntunku sampai akhirnya aku naik motor
Awalnya aku berada di depan, tapi karena aku naik motor, jadi aku lebih gesit dari pada mobil yang dikemudikan papa mertuaku, untuk itulah aku meninggalkan mereka dengan mengegas duluan, sehingga aku sampai lebih dulu di pengadilan
Tak perlu menunggu lama karena akhirnya sidang perceraianku dimulai. Dan kembali seperti kemarin lusa, mas Arif datang dengan dikawal oleh dua orang polisi
Saat sidangpun kami dinasehati agar kami mempertahankan rumah tangga kami, tapi mediasi berjalan gagal karena aku terus ingin melanjutkan perceraian walau mas Arif bersikukuh tak ingin bercerai dariku
Akhirnya sidang ditunda dua minggu lagi dan kembali mas Arif digiring keluar dari ruang persidangan
Aku hanya menarik nafas panjang ketika melihat mama mertuaku memeluk mas Arif sambil menangis
__ADS_1
Begitupun ketika pulang dari persidangan, aku lebih memilih pulang lebih dahulu dan berpamitan dengan kedua mertua dan iparku
Serangkaian persidangan yang panjang harus aku lewati. Tiga hari selesai sidang perceraian, kembali aku dipertemukan dengan mas Arif di sidang kasus perzinahannya dengan Mirna
Bahkan sidang kali ini, empat orang saksi langsung di hadirkan dan semuanya memberikan kesaksian mereka sehingga makin memudahkan pak Beni mematahkan pembelaan lawyernya mas Arif jika aku turut bersalah dalam hal ini
Untuk memperkuat pembenaran pembelaanku, pak Beni sampai memberikan bukti perselingkuhan mas Arif dengan wanita-wanita lain ketika dia masih satu rumah dengan ku
"Jadi terdakwa memang hobi berselingkuh yang mulia, walau dia satu atap dengan istrinya" ucap pak Beni ketika memberikan hpnya pada bapak hakim agar bapak hakim yang hakim anggota melihat sendiri rekaman video mas Arif yang berselingkuh yang kudapat dari Mario
Dan sidang kembali ditunda minggu depan, dan kembali dua hari selanjutnya aku hadir kembali di persidangan Mirna
Jlika boleh jujur, aku sangat benci melihat gadis muda yang saat ini duduk dengan menundukkan kepalanya
Kembali aku diberi pertanyaan tentang apakah aku mengenal Mirna atau tidak, semuanya aku jawab dengan lugas, sampai dengan pertemuan pertama kami ketika pagi-pagi buta, sampai bertemu kembali di depan rumahnya, hingga bertemu lagi saat dia sedang mesum dengan mas Arif
Saat sidang, Mirna menjawab dengan gugup setiap pertanyaan yang dilontarkan jaksa penuntut umum, dan dia mengakui semua apa yang kukatakan
Dan aku tersenyum sinis saat Mirna mengaku jika dia termakan rayuan dan janji manis mas Arif, sehingga ruang sidang langsung riuh rendah mendengar jawabannya
Saat aku melirik kearah orang tuanya Mirna, ada sedikit iba di hatiku ketika melihat mereka berdua tampak menundukkan kepala mereka
"Jahat kamu mas, kamu memanfaatkan kepolosan gadis desa demi nafsu syahwatmu" batinku
Saat Mirna akan dibawa keluar dari ruang sidang karena sidang ditunda dua minggu lagi, aku berjalan cepat kearah dua polisi yang akan membawanya
Mirna kembali menundukkan kepalanya ketika aku berdiri di depannya
"Mintalah mas Arif bertanggung jawab atas perbuatannya sama kamu" ucapku sambil menggenggam pundaknya dengan erat
Mirna mengangkat wajahnya dan kulihat wajahnya basah dan memandang mataku dengan sendu
"Aku dan mas Arif akan bercerai, kami sudah sidang cerai. Dan kamu punya hak menuntut tanggung jawabnya karena mas Arif telah merusak masa depanmu" tambah ku lagi
Mirna kian terisak mendengar ucapanku
"Aku ikhlaskan mas Arif untuk kamu Mirna, menikahlah dengannya"
Sambil berkata begitu sebenarnya aku sedang menguatkan hatiku sendiri, sejujurnya aku tidak ikhlas memberikan mas Arif pada siapapun, tapi ini harus aku lakukan, karena aku tidak akan bahagia lagi jika harus hidup bersama mas Arif, dan aku tak ingin Mirna jadi gadis bukan perawan lagi gara-gara mas Arif
Aku ingin orang tua Mirna tidak malu akibat perbuatan anaknya jika mas Arif menikahi anak mereka
__ADS_1