
Kembali aku menarik nafas panjang dan memejamkan mataku, tangan kiriku yang sejak tadi dipegang dengan mas Arif aku tarik pelan, begitu juga dengan mama mertua yang sejak tadi memelukku, perlahan aku dorong bahunya
"Ma....?" panggil mas Arif mengejar ku yang masuk meninggalkan semua orang yang masih berdiri di teras
Aku kembali membiarkan mas Arif menarik bahuku tanpa berniat untuk berhenti mendengarkan alasannya
Keluarga mas Arif menyusul masuk dan mama mertuaku terus berusaha meyakinkanku bahwa ini adalah cobaan untuk keluarga kami
Aku masuk ke dapur, mengambilkan piring, tanpa memperdulikan mas Arif yang terus mensejajari langkahku, mengisi piring lalu meletakkannya di atas meja, baru setelah itu aku berdiri menghadap mas Arif
"Makanlah, aku yakin mas belum makan"
Kulihat tampak kekagetan di wajah mas Arif, tapi aku tak mempedulikannya, setelah berkata begitu aku lalu meninggalkannya kembali keruang tengah
Mama mertuaku yang tadi juga ikut menyusul ku ke dapur sekarang kembali berjalan mengekor mengikuti ku keruang tengah juga
Aku kembali duduk di tempatku semula. Dan mulailah papa mertua dan mama mertuaku menasehati ku
Aku hanya diam mendengar nasehat mereka dengan sesekali diselingi isak tangisku
Rupanya mas Arif tak lama di dapur, karena setelahnya dia juga duduk bersama kami
Dan seperti mengerti, mbak Sari yang tadi duduk di sebelahku bergeser, dan sekarang berganti mas Arif yang duduk di sebelahku
Dan mas Arif kembali mengulangi perbuatannya seperti di depan tadi, kembali menggenggam erat tanganku dan terus memohon maaf dariku
"Dalam rumah tangga pasti ada cobaan Ntan, dan mama yakin ini cobaan buat kalian berdua, dengan ini kalian bisa saling belajar introspeksi diri, dan berubah menjadi pasangan yang jauh lebih baik dan tambah mencintai lagi"
Aku masih terus terisak, dan berkali-kali menepis tangan mas Arif yang terus berusaha menarik tanganku
"Papa janji ini adalah yang pertama dan terakhir ma, papa janji. Papa memang bodoh ma, mengapa papa bisa termakan bujukan kedua teman papa"
"Jangan memberi alasan dengan menjelekkan temannya mas, jika mas memang tidak berniat berbuat mesum, mau sekuat apapun rayuan dan bujukan teman-teman mas, mas tidak akan tergoda" akhirnya kata itu meluncur juga dari mulutku
Mertua dan iparku terdiam mendengar jawabanku, begitu juga dengan mas Arif
"Tidak ada yang perlu mas jelaskan lagi, semuanya telah jelas saat konferensi pers kemarin, semuanya telah dengan jelas dikatakan oleh pihak kepolisian" lanjut ku lagi
"Sumpah ma, papa dengan perempuan itu belum sempat ngapa-ngapain"
Aku menggeleng
"Apapun itu mas, aku sudah terlanjur sakit hati, tolong beri aku waktu untuk belajar melupakan ini, jangan paksa aku untuk memberikan maaf ku untuk kali ini"
"Kelakuan mas tidak bisa aku tolerir, aku tidak apa-apa selalu mas bentak, mas katakan pembantu di depan teman-teman mas, tapi untuk yang ini, rasanya sulit aku menerimanya"
Kulihat wajah mas Arif tampak kaget ketika aku berkata demikian
"Aku dengar jika mas ngomong aku pembantu" ucapku tersenyum getir
"Mungkin karena aku kumal seperti pembantu itulah makanya mas serong" lanjut ku masih dengan tersenyum getir
"Jangan begitu Ntan, setiap orang pasti pernah khilaf, dan mama yakin kamu tidak seperti itu orangnya, mama telah lama menjadi mamamu nak, dan mama mengenal karakter pemaafmu"
Aku menarik nafas panjang
__ADS_1
"Ya Tuhan ma, hati aku sakit banget kalau mama mau tahu" jawabku pelan
"Mama tahu nak, untuk itu mama minta lapangkanlah hatimu, terimalah dengan ikhlas cobaan ini nak"
Istri adik iparku mendekat, mendekap ku dari samping, dan aku tersenyum getir kearahnya
"Yang sabar ya mbak..." ucapnya sambil meneteskan air mata pula sambil mengusap-usap lenganku
"Semua rumah tangga punya cobaannya masing-masing, dan ini cobaan untuk rumah tangga kalian, memang sakit rasanya, tapi yakinlah jika kamu ikhlas menerima dan memaafkan, semuanya akan kembali baik-baik saja Ntan"
Aku melirik kearah papa mertuaku
"Mengapa hanya aku yang kalian minta sabar dan nasehati, mengapa bukan mas Arif, kan yang bersalah dia?"
Mbak Sari langsung mengerling tajam padaku mendengar aku menjawab omongan papa mertuaku
"Ya kalian berdua sama-sama berubah, nasehat ini untuk kalian berdua dan juga untuk seluruh anak menantu papa tanpa terkecuali"
Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang dengan merebahkan kepalaku
"Anak-anak sudah tidur Ret?" tanyaku pada ipar ku yang masih duduk di dekatku
Retno mengangguk dan kembali mengusap lenganku
Lalu kembali papa mertuaku menasehati ku dan mas Arif, dan mas Arif yang telah berhenti menangis sekarang tertunduk dalam
...----------------...
Aku yang memilih tidur di kamar Bobbi segera terbangun ketika suara adzan berkumandang, selesai melaksanakan kewajibanku, aku memulai aktivitasku seperti biasa
Mas Arif yang tidur di kamar kami belum juga bangun, dan aku semakin yakin jika dia akan bangun siang karena dia tahu jika dia tidak berangkat ke kantor
Saat aku mengepel ku dengar ada suara batuk kecil, dan aku sedikitpun tidak menoleh pada mas Arif yang berjalan menuruni tangga
"Ma...?"
Aku membalik badanku membelakanginya, dan mengepel dengan cepat lalu berpindah keruang depan
Dan Arif yang masih faham jika istrinya marah dan kecewa hanya bisa menarik nafas panjang dan berjalan ke dapur, dan kembali dia tertegun karena di atas meja makan telah ada kopi
Dia menoleh kearah depan, mencoba melihat kearah istrinya yang tak terlihat. Dengan kembali menarik nafas dalam, Arif duduk dan menyeruput kopinya
Dan aku yang telah selesai mengepel, segera naik keatas, merapihkan tempat tidur kemudian bergegas masuk kamar mandi
Aku mandi dengan cepat lalu berganti baju pun sama cepatnya. Kemudian aku turun telah menyelempangkan tas di bahuku
"Mau kemana ma?" kejar mas Arif begitu dilihatnya aku berjalan cepat keluar dari rumah
Aku tidak menjawab sedikitpun pertanyaannya, aku terus memakai sandal, memasangkan helm di kepalaku lalu aku mengangkat kantong kresek besar, meletakkannya di dekat kakiku lalu aku memundurkan motor.
Tanpa pamit aku segera ngegas motor, meninggalkan mas Arif yang berdiri termangu melihatku
Harusnya jadwalku mengantar barang pada pelangganku siang sekitar jam dua belasan, tapi ini jam sembilan lewat aku telah keluar dari rumah
Rasanya aku tidak betah di rumah, apa lagi sebabnya jika bukan karena adanya mas Arif, marah dan kecewaku padanya masih menggunung
__ADS_1
"Ntan...?!"
Aku refleks mengerem motorku lalu menoleh kearah rumah mamanya Mario, kulihat mama Mario berjalan ke arahku, aku lalu tersenyum dan mematikan mesin motor
Mamanya Mario mendekat ke arahku, lalu aku melepas helm dan mengulurkan tanganku, mencium punggung tangannya
"Sibuk nggak Ntan?"
"Mau antar orderan orang buk, ada apa ya buk?"
Beliau tersenyum lalu mengusap kepalaku
"Yang sabar ya...."
Aku memaksa untuk tersenyum dan mengangguk kearah beliau
"Sudah di rumah suami kamu?"
Aku mengangguk
"Maa Syaa Alloh aku sampai lupa ngucapin terima kasih sama Mario, buk" ucapku menepuk keningku lalu tersenyum tak enak pada beliau
"Mario ada di dalam" jawab beliau cepat
"Hah?" ucapku kaget, tentu aku sangat kaget mengetahui jika ada Mario di rumah mamanya
"Kapan Mario pulang buk?"
"Makanya, yuk masuk dulu"
Aku menggeleng
"Kapan-kapan aja buk, aku masih mau nganter barang"
"Intan Permata Sari!!"
Aku refleks menoleh ke halaman rumah mamanya Mario ketika kudengar Mario memanggil lengkap namaku
Cuma Mario orang yang selalu menyebut lengkap namaku ketika memanggilku
Aku tersenyum kaku kearahnya yang berjalan kearah kami. Dan tiba-tiba degup jantungku berdebar kencang tak karuan
"Ya Tuhan, kenapa lagi ini" rutuk ku dalam hati dengan kesal
"Masuk dulu, ada yang perlu kita bicarakan"
Aku menelan ludahku dengan susah payah, lalu menoleh kearah mamanya Mario yang menganggukkan kepalanya ke arahku
"Tapi aku harus mengantar pesanan Yo" kembali aku memberi alasan untuk menolak
"Nantikan bisa"
Aku tersenyum getir ketika dia masih ngeyel seperti dulu
"Ayo...." ucapnya mendahului kami berjalan masuk kedalam halaman rumahnya
__ADS_1